
Pertarungan sengit tak terhindarkan lagi. Minimarket itu menjadi berantakan oleh ulah mereka. Rubby lebih senang melakukan serangan jarak dekat karena siluman itu sangat lincah menghindari serangan jarak jauh yang dia lontarkan.
Tidak sia-sia pergi ke istana untuk belajar. Ilmu beladiri yang dia serap rupanya sangat berguna. Dengan begini dia juga bisa menghemat energi spiritualnya.
Kedua belah pihak mulai kelelahan. Rubby tidak mau menyia-nyiakan kesempatan di saat terakhir pertarungan. Dia memusatkan energi spiritualnya di telapak tangannya dan memukul lawan tepat di dadanya.
Siluman macan tutul itu terdorong beberapa meter ke belakang. Dari mulutnya menyembur darah segar. Dia mengalami luka dalam yang sangat serius.
Dengan cepat Rubby mengeluarkan sangkar perenungan dari tongkatnya. Siluman itu harus segera di tangkap sebelum berhasil kabur. Benar saja dia terlihat ingin lari, namun Rubby segera menariknya dengan energi spiritualnya yang diaktifkan pada tangan kirinya.
"Apa? Sial! Aku dikalahkan oleh anak kecil sepertimu." Siluman macan tutul terus mengumpat. Sumpah serapah terus keluar dari mulutnya.
"Bye... bye!" Rubby bergaya centil dan memberikan cium jauh saat memasukkan siluman itu ke dalam sangkar perenungan.
Tidak ada yang bisa dilakukan oleh siluman itu selain pasrah.
"Ibu, aku kirim satu tawanan lagi untukmu!"
Rubby membaca mantra. Sangkar perenungan itu menghilang. Satu kejahatan berhasil dia singkirkan hari ini.
"Beruntung siluman hari ini nggak begitu merepotkan!"
Mata Rubby terbelalak melihat keadaan di sekitarnya. Sangat berantakan. Seisi Minimarket berserakan tak karuan.
"Hah! Apa aku juga yang harus membereskannya?" Rubby menghela napas dan tertunduk lemas.
Dengan malas dia mengarahkan tongkatnya untuk membetulkan posisi rak-rak yang tak beraturan. Dia juga memasukkan barang-barang yang jatuh sembarangan. Sudah pasti, tata letaknya sangat asal-asalan. Di jamin, setelah ini para karyawan pasti sakit kepala.
"Hemm. Lain kali aku akan memilih tempat untuk bertarung. Kalau seperti ini, aku juga yang repot!" Rubby terus saja menggerutu.
Setelah di rasa beres. Beres menurut versi Rubby tentunya. Rubby memutar tongkatnya untuk mengembalikan keadaan seperti sebelumnya.
"Apa yang terjadi?" semua orang yang berada di sana saling bertanya satu sama lain.
Mereka merasa pusing dan badannya sedikit lemas. Rubby juga ikut berpura-pura memegang pelipisnya. Dia tidak mau terlihat berbeda.
"Apa ini? Kenapa berantakan sekali?" teriak salah satu pengunjung.
Teriakannya itu mengundang karyawan dan pengunjung lain untuk datang mendekat. Mereka sama-sama terkejut melihat penataan barang yang asal-asalan. Mereka ingat betul sebelumnya tidak seperti ini.
__ADS_1
"Sudah mending aku bantuin. Nggak ada terimakasihnya. Aku udah capek-capek juga. Tau gini tadi aku tinggalin berantakan," gerutu Rubby lirih.
Dia berjalan dengan kesalnya menuju meja kasir. Barang yang tadi di ambilnya masih ada di sana. Rubby meminta penjaga kasir untuk segera menotal belanjaannya.
"Nona, apakah kamu juga merasa aneh dengan kejadian hari ini?" tanya penjaga kasir itu pada Rubby.
"Entahlah. Aku nggak merasakan apapun. Mungkin ada makhluk asing yang mengacau di sini," jawab Rubby santai.
"Maksud Nona, alien?" mimik wajah kasir itu berubah. Dia terlihat ketakutan. Entah apa yang ada dalam bayangannya.
"Mungkin," jawaban Rubby semakin membuat wajahnya pucat pias.
"Hahaha! Jangan takut Kakak, aku hanya bercanda. Mungkin seorang spiritualis sedang menguji kemampuan di sini tadi. Nggak ada yang sulit baginya untuk menghentikan waktu dan merubah keadaan," jelas Rubby.
