
Tian Yu membuka telapak tangannya lalu mengulurkannya ke depan dengan posisi telapak tangan menghadap ke bawah, ke arah mayat musuh yang di bunuhnya tadi.
Awalnya dia bermaksud untuk menyerap inti jiwa orang itu namun ternyata kosong, Tian Yu memiliki ide lain. Ada sebuah inti roh pengendali yang di tanam dalam tubuh itu, Tian Yu mengambilnya dan menelannya. Walaupun itu bukan inti jiwa, namun energi yang tersimpan di sana cukup untuk menambah tenaganya.
"Lumayan." Tian Yu menjulurkan lidahnya dan menyapu bibir atasnya sambil menatap musuh di depannya seperti seorang yang sedang kelaparan.
Sebagian di antara musuhnya saling berbisik merasa ciut nyali ketika berhadapan dengan Tian Yu. Namun beberapa di antara mereka merasa jika itu hanyalah sebuah kebetulan. Mereka dituntut untuk menjadi pemenang karena mereka merupakan orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan di atas para prajurit biasa.
"Kita harus maju bersama-sama untuk menghadapinya. Dengan begitu dia akan kewalahan menghadapi serangan kita," bisik salah satu musuh kepada yang lainnya.
"Kamu benar. Kesempatan kita akan lebih besar jika kita menyerangnya secara bersamaan."
"Benar. Ayo kita habisi dia!"
Musuh-musuh Tian Yu kembali bersemangat untuk menyerangnya. Mereka bergerak bersama-sama untuk mengeroyok Tian Yu. Ternyata seorang bocah kecil seperti Tian Yu mampu membuat mereka merasa terancam jika harus berperang satu lawan satu.
Mata Tian Yu berkilat melihat bayangan ke-14 musuhnya mulai bergerak untuk menyerang. Segera saja dia bersiap dengan memasang kuda-kudanya untuk menyambut kedatangan mereka. Sedikitpun Tian Yu tidak merasa gentar menghadapi pengeroyokan itu.
"Hati-hati, Sayang! Semut-semut memang suka bergerombol saat melakukan sesuatu." Rubby mengingatkan Tian Yu ditambah sedikit ejekan pada lawannya.
"Jangan khawatir, Ibu! Aku akan mendapatkan santapan lagi." Tian Yu merentangkan kedua tangannya dan mengangkat sebelah kakinya hingga dia hanya berdiri dengan satu kaki.
Tubuh kecilnya masih melayang di udara dengan sikap yang tenang. Rupanya dia sedang mempersiapkan jurus yang akan dia keluarkan untuk menghadapi lawan yang banyak jumlahnya. Tian Yu menamainya dengan jurus pedang putaran badai, di mana jurus ini merupakan gabungan jurus pedang pendekar Chin level 5 dan jurus pusaran angin dari timur.
Untuk menerapkan jurus ini, Tian Yu memakai dua pedang di kedua tangannya. Masing-masing pedang dialiri dengan energi dasyat yang mana kekuatannya setara dengan energi pada sambaran petir. Daya membunuh yang sangat tinggi yang mampu melumpuhkan lawannya meskipun dia hanya menyentuh ujung pedangnya saja.
Ketika musuh telah benar-benar mendekat, Tian Yu mulai menggerakkan tubuhnya. Memainkan jurus pedang sekaligus melakukan putaran yang stabil, membuat gerakannya sulit ditebak oleh lawannya. Satu persatu musuhnya berjatuhan seperti nyamuk-nyamuk yang terbakar setelah menghampiri api sebuah lentera.
Hanya dalam hitungan detik, lawannya tinggal empat orang saja. Keempat orang itu tertegun melihat kawan-kawannya mati secara mengenaskan dengan luka bakar di sekujur tubuhnya. Kulit mereka menjadi hitam legam dengan beberapa bagian terkoyak dan menampakkan dagingnya yang setengah matang.
Mata Tian Yu berkilat melihat keempat orang yang masih terbengong melihatnya. Permainan ini sudah tidak menarik lagi baginya karena lawannya tidak ada yang sanggup membuatnya terpukau dengan jurusnya. Bagi Tian Yu, mereka hanyalah sekumpulan boneka yang bisa dia habisi dalam sekali hentakan.
"Buang-buang waktu saja." Tian Yu mendengus kesal.
__ADS_1
Slash!
Tubuhnya kembali berputar dengan cepat dan membantai prajurit-prajurit itu dalam sekali putaran saja.
Sama seperti yang dilakukan sebelumnya, Tian Yu mengambil energi yang tertanam di tubuh mayat-mayat itu, mengumpulkannya menjadi satu lalu menelannya. Tubuhnya terasa bertambah kuat seperti telah melakukan kultivasi beberapa kali.
Prok ... prok ... prok!
Sebuah tepuk tangan membuatnya menoleh ke arah sumber suara.
Seorang berjubah hitam dengan aura energi yang sangat kuat muncul di hadapannya.
Rubby yang tadinya bersantai, kini beranjak dan bergerak menghampiri Tian Yu.
