TIGER WU

TIGER WU
AKU INGIN TERBANG


__ADS_3

Tokk... tokkk... tok...


"Siapa di dalam?" seseorang yang berada di luar pintu tangga darurat mengetuk pintu.


Wu Jin Ming segera menarik tangan Rubby untuk menempel di langit - langit ruangan, sedangkan siluman kucing itu merubah dirinya menjadi kucing liar.


Pegawai kebersihan mall membuka pintu dan melihat ke arah kucing liar yang sedang memainkan tong sampah.


"Rupanya hanya kucing liar. Aku pikir tadi ada perkelahian di sini." petugas itu menggelengkan kepala.


"Huss... huss... keluar sana! Jangan bikin kotor!" pegawai kebersihan itu mengusir kucing jelmaan yang ada pura - pura berisik mengacak - acak sampah.


Saat petugas kebersihan mengangkat sapunya seperti akan memukulnya, siluman kucing itu segera berlari keluar. Wu Jin Ming dan Rubby masih di tempat semula. Mereka menunggu pegawai kebersihan itu pergi dari sana. Rubby menahan napasnya saking tegangnya.


Melihat tempat sampah sudah beres dan tidak ada yang mengotori lantai, petugas kebersihan itu pergi meninggalkan tangga darurat. Wu Jin Ming dan Rubby melompat ke bawah lalu merubah penampilan mereka seperti manusia pada umumnya dengan kekuatan spiritualnya.


"Huft... hampir saja kita ketahuan." Rubby mengibas - ngibas bajunya agar terlihat rapi.


"Ayo kita ke tempat penukaran sebelum teman - teman kamu mencari kita." tangan Wu Jin Ming menggenggam tangan Rubby dan menariknya ke luar.


Mereka bergegas menuju galeri emas. Penjaga galeri sangat terpukau dengan emas 24 karat yang di tukarkan oleh Rubby. Emasnya benar - benar berkilau dan kadarnya sangat sempurna.


Setelah menerima sejumlah uang hasil penukaran emas, Rubby dan Wu Jin Ming pergi ke tempat yang mereka janjikan pada teman - teman Rubby. Ketiga teman Rubby sudah menunggu di sana saat Rubby datang. Semuanya ini terjadi gara - gara siluman kucing yang menyerang mereka hingga membuat mereka berdua terlambat datang.


"Hei, lama amat sih!" gerutu Lisa.


"Tadi toilet antri," elak Rubby.


"Ya, udah yuk!" ajak Bella.


Mereka berlima berjalan memasuki distro kekinian. Hari ini bertepatan dengan ulang tahun pemilik distro. Banyak sekali diskon yang menarik pembeli.


"Wah, ini murah sekali. Aku sudah lama mengincar baju ini." Cindy berjingkat senang melihat baju incarannya sedang diskon 70 %.


Rubby tersenyum melihat Cindy dan yang lainnya laper mata melihat baju diskon. Dia sendiri juga suka diskonan tapi masih memakai akal sehatnya untuk memilih apa yang akan dia beli. Terutama bukan untuk dirinya melainkan untuk suaminya.


Wu Jin Ming menurut saja ketika Rubby terus menariknya ke ruang pas untuk mencoba baju yang dia pilih.


"Perfect!" ucap Rubby yang ikut masuk ke ruang pas.

__ADS_1


"Kamu tidak memilih untukmu, Rubby. Ini semua baju pria bukan?" Wu Jin Ming mengernyit heran.


"Bajuku sudah banyak, mungkin aku beli satu atau dua saja." Rubby tersenyum manis pada Wu Jin Ming yang terbawa suasana ketika melihat kecantikan Rubby dari dekat.


Saat bibir mereka hampir bersentuhan, terdengar panggilan dari luar.


"Rubby, udah belum. Aku mau gantian nyoba!" suara cempreng Bella membuat memekakkan telinga.


"Iya... iya... bentar." Rubby membantu melepas baju yang sedang di pakai Wu Jin Ming dan menukarnya dengan baju yang dia pakai tadi.


"Buruan! Kakiku udah pegel nih!" teriak Bella lagi.


"Iya... sabar... sabar..." pekik Rubby tak kalah melengking.


Wu Jin Ming membuka pintu ruang pas sementara Rubby memunguti baju yang sudah di coba. Semuanya terlihat sangat pantas di tubuh Wu Jin Ming. Rubby berniat membeli semuanya.


"Eh, Kak Tiger." Bella mengedipkan matanya menggoda Wu Jin Ming. Bukannya menyahut, Wu Jin Ming malah berlalu meninggalkannya tanpa meliriknya sedikitpun.


