
“Ar, kamu berencana menetap di sini atau balik ke Paris?” tanya Rubby memecah keheningan di antara mereka.
“Entahlah. Ada beberapa perusahaan yang ingin merekrutku dan menawarkan kerjasama tapi aku masih pikir – pikir.” Arlan merasa tak bersemangat lagi tinggal di sini melihat Rubby sudah tidak lagi sendiri.
“Kamu nggak meminta pendapat tante Sofi tentang hal ini?” Rubby kembali bertanya.
“Mama sih, maunya aku membantu papa mengurus perusahaan kami.”
“Bagus dong kalau begitu. Daripada mengembangkan perusahaan orang lain mending punya ortu sendiri. Lagian semuanya juga bakalan jadi milik kamu kan,Ar.”
“Iya. Tapi kalau aku terus di sini, aku akan semakin sulit buat melupakan seseorang, By.” Ada kegetiran dalam ucapan Arlan. Rubby tahu bahwa seseorang yang di maksud Arlan adalah dirinya.
Wu Jin Ming diam tanpa suara. Dari awal dia sudah tau jika Arlan mempunyai perasaan pada istrinya. Masih teringat jelas pertemuan mereka di kafe siang tadi. Jika sekarang dia tidak ada di antara mereka, mungkin mereka jauh lebih mesra daripada tadi siang.
“Kamu terlalu lebai, Ar. Kamu nggak bisa mengatur apa yang terjadi sesuai keinginanmu. Jalan takdir setiap orang berbeda – beda. Jangan terus menoleh ke belakang karena kita akan mengabaikan keindahan yang ada dihadapan kita!” ucap Rubby membuat Wu Jin Ming tercengang. Dia tidak menyangka jika Rubby bisa brsikap sedewasa itu.
“Kamu nggak mengalaminya Rubby, jadi mudah saja kamu bicara.” Arlan melirik tajam ke arah Wu Jin Ming.
“Sayang, aku ingin mencari udara segar di luar. Di sini panas.” akhirnya Wu Jin Ming bersuara.
“Keluar kemana? Aku ikut.” Rubby berdiri mendahului Wu Jin Ming.
Arlan merasa sebagai pengganggu di sana. Dia tidak sanggup lagi untuk tinggal lebih lama. Rencana yang di susunnya sejak tadi siang harus gagal dan kembali berakhir dengan kekecewaan.
“By, hari sudah malam. Aku pamit pulang dulu, ya. Tiger, aku titip Rubby. Tolong jaga dia baik – baik. Aku orang pertama yang akan menghajarmu jika sampai dia tersakiti.” Arlan menepuk bahu Wu Jin Ming pelan.
“Pasti. Maaf jika sikapku kurang bersahabat padamu. Aku nggak suka melihat Rubby berdekatan dengan pria lain.” Wu Jin Ming mengutarakan kecemburuannya.
“Hahaha... Kau cemburu padaku? Baiklah aku nggak akan bersikap di luar batas kewajaran lagi bersama Rubby. Bisakah kita berteman?” Arlan tidak ingin melanjutkan perjuangan cintanya. Dia menyerah. Dia hanya ingin hubungan mereka terjalin baik.
__ADS_1
“Berteman?” sejenak Wu Jin Ming berpikir.
“Baiklah, kita berteman.” Wu Jin Ming setuju dengan tawaran pertemanan Arlan. Dia tidak ingin berlarut – larut dalam rasa cemburunya.
Rubby terdiam mendengarkan obrolan dua pria di depannya.
“Baiklah, teman, aku pulang dulu. Ingat mengunci pintu Rubby dan jangan bergadang sampai malam setelah Tiger pulang.” Arlan tidak tahu jika Wu Jin Ming dan Rubby sudah tinggal bersama.
Wu Jin Ming mengangguk.
“Kami tinggal bersama. Aku takut tinggal sendirian,” jelas Rubby.
Arlan semakin menyesal. Andai dia tidak datang terlambat, mugkin saat ini dialah lelaki beruntung itu.
“Terimakasih, Sayang.” Rubby memeluk Wu Jin Ming setelah Arlan pergi.
“Terimakasih untuk apa?” Wu Jin Ming pura - pura bodoh.
“Apa kamu sedang menggodaku, Rubby?” wajah Wu Jin Ming terlihat memerah. Ada sesuatu yang tertahan di bawah sana.
