
Manager Lin semakin heran menatap Wu Jin Ming yang terlihat biasa saja dengan berita heboh di media sosial. Dia tidak tahan lagi untuk bertanya padanya. Manager Lin ingin tahu bagaimana pendapat Wu Jin Ming tentang peristiwa itu.
"Tiger! Apa pendapatmu?" tanya manager Lin.
"Tidak ada yang aneh. Sepertinya itu hanya gejala alam langka saja. Dan dalam hal ini tidak ada korban jiwa atau saksi mata yang akurat, bukan? Jadi menurutku, ini murni gejala alam yang tidak biasa. Itu saja," jelas Wu Jin Ming.
Manager Lin manggut-manggut. Dia merasa apa yang dikatakan Wu Jin Ming ada benarnya juga. Tidak ada yang tahu secara jelas itu apa dan bagaimana. Akhirnya ketakutan manager Lin berkurang.
"Aku sedikit lega mendengar penjelasan darimu, Tiger. Tadinya aku sangat ketakutan saat memikirkannya. Anakku masih kecil-kecil dan aku sering pergi pagi pulang pagi untuk bekerja. Aku takut peristiwa semalam itu pertanda buruk yang mengancam nyawa siapapun." Manager Lin meluapkan kekhawatirannya pada Wu Jin Ming.
"Manager Lin tidak usah khawatir. Peristiwa alam bukanlah sebuah bahaya. Mungkin itu hanyalah sebuah pertanda jika sebuah kekuatan yang besar muncul di muka bumi. Dan dari cahaya putih yang ditimbulkannya, sepertinya itu merupakan pertanda baik."
"Semoga aja apa yang kamu katakan ini benar dan berita itu terlalu di besar-besarkan. Aku harap kita juga akan baik-baik saja."
"Hmm." Wu Jin Ming mengangguk.
Rombongan kru datang menghampiri mereka.
"Manager Lin dan Tiger ngobrol apa, ya? Serius amat. Jangan-jangan...." salah satu kru berspekulasi melihat wajah tegang manager Lin dan Wu Jin Ming.
"Ngarang aja! Kita lagi ngobrol santai aja kog. Tadi bahas kerjaan. Udah buruan sana pada siap-siap! Kita segera mulai pemotretan!" seru manager Lin. Dia sengaja berbohong. Kalau menceritakan yang sebenarnya pasti akan menjadi pembahasan panjang dan tak ada habisnya.
Jadwal kerja Wu Jin Ming cukup padat hari ini. Dia harus menjalani serangkaian pemotretan dan shooting iklan. Mungkin dia tidak bisa menjemput Rubby pulang kuliah hari ini.
...
Di kampus Rubby, para mahasiswa juga membahas berita heboh tentang cahaya semalam. Sebagai seorang kultivator, Rubby tidak merasa heran dengan hal-hal semacam itu. Dia tidak begitu tertarik ketika ketiga temannya membahas itu dengannya.
Mereka berempat duduk di bangku taman. Saat ini mereka sedang istirahat pertama. Rubby membaca buku yang akan dipelajari selanjutnya. Biasanya dosen yang mengajar mata kuliah itu suka memberikan quiz dadakan.
"Kamu dari tadi kog diem aja, By? Kita-kita pada heboh kamu malah anteng aja," ucap Cindy menyenggol lengan Rubby.
__ADS_1
"Males. Lagian kalian bahasnya hal yang nggak penting. Coba kalau bahas pelajaran atau apa yang masuk akal gitu, pasti aku nyahut," jawab Rubby.
"Bener juga, ya. Habis ini kan, jamnya Mr. Jerry. Mending kita siap-siap kalau sewaktu-waktu di kasih quiz dadakan," celetuk Lisa.
Mereka bertiga akhirnya memilih mengikuti apa yang dilakukan Rubby untuk belajar. Saat mereka sedang fokus membaca tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut. Para mahasiswa berlarian ke arah sumber keributan.
"Ada apa tuh?" tanya Bella pada seorang mahasiswa yang lewat di sampingnya.
"Ada seseorang yang di gigit ular katanya. Katanya dia sedang sekarat saat ini. Daahh, aku ingin pergi melihatnya!" mahasiswa itu kembali berlari.
Tanpa banyak bicara, Rubby bergegas meninggalkan ketiga temannya menuju lokasi di mana ada mahasiswa yang di gigit ular berbisa. Ketiga teman Rubby saling berpandangan. Mereka bingung dengan sikap Rubby. Tadi katanya ingin fokus belajar tapi sekarang malah ikut-ikutan melihat korban yang terkena gigitan ular.
