TIGER WU

TIGER WU
MENGHIDAR


__ADS_3

"Leo!" panggil Rubby pada teman sekelasnya yang sedang lewat di dekatnya.


"Iya, Rubby. Ada apa?" tanya Leo berhenti seketika.


"Emm... aku boleh minta tolong nggak?" tanya Rubby.


"Ada apa sih? To the point aja nggak usah muter-muter deh!" seru Leo.


"Tolong antarkan buku ini ke ruangan dosen Chu ya! Please!" Rubby mengedipkan matanya.


"Gitu aja! Oke! Sini bukunya!" Leo mengulurkan tangannya.


"Makasih Leo! Kamu baik banget sih!" puji Rubby yang merasa senang. Akhirnya dia bisa terbebas dari dosen. killer itu.


Rubby melenggang santai keluar kampus. Tanpa dia sadari sepasang mata mengawasinya sejak tadi. Lisa. Tidak tau dari mana datangnya dia tiba-tiba muncul di depannya.


"Eh, Lisa!" seru Rubby.


"Maaf tadi aku mengabaikanmu! Aku nggak mau Cindy dan Bella ikut mendiamkanku jika aku menyapamu," ucap Lisa.


"Oh, jadi begitu! Apa kamu baik-baik saja Lisa?" tanya Rubby.


"Seperti yang kamu lihat." Lisa mengendikkan bahunya.


'Cindy dan Bella sudah dalam pengaruhku. Mereka bisa aku kendalikan setiap saat. Aku juga bisa menyerap hawa manusia dari tubuh mereka setiap saat sebagai sumber kekuatanku. Kini giliran kamu Rubby!' Lisa tertawa dalam hati.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Lisa? Kenapa kamu melamun?" tanya Rubby.


"Nggak ada! Apa kamu terburu-buru untuk pulang ke rumah?" tanya Lisa.


"Enggak! Kak Tiger lagi kerja," jawab Rubby.


"Bagus! Eh, maksudku kebetulan. Aku ingin mengobrol denganmu Rubby." Lisa hampir saja ketahuan mempunyai niat lain kepada Rubby.


Secepatnya dia harus menusukkan tusuk kondenya di tubuh Rubby seperti yang dia lakukan pada yang lainnya. Bagaimanapun dia harus berhasil kali ini. Lisa mencari kesempatan untuk melakukannya tanpa sepengetahuan Rubby.


"Gimana kabar Moza? Katanya kemarin kamu bertemu dengannya." tanya Rubby.


"Dia... dia baik-baik saja. Aku cuma bertemu dengannya sebentar," ucap Lisa berbohong.


"Syukurlah." Kekhawatiran Rubby akhirnya tidak terbukti. Dia merasa lega sekarang.


Lisa mengajak Rubby untuk duduk di taman. Mereka mengobrol di sana. Lisa terus saja mencari kesempatan tapi Rubby selalu saja waspada.


Dalam pikiran Lisa terdengar suara panggilan Moza. Itu artinya dia harus datang ke istana.

__ADS_1


'Untuk kali kamu selamat Rubby! Tunggu saja! Secepatnya aku pasti akan menakhlukanmu!' ucap Lisa dalam hati.


Lisa berdiri dari duduknya. "By, sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku ada janji sama mama mau pergi tadi." Lisa beralasan.


"Oh, baiklah! Aku akan pulang juga kalau begitu." Rubby juga ikut berdiri.


"Aku sepertinya ingin pergi ke kamar mandi dulu By. Daaaa!" pamit Lisa.


Lisa berlalu dari hadapan Rubby. Setelah berada di tempat sepi, Lisa melihat ke sekeliling untuk memastikan semuanya aman. Merasa tidak ada yang melihatnya Lisa segera berubah menjadi asap dan menghilang.


Rubby berjalan santai ke depan kampus untuk menunggu taksi. Dia membuka ponselnya siapa tahu Wu Jin Ming mengirimkan pesan untuknya. Ternyata benar, dia meminta Rubby untuk menyusulnya ke lokasi pemotretan.


Taksi yang di tunggunya tak kunjung datang. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya. Rubby bersikap acuh karena dia merasa tidak mengenal orang yang ada di dalam mobil itu.


"By, apa kamu melupakanku?" pengemudi mobil itu membuka kaca mobilnya.


"Arlan!" pekik Rubby lalu segera masuk ke dalam mobil milik sahabat kecilnya itu.


Arlan kembali menjalankan mobilnya tanpa bertanya dulu pada Rubby. Dia pikir Rubby akan pulang ke rumahnya.


