
Rubby masih terlelap saat mereka sampai di rumah. Wu Jin Ming membuka pelan pintu mobilnya agar tidak membangunkan Rubby. Dia ingin menggendongnya ke dalam.
Saat Wu Jin Ming menggendongnya, sama sekali Rubby tidak terganggu. Sampai di depan pintu Wu Jin Ming baru teringat jika dia belum membuka kunci pintu rumah. Terpaksa dia memakai kekuatan magisnya lagi untuk membukanya.
Mujur tak bisa di minta dan malang tak bisa di tolak. Kaki Rubby menyenggol sebuah vas bunga tanpa Wu Jin Ming ketahui. Suara keras vas jatuh membuat Rubby terbangun.
Spontan Rubby melompat turun dari gendongan Wu Jin Ming. Dia masih setengah sadar. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan pandangannya.
"Sayang, aku di mana?" tanya Rubby dengan suara serak.
"Kita sudah di rumah," jawab Wu Jin Ming sambil berjalan untuk menyalakan lampu.
"Ohhh!" Rubby menutup mulutnya yang menguap. Dia merentangkan kedua tangannya ke atas lalu menggeretakkan sendi-sendinya yang terasa pegal.
Wu Jin Ming mendekati Rubby dan memeluknya erat. Dia juga menghujani Rubby dengan ciuman yang bertubi-tubi. Mata Rubby terbelalak menerima serangan mendadak Wu Jin Ming.
"Hei, kamu kenapa sih kok tiba-tiba aneh begini?"
"Aku sayang kamu Rubby," ucap Wu Jin Ming sambil memeluk Rubby penuh cinta.
Bukannya seneng. Rubby malah terlihat bingung. Dia merasa ada yang tidak beres dengan Wu Jin Ming.
"Terimakasih sudah bersedia menjadi istriku. Aku sangat beruntung memilikimu." Wu Jin Ming kembali berkata manis.
Rubby menatap Wu Jin Ming heran. Dia sampai menenglengkan kepalanya menatap Wu Jin Ming dengan teliti.
"Kamu nggak sedang merayuku karena takut ketahuan selingkuh kan?" tanya Rubby kemudian.
"Kok kamu ngomong gitu, sih. Dengar baik-baik Rubby. Di hari ulang tahunmu ini aku bersumpah aku tidak akan pernah mencintai wanita lain selain dirimu. Jika kita hidup di kehidupan setelah ini aku akan tetap mencintaimu dan hanya menikah denganmu saja. Kamu bisa memegang sumpahku ini." Wu Jin Ming terlihat serius dengan ucapannya.
"Sayang... terimakasih kamu ingat dengan hari ulang tahunku!" seketika sikap Rubby berubah. Dia membalas pelukan Wu Jin Ming.
"Sebenarnya aku nggak tahu sih. Cuman tadi tante Sofi datang ke sini nganter kue sama kado buat kamu." Wu Jin Ming tersenyum kikuk. Dia merasa tidak enak pada Rubby. Sebagai orang terdekatnya dia sampai tidak tahu ulang tahun pasangannya. Wu Jin Ming pasrah jika Rubby marah setelah ini.
Rubby melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Cup!
Di luar perkiraan Wu Jin Ming. Rubby malah memberinya ciuman.
"Aku bersyukur memilikimu Sayang. Bertemu denganmu dan menjadi istrimu adalah hal terindah di dalam hidupku. Aku lebih, lebih, lebih mencintaimu." ucapan Rubby membuat Wu Jin Ming terharu.
Mata mereka saling beradu. Suasana berubah menjadi sangat romantis. Perasaan yang menggebu membuat mereka larut dalam gelora.
Wajah mereka saling mendekat. Seperti ada magnet yang membuatnya saling menempel satu sama lain. Mereka menyatukan perasaan bahagia dalam hati mereka dalam sebuah ciuman hangat.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Entah berapa lama mereka larut dalam adegan romantis itu. Perlahan Wu Jin Ming mendorong tubuh Rubby untuk berjalan mundur tanpa melepaskan ciumannya.
Namun di tengah perjalanan menuju kamar, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Perut Rubby kembali berbunyi. Sepertinya dia benar-benar lapar.
Buru-buru Wu Jin Ming menyudahi ciuman mesranya.
"Maaf aku lupa kalau kamu lapar." Wu Jin Ming merasa bersalah.
