TIGER WU

TIGER WU
KEMBALI NORMAL


__ADS_3

Rubby berusaha untuk tetap berdiri tegak. Tongkatnya dia putar perlahan. Rubby memintanya untuk mengembalikan keadaan seperti semula dan menyadarkan semua orang dari pengaruh Shang Shang.


Lampu-lampu kembali menyala. Mesin mobil juga kembali berfungsi. Orang-orang mulai terbangun satu persatu. Rubby kembali ke dalam wujud manusianya sebelum semuanya menyadari keadaan.


Brukk!


Rubby ambruk di kaki Wu Jin Ming. Dia masih sadar namun tubuhnya sangat lemah. Tangannya terus memegangi dadanya yang terasa panas seperti terbakar.


"Rubby!" teriak Wu Jin Ming yang baru saja tersadar. Dia segera merubah penampilannya menjadi wujud manusia sebelum orang-orang melihatnya.


"Uhuk... uhukk... Kak Tiger!" suara Rubby sangat lemah. Mulutnya kembali mengeluarkan darah segar.


Wu Jin Ming terlihat panik. Dia segera menggendong Rubby ke dalam mobilnya. Wanita dan bayi yang terbaring di atas mobilnya mulai tersadar. Wu Jin Ming membantu wanita itu turun setelah mendudukan Rubby di dalam mobil.


Saat ini jalanan masih macet. Kekuatan Shang Shang benar-benar luar biasa. Seluruh kota seperti kota mati beberapa saat yang lalu.


Wu Jin Ming berniat untuk mengobati Rubby sambil menunggu semuanya berjalan normal. Pengaruh sihir Shang Shang belum sepenuhnya menghilang dari sebagian orang. Mereka masih berjuang untuk memulihkan tenaga setelah tak tersadar dengan keadaan yang berbeda-beda.


"Sayang... tahan sebentar!" Wu Jin Ming berbisik kepada Rubby. Dia membalikkan tubuh Rubby dengan posisi membelakanginya. Wu Jin Ming mulai membuka jalur energi di tubuh Rubby.


"Aahh!" Rubby menjerit kesakitan.


"Tahan Sayang! Pusatkan pikiranmu untuk menerima energi dariku!"


Rubby mengangguk lemah tak berdaya.


Telapak tangan Wu Jin Ming memutari punggung Rubby dengan sedikit aliran energi. Setelah di rasa Rubby mulai terbiasa dan siap menerima energi yang lebih besar, Wu Jin Ming menempelkan telapak tangannya di punggung Rubby. Wu Jin Ming kembali menempelkan telapak tangannya yang lain.


"Aaarghhh!" Rubby kembali berteriak. Keringatnya mengucur deras menahan kekuatan yang dialirkan oleh Wu Jin Ming.


Dari tubuh Rubby keluar cahaya merah kehitaman. Cahaya itu berasal dari racun energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Rubby mengatur napasnya yang tersengal-sengal karena menahan sakit yang luar biasa.


Seiring cahaya merah yang memudar, perlahan rasa sakitnya mulai berkurang. Nafas Rubby juga mulai teratur.


Wu Jin Ming mengakhiri aliran energinya setelah luka dalam Rubby berhasil dia obati. Endapan racun energi negatinya juga berhasil dikeluarkan. Wu Jin Ming menarik telapak tangannya dari tubuh Rubby dan membantu Rubby duduk dengan nyaman.


"Apa masih sakit?" tanya Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Enggak!" jawab Rubby sambil merapikan rambut dan bajunya yang terlihat kusut.


"Sudah ku bilang, kamu di mobil saja. Shang Shang bukan lawan yang mudah." Wu Jin Ming meluapkan kekhawatirannya.


"Aku hanya ingin membantumu saja," ucap Rubby lirih. Kulitnya merinding melihat tatapan Wu Jin Ming yang seperti ingin menelannya bulat-bulat.


"Lain kali jangan membantah perkataanku. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu." ucapan Wu Jin Ming mulai melembut.


"Aku tahu. Aku mencintaimu." Rubby memeluk lengan Wu Jin Ming dan menyandarkan kepalanya di sana.


"By, aku sangat... sangat... mencintaimu. Aku takut kehilanganmu. Jangan pernah bermain-main dengan bahaya tanpa seijinku!" Wu Jin Ming mengusap kepalanya Rubby lembut meskipun hatinya masih merasa kesal karena di buat khawatir.