"Dia bukan lawan yang mudah, Sayang. Namun ibu yakin jika kita tidak akan kalah melawannya," ucap Rubby sambil tersenyum pada Tian Yu.
"Aku tahu, Ibu. Aku juga merasakan tekanan yang besar dari energi jiwanya," jawab Tian Yu.
Bukannya takut, Tian Yu malah terlihat bersemangat untuk menghadapi lawannya kali ini.
Dia adalah panglima Chen, orang kepercayaan Raja Kegelapan.
"Tapi jangan senang dulu. Belum tentu kamu bisa mengalahkanku dengan jurus murahanmu itu!" Panglima Chen sengaja memberi gertakan untuk menjatuhkan mental Tian Yu yang dianggapnya sebagai anak kecil biasa.
"Paman hitam yang gagah berani, aku tidak takut padamu. Kamu yang sebenarnya takut padaku karena tidak mau menunjukkan wajahmu. Lihat mereka semua. Pasti mereka mati karena matanya terhalang oleh penutup wajahnya sehingga tidak bisa melihat dengan baik serangan anak kecil sepertiku." Tian Yu berbicara tanpa ada rasa takut.
"Kecil-kecil pandai bicara! Terima ini!" Panglima Chen membuat sebuah bola energi raksasa lalu melemparkannya pada Tian Yu.
Bola besar berwarna merah itu melesat ke arah Tian Yu. Kecepatan bola itu tidak memungkinkan lagi bagi Tian Yu untuk menghindar. Mata Tian Yu terbelalak ketika bola energi itu berada dalam jarak yang sangat dekat dengan dirinya.
Melihat putranya dalam bahaya, Rubby pun tidak tinggal diam. Mungkin Tian Yu tidak akan mati dengan satu pukulan tapi tentu itu akan membuat tubuhnya terluka. Rubby bergerak maju dan mengibaskan tangannya. Bola energi itu berbelok arah seperti sebuah kapas yang tertiup angin.
Boom!
__ADS_1
Ledakan yang sangat keras terdengar ketika bola itu menghantam sebuah pohon besar dan membuatnya hangus terbakar.
"Ini bagian ibu, Sayang. Lebih baik kamu beristirahatlah dulu dan pulihkan tenagamu!" Rubby merasa ini adalah lawannya.
"Tidak, Ibu. Aku tidak lelah. Tadi aku hanya belum siap saja. Aku tidak menyangka dia begitu licik dengan memanfaatkan kelengahanku, Ibu."
"Baiklah. Tetap waspada pada orang licik ini." Rubby mengambil kuda-kuda.
Panglima Chen tersenyum menyeringai.
"Tidak masalah jika kalian ingin menyerangku bersama-sama. Seorang panglima tidak akan gentar melawan kecoa seperti kalian."
"Bagus! Setelah ini akan ada sejarah yang menuliskan jika seorang panglima yang sangat hebat terbunuh oleh dua kecoa yang dia anggap lemah. Sungguh cerita yang sangat ironis. Hemh!" Rubby mendengus sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Kurang ajar!" Panglima Chen terbakar emosi.
Tubuhnya terliha menyala karena seluruh energi yang menyelimuti tubuhnya. Warna merah menyala membuat sekitar tempat pertarungan tampak seperti kolam darah. Aura energi yang besar memaksa orang-orang yang tinggal di sekitar tempat itu menyingkir untuk menghindari bahaya.
Rubby tersenyum lega. Dengan begitu tidak akan ada nyawa-nyawa tak berdosa yang akan terkena imbas dari pertarungan ini. Dia bisa melakukan pertarungan dengan lebih leluasa.
Untuk melawan panglima Chen yang memiliki tingkatan kultivasi basis 8 level atas, Rubby harus menggunakan wujud aslinya sebagai Dewi Bintang Jingga.
Udara dingin berhembus kencang menyapu tempat itu seperti musim dingin di malam hari mengiringi perubahan wujud Rubby. Rambutnya yang semula berwarna hitam kemerahan kini berubah menjadi putih bercahaya. Hanfu sederhana yang melekat di tubuhnya pun kini telah berganti dengan hanfu berwarna jingga.
Seiring perubahan wujud Rubby, keadaan sekitar tempat itu pun ikut berubah menjadi terang benderang karena langit memantulkan cahaya yang sama dengan aura energi Rubby.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Panglima Chen merasa bergetar dengan perubahan wujud Rubby.
"Tidak penting siapa diriku, tapi kamu salah karena telah mengusikku." Rubby mengangkat tangan kanannya ke atas, sebuah tongkat yang bersinar terang kini telah berada di dalam genggamannya.
"Bukankah ... tongkat itu adalah tongkat yang hanya dimiliki oleh ras bidadari? Bagaimana bisa ada di tanganmu?" Panglima Chen semakin tidak mengerti.
Beberapa ratus tahun silam, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat kehancuran negeri bidadari. Dia menjadi bagian dari penyerangan itu bersama Zhu Zheng. Rasanya sangat mustahil jika ada ras bidadari yang masih tersisa dan hidup sampai saat ini.
__ADS_1
****
Bersambung ....