TIGER WU

TIGER WU
Bab 271. Rencana Raja Kegelapan


__ADS_3

"Kita harus segera membereskan kekacauan ini!" seru Wu Jin Ming, melihat mayat yang berserakan memenuhi halaman rumahnya.


Rubby mengangguk.


Mereka berdua bersiap untuk mengeluarkan api suci milik mereka dan membakar habis semua mayat-mayat itu segera.


"Tunggu, Ayah, Ibu!" pekik Tian Yu yang maju ke depan untuk memperlihatkan cara yang lain.


Rubby dan Wu Jin Ming saling berpandangan melihat apa yang akan dilakukan oleh putra mereka. Antara percaya dan tidak percaya, mereka membiarkan Tian Yu bereksperimen dengan mayat-mayat itu. Anak genius sepertinya hanya perlu dibimbing dan diarahkan saja, sisanya dia pasti sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Tubuh kecil Tian Yu berjalan di udara dan berhenti di jarak yang cukup jauh dari kedua orang tuanya. Kedua tangannya direntangkan ke samping dengan telapak tangan terbuka ke atas. Dari kedua telapak tangan Tian Yu keluar energi api suci yang berbeda, rupanya kedua api suci milik orang tuanya juga tersimpan di tubuhnya.


Tian Yu melepaskan ke dua api suci itu di udara dan membiarkannya terus berputar seiring dengan kedua tangannya yang menggerakkannya dengan pengendalian jarak jauh.


Wu Jin Ming dan Rubby sebelumnya belum pernah melihat jurus ini, mereka berpikir jika ini adalah jurus baru yang dibuat oleh Tian Yu.


Dari setiap mayat yang ada di sana keluar sebuah cahaya yang berbeda-beda warna. Bentuknya bulat seperti kelereng, orang-orang biasa menyebutnya inti roh atau inti jiwa murni. Inti-inti roh itu berkumpul membentuk sebuah bola raksasa.


Tian Yu mengambil bola itu lalu menelannya segera. Tubuhnya menyala terang dan dalam sekejap dia berubah menjadi seorang anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun. Bukan itu saja, aura energi yang terpancar di tubuhnya meningkat tajam.


Setelah berhasil mengambil inti roh dari mayat-mayat itu, Tian Yu ingin memusnahkan tubuh kosong itu dalam satu kali lemparan energi.


Dengan kekuatannya, mayat-mayat itu ditumpuk menjadi satu. Api suci yang tadi berputar-putar di udara, kini dia perbesar dengan kekuatan barunya yang tadi dia serap. Api itu terus membesar dan menyelimuti mayat-mayat itu.


Boom!


Suara ledakan yang sangat keras terdengar ketika Tian Yu melepaskan api itu untuk memusnahkannya mayat-mayat tadi.


Dalam sekejap mayat-mayat itu hancur menjadi partikel-partikel yang sangat kecil menyerupai uap air.


Uap itu terbang di udara lalu menghilang.


"Dari mana kamu belajar jurus ini, Sayang?" tanya Rubby berjalan mendekati Tian Yu.


Tian Yu tampak berpikir untuk menjelaskannya karena sebenarnya dia sendiri secara tidak sengaja menemukan jurus ini.


"Aku hanya mencoba saja, Ibu. Tadinya aku juga tidak merasa yakin jika ini akan berhasil." Tian Yu berbicara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu bertambah tinggi, Sayang. Ibu tidak bisa menggendongmu lagi." Rubby menepuk bahu Tian Yu yang tingginya sudah hampir sejajar dengan bajunya.


"Aku bukan anak manja, Ibu. Aku ingin membantu ayah berperang melawan musuh-musuhnya." Sorot mata Tian Yu menunjukkan keseriusannya.


Tian Yu adalah versi sempurna dari Wu Jin Ming. Jika Wu Jin Ming masih berbelas kasih pada musuh, sepertinya itu tidak berlaku padanya. Ketegasan Tian Yu membuatnya tidak bisa membiarkan siapapun yang mengusiknya merasa bebas, siapapun itu tetap harus mati ditangannya tanpa mengenal ampun.


