TIGER WU

TIGER WU
SEPATU SPORT


__ADS_3

Tidak seperti biasanya, mereka tidak langsung membereskan matras yang telah selesai mereka pakai. Wu Jin Ming dan Rubby malah merebahkan tubuhnya di atas matras. Menikmati tubuh yang terasa lebih ringan setelah berkultivasi. Mereka berbaring saling berhadapan.


"Kak Tiger... Bolehkah aku minta sesuatu?" tanya Rubby.


"Katakanlah!" Wu Jin Ming meraih dan menggenggam tangan Rubby.


"Tolong jaga rahasiaku sebagai putri Virs. Ibu Ratu Ivo bahkan memintaku untuk merahasiakan ini darimu. Mungkin karena beliau juga belum mengenal siapa dirimu sesungguhnya," ucap Rubby mencoba mengeluarkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Kamu tenang saja. Rahasiamu adalah rahasiaku. Sebelumnya aku juga sangat mengkhawatirkanmu. Jika boleh, aku ingin segera bertemu dengan Ratu Ivo."


"Aku akan membawamu menemui ibu ratu. Tetapi setelah aku memohon ijin terlebih dahulu padanya. "


"Aku mengerti, Istriku." Wu Jin Ming mengecup punggung tangan Rubby.


Rubby tersenyum dan begitu terpesona dengan perlakuan Wu Jin Ming kepadanya.


"Kenapa tersenyum sambil melamun?" goda Wu Jin Ming.


"Siapa yang melamun... aku hanya melihatmu saja." Rubby tidak terima.


"Lalu kenapa kamu melihatku sambil tersenyum? Hayo mbayangin apa?" Wu Jin Ming kembali menggoda Rubby.


"Aku... nggak menyangka aja. Ternyata suamiku seorang raja. Sudah ganteng, kaya raya lagi. Enak kali ya, kalau aku tinggal di istana dan di layani oleh para dayang," oceh Rubby sambil membayangkan kehidupan istana menurut versinya.


"Tentu saja kamu akan dilayani dengan baik di istana. Hanya saja... kehidupan istana tidak sesederhana yang kamu bayangkan," ucap Wu Jin Ming.


"Itu jelas. Aku pasti harus mengurus ini itu. Belum lagi kalau kamu kawin lagi. Nggak bisa aku bayangkan kalau aku harus hidup dan tinggal bersama dengan selir-selirmu. Bisa lekas ubanan dan rambut rontok kalau begitu."


Wu Jin Ming tertawa lepas mendengar ocehan Rubby. Mungkin ada benarnya juga apa yang dia katakan. Jika menetapkan di istana sebagai seorang raja, pasti akan banyak putri kerajaan lain yang melamarnya. Biasanya itu dilakukan untuk memperkuat wilayah dan menggabungkan dua kerajaan dengan kawin politik.


"Makanya aku malas tinggal di istana, Rubby. Aku akan pusing kalau di minta menikahi banyak putri. Demi sebuah alasan politik itu memang biasa terjadi."


Seketika roman muka Rubby berubah menjadi asam. Kelihatannya semua raja memang sama saja. Rubby mengira jika Wu Jin Ming berencana untuk menikah lagi.


"Ah, nggak asik!" Rubby melepaskan tangan Wu Jin Ming dan membalikkan tubuhnya membelakangi Wu Jin Ming.


"Kog malah ngambek sih? Yang mau tinggal di istana kan kamu. Aku enggak, ya. Sebagai raja hanyalah status saja. Semua urusan istana aku serahkan kepada para pejabat. Begitupun dengan urusan politik."

__ADS_1


Wu Jin Ming mendekatkan tubuhnya dan memeluk Rubby.


"Jadi kamu nggak akan menikah lagi kan?" tanya Rubby dengan nada dongkol.


"Aku nggak akan menikah lagi. Siapapun nggak bisa memaksaku untuk ini. Walaupun cuma status saja aku nggak akan melakukannya. Di malam bulan purnama aku akan mengadakan pesta untuk mengabarkan tentang pernikahan kita kepada seluruh rakyatku."


"Pesta? Apakah ada makanan enak di sana?" tanya Rubby. Suasana hatinya mulai membaik.


"Tentu saja. Aku juga akan mengundang beberapa kerajaan tetangga dan para pembesar-pembesarnya. Persiapkanlah dirimu dengan baik. Bulan purnama masih dua minggu lagi," jelas Wu Jin Ming.


"Aku akan berusaha. Semoga aku nggak membuatmu malu di pesta itu." Rubby memegang tangan Wu Jin Ming yang sedang memeluknya.


Pelukan yang terasa nyaman itu membuat mereka merasa mengantuk. Mereka tertidur di lantai beralaskan matras di sore itu.