Banyak sekali mahasiswa yang berkumpul mengelilingi korban gigitan ular. Mereka menunggu ambulan datang ke sana. Mereka berharap jika mahasiswi yang menjadi korban bisa diselamatkan.
Rubby menyibak kerumunan dan mengambil posisi terdepan. Dia merasakan ada energi jahat yang baru saja pergi dari sana. Mungkin ular yang menggigit mahasiswi itu bukan ular berbisa biasa.
"Tolong mundur sebentar!" Rubby meminta salah satu teman korban untuk memberinya jalan.
Rubby segera menotok beberapa bagian tubuh korban itu untuk mencegah racun itu masuk ke jantung dan menyebar pada organ dalam. Semua orang merasa kagum dengan apa yang dilakukan oleh Rubby. Setelah berhasil menutup aliran darah korban itu, Rubby segera mencari luka bekas gigitan ular itu.
Bekas gigitannya berada di pergelangan kaki sebelah kanan. Rubby menggulung sedikit celana panjang mahasiswi itu. Kakinya sudah tampak membiru.
Tidak ingin menunda lebih lama, Rubby segera melepaskan cincinnya dan menempelkannya pada bekas gigitan ular. Mulut Rubby bergerak pelan saat membaca mantra. Dia tidak ingin semua orang yang ada di sana menyadari apa yang dilakukannya.
Cincin Rubby menyerap racun dari tubuh mahasiswi itu. Hal ini berlangsung sangat cepat. Kulit korban gigitan ular itu sudah cerah kembali, hanya saja tubuhnya mungkin tidak bertenaga setelah ini.
Rubby kembali memakai cincinnya dan membuka totokannya di tubuh korban itu. Tanpa banyak bicara, Rubby segera berlalu dari sana. Dia tidak mempedulikan tatapan keheranan para mahasiswa yang masih berkerumun di sana.
"Siapa dia?" tanya salah satu mahasiswa yang baru tersadar dari kebengongannya.
"Dia mahasiswi di sini juga. Kalau nggak salah dia mahasiswi filsafat kuno."
__ADS_1
"Benar! Gadis yang pernah dipacari oleh Moza, anak konglomerat di kota ini. Namanya... em...."
"Rubby!" sahut mahasiswa lain.
"Benar. Memangnya apa yang tadi dia lakukan. Sepertinya Messy nggak ada perubahan."
Mahasiswi korban gigitan ular itu rupanya bernama Messy. Beberapa saat setelah Rubby pergi dari sana Messy tersadar. Dia mulai terbatuk-batuk dan meminta minum. Beruntung ada seorang mahasiswa yang tak jauh darinya membawa minum.
"Bagaimana keadaanmu, Messy? Apakah kamu merasakan sesuatu?" tanya teman dekatnya yang sedari tadi menungguinya.
"Apa yang terjadi padaku? Tubuhku terasa lemas dan kepalaku sedikit pusing," jelas Messy.
"Kamu tadi pingsan akibat terkena racun gigitan ular."
"Iya, aku mengingatnya. Lalu siapa tadi yang menolongku? Aku merasa ada seorang putri cantik yang sangat bercahaya datang menyelamatkanku," cerita Messy dengan suara lemahnya.
Kedua teman Messy yang menjaganya saling berpandangan. "Putri?" ucap mereka bersamaan.
"Iya. Apa aku salah bicara?" tanya Messy.
"Tadi seorang mahasiswi memang datang ke sini dan melakukan hal yang aneh padamu. Aku nggak tahu siapa dia. Apa yang kamu rasakan sekarang? Kamu merasa lebih baik atau lebih buruk?" tanya teman Messy.
"Aku merasa lebih baik," jawab Messy.
Kedua temannya kembali saling berpandangan mendengar jawaban Messy. Para mahasiswa yang berkerumun pun tidak kalah heran, mereka saling berbisik membicarakan Rubby. Mereka tidak menyangka jika Rubby begitu hebat.
Mereka berlomba-lomba bertanya pada Messy tentang apa yang dialaminya. Belum puas mereka bertanya mobil ambulan sudah datang. Messy segera di bawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
Mahasiswa yang masih penasaran segera membubarkan diri dan mencari di mana keberadaan Rubby. Lagi-lagi keberuntungan tidak berpihak pada mereka. Bel tanda istirahat berakhir sudah berbunyi.
****
__ADS_1
Bersambung...