
Wu Jin Ming melirik ke arah anggota Sekte Air Api Suci yang berada di sana. Mereka semuanya memperhatikannya dengan tatapan menghakimi. Saat ini dirinya benar-benar terpojok.
Tanpa di duga, Rubby maju ke tengah-tengah ruangan dan berdiri di hadapan Guru Tong. Mungkin itu sedikit gegabah namun dia bertekad untuk menutupi jati diri Wu Jin Ming agar alam dewa dan alam yang lain tetap terjaga kerahasiaannya. Jika dia yang bicara akan lebih masuk akal karena dia sejak bayi tinggal di dunia manusia dan dibesarkan sebagai manusia biasa.
"Tuan Guru Tong Yang Terhormat, sebelumnya saya sangat meminta maaf jika ketidaksengajaan menemukan mantra kuno itu akan menjadi masalah di hari ini. Sejujurnya saya merasa terjebak dalam situasi yang sulit. Apa yang dikatakan kekasih saya memang benar, kami ingin meminjam kertas mantra itu untuk melakukan penyatuan jiwa."
Penjelasan Rubby membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Mereka saling berbisik dan mengangguk. Ada yang percaya dengan ucapan Rubby dan ada yang tidak mempercayainya.
Dilihat dari penampilan fisiknya, Rubby dan Wu Jin Ming masihlah sangat muda belia. Penyatuan jiwa hanya bisa dilakukan oleh kultivator tingkat atas yang memiliki tiga jiwa yang berbeda. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan gadis itu sebenarnya.
"Nona! Anda masih sangat muda. Aku tidak bermaksud untuk merendahkanmu, tetapi penyatuan jiwa bukanlah hal yang umum dilakukan oleh siapa saja. Di dalam sejarah yang tercatat hanyalah terjadi sebanyak dua kali saja dan itupun sudah ratusan tahun yang silam. Aku harap, kamu tidak mengada-ada hanya demi memiliki mantra itu saja."
Guru Tong berdiri sambil menyatukan kedua tangannya di belakang punggungnya. Menatap Rubby sejurus mencoba untuk mencari kebenaran di balik ucapannya. Seorang gadis kecil, murid dari muridnya di sekolah, sepertinya hanya omong kosong saja.
"Kualifikasi apa yang Anda inginkan agar Anda percaya jika aku benar-benar layak untuk melakukan penyatuan jiwa, Tuan Guru? Apakah saya perlu menghancurkan pondok yang Anda miliki ini terlebih dahulu untuk membuktikannya?" Rubby melipat tangannya di dada.
"Jangan sombong gadis kecil! Jika memang kamu punya kemampuan maka tunjukkan padaku!" seru Guru Tong sambil melirik ke arah dosen Chu.
"Murid Chu, majulah!" panggilnya kemudian.
Dosen Chu bangkit dari duduknya lalu maju untuk memberi hormat pada gurunya. Setelah itu dia berdiri saling berhadapan dengan Rubby, mahasiswi cantik yang sempat membuat hatinya berdesir. Penolakan demi penolakan itulah yang merubah perasaan itu menjadi dendam dan kebencian.
Rubby cukup mengerti semua ini pasti ulah dosen Chu yang merasa dia acuhkan selama ini. Apakah ini pertarungan untuk sebuah dendam pribadi di antara mereka ataukah pembuktian akan kelayakan Rubby meminjam mantra itu?
__ADS_1
Wu Jin Ming tampak gelisah dan tidak tenang dalam duduknya. Dia tidak bisa menyalahkan semua yang dilakukan oleh Rubby, namun juga tidak membenarkannya. Terlalu berbahaya jika sampai orang luar tahu jika Rubby seorang kultivator tingkat atas.
Setelah ini pasti hidup mereka tidak akan mudah. Akan ada kultivator lain ataupun pemburu kekuatan yang sengaja mencari-cari masalah. Motif utama mereka tentu hanya untuk menjajal kekuatan dan mencoba peruntungan untuk memperoleh energi yang besar jika Rubby berhasil dikalahkan.
