TIGER WU

TIGER WU
JING XI'AN


__ADS_3

Tidak mudah untuk membuat para ketua klan dan gadis-gadis itu mengerti jika Wu Jin Ming benar-benar tidak tertarik untuk menjadikan mereka selir ataupun kekasih satu malamnya.


"Hemm... anggur ini benar-benar manis Tuan!" ucap Luo Jing sambil menunduk memamerkan gelas anggur yang telah di tenggaknya di hadapan Wu Jin Ming.


"Habiskan saja aku tidak ingin meminumnya!" tolak Wu Jin Ming untuk yang ke sekian kalinya.


Bukan hanya Luo Jing saja yang merayu Wu Jin Ming untuk minum. Yuan An, Lin Mo, Yi Yang dan Ah Yi juga saling berebut untuk memberikan minuman pada Wu Jin Ming. Mereka terlibat aksi saling dorong dan saling sikut.


"Hentikan!" teriak Wu Jin Ming yang tidak tahan lagi dengan tingkah para wanita itu.


Seketika ruangan menjadi senyap setelah mendengar teriakan keras Wu Jin Ming. Wu Jin Ming menatap tajam wajah para gadis itu dengan tatapan yang sangat dingin dan menyeramkan. Mereka mundur perlahan karena merasa ngeri dengan sikap Wu Jin Ming yang jauh berbeda dari sebelumnya. Hanya Luo Jing saja yang tetap menempel tanpa mempedulikan amarah Wu Jin Ming.


"Maafkan putri-putri kami jika membuat Tuan Muda menjadi marah. Mereka tidak bermaksud jahat, hanya ingin menemani Anda dan melakukan sesuatu yang membuat Anda senang," jelas salah satu ketua klan.


"Hal yang menurut kalian menyenangkan belum tentu menyenangkan menurutku dan hal yang baik bagi kalian belum tentu baik bagiku. Jangan paksa aku untuk berbicara hal yang menyakitkan pada kalian!" tegas Wu Jin Ming.


Ucapan Wu Jin Ming semakin membuat Luo Jing tertarik padanya. Bukannya mundur dia malah semakin ingin mendapatkan Wu Jin Ming. Dengan gaya yang sedikit berani Luo Jing duduk di atas meja dan menghadap Wu Jin Ming dengan pose yang menggoda.


Pakaiannya sedikit tersibak di bagian bawah hingga menampilkan paha mulusnya. Baju bagian atasnya juga sedikit terbuka karena sesak menyangga buah dadanya yang berukuran besar. Jika di beri nilai memang kecantikan Luo Jing beberapa tingkat di atas standar kecantikan para gadis yang ada di sana.


Panglima Ang berdebar-debar melihat kejadian ini. Jika Wu Jin Ming sampai marah sudah dipastikan jika mereka semua akan kena hukuman. Ini sudah di luar batas toleransi kesabaran.


"Seberapa cantik istrimu sampai kamu menolak diriku. Aku tidak menuntutmu hal yang tidak bisa kamu berikan. Aku hanya ingin tubuhmu saja." Luo Jing mencondongkan tubuhnya ke depan Wu Jin Ming dengan siku kiri yang menempel di pundaknya sementara punggung tangan kanannya mengelus lembut pipi Wu Jin Ming.


Kelakuan Luo Jing bisa saja mengundang gairah bagi sebagian laki-laki normal namun tidak bagi Wu Jin Ming. Sepertinya dia sudah mati rasa pada kemolekan tubuh wanita lain selain istrinya. Sekeras apapun usaha yang dilakukan oleh Luo Jing itu tidak akan berarti apa-apa bagi Wu Jin Ming.


"Kamu yakin ingin melihat secantik apa istriku? Bersiap-siaplah untuk malu!" Wu Jin Ming sedikit mendorong tubuh Luo Jing agar tidak lagi menempel padanya.


Dari dalam cincin penyimpanannya Wu Jin Ming mengeluarkan sebuah benda yang mungkin masih sangat asing di dunia siluman. Ponsel. Jari lentik Wu Jin Ming menggeser tombol kunci dan membuka galeri di ponselnya hingga menampilkan foto cantik Rubby dalam berbagai gaya. Wu Jin Ming menunjukkan foto-foto itu pada Luo Jing dan yang lainnya.


