
Arlan meletakkan gelas minum Rubby setelah meminum setengahnya.
"Siapa dia?" Arlan menunjuk Ron dengan dagunya.
"Oh, iya kenalin! Ini Ron, teman kuliahku. Ron ini Arlan tetangga sebelah rumahku."
Ron bernapas lega. Ternyata cowok itu bukan pacarnya Rubby.
"Kog tetangga sih, Yang. Ada yang nggak beres. Kamu ma dia selingkuh, ya?" Arlan mulai iseng.
"Kumat deh!" Rubby memegang kening Arlan pura-pura memeriksa suhu tubuhnya.
"Yang sakit bukan di situ sayang. Tapi di sini." Arlan membawa tangan Rubby memegang dadanya.
"Oh, iya. Sakitan mana sama ini?" Rubby mencubit lengan Arlan gemas.
"Auww... Aduh... Udah Rubby... Lepaskan!" Arlan mengaduh merasakan cubitan Rubby yang sangat sakit.
"Mau lagi?" tangan Rubby sudah bersiap untuk melakukan cubitan berikutnya.
"Ampun sayang... Ampun... Kita berantem di rumah aja jangan di sini!"
Ron merasa risih dengan pemandangan di depannya. Dia benar-benar tidak berselera makan lagi. Ron hanya meminum jusnya sedikit.
"Rubby, aku duluan, ya! Terimakasih untuk waktunya." Ron menyambar kunci motornya di atas meja lalu beranjak dari duduknya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dan menaruhnya di bawah gelas.
"Biar aku saja yang bayar," ucap Arlan.
"Nggak papa. Aku pergi dulu!" Ron berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Ngambek dia!" Arlan terkekeh.
"Kamu sih, bikin orang ilfil." Rubby melanjutkan makannya.
"Alah, dia aja yang nggak suka humor. Ini belum di makan kan?" Arlan menunjuk pesanan Ron yang masih utuh.
"Belum. Orang pesanannya dateng barengan ma kamu tadi. Mungkin dia langsung kenyang lihat polah kamu."
"Bagus dong. Bisa hemat uang saku kalo tiap hari ketemu aku." Arlan menyantap makanan di depannya dengan lahap.
Rubby menggeleng melihat kelakuan Arlan.
"Kak! Tambah jus lemon 1 lagi ya!" ucap Rubby ketika ada pelayan yang melintas di dekatnya.
"Baik, Nona. Segera saya antar." pelayan itu membungkuk dan berlalu.
"Keliatannya orang tadi naksir kamu, By," ucap Arlan di sela makannya.
"Mungkin," jawab Rubby santai.
"Terus, kamu suka sama dia?" selidik Arlan.
"Bukan urusanmu. Lagian aku sudah punya pacar."
"Siapa tahu kamu selingkuh," ledek Arlan.
"Enak aja! Gantengan juga pacar aku."
"Kalau sama aku gantengan mana?"
__ADS_1
"Tampang gitu aja dibanggain!" Rubby memang tak menampik bahwa Arlan sangat tampan. Beda tipislah sama Wu Jin Ming.
"Gini - gini juga pernah bikin seseorang tiap hari nangis pengen dinikahin."
"Uhuk... Uhuk...!" Rubby tersendak makanan setelah mendengar ucapan Arlan.
Arlan bangun dari duduknya dan menepuk punggung Rubby.
"Makan tuh pelan - pelan makanya!" Arlan kembali duduk setelah batuk Rubby mereda.
"Kamu sih pake bahas masa lalu segala," gerutu Rubby.
"Tapi bener kan?'
" Itu kan dulu. Setelah aku pikir - pikir mana bisa aku tinggal serumah sama cowok tengil kayak kamu."
"Kan seru, Yank. Tiap hari bisa bikin rekor mecahin piring." Arlan terkekeh.
"Iya, trus habis itu kita makan pake daun pisang."
"Weiss, enak tuh!"
"Enak, bisa sekalian kamu makan daunnya."
"Yeee, emang aku kambing apah." Arlan tak terima.
"Pawangnya," jawab Rubby asal.
Mereka makan sambil terus berbalas ejekan tiada henti. Rubby memanggil pelayan untuk meminta bill setelah mereka selesai makan. Uang dari Ron lebih dari cukup untuk membayar.
"Habis ini mau kemana, By?" tanya Arlan.
"Bareng yuk!" Arlan menggandeng tangan Rubby.
"Aku bawa motor, Ar!" Rubby berusaha menolak sambil melirik mencari keberadaan Wu Jin Ming.
"Ya, udah kalau gitu biar mobilku yang aku tinggal di sini. Aku yang nebeng kamu."
"Arlan!" teriak Rubby sebal menanggapi permintaan Arlan yang memaksa. Dia memelototi Arlan sambil menghentakkan kakinya.
"Iya deh iya! Galak banget sih!" Arlan akhirnya menyerah. Dia pulang dengan mobilnya sendiri.