"Nggak papa kok. Em, aku males makan. Apa kamu masih punya pil seperti waktu itu." Rubby bicara terbata-bata. Debar jantung dan deru napasnya masih belum stabil. Jiwanya sedang terbakar gairah.
"Terimakasih." Rubby berjalan ke kamarnya lalu mengambil botol minum di atas meja.
Setelah menelan pilnya Rubby duduk di tepi ranjang. Wu Jin Ming menyusulnya duduk. Mereka sama-sama terdiam.
"Sayang... kamu mau tidur atau... melanjutkan yang tadi?" tanya Wu Jin Ming hati-hati.
"Aku... ingin melanjutkan yang tadi," jawab Rubby malu-malu.
Wu Jin Ming tersenyum senang. Mereka kembali melanjutkan adegan yang sempat tertunda. Kelihatannya mereka sudah lupa akan rasa lelah setelah pertarungan mereka melawan Shang Shang.
...
"Sempurna! Hahaha!" tawa nyaring menggema di sebuah goa.
"Beri hormat untuk Yang Mulia Raja Kegelapan!" perintah seorang siluman dengan wujud manusia. Di belakangnya berdiri segala macam siluman yang berwujud manusia. Wajah mereka tidak terlihat jelas karena mereka memakai jubah hitam dan tudung kepala.
__ADS_1
"Salam hormat Yang Mulia Raja Kegelapan. Kami siap mengabdikan diri." semua siluman bersujud di hadapan orang yang mengaku sebagai Raja Kegelapan.
"Aku terima pengabdian kalian. Bangunlah!" seru Raja Kegelapan.
Raja Kegelapan berjalan berkeliling. Dengan bangganya dia memamerkan tubuh barunya yang terlihat gagah dan tampan. Tubuh seorang pemuda yang mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya bukan kecelakaan, tetapi di buat seolah seperti kecelakaan. Pemilik tubuh itu tidak lain adalah Moza.
Tubuh Raja Kegelapan rusak parah setelah bertapa di palung samudera. Kekuatan meningkat namun raganya memburuk tak berbentuk. Lalu dia memutuskan untuk mencari tubuh baru untuknya.
Raja Kegelapan sangat tertarik pada tubuh Moza yang terlihat sempurna. Kebetulan saat melihatnya, pikiran Moza sedang kosong. Kesedihan dan kegalauannya membuatnya mudah terperangkap dalam jebakannya.
Butuh beberapa hari untuk menguasai tubuh Moza. Jiwa Moza sangat sulit untuk di kurung. Terkadang Raja Kegelapan masih saja kehilangan pengaruhnya. Sampai saat ini pun tubuh Moza belum sepenuhnya dia kuasai.
"Panglima Chen! Datangi para siluman dan carilah pengikut sebanyak-banyaknya!" perintah Raja Kegelapan.
"Baik, Yang Mulia. Saya akan membawa beberapa pasukan pilihan untuk tugas ini." Panglima Chen siap melaksanakan tugasnya.
"Tunggu!" sepertinya Raja Kegelapan teringat sesuatu.
"Ampun Yang Mulia. Apa ada perintah lagi?" tanya Panglima Chen hati-hati. Menyinggung Raja Kegelapan berarti mati.
"Apakah ada kabar tentang Shang Shang?" tanya Raja Kegelapan.
"Belum Yang Mulia. Sampai saat ini dia masih belum kembali."
"Hmm. Pergilah!" Raja Kegelapan mengibaskan tangannya sebagai isyarat agar Panglima Chen segera pergi.
Raja Kegelapan berjalan menuju singgasananya yang terlihat menyeramkan. Singgasana yang terbuat dari endapan energi manusia dan siluman yang berhasil di bantai oleh Raja Kegelapan dan pasukannya. Setiap ada nyawa yang terbunuh, maka singgasana itu akan menyala.
Raja Kegelapan juga ikut menyerap kekuatan yang di dapat oleh anak buahnya. Kekuatan itu tersimpan di dalam tongkat miliknya. Tongkat panjang dengan warna hitam legam dan ujung atasnya berkepala tengkorak.
Setiap hari Raja Kegelapan menyebar pasukannya untuk menambah kekuatan dan kekuasaannya. Meski sudah bertapa ribuan tahun, dia masih merasa belum puas. Dia ingin menjadi siluman yang paling kuat di muka bumi.
****
Bersambung...
__ADS_1