"Iya," jawab Rubby singkat.


"Oh, iya, aku hampir lupa. Bagaimana dengan Shang Shang? Apa kamu berhasil mengalahkannya?" tanya Wu Jin Ming.


Rubby menegakkan tubuhnya. Wajahnya terlihat panik. Dia tidak boleh menceritakan siapa dirinya untuk saat ini. Rubby harus mengarang cerita yang masuk akal untuk mengelabuhi Wu Jin Ming.


"Ya jelas... bu... bukan aku lah. Aku saja terluka parah kan tadi?" Rubby menggigit bibirnya sambil mencari ide untuk menjawab pertanyaan Wu Jin Ming berikutnya selogis mungkin.


"Em, aku bertarung sama dia kan. Trus aku kalah. Em, habis itu apa ya? Ah, iya ada seseorang yang menolongku. Udah. Gitu aja." Rubby menunduk. Saat ini Wu Jin Ming terus menatapnya. Dia takut Wu Jin Ming tahu kalau dia berbohong.


"Siapa yang menolongmu? Kamu laki-laki atau perempuan? Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Banyak sekali sih, nanyanya. Kayak wartawan aja. Satu-satu dong!" gerutu Rubby menyembunyikan kegelisahannya.


"Hmm. Jawab saja apa yang kamu ingat. Kalau nggak ingat ya udah." Wu Jin Ming terkekeh.


"Ihh, kamu pikir aku nenek-nenek pikun apa!" Rubby mendengus kesal.


"Hahaha!" Wu Jin Ming tertawa melihat wajah cemberut Rubby.


"Oke aku ceritain. Yang menolongku itu seorang wanita bercadar. Aku nggak tahu namanya. Dia berhasil melumpuhkan Shang Shang dan membawanya pergi untuk di beri hukuman. Pokoknya dia hebat deh. Tapi inget, kalau ketemu dia jangan naksir!" Rubby cemberut namun tertawa dalam hati. Sungguh kenarsisan level dewa.


"Mana mungkin. Aku sudah menantimu beribu-ribu tahun. Kita sudah dijodohkan oleh langit. Aku nggak akan tergoda oleh bidadari sekalipun karena kamu lebih cantik darinya."


"Haiish, gombal!"

__ADS_1


"Kog gombal sih! Beneran Sayang."


Kruukkk...


Perut Rubby berbunyi. Sontak mereka berdua tertawa mendengarnya.


"Nah, kan. Gombalan kamu bikin aku jadi laper." Rubby mengelus perutnya.


"Nggak nyambung lah! Mau makan di mana?" tanya Wu Jin Ming.


"Di rumah aja. Aku capek. Takut ketemu siluman lagi kalau makan di luar," ucap Rubby.


"Sepertinya lalu lintas sudah mulai lancar. Kita pulang sekarang, ya?" Wu Jin Ming memasang sabuk pengamannya.


Rubby juga melakukan hal yang sama.


Mobil Wu Jin Ming berjalan lambat karena kondisi lalu lintas masih sedikit macet. Jalanan malam itu sangat padat dan tidak teratur akibat ulah Shang Shang. Polisi juga tampak sibuk mengatur lalu lalang kendaraan.


"Yang, nggak bisa lebih cepat, ya?" tanya Rubby.


"Aku nggak bisa mengeluarkan kekuatan spiritualku lagi. Aku sudah memakainya lebih dari yang seharusnya," jelas Wu Jin Ming.


"Hmm." Rubby terlihat bosan menikmati kemacetan.


"Sabarlah. Jika kamu mengantuk, kamu tidur saja." Wu Jin Ming berbicara tanpa menoleh karena harus fokus menyetir. Mungkin masih butuh 10 atau 20 menit lagi untuk bisa keluar dari kemacetan.


"Iya Sayang. Bangunkan aku jika sudah sampai di rumah." Rubby menutup mulutnya yang sedang menguap.


"Baiklah. Ubahlah posisi kursinya agar lebih nyaman!" ucap Wu Jin Ming sambil menyetir.


"Sayang, ubah posisi kursinya agar lebih nyaman!" merasa tidak ada pergerakan dari Rubby, Wu Jin Ming mengulangi perintahnya.


Wu Jin Ming menoleh dan mendapati Rubby sudah tertidur lelap. Dia menggeleng tak habis pikir. Bisa-bisanya Rubby tidur hanya dalam hitungan detik.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2