"Ayah percaya suatu saat kamu akan menjadi penguasa yang menguasai seluruh alam ini Tian Yu. Ayah bangga padamu!" Wu Jin Ming menepuk bahu Tian Yu sambil tersenyum bangga.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah mereka setelah pertarungan itu berakhir.


"Ibu! Aku lapar!" ucap Tian Yu sambil mengusap-usap perutnya.


"Ayah juga!" Wu Jin Ming ikut-ikutan.


"Baiklah aku akan meminta pelayan untuk memasak." Rubby berjalan di paling depan.

__ADS_1


"Mi instan saja, Bu!" seru Wu Jin Ming dan Tian Yu bersamaan.


Rubby menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang melihat ke arah anak dan suaminya.


"Kalian memang anak dan ayah penyuka mi instan," seru Rubby sambil menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan melanjutkan langkahnya.


Sore itu akhirnya mereka makan mi instan bertiga sebelum membersihkan diri dan bersiap untuk kembali ke istana Kerajaan Harimau Suci.


Tian Yu sangat menyukainya seperti sang ayah. Dia meminta ibunya untuk membawa mi instan yang banyak ke istana Kerajaan Harimau Suci. Wu Jin Ming menyetujuinya karena stok yang dia bawa pun hampir habis. Terpaksa Rubby menurutinya, jika tidak, Tian Yu pasti akan terus merengek sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan.


Setelah mengambil dan menyimpan mi instan di dalam cincin penyimpanannya, Rubby mengajak anak dan suaminya itu bersiap untuk kembali ke Kerajaan Harimau Suci.


"Wah, kamar ini bagus sekali!" seru Tian Yu ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


Berjalan berkeliling sambil menyentuh barang-barang yang menarik perhatiannya. Hampir semuanya dia tanyakan sampai Rubby lelah menjawabnya.


"Sudah-sudah! Ayo kita mandi saja." Wu Jin Ming segera memotong obrolan Tian Yu, jika tidak mungkin hingga hari malam, pertanyaan Tian Yu tidak akan ada habisnya.


Tian Yu pun menurut pada ayahnya. Dia mengikuti Wu Jin Ming pergi ke kamar mandi. Sama seperti halnya Wu Jin Ming tempo dulu, Tian Yu juga merasa heran dengan tempat mandi di dunia manusia dengan di dunia para siluman. Wu Jin Ming ingin tertawa melihat kekonyolan Tian Yu sembari mengingat kenangannya waktu dia mengalaminya sendiri.


Dengan sabar Wu Jin Ming membantu Tian Yu mandi dan menjelaskan apa yang perlu dijelaskan. Tian Yu sangat menyukai shampoo dan sabun yang dia pakai saat itu. Wu Jin Ming akhirnya membawa yang masih utuh dan menyimpannya di dalam cincin penyimpannya.


Di luar kamar mandi, Rubby terlihat tidak sabar menunggu giliran untuk mandi.


"Pasti Tian Yu merasa bingung dengan cara mandi di dunia manusia. Hmm. Dia sangat mirip dengan ayahnya," gumam Rubby sambil bersandar di tembok di dekat jendela lalu menatap pemandangan luar untuk mengusir kejenuhannya.


••••


Di sebuah tempat yang jauh dari keramaian, seorang berjubah merah berjalan tertatih menyusuri jalan setapak di tepi tebing. Menurut informasi yang dia dapatkan, di balik bukit batu yang sedang dia daki sekarang ini ada seorang kultivator hebat yang sedang bermeditasi di sana. Orang itu ingin meminta bantuannya untuk membantu klannya melawan Wu Jin Ming.


Setelah perjalanan yang sulit, akhirnya orang berjubah merah itu sampai juga di balik Bukit Naga Api.


Tubuhnya yang lelah dan penuh luka bersandar di sebuah pohon besar. Rasa haus membuat tenggorokannya seakan kering, sekering bibirnya yang mulai memucat. Setelah beristirahat sebentar, tubuhnya sedikit lebih baik dan bisa dia gerakan untuk berjalan mencari sumber air.


