TIGER WU

TIGER WU
ULAR HIJAU


__ADS_3

Wu Jin Ming mengambil pisau dapur dan membakarnya di atas kompor terlebih dahulu. Cara kuno untuk membuatnya steril dari kuman. Tisu baskom dan termos kecil tidak lupa dia siapkan juga.


Wu Jin Ming juga membawa sebotol air mineral untuk Rubby. Dia ingat, sebelumnya Rubby bilang haus. Banyaknya barang yang dia bawa membuatnya sedikit riweh. Namun dia tetap bisa mengendalikannya.


Pranggg!


Wu Jin Ming menjatuhkan semua barang yang dia bawa karena terkejut.


Seekor ular kecil berwarna hijau sedang menggigit ujung jari Rubby. Wu Jin Ming berjalan ke arahnya. Dia ingin menghabisi ular itu.


Wu Jin Ming berjalan mengendap-endap untuk menangkap ular hijau itu. Tapi melihat wajah kebiruan Rubby mulai memudar, dia tidak jadi melakukannya. Rupanya ular itu menyerap racun di tubuh Rubby.


'Dari mana ular itu datang? Apakah Rubby juga memelihara ular? Kalau tidak kenapa ular itu tiba-tiba muncul?' berbagai pertanyaan muncul di benak Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming berjalan mendekat. Ular itu seperti tidak terganggu dengan kedatangannya. Dia tetap menggigit dan menyerap racun di tubuh Rubby.


Merasa tidak membahayakan, Wu Jin Ming meninggalkan Rubby dan ular itu untuk membereskan barang-barang yang tadi dijatuhkannya. Wu Jin Ming membawa dan meletakkannya di atas meja. Setelah semua beres dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.


"Kemana dia?" Mata Wu Jin Ming melihat sekeliling untuk mencari keberadaan ular tadi.


Wu Jin Ming mengintip kolong tempat tidur, mengangkat bantal dan juga menyibakkan selimut. Tidak ada. Entah ke mana larinya ular itu.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya, Wu Jin Ming duduk bersila untuk bersemedi. Baru akan mulai berkonsentrasi, terdengar suara Rubby merintih. Wu Jin Ming tidak melanjutkan meditasinya lagi.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Wu Jin Ming.


"Auuhh... Kepalaku terasa berat. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Rubby sambil meraih botol minum di atas meja.


Wu Jin Ming membantu meraihnya.


"Kamu terkena racun langka milik Siluman Gurita. Aku hampir membawamu ke istana langit, tapi kamu menolak," cerita Wu Jin Ming.


"Oh, sampai itu aku ingat. Tapi setelahnya enggak."


"Tadi seekor ular hijau kecil menggigit ujung jarimu dan menghisap racunmu. Aku nggak tahu dari mana ular itu berasal. Aku juga kehilangan jejaknya. Aku baru saja akan melacaknya dengan bersemedi tapi kamu sudah bangun," jelas Wu Jin Ming.


'Ular? Berwarna hijau? Apakah itu ular peliharaan ibu ratu? Tidak... Tidak... Kak Tiger tidak boleh melacaknya. Dia tidak boleh tahu tentang identitasku sebagai putri dari Ratu Ivo.' gumam Rubby dalam hati.


"Ah, nggak perlu di lacak, Sayang. Mungkin dia sengaja menghilang karena dia nggak ingin ada yang tahu identitasnya. Kan, yang terpenting aku sudah baik-baik saja." Rubby memeluk lengan Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Hmm. Kamu benar. Ya sudah kamu istirahat. Aku akan memesan sup untuk kita via online." Wu Jin Ming beranjak untuk mengambil ponselnya.


"Beli aja pake mobil. Pesan order akan sedikit lama. Aku lapar." Rubby mengelus perutnya.


"Ya, ampun! Aku hampir lupa. Mobil kita masih di pantai Sayang. Tapi tenang, aku akan membawa mobil itu dengan kekuatanku."


Wu Jin Ming duduk bersila dan bermeditasi untuk memindahkan mobil itu dari pantai ke rumah. Hanya butuh hitungan detik mobil itu sudah berada di depan rumah Rubby.


"Kamu nggak papa aku tinggal beli makan siang?" tanya Wu Jin Ming.