"Apa aku harus melawannya?" Pertanyaan konyol Rubby membuat semua orang ingin menepuk jidatnya.
Adapun yang ingin tertawa karena itu membuatnya terlihat lemah.
Mereka mulai menduga-duga, jika ucapan Rubby untuk melakukan penyatuan hanya bualan semata.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya dosen Chu dengan senyum mengejek.
"Sedikit. Aku takut kamu mati lalu kakek tua itu semakin marah padaku dan memberikan tuduhan baru!"
"Oh, iya, baiklah! Aku harap kamu tidak akan menyesali kata-katamu ini."
Rubby mulai bersiap untuk bertarung melawan dosen Chu. Tubuhnya tidak berubah ke dalam wujud yang berbeda, namun dia hanya melapisinya dengan energi kebiruan yang secara alami muncul ketika dia mengeluarkan kekuatannya. Energi dan tekanan yang besar sengaja dia keluarkan untuk membalas senyum mengejek dari semua orang yang ada di sana.
Para anggota Sekte Air Api Suci yang duduk di sana serentak mengeluarkan energi yang mereka miliki untuk melindungi diri mereka dari tekanan energi milik Rubby yang membuat dada mereka seakan terhimpit batu besar.
Guru Tong sendiri juga melakukannya. Dia membuka telapak tangan kanannya, mengalirinya energi, lalu di depan dadanya menolak ke arah Rubby. Namun ini belum bisa membuatnya mempercayai Rubby.
"Apakah kamu sudah siap untuk menerima kematianmu dosen Chu?" tanya Rubby sambil maju mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Dosen Chu yang sejak tadi memegangi dadanya mulai kehilangan keseimbangan. Sebelum Rubby semakin mendekat, akhirnya dia pun mengeluarkan energi spiritual miliknya yang sejak tadi di tahannya. Kini tubuhnya dilapisi oleh energi yang cukup besar meskipun tidak sebesar energi milik Rubby.
"Bagus! Rupanya kamu juga terlihat begitu hebat, semoga saja kamu tidak tumbang hanya dalam satu jurusku saja." Rubby berpikir ingin segera mengakhiri pertarungan karena dia tidak mau terlalu lama menunda waktu belanjanya.
"Jangan banyak bicara! Bersiaplah!" seru dosen Chu.
Wu Jin Ming terus memperhatikan gerak gerik semua orang yang ada di sana, berjaga-jaga jika mereka bertindak curang untuk membantu dosen Chu secara diam-diam.
Biasanya, para tetua kolot sangat sulit untuk di hadapi. Mereka akan melakukan segala cara agar sekte-nya menjadi pemenang yang tak terkalahkan. Itu biasa terjadi pada jaman lampau dan mungkin juga tidak akan jauh berbeda dengan keadaan saat ini.
Dosen Chu terlihat membuat pedang energi dari telapak tangannya, Rubby tersenyum. Cara yang dia pakai masih terlalu lambat. Jika di tilik secara menyeluruh, tingkatan dosen Chu berada dua sampai tiga tingkat di bawahnya.
Pedang harus dilawan dengan pedang. Dalam hitungan detik saja sebuah pedang energi berbentuk sempurna sudah berada dalam genggaman Rubby. Beberapa detik lebih cepat dari pedang dosen Chu selesai di buat.
Guru Tong tampak gelisah. Dia merasa harga diri sektenya mulai dipertaruhkan saat ini. Menurutnya akan sangat memalukan jika murid paling berbakat di sekte itu akan kalah dari seorang gadis belia seperti Rubby.
Wajahnya terlihat kaku karena kedua rahangnya saling beradu.
Suasana di ruangan itu menjadi semakin menegang, ini yang pertama kali bagi mereka menyaksikan duel kultivator setelah beberapa waktu tidak ada pertarungan serius.
"Majulah, dosen Chu! Atau kamu ingin aku yang menyerangmu lebih dulu?" Rubby bergerak seperti bayangan memutari tubuh dosen Chu.
****
__ADS_1
Bersambung...