Dia berjalan berkeliling namun tidak juga menemukan mata air ataupun sungai. Orang berjubah merah itu tidak tahu jika ada beberapa jenis tanaman yang bisa mengeluarkan air untuk melepaskan dahaga. Tubuhnya yang sangat lelah membuatnya ambruk menghantam sebuah batu yang ditumbuhi oleh tanaman liar.


Tanpa dia sadari ternyata tanaman liar itu menutupi sebuah lubang goa. Tubuhnya yang kehilangan keseimbangan terjerembab dan berguling-guling mengikuti lubang itu yang membawanya terus masuk karena kondisinya dasar lubang yang menurun. Sesampainya di tempat yang paling dasar di goa itu tubuh orang berjubah merah itu berhenti.


Dengan tubuhnya yang seakan remuk, orang itu merayap bangkit di dalam kegelapan mencari dinding untuk berpegangan dan membantunya berdiri.


Senyumnya terbit di wajahnya yang lelah dan kesakitan ketika di dinding goa yang dia sentuh mengalirkan air. Telapak tangannya menangkup lalu menampung air itu di dalam cekungan tangannya. Segera saja dia meneguk air itu untuk menghilangkan dahaganya.


Tubuhnya terasa segar kembali dan perlahan-lahan rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya menghilang. Ternyata air itu bukan cuma menghilangkan rasa hausnya saja melainkan juga memulihkan tubuhnya. Orang berjubah merah itu tertawa lantang hingga menggema di seluruh ruang goa itu.


"Siapa di sana?" Sebuah suara seorang laki-laki dewasa membuat orang berjubah merah itu menghentikan tawanya.


Orang berjubah merah itu membuka telapak tangannya dan mengeluarkan energi untuk menerangi goa gelap itu. Dia berjalan berkeliling sambil mencari-cari dari mana suara tadi berasal. Energi yang sangat kuat begitu terasa ketika kakinya berjalan mendekati sebuah kolam.


"Maafkan aku, Tuan. Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu!" seru orang berjubah merah itu, sambil terus mencari sosok orang yang menegurnya tadi.


"Hmm. Aku merasakan hawa keputusasaan dari tubuhmu. Apa tujuanmu datang ke sini?"


Rupanya orang tak di kenal itu berada di tengah kolam yang ada di dekat orang berjubah merah. Dia duduk melayang di atas air dengan mata tertutup. Orang berjubah merah itu merasa terkejut mengingat bahwa orang itu masih terlihat sangat muda.

__ADS_1


"Saya ingin mencari bantuan karena klan kami sudah dikalahkan oleh seseorang. Hanya tersisa sebagian kecil saja anggota klan kami yang masih hidup. Semuanya sudah dibantai oleh siluman harimau itu ketika kami menyerangnya."


Orang asing itu langsung berdiri ketika orang berjubah merah itu menyebutkan nama siluman harimau.


"Kamu datang pada orang yang tepat. Aku sudah lama bermusuhan dengan siluman harimau itu. Hanya saja aku masih menyusun kekuatan untuk melawannya."


"Kalau boleh tahu, siapa nama Anda, Tuan? Maaf jika saya terlalu lancang." Orang berjubah merah itu memberanikan diri untuk menanyakan identitas orang asing itu.


"Sebut saja aku Raja Kegelapan," ucapnya sambil menatap tajam ke arah orang berjubah merah.


"Yang Mulia Raja Kegelapan, namamu sudah cukup besar di dunia kultivasi aliran hitam. Tidak akan sulit bagi Anda untuk membentuk aliansi dan menarik pengikut sebanyak mungkin." Orang berjubah merah itu belum mengetahui ke mana arah pembicaraan Raja Kegelapan.


"Aku tidak bisa bertindak seorang diri. Aku butuh tangan-tangan yang banyak yang membantuku menarik masa sebanyak-banyaknya. Aku akan membantumu asal kamu mau mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya untuk penyerangan yang akan kita lakukan untuk membalas dendam." Raja Kegelapan membuka tangannya lalu menutupnya seperti sedang meremas sesuatu.