"Udah! Masuklah, Bel!" Rubby keluar menyusul Wu Jin Ming.


Bella segera menutup pintu ruang pas. Rubby terkejut saat melihat beberapa ruang pas yang kosong di dekat ruang pas yang dia pakai. Sepertinya, Bella sengaja mengganggu kebersamaannya dengan Wu Jin Ming.


"Sepertinya ada. Kenapa memangnya?" Rubby balik bertanya.


"Nanti kalau uangku nggak cukup, aku pinjem, ya?" ungkap Cindy malu - malu.


"Boleh!" jawab Rubby sambil tersenyum. Tidak masalah baginya karena saat ini tasnya penuh dengan uang.


"Aku boleh ikutan minjem juga, kan?" Lisa ikut - ikutan.


"Boleh, Lisa!" Rubby kembali memilih baju. Sepertinya dia tertarik membeli sepasang kaos pasangan. Dia ingin membelinya untuknya dan Wu Jin Ming.


Melihat Rubby tersenyum sendiri, Wu Jin Ming berjalan mendekatinya.


"Kamu kenapa, Rubby?" bisik Wu Jin Ming membuat Rubby tersentak dari lamunannya.


"Emm, enggak kog. Aku membayangkan kita pakai baju yang sama." Rubby menunjuk baju yang terpajang di depannya.


"Kalau kamu mau, ambil saja. Kita akan memakainya nanti," jawab Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Beneran, Kak? Baiklah... baiklah." Rubby segera mengambil sepasang yang berwarna navy.


Rubby tersenyum senang sambil menempelkan baju itu di depan Wu Jin Ming dan di depannya.


"Mau di coba lagi?" tanya Wu Jin Ming menunjuk ruang pas.


"Tidak usah, Sayang. Kita coba di rumah saja. Yuk kita ke kasir." Rubby berjalan mendahului Wu Jin Ming menuju kasir.


Tidak lama berselang Cindy, Lisa, dan Bella juga ikut mengantri di belakang Rubby. Dan benar saja, uang yang di bawa ketiga temannya tidak cukup untuk membayar belanjaan bejibun mereka. Rubby melunasi sisa tagihan mereka dengan kartu atmnya karena tadi galeri emas membayar sebagian uangnya dengan cara mentransfer.


"Terima kasih, Rubby!" ucap Cindy.


"Aku juga makasih!" Lisa tersenyum dengan manisnya.


"Aku juga, ya!" gantian Bella yang tak mau ketinggalan.


Mereka keluar dari distro itu dan berniat meninggalkan mall. Mereka harus kembali ke rumah masing - masing karena hari sudah mulai malam. Mereka berbelanja hingga melupakan waktu yang telah bergulir dengan cepatnya.


Karena arah rumah mereka berlainan, mereka mencari taksi sendiri - sendiri. Untung sore itu banyak sekali taksi yang sedang berjajar menunggu penumpang di depan mall. Jadi mereka tidak harus menunggu lama untuk mendapatkan tumpangan.


"Kak." Rubby tiba - tiba menghentikan langkahnya dan malah putar balik memunggungi taksi yang akan dia naiki.


"Ada apa, Rubby?" tanya Wu Jin Ming heran.


"Nggak papa, Kak. Emm, bisakah kita pulangnya terbang saja." Rubby ingin sekali mencoba untuk terbang seperti saat dia berada di ruang dimensi.


"Ayo!" salah satu tangan Wu Jin Ming memegang tangan Rubby dan tangan yang lain membantu membawakan belanjaannya.


"Kita cari tempat yang sepi dulu." Rubby mengajak Wu Jin Ming berjalan menyusuri trotoar untuk menghindari keramaian.


Setelah di rasa, tempat mereka berjalan saat ini lengang. Wu Jin Ming membawa Rubby melompat ke ataa lalu terbang menuju kediaman mereka. Angin malam yang bertiup lembut menerbangkan rambut mereka. Rambut mereka melambai seperti sutra hitam yang berkibar. Dari bawah mereka terlihat seperti kupu - kupu yang sedang menari.


"Apa kamu senang, Rubby?" Wu Jin Ming membawa Rubby kembali menaikkan ketinggian terbangnya.


"Amazing... aku senang banget, Kakak!" Rubby mencoba merentangkan tangannya. Dan menyetabilkan tubuhnya. Dia juga sekalian ingin melatih kemampuan terbangnya.


"Bagus, Rubby. Belajarlah untuk menyeimbangkan tubuhmu!" Wu Jin Ming memberinya semangat. Sedikit demi sedikit dia mulai merenggangkan genggamannya agar Rubby perlahan bisa mengontrol kemampuan terbangnya sendiri.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2