Mereka terpana dengan lukisan berukuran kecil di benda kotak yang menyala itu. Ternyata istri pemuda di depannya itu benar-benar cantik. Pantas saja dia menolak semua gadis yang ada di sini.


Setelah semua orang melihatnya, Wu Jin Ming kembali menyimpan ponselnya di dalam cincin penyimpanannya.

__ADS_1


Semua ketua klan menerima alasan penolakan Wu Jin Ming namun ada satu yang tidak terima yaitu ayah Luo Jing, Jing Xi'an.


"Kamu memang menjadi tamu kehormatan di sini tapi siapa kamu beraninya menolak putri kesayanganku!" Jing Xi'an berdiri dan membuat semua orang tercengang melihatnya.


Panglima Ang tidak bisa menahan diri untuk kali ini dia tidak akan mempedulikan lagi larangan Wu Jin Ming untuk membungkam mulut Jing Xi'an.


Brakkkk!


Panglima Ang menggebrak meja hingga membuat semua yang ada di sana tersentak.


"Beraninya sekali kamu berbicara seperti itu! Punya berapa nyawa dirimu?!" hardik panglima Ang penuh emosi.


"Aku tidak bicara padamu orang asing! Tapi pada temanmu yang tidak tahu diri itu. Dia hanya memberikan sedikit kekuatannya saja tapi sudah sangat sombong!" Jing Xi'an semakin menjadi-jadi.


Panglima Ang berjalan mendekat ke hadapan Jing Xi'an dan mencengkeram bajunya.


"Aku bukan orang asing. Aku adalah panglima Ang dan dia adalah Raja kalian, Bodoh!" suara panglima Ang terdengar pelan namun penuh dengan penekanan.


"Hahaha! Dasar penipu! Mana mungkin seorang panglima dan Raja berpenampilan gembel seperti kalian!" Jing Xi'an tertawa lantang.


"Kalian jangan percaya! Bisa saja dia siluman yang ahli dalam penyamaran. Serang mereka!" teriak Jing Xi'an memprovokasi semua orang yang ada di sana.


Kesabaran Wu Jin Ming pun di ambang batas normal. Dia segera berdiri untuk mengurangi pertumpahan darah di sana. Sebagai seorang raja yang sangat hafal dengan panglimanya, bisa di prediksi jika semua orang yang menghinanya akan habis di tangan panglima Ang.


"Hentikan!" pekik Wu Jin Ming yang membuat emosi panglima Ang sedikit mereda namun tidak bagi para ketua klan.


Mereka tetap bergerak maju karena termakan provokasi Jing Xi'an. Apalagi semalam mereka habis mendapatkan serangan musuh. Bisa jadi apa yang dikatakan Jing Xi'an benar. Wu Jin Ming dan panglima Ang adalah siluman yang menyamar untuk menyerang mereka.


Sebelum para ketua klan berhasil menyentuh Wu Jin Ming, mereka dikejutkan dengan tubuh Wu Jin Ming yang menyala dan berubah menjadi siluman harimau berambut putih. Walaupun Wu Jin Ming tidak memakai atribut kerajaan tetapi mereka bisa mengenali dari aura energi yang terpancar dari tubuhnya.


Seketika wajah mereka menjadi pucat pasi. Tidak dapat di sangkal lagi jika orang yang berada di hadapannya itu adalah Raja Wu Jin Ming. Para ketua klan itu berdiri ketakutan dan tidak tahu harus melakukan apa.


"Sudah ku bilang mereka adalah siluman ulung yang bisa menyamar menjadi raja kita dan siapapun yang mereka inginkan. Kenapa kalian masih diam? Serang mereka!" teriak Jing Xi'an kembali memberikan orasi.

__ADS_1


Sebenarnya hatinya sendiri masih ragu-ragu apakah dia siluman atau Raja Wu Jin Ming namun dia terlanjur malu telah di hina dengan penolakan darinya. Mungkin mati akan lebih baik baginya daripada hidup menanggung malu. Di hadapan seluruh klan besar yang ada di wilayah siluman rubah, Wu Jin Ming telah berani menolak putrinya yang terkenal sangat digandrungi di kalangan bangsawan.