Lega. Akhirnya Rubby terbebas dari teman usilnya itu. Sekarang dia bisa fokus untuk mencari di mana Wu Jin Ming.
"Kak Tiger! Kamu di mana? Aku sudah di luar," panggil Rubby dengan suara hatinya.
"Kamu sudah selesai pacarannya?" Wi Jin Ming malah balik bertanya.
Gleg.
Rubby menelan ludah. 'Apa dia cemburu ya? Ihh, ini pasti gara-gara Arlan si tukang usil.' batin Rubby.
"Kenapa diem?" Wu Jin Ming tiba-tiba sudah berada di depan Rubby.
Rubby tersentak kaget.
"Ish, bisa nggak kalau nggak ngagetin gini!" Rubby reflek memegang dadanya.
Wu Jin Ming diam seribu bahasa. Dia langsung memakai helm dan memberikan helm yang lain pada Rubby. Tanpa menoleh Rubby dia memundurkan motor Rubby dan belok keluar dari parkiran.
__ADS_1
Rubby buru-buru membonceng di belakang. Baru kali ini Wu Jin Ming bersikap acuh padanya. Aneh. Biasanya dia selalu sabar menghadapi dirinya yang kadang kelewatan manja.
Mereka tetap diam sepanjang perjalanan. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Rubby. Jarak kafe dengan rumah Rubby tidak terlampau jauh.
"Kak!" panggil Rubby setelah turun dari motornya.
"Hmm." Wu Jin Ming melangkah mendahului Rubby untuk membuka pintu rumah.
"Kakak kenapa sih?" Rubby mengekor di belakang Wu Jin Ming.
"Nggak papa." masuk ke dalam rumah tanpa menoleh Rubby.
Settt!
Rubby memeluk Wu Jin Ming dari belakang.
"Plis, jangan mendiamkanku seperti ini. Aku cuma kamu seorang, Sayang."
Wu Jin Ming tersentuh dengan kata-kata Rubby, tapi dia masih kesal padanya. Wu Jin Ming berusaha menguasai emosinya. Tangannya mulai merespon pelukan Rubby.
"Yang, jangan marah dong!" Rubby kembali berucap.
"Aku tidak marah. Aku hanya merasa sebal." Wu Jin Ming mendengus kesal.
"Maaf kalau aku membuatmu sebal." pelukan tangannya di renggangkan oleh Wu Jin Ming. Kini mereka saling berhadapan.
"Kamu keterlaluan, Rubby. Kamu bercanda mesra dengan Arlan di depan umum. Kamu nggak memikirkan perasaanku." Wu Jin Ming menatap Rubby tajam.
"Kami kan cuma bercanda, Sayang!" Rubby mencoba membela diri.
"Orang lain mana tahu, Rubby. Pasti mereka berpikir kalian adalah pasangan."
"Maaf." Rubby tidak ingin berdebat. Bisa-bisa masalahnya jadi semakin panjang.
"Hmm. Jangan ulangi lagi. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Arlan." Wu Jin Ming mulai melembut.
"Aku mengerti, Sayang." Rubby kembali memeluk Wu Jin Ming.
"Bersiaplah untuk berkultivasi. Suhu badanmu mulai turun. Sepertinya energi spiritualmu melemah." Wu Jin Ming menggenggam tangan Rubby.
"Cium dulu!" rengek Rubby.
Cup.
Wu Jin Ming mengecup kening Rubby sekilas. Sebenarnya dia enggan melakukannya karena masih merasa dongkol pada Rubby.
"Makasih Sayangku!" Rubby melonjak senang. Dia pergi mengambil matras dengan penuh semangat.
Rubby dan Wu Jin Ming memulai kultivasi di siang itu. Mereka fokus menyerap energi alam dan energi supranatural yang berada di sekitar mereka. Mereka larut dalam gelombang kekuatan yang semakin besar menyelimuti mereka.
Di alam bawah sadarnya, Rubby melihat banyak sekali senjata yang sangat unik. Kakinya menuntunnya untuk berjalan mendekati senjata - senjata itu. Satu persatu senjata itu menjauh. Hanya tinggal segelintir saja yang tersisa.
Sekarang giliran tangan Rubby yang membimbing. Tangan Rubby bergerak untuk menyentuh salah satu senjata. Ketika di rasa berat, tangan Rubby kembali melepasnya lalu menyentuh senjata yang lain. Itu terjadi berulang hingga pilihannya jatuh pada sebuah senjata.
Rubby menyimpan senjata itu di arai inti miliknya. Rubby kembali bermeditasi untuk menyempurnakan kultivasinya. Aura senjata baru Rubby menarik energi yang terkumpul di sekitar Rubby. Hal itu memudahkan Rubby untuk menyerap energi yang besar dalam waktu yang relatif singkat.
****
Bersambung...
__ADS_1