"Em, nggak mau di tinggal!" Rubby malah mengeratkan pelukan di lengan Wu Jin Ming.


"Ya, udah, ayo kalau mau ikut!" saat Wu Jin Ming akan berdiri tangannya masih juga di peluk oleh Rubby.


"Gendong!" ucap Rubby manja.


"Ya, ampun istriku. Manja banget sih!" seru Wu Jin Ming gemas. Tapi dia tetap melakukan apa yang Rubby minta.


"Tadi kan saat kamu gendong aku nggak merasakan apa-apa, jadi aku pengen menikmati enaknya di gendong itu gimana," ucap Rubby sambil memeluk Wu Jin Ming dari belakang punggungnya.


"Terus, kalau enak mau lagi gitu?" tanya Wu Jin Ming.


"Tentu saja."


"Ish, pamrih! Aku gigit tau rasa!"


"Auww! Sakit!" pekik Wu Jin Ming melucu.


"Heh, belum!" teriak Rubby pura-pura kesal.


"Eh, belum, ya?"


Mereka berdua sama-sama terkekeh mengingat kekonyolan mereka. Wu Jin Ming membuka penutup atas mobilnya dengan remote kontrol dan menurunkan Rubby. Mereka berkendara sambil menikmati semilir angin yang menyapu wajah mereka.


"Kita makan di mana, Sayang?" tanya Wu Jin Ming.


"Yang deket aja. Di ujung jalan itu juga enak. Rumah makan Shandra."


"Oke! Kita ke sana. Itu kan!" tunjuk Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Iya."


Hanya butuh beberapa menit saja mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah makan Shandra. Wu Jin Ming menutup mobilnya sebelum mereka turun. Dengan gaya cool Wu Jin Ming berjalan memasuki rumah makan dengan menggandeng tangan Rubby.


"Kita duduk di sini aja." Rubby menarik tangan Wu Jin Ming menuju bangku kosong yang tak jauh dari pintu masuk.


"Kamu kenapa?" tanya Wu Jin Ming panik melihat wajah Rubby yang memucat.


"Kepalaku agak pusing. Mungkin karena terlalu lapar." Rubby meletakkan kepalanya di atas meja.


Tanpa banyak bicara, Wu Jin Ming segera mengalirkan energinya melalui telapak tangannya dan menempelkannya ke punggung Rubby. Berangsur-angsur Rubby merasa lebih baik. Meskipun masih merasa lemas, tapi kepalanya sudah tidak pusing.


"Coba tadi kalau kamu tadi nggak minta makan di luar. Kita order dan nunggu di rumah aja. Pasti nggak bakalan kayak gini," omel Wu Jin Ming karena panik.


Pelayan datang menghampiri mereka.


"Mau pesan apa Tuan?" tanya pelayan itu.


"Semua yang paling enak dan paling mahal. Kalau ada yang bisa bikin tenaga cepet pulih. Pacar saya habis sakit soalnya," ucap Wu Jin Ming sambil terus memeluk tubuh Rubby.


"Baik Tuan!"


"Satu lagi, tolong cepat di antar! Ini tips buat kamu." Wu Jin Ming memberikan beberapa lembar uang.


"Terimakasih Tuan. Pesanan akan segera datang." Pelayan itu segera pergi dari hadapan Wu Jin Ming untuk mempersiapkan pesannya.


"Kamu terlalu berlebihan," gumam Rubby.


"Apa kamu bilang? Aku melakukan semua ini untuk kamu." Wu Jin Ming membelai rambut Rubby dan menyibakkannya ke belakang.


"Iya tauk. Tapi coba kau pikir kita habis berapa duit untuk membayar makanan tadi. Itu bisa buat kita makan seminggu, Sayang." jiwa emak-emak Rubby muncul.


"Kamu perhitungan banget sih, Yang. Nggak apa-apa kan sesekali kita kita makan seperti ini. Honor dari manager Lin juga udah masuk."


"Kan kamu capek kerja. Masak mau dihabisin sehari." Rubby masih saja protes.


"Udah kamu tenang aja. Ini nggak akan ngabisin seperempat dari honorku kok."


"Ya, sudah terserah kamu." Rubby menyerah untuk berdebat.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2