
"Benar, Ar. Aku yang membantumu waktu itu," jujur Wu Jin Ming.
Rubby menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. Dalam hatinya bertanya-tanya, akankah Wu Jin Ming sudah siap untuk membuka identitasnya pada Arlan? Rubby tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengar apa yang akan dikatakan oleh Wu Jin Ming.
Lain halnya dengan Rubby, Arlan terlihat begitu antusias mendengar jawaban itu.
"Apakah kamu sudah mencapai tingkat kultivasi teratas? Atau kamu memang sudah terlahir sebagai seorang Dewa?" Arlan merasa sangat ingin tahu.
Wu Jin Ming terdiam, memikirkan jawaban yang tepat dan tidak membuat Arlan bertanya lagi.
"Maaf jika pertanyaanku menyulitkanmu. Tidak masalah jika kamu tidak ingin menjawabnya. Lupakan saja!" ucap Arlan kembali karena dia merasa tidak seharusnya bertanya seperti itu.
Di dalam dunia kultivasi yang kejam, tidak bisa sembarangan menunjukkan jati diri dan kekuatan yang dimiliki. Tidak semua kekuatan dan kehebatan bisa dibanggakan. Bisa jadi itu akan menjadi boomerang dan ajang percobaan bagi kultivator lain dan para pemburu kekuatan. Arlan mulai memahami akan hal itu sejak dia berkecimpung di dunia persilatan.
"Terimakasih sudah mau mengerti." Wu Jin Ming menghembuskan napas lega.
Begitu juga dengan Rubby yang sejak tadi sudah ketar-ketir karena apapun jawaban yang diucapkan oleh Wu Jin Ming akan menggiring lawan bicaranya ingin mengetahui hal yang lebih dan lebih.
"Ya, sudah. Aku harus kembali ke kuil tempat aku menimba ilmu. Apa kalian ingin mampir ke sana?"
Arlan hanya berbasa-basi saja karena peraturan kuil yang sangat ketat akan membuat Wu Jin Ming dan Rubby merasa tidak akan nyaman jika mereka benar-benar mampir ke sana.
"Ah, tidak, terimakasih, Ar. Kami masih ada renacan lain. Hari juga sudah sore, jadi kami harus segera pergi dari tempat ini." Wu Jin Ming menolak secara halus.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa." Arlan tersenyum.
"Kak Wu, kita harus segera pergi dari sini. Aku ingin kita pergi ke suatu tempat yang menjadi kenangan kita." Rubby bergelayut manja di lengan Wu Jin Ming.
"Baiklah, Ar. Kita pamit dulu. Semoga latihanmu berjalan lancar dan kamu semakin hebat." Wu Jin Ming menepuk lengan Arlan.
"Tentu saja. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke rumah baru kalian," ucap Arlan sambil meninju bahu Wu Jin Ming pelan.
"Dengan senang hati kami tunggu!" Wu Jin Ming tersenyum ramah.
__ADS_1
"Sudah-sudah! Kalau kalian terus mengobrol begini, kapan kita berangkat?!" Rubby terlihat tidak bersemangat.
"Kamu masih saja tidak sabaran seperti dulu, By! Tiger, bersabarlah menghadapi kucing liar ini!" Arlan meledek Rubby yang terlihat semakin kesal.
Rubby melotot mendengar celoteh Arlan. Tangannya mengepal seolah ingin memukul Arlan namun hanya mengenai tempat yang kosong.
"Hahaha! Aku pergi dulu, Ar!"
Arlan mengangguk.
Wu Jin Ming membukakan pintu untuk Rubby lalu berjalan memutar untuk naik dari pintu yang lain.
Mobil itu pergi meninggalkan Arlan yang masih berdiri mematung di sana.
"Kamu ingin kita pergi ke mana, Sayang?" tanya Wu Jin Ming.
Rubby masih berusaha untuk membetulkan posisi duduknya agar lebih nyaman. Jalanan pegunungan tidak semulus jalanan kota hinggan membuat tubuh mereka bergoyang-goyang saat mobil berjalan. Perjalanan pun terasa sangat lama karena mobil hanya bisa melaju dengan kecepatan rendah.
"Aku ingin kita pergi ke hutan larangan."