“Ah, nggak, nggak.” Rubby segera melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkan Wu Jin Ming. Dia segera masuk ke kamar dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Sepertinya ada kepompong yang butuh kehangatan di sini.” tangan iseng Wu Jin Ming menggelitik Rubby karena dia merasa gemas melihat Rubby yang membungkus dirinya rapat – rapat.
“Haha... hampun... ampun sayang...!” Rubby berteriak karena merasa geli.
“Makanya buka selimutnya! Aku nggak bisa tidur sama kepompong.” Wu Jin Ming menggeser tubuhnya lalu ikut masuk dalam selimut yang sama.
“Ish, sekali lagi panggil aku kepompong, aku marah, nih,” ancam Rubby.
__ADS_1
“Cantikku, semakin kamu merajuk dan cemberut seperti itu, aku jadi semakin menginginkanmu,” rayu Wu Jin Ming. Dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
Rubby yang awalnya menolak, akhirnya terbakar juga. Pesona Wu Jin Ming membuatnya tak bisa menahan diri. Semakin hari, dia semakin pandai membuatnya tak berdaya. Perasaan cinta di antara mereka juga semakin membara.
“Terimakasih, Sayang. Kamu sudah mau menjadi istriku di kehidupan ini.” Wu Jin Ming mengecup kening Rubby setelah selesai melepaskan hasratnya.
“Nggak perlu berterimakasih, Sayang, aku juga sangat beruntung memilikimu.” tangan Rubby mengusap wajah tampan Wu Jin Ming.
“Aku ingin kamu melahirkan anak-anak yang manis untukku.” Wu Jin Ming mengelus rambut Rubby yang tergerai indah namun sedikit berantakan.
“Apakah aku akan mendapatkan kesempatan itu? Emm, bolehkah aku bertanya?” Rubby mendongak menatap wajah Wu Jin Ming.
“Katakan saja. Aku akan menjawab sesuai apa yang ku tahu.” Wu Jin Ming memegang ujung dagu Rubby.
“Apa aku akan hamil normal seperti manusia kebanyakan? Apa anakku akan menjadi manusia ataukah tidak berwujud nantinya?” Rubby merasa takut jika dia tidak akan bisa merawat anaknya. Sepertinya dia salah paham dengan penjelasan dewa dewi di hari pernikahan mereka.
“Kamu akan hamil gaib, Rubby. Orang lain tidak akan melihat perutmu membesar. Mungkin kamu akan mengalami gejala yang sama dengan wanita hamil kebanyakan, tapi ketika hampir melahirkan kamu harus tinggal di langit. Anak kita akan di asuh di sana sampai 2 tahun karena sangat membahayakan jika dia berada di dunia. Para pencari kekuatan akan berebut untuk mendapatkan anak kita,” jelas Wu Jin Ming.
Rubby memikirkan ucapan Wu Jin Ming. Sepertinya semuanya akan sulit baginya. Ternyata serumit ini menikah dan memiliki dua kehidupan yang berbeda.
“Jangan terlalu banyak berpikir! Aku akan selalu berada di sisimu. Apapun yang terjadi kita akan melewatinya bersama.” Wu Jin Ming mengeratkan pelukannya dan mencium kening Rubby lembut.
Rubby masih terdiam. Hanya tangannya yang membalas pelukan Wu Jin Ming. Dia berharap dia mampu menghadapi setiap tantangan yang berada di depannya. Satu hal yang tertanam di hati Rubby saat ini, bahwa kebahgiaannya adalah Wu Jin Ming. Sosok pria yang nyaris sempurna meskipun dia bukan seorang manusia.
Belaian lembut Wu Jin Ming membuat Rubby semakin mengantuk. Tak butuh waktu lama, dia pun tertidur pulas.
Lain halnya dengan Rubby, Wu Jin Ming belum bisa terlelap. Dia masih memikirkan pertanyaan Rubby. Bukan kehamilan Rubby yang membuatnya khawatir, tapi kebangkitan Zhu Zheng. Sampai saat ini dia belum tahu keberadaannya. Wu Jin Ming takut dia menyamar dan mengelabuhinya saat ini.
Merasa percuma memikirkannya sekarang, Wu Jin Ming akhirnya menusul Rubby ke alam mimpinya.
__ADS_1
****
Bersambung...