"Bagaimana Anda tau Nona? Apa Anda juga seorang spiritualis?" tanya penjaga kasir itu lagi.
"Aku seorang mahasiswi filsafat kuno. Aku hanya sedikit tau tentang teorinya saja. Aku permisi, ambil kembaliannya!" Rubby berbalik meninggalkan kasir. Dia meninggalkan uang yang lumayan banyak di sana. Itung-itung sebagai uang ganti rugi untuk kerusuhan yang di buatnya.
"Nona... Nona... Tapi ini terlalu banyak!" panggil penjaga kasir itu. Dia tidak mungkin mengejarnya karena harus melayani pengunjung lain. Mungkin ini rejeki untuknya. Dia akan membaginya dengan teman-temannya.
...
"Darimana saja? Lama sekali!" Wu Jin Ming terlihat kesal.
"Kalian juga boleh ambil. Pilihlah yang kalian suka!" bukannya menjawab pertanyaan Wu Jin Ming, Rubby malah menawarkan minuman dan camilan yang di bawanya kepada para kru.
"Terimakasih!"
Mereka mengambil minuman dari Rubby. Wu Jin Ming melirik Rubby kesal. Merasa ada yang aneh, dia menarik Rubby ke tempat yang sepi.
"Cie... cie mau mojok nih!" seru salah satu kru.
"Hiks, jiwa jombloku meronta-ronta!" ucap kru yang lain.
Mereka terus saja berceloteh menggoda Wu Jin Ming. Rubby hanya tersenyum menanggapi ocehan mereka lalu pergi mengikuti Wu Jin Ming.
"By, kamu dari mana?" tanya Wu Jin Ming.
"Dari minimarket di depan." Rubby menggigit bibirnya saat merasakan hawa dingin yang menandakan amarah Wu Jin Ming.
__ADS_1
Wu Jin Ming mendorong tubuh Rubby hingga menempel di dinding. Dia menghimpitnya. Dalam jarak sedekat itu, Wu Jin Ming mencium jejak energi siluman di tubuh Rubby.
"Apa kamu bertemu siluman di sana?" tanya Wu Jin Ming sambil terus mengendus jejak energi itu.
Rubby terkesiap. Tidak heran jia Wu Jin Ming tahu. Penciumannya sangat tajam. Percuma jika Rubby berbohong.
"I... iya! Tapi kamu jangan khawatir. Aku berhasil mengalahkannya." Rubby berusaha untuk meredakan emosi Wu Jin Ming.
"Nakal! Aku sudah berkali-kali memberitahumu. Beri tanda jika kamu sedang bertarung. Jika kamu dalam bahaya aku bisa menyelamatkanmu. Sepertinya aku harus memberimu hukuman!" Wu Jin Ming tersenyum menyeringai.
Wajahnya mulai mendekat ke arah Rubby. Namun tiba-tiba dia berbalik meninggalkan Rubby. Rubby heran dengan apa yang dilakukan Wu Jin Ming.
Trang!
Sebuah benda jatuh mengagetkan keduanya. Wu Jin Ming memberi isyarat pada Rubby untuk diam.
Wu Jin Ming melangkah mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara.
"Aaaa!" teriak Catherine saat tertangkap oleh Wu Jin Ming.
"Untuk apa kamu mengikuti kami? Apa yang sudah kamu dengar?" tanya Wu Jin Ming.
"Aku... aku nggak mendengar apa-apa. Aku baru saja tiba di sini," jawab Catherine ketakutan.
Rubby datang mendekat. Tanpa di minta, dia segera menghapus ingatan Catherine beberapa saat yang lalu. Wu Jin Ming menatap ke arah Rubby yang masih komat kamit membaca mantra.
'Dari mana Rubby mendapatkan kekuatan ini? Aku harus menanyakannya nanti. Sangat tidak aman bila bertanya di sini.' Wu Jin Ming bermonolog dalam hati.
"Hai, Catherine!" sapa Rubby setelah berhasil menghapus ingatan Catherine tentang apa yang dia dengar tadi.
"Hai! Kenapa aku ada di sini, ya?" Catherine terlihat kebingungan.
"Kamu kebetulan sedang lewat ketika kami sedang berciuman," ucap Rubby.
"Oh, maaf. Kalian lanjutkan saja. Aku mau bersiap untuk pergi ke lokasi shooting. Hari ini aku masih ada beberapa jadwal." Catherine terlihat canggung. Tak ingin bertambah malu, dia segera pergi dari hadapan Rubby dan Wu Jin Ming.
****
Bersambung...
__ADS_1