Orang berjubah merah itu terlihat berpikir untuk merencanakan langkah-langkah yang akan diambilnya.


"Yang Mulia, bolehkah aku memakai nama besarmu untuk mendapatkan dukungan?" tanya orang berjubah merah itu.


Raja Kegelapan tersenyum menyeringai pada orang berjubah merah itu.


"Boleh. Bukan itu saja. Aku juga akan membekalimu dengan kekuatan. Tapi dengan satu syarat." Raja Kegelapan sengaja menggantung ucapannya.


Orang berjubah merah itu berusaha untuk menduga-duga syarat yang harus dia penuhi. Menurut kabar yang dia dengar, para pengikut Raja Kegelapan akan langsung terhubung dengannya karena jiwa mereka telah berada di dalam genggamannya. Orang berjubah merah itu tidak peduli jika harus kehilangan jiwanya. Demi membalaskan dendamnya, ini adalah harga yang sepadan untuk itu.


"Saya bersedia memenuhi syarat itu." Orang berjubah merah itu menjawab dengan yakin.


Raja Kegelapan kembali tersenyum menyeringai.


"Bersiaplah! Aku ingin menghubungkan jiwamu dengan jiwaku. Setelah ini kamu hanya bisa mematuhi perintahku saja dan jangan berpikir untuk berkhianat!" tegas Raja Kegelapan.


"Saya mengerti, Yang Mulia."


Orang berjubah merah itu terlihat pasrah.


Raja Kegelapan mulai mengambil posisi untuk menyerap inti jiwa orang berjubah merah itu. Dia keluar dari dalam kolam itu dengan kaki yang tetap tidak menyentuh tanah. Tubuh Raja Kegelapan kini saling berhadapan dengan tubuh orang berjubah merah itu.


Tangan Raja Kegelapan mengulur ke depan dan berhennti tepat di atas kepala orang berjubah merah. Telapak tangannya terbuka lalu dengan kekuatannya, Raja Kegelapan mulai menarik inti jiwa murni milik orang berjubah merah. Perlahan orang berjubah merah itu mulai kehilangan kesadarannya dalam posisi berdiri.


Inti jiwa murninya berhasil diambil dan diserap oleh Raja Kegelapan. Sekarang tubuhnya hanyalah raga yang kosong tanpa jiwa. Untuk menghidupkannya lagi, Raja Kegelapan menanamkan jiwa baru yang berasal dari intisari kekuatannya.


Tubuh orang berjubah merah itu kembali hidup, namum dia tidak bisa lagi berpikir dan bertindak sesuai dengan keinginan sendiri. Mulai saat ini semua yang dia lakukan dikendalikan oleh Raja Kegelapan. Ini adalah sebuah penipuan secara halus yang dia lakukan untuk memperbanyak pasukan dan kekuatannya.


Goa Bukit Naga Api merupakan tempat yang menyediakan banyak sekali energi alam sehingga membuat kekuatan Raja Kegelapan dapat meningkat dengan cepat.


Kolam yang menjadi tempatnya bermeditasi di kenal dengan nama kolam darah naga. Meskipun airnya berwarna jernih namun konon ceritanya di situlah tempat seorang kultivator hebat berhasil membunuh naga api legenda dan memakai darahnya untuk mandi. Meskipun kini yang ada di dalam kolam itu adalah air yang jernih, namun kekuatan yang dipancarkannya masih sama dengan energi darah naga api.


Sudah berbulan-bulan lamanya, Raja Kegelapan bermeditasi di sana sejak kekalahannya melawan Wu Jin Ming.


Kini kekuatannya telah pulih dan lebih besar dari sebelumnya sehingga kini dia merasa lebih siap untuk menghadapi Wu Jin Ming.


Selain dari bermeditasi Raja Kegelapan juga memperoleh kekuatan dari para pengikutnya yang telah digenggam jiwanya olehnya.


Raja Kegelapan meminta orang berjubah merah itu untuk pergi ke luar dari goa terlebih dahulu karena dia masih ingin menyelesaikan kultivasinya yang tadi terganggu olehnya.

__ADS_1


****


Bersambung ...


__ADS_2