"Ar! Bisa anterin aku nggak?" ucap Rubby.


"Emang aku sopirmu!" ketus Arlan pura-pura kesal.


"Hahaha.... Bercanda! Mau di anter kemana nona cantik? Tiger tumben nggak jemput kamu?" tanya Arlan.


"Maka dari itu aku mau minta anter kamu buat nyusulin dia ke lokasi pemotretan. Tadi dia ngirim pesen aku suruh nyusulin dia," jelas Rubby.


"Kenapa nggak bilang dari tadi? Dengan senang hati aku akan mengantarkan kamu ke sana. Aku kan juga pengen pansos."


Ucapan Arlan membuat Rubby ikut terkekeh. Mereka tertawa bersama untuk beberapa saat.


"Kamu mah nggak perlu pansos udah tenar Ar!" kekeh Rubby.


"Iya... aku tahu. Secara aku kan orang paling ganteng sekota ini." Arlan menyetir sambil bergaya.


"Narsis!" Rubby masih saja terkekeh melihat tingkah Arlan.


"Emang! Udah kita mau kemana?" tanya Arlan.


"Resort Bukit Emas di jalan Cendana." Rubby menyebut alamat yang akan mereka tuju.


"Siap Tuan Putri!" Arlan segera menjalankan mobilnya ke alamat yang disebutkan oleh Rubby.


Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sana. Sepanjang perjalanan mereka selalu berdebat. Ada saja yang mereka perdebatkan. Hal-hal kecil dan juga masalah kekonyolan yang selalu mereka lakukan dulu ketika mereka masih kecil.

__ADS_1


Untuk menuju lokasi pemotretan dibutuhkan waktu yang tidak begitu lama karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kampus Rubby. Sekitar Lima menit lagi mereka akan sampai. Saat ini mereka memasuki jalan yang berada di tengah perkampungan.


Lokasi pemotretan merupakan sebuah resort yang berada di pinggiran kota. Perjalanan mereka harus terhenti ketika jalan di depan mereka tertutup oleh kerumunan orang. Entah apa yang mereka lakukan di sana.


"Biar aku turun dulu By!" seru Arlan.


"Nggak usah! Biar aku saja yang turun!" Rubby memaksa turun.


"Di bilangin aku saja! Ngeyel! Tar kamu nangis kalau di depan ada penjahat," ledek Arlan.


"Yeee.... Nggak ada! Sekarang aku pemberani! Lihat aja!"


"Ya udah! Kita turun bareng-bareng!" Akhirnya Arlan menengahi.


Mereka turun dan menyibak kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Rupanya di sana sedang terjadi perkelahian. Beberapa orang preman sedang mengamuk dan menganiaya sebuah keluarga.


Rubby berjalan maju ke depan. Arlan menarik baju bagian belakang Rubby untuk mencegahnya bersikap ceroboh. Itu sama artinya Rubby mengundang bahaya. Peringatan Arlan tidak di gubris oleh Rubby, Rubby tetap maju ke depan menghampiri perkelahian.


"Heh! Ada apa ini?" tanya Rubby.


Para preman itu langsung menoleh ke arahnya.


"Siapa kamu?" tanya salah satu preman. Mungkin dia adalah kepala preman itu. Laki-laki bermuka seram dan berperawakan besar itu berjalan mengelilingi Rubby.


"Aku orang yang mau lewat. Kalian kalau mau main perang-perangan jangan di sini. Ini kan jalan raya!" seru Rubby.


"Suka-suka kami! Ini wilayah kami! Kamu mau bernasip sama seperti mereka!" Preman itu menunjukkan beberapa orang yang babak belur karena mereka hajar.


"Memangnya mereka salah apa pada kalian? Kejam!" seru Rubby.


"Mereka berani melawan kami dan tidak mau membayar pajak pada kami. Kamu masih mau membela mereka?" tanya preman berwajah bengis itu.


"Jadi kalian memeras mereka? Mereka mungkin untuk makan aja susah masih saja harus membayar pungutan liar kalian!" seru Rubby.


"Benar Nona!" teriak salah satu korban kekejaman para preman itu.


"Diam!" ketua preman itu menginjak punggung orang itu dan memutar kakinya yang bersepatu di sana.


"Aaarrrhh!" suara teriakan yang memilukan terdengar menggema di telinga.


Rubby merebut sebuah balok kayu yang di bawa oleh anak buah preman tadi dan memukul kaki ketua preman keji itu. Dia tidak tahan melihat ketidakadilan di depan matanya. Tangannya merasa gatal untuk menghajar preman yang sewenang-wenang itu.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2