"Aku pikir tadi kamu hanya bercanda saat bicara pada Arlan tentang pergi ke tempat kenangan kita."
"Aku ingin ke sana mumpung kita berada di lokasi yang tidak begitu jauh dari gunung Sam. Apakah tempat itu masih sama dengan saat itu?"
"Tapi tempat itu bukan tempat wisata, Sayang. Memang kumparan energi di dalam hutang larangan sangatlah besar, namun tempat itu sangat berbahaya. Dimensi yang mempertemukan kita dulu adalah tempat tinggal para siluman dari berbagai jaman baik untuk sekedar tinggal ataupun bertapa seperti aku waktu itu."
"Tapi aku ingin kesana." Rubby memasang wajah sedihnya.
Wu Jin Ming menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sabar.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja dan berlatih mantra penyatuan jiwa yang kemarin kita dapatkan, Sayang?" Wu Jin Ming masih mencoba membujuk Rubby berharap dia akan berubah pikiran.
Hutan larangan bukanlah tempat untuk bermain-main. Harusnya Rubby merasa takut untuk ke sana tapi kenapa hari ini dia sangat ingin pergi ke sana. Wu Jin Ming merasa heran mengapa Rubby merasa terpanggil untuk ke sana.
__ADS_1
"Ya, sudah kalau tidak mau. Aku hanya ingin mengenang masa-masa pertama kali kita bertemu. Itu saja!" Nada bicara Rubby terdengar sangat dongkol.
Wu Jin Ming benar-benar sudah kehabisan akal untuk membujuk istrinya yang sangat keras kepala itu.
"Baiklah, kita pergi ke hutan larangan. Tapi ingat, kamu jangan melakukan sesuatu yang memicu terjadinya keributan di sana." Akhirnya Wu Jin Ming memilih untuk menuruti keinginan Rubby.
"Tentu saja sayangku! Ah, kamu so sweet banget, sih!" Rubby merobohkan tubuhnya sambil memeluk lengan Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming melepaskan salah satu tangannya dari kemudi mobilnya lalu mengusap kepala Rubby dengan penuh kasih sayang.
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang membuat kita harus bertarung lagi. Aku merasa hatiku tidak tenang," ucap Wu Jin Ming.
"Kamu terlalu banyak berpikir. Kita sekarang memiliki kekuatan yang cukup besar, Sayang. Tidak perlu khawatir, kita akan menghadapi semuanya bersama-sama." Rubby mengelus-elus dada Wu Jin Ming.
"Bukan itu karena itu, Sayang. Entahlah, aku hanya merasa tidak tenang saja."
Wu Jin Ming merasakan ada seseorang yang menunggunya di hutan larangan, tapi dia tidak tahu siapa.
"Aku janji, kita tidak akan lama-lama di sana. Aku cuma ingin pergi melihat-lihat saja habis itu kita pulang," ucap Rubby masih dengan posisinya yang sama.
"Hmm." Wu Jin Ming mengangguk tanpa berkata apa-apa.
Di atas dahan sebuah pohon yang rindang, seekor burung berwarna hitam bertengger di sana. Setelah melihat mobil yang dikendarai oleh Wu Jin Ming dan Rubby memasuki kawasan gunung Sam, burung itu terbang meninggalkan tempatnya. Sepertinya burung itu sengaja dikirim oleh seseorang untuk mengawasi tempat itu.
Mobil Wu Jin Ming terparkir di ujung jalan yang berada di kaki gunung. Itu merupakan perhentian terakhir dan setelah itu mereka harus berjalan kaki untuk naik ke gunung Sam. Manusia biasa butuh waktu berjam-jam untuk sampai di hutan larangan, namun tidak bagi mereka.
"Pegang tanganku, Sayang. Jangan pernah kamu lepaskan apapun yang terjadi!" Tatapan mata Wu Jin Ming terlihat sayu.
Rubby merasakan hal yang berbeda dari sikap suaminya itu. Dalam hati dia berharap semoga itu bukanlah suatu pertanda apa-apa. Tiba-tiba Rubby menyesal, harusnya tadi dia tidak memaksa suaminya itu untuk pergi ke sana.
****
Bersambung...
__ADS_1