Kringgg... kkringgg... kringgg...


Dering ponsel Wu Jin Ming membuat mereka terjaga. Entah sudah berapa lama mereka terlelap. Hari sudah gelap. Begitu juga ruangan yang mereka tempati saat ini karena lampu belum di nyalakan.


"Hallao!" suara Wu Jin Ming parau khas bangun tidur saat menjawab telepon.


"Astaga! Jam berapa sekarang?" Wu Jin Ming mendudukkan tubuhnya.


"Jangan bilang kalian lupa!" hardik Arlan.


"Enggak... hanya saja tadi kami tertidur. Tunggu lima menit lagi kami ke sana. Bye!" Wu Jin Ming mematikan panggilannya dan mencoba menyadarkan Rubby.


Rubby sudah bangun dan terduduk. Namun kesadarannya masih belum pulih seratus persen.


"Sayang, bangun! Kita ada janji makan malam sama Arlan dan tante Sofi. By..." panggil Wu Jin Ming sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rubby.


"Iya... iya... aku melek dulu nih." Rubby menggosok-gosok matanya.


Wu Jin Ming berjalan untuk menyalakan lampu dan membereskan matras. Rubby berdiri dengan malas. Mulutnya tak henti-hentinya menguap.


"By, kita pakai kekuatan kita saja untuk merubah penampilan. Terlalu lama jika kita harus mandi dan berdandan dulu."


"Hmm. Tolong lakukan juga untukku. Aku masih sangat sulit berkonsentrasi untuk menggunakan kekuatan magisku." Rubby menjatuhkan tubuhnya menempel di bahu Wu Jin Ming.

__ADS_1


Wu Jin Ming menegakkan tubuhnya Rubby dan merubah penampilannya. Kini Rubby sudah terlihat cantik dengan gaun indah berwarna hitam. Senada dengan apa yang dipakai oleh Wu Jin Ming.


"Sudah ayo kita berangkat!" Wu Jin Ming menggandeng tangan Rubby dan berjalan meninggalkan rumah mereka.


"Aduh! Auuw!" pekik Rubby merasa kakinya menginjak sesuatu. Rupanya Wu Jin Ming lupa untuk memberinya sepatu.


"Ya, ampun... aku lupa!" Wu Jin Ming menepuk jidatnya.


Dia segera memberi Rubby sepatu. Sekali lagi dia tidak menyadari kesalahannya. Wu Jin Ming ternyata memberi Rubby sepatu sport karena tergesa-gesa. Dia juga tidak fokus dan langsung menarik tangan Rubby untuk kembali berjalan.


"Maaf, kami terlambat!" ucap Wu Jin Ming ketika mereka sudah sampai di rumah Arlan.


"Hahaha! Kamu mau jogging atau mau makan malam, By?" tanya Arlan saat melihat sepatu Rubby.


Rubby melihat kebawah. Benar. Saat ini dia sedang memakai sepatu sport. Dengan perasaan kesal dia melirik ke arah Wu Jin Ming. Mendapat tatapan membunuh dari Rubby, Wu Jin Ming tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya.


"Tadi kami buru-buru jadi cuma pakai sepatu yang kebetulan ada di luar." Wu Jin Ming beralasan. Untung saja dia juga memakai sepatu yang sama. Kalau tidak... Rubby pasti akan lebih marah padanya.


"Sudah... nggak usah dengerin Arlan. Kalian pake sendal jug nggak masalah buat tante. Yuk, kita ke ruang makan!" ajak Sofi menengahi.


Mereka berempat berjalan ke ruang makan. Arlan masih saja memberi tatapa mengejek pada Rubby. Rubby membalasnya dengan pelototan dan kepalan tangan yang melayang di udara.


Di ruang makan, Dany, papa Arlan sudah menunggu mereka. Rubby terbelalak melihat meja makan yang penuh dengan makanan kesukaannya. Dia langsung duduk tanpa sungkan karena sudah terbiasa dengan keluarga Arlan.


"Wah, makasih Om, Tante! Tante masih ingat aja makanan kesukaanku." Rubby langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan kesukaannya.


"Tentu, Sayang. Mana mungkin tante lupa," ucap Sofi.


"Bro, jangan kaget! Rubby memang seperti itu kalau makan. Ayo kita duduk!" ajak Arlan.


Wu Jin Ming hanya mengangguk. Dia melirik Rubby yang sudah mulai makan sebelum dipersilakan. Sepertinya keluarga ini sangat memanjakannya sejak dulu.


Dany dan Sofi mempersilakan Wu Jin Ming untuk menikmati makanannya. Sesekali Sofi menambahkan makanan kesukaan Rubby ke dalam piringnya. Bahkan menyuapinya dengan menu lain yang ingin Rubby coba.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2