Meskipun terpancing emosi namun Wu Jin Ming tetap tidak ingin ada korban jiwa. Dia hanya akan menghukum Jing Xi'an saja. Dalam hal ini dia yang paling banyak membuat kekacauan.


Dugg!


Kaki kanan Wu Jin Ming menghentak ke lantai membuat gelombang aneh muncul dari tubuhnya. Gelombang itu membuat tubuh para ketua klan yang menyerangnya terpental dan jatuh terjengkang ke belakang. Ada sebagian yang bangkit dan ingin kembali menyerang Wu Jin Ming namun mereka terhenti karena merasa kepanasan saat mendekati tubuhnya dan hampir menyentuh kulitnya.


Wu Jin Ming melapisi tubuhnya dengan api suci putih miliknya. Udara dingin yang semula memenuhi ruangan kini menjadi panas setelah kemunculan api itu. Jing Xi'an si rubah tua masih berusaha untuk melawan Wu Jin Ming sendirian.


Dengan percaya diri Jing Xi'an bangkit dan mengeluarkan bola-bola salju untuk melawan api suci milik Wu Jin Ming. Bola-bola salju itu dia lemparkan satu persatu ke arah Wu Jin Ming berharap mampu membuat api di tubuhnya padam. Namun kenyataan yang terjadi berbeda. Bola-bola salju itu menguap saat menyentuh api suci Wu Jin Ming.


Jing Xi'an tidak menyerah dia berjalan mendekati Wu Jin Ming dan memberikan serangan yang lebih besar. Hasilnya tetap sama. Bola-bola salju yang dia lemparkan menguap percuma.


Tinggal satu senjata rahasia Jing Xi'an yang menjadi salah satu alasan kesombongannya, Busur Panah Dewi Kematian. Busur yang mampu membuat sebuah gunung membeku hanya dalam satu kali panah. Jika mengenai siluman maka tubuh siluman yang terpanah akan hancur seperti es yang mencair.


Wu Jin Ming terkesiap melihat senjata itu ada di tangan Jing Xi'an. Itu bukan senjata mainan yang bisa sembarangan digunakan. Apalagi hanya untuk masalah sepele seperti ini.


"Kamu jangan main-main dengan senjata itu Pak Tua! Apa kamu ingin menghancurkan klanmu? Di mana pikiranmu? Apa kamu ingin menjadikan mereka semua sebagai korban keegoisanmu?!" hardik Wu Jin Ming.


"Aku tidak peduli! Kamu sudah menghinaku! Apa yang sudah mereka lakukan untukku? Para ketua klan itu hanyalah sekumpulan orang menyedihkan yang tidak berguna."


Para ketua klan yang semula membela Jing Xi'an kini berbalik membencinya. Dengan wajah gusar mereka berbaris di belakang Wu Jin Ming untuk menentangnya. Bukannya takut Jing Xi'an tetap merasa percaya diri jika senjata miliknya bisa melawan apapun termasuk jika di hadapannya itu benar-benar Raja Wu Jin Ming.


"Tuan kami tahu bagaimana cara menghadapi senjata itu!" bisik salah satu ketua klan yang sekarang memihak Wu Jin Ming.


"Caranya?" tanya Wu Jin Ming penasaran.


"Kami akan menyatukan kekuatan kami untuk membuat lingkaran pembesar api dan Tuan buatlah bola api yang besar lalu lemparkan ke tengah lingkaran yang kami buat. Kami akan mengendalikan lingkaran api itu untuk menghalau Panah Dewi Kematian Jing Xi'an. Biasanya setelah melakukan satu kali memanah dia akan pingsan karena kehabisan tenaga!" jelas Chung Mo salah satu pemimpin klan yang masih terlihat sangat muda.


"Baiklah! Aku percayakan semuanya pada kalian!" seru Wu Jin Ming.


"Bedebah, kalian semua! Kalian pikir aku akan gentar jika kalian berkomplot untuk melawan ku, Ha!" Meskipun sendirian Jing Xi'an masih juga jumawa.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2