
Mobil Wu Jin Ming berhenti di tepi sebuah danau. Tempat itu ramai dengan pengunjung. Kebanyakan mereka adalah pasangan muda mudi.
Wu Jin Ming membawa Rubby ke sebuah tempat setelah memarkirkan mobilnya. Sebelumnya dia telah memesan tempat khusus untuk memberikan kejutan ini. Wu Jin Ming membayar seseorang untuk mempersiapkan semuanya.
Dari kejauhan sudah terlihat sebuah meja yang di jaga dua orang pelayan. Meja itu berada di bawah pohon yang di hias dengan banyak sekali balon. Melihat Rubby datang pelayan itu membuka sebuah poster yang tergulung rapi di pohon. Poster itu bertuliskan 'Rubby I Love You'.
"Kak Tiger, terimakasih!" Rubby berhambur memeluk Wu Jin Ming. Dia sangat senang menerima kejutan ini.
"Apa kamu menyukainya, Sayang?" Wu Jin Ming menarik sebuah kursi dan mempersilakan Rubby untuk duduk.
Beberapa pelayan kembali datang dan membawa beberapa jenis menu makanan yang sangat menggiurkan.
"Sangat. Aku sangat menyukainya. Ini makan siang paling romantis bagiku." Rubby terlihat sangat bahagia.
"Aku akan sering memberimu kejutan." Wu Jin Ming bersiap untuk makan.
"Aku akan sangat senang kamu memberiku kejutan, Sayang. Tapi nggak perlu semewah ini. Kehadiranmu di dalam hidup sudah menjadi kejutan paling berarti untukku." Rubby menggenggam tangan Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming tidak menyangka Rubby bisa berkata-kata seperti itu. Rupanya istri kecilnya kini sudah semakin dewasa. Dia begitu mengagumkan.
"Baiklah Rubby. Ayo kita makan sekarang. Kamu pasti lapar." Wu Jin Ming memberikan suapan pertamanya untuk Rubby. Dari kejauhan banyak sekali yang melihat keromantisan mereka.
"Kak, kenapa kamu nggak bilang kalau mau membeli mobil? Ponsel juga." ucapan Rubby terdengar kesal.
"Ini bagian dari kejutan." jawaban singkat Wu Jin Ming memancing rasa tidak puas di hati Rubby.
"Ah, terserahlah." Rubby menghabiskan sisa minuman di gelasnya lalu berdiri meninggalkan meja.
Rubby berjalan menuju tepi danau dan melihat beberapa orang yang sedang naik wahana di tengah danau. Rubby masih tidak menyangka jika Wu Jin Ming tahu tempat menarik seperti ini.
__ADS_1
"Kamu ingin naik wahana itu juga?" tanya Wu Jin Ming yang tiba-tiba sudah berada di belakang Rubby.
"Nggak usah. Kita berjalan-jalan saja. Aku ingin menyusuri tepi danau ini." Rubby berbalik menghadap Wu Jin Ming.
"Ayo!" Wu Jin Ming menggandeng tangan Rubby dan membawanya berjalan.
Ketampanan Wu Jin Ming mencuri perhatian para pengunjung yang kebanyakan wanita. Beberapa diantaranya secara terang-terangan meminta berkenalan. Rubby berusaha bersikap tenang meskipun hatinya sangat merasa cemburu.
Saat sedang merasa kesal dan membuang pandangannya ke sembarang arah, Rubby melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dia tidak langsung memberitahu Wu Jin Ming. Dia pergi diam-diam untuk melihatnya saat Wu Jin Ming sedang lengah.
Rubby pergi mengendap-endap meninggalkan Wu Jin Ming yang sedang mengobrol dan berfoto dengan beberapa ibu-ibu. Wu Jin Ming tidak bisa menolak. Dia tidak keberatan melayani mereka yang ingin berfoto. Dia sudah meminta ijin pada Rubby sebelumnya.
Di tempat lain, Rubby berhasil kabur tanpa diketahui oleh Wu Jin Ming. Dia menyelinap di balik sebuah pohon besar. Matanya membelalak tidak percaya melihat pemandangan di depannya.
Seorang pria berekor sedang merayu seorang gadis cantik di tepi danau yang sepi. Awalnya Rubby hanya melihat sebuah ekor yang panjang di balik semak. Dia tidak menyangka jika ekor itu milik pria itu.
Rubby melihat sekeliling. Sepi. Seperti ada pagar batas yang menghalangi pandangan mata orang sekitar terhadap pria berekor itu.
'Gawat! Dia sekarang sudah tahu keberadaanku. Aku nggak bisa pergi begitu saja sekarang.' guman Rubby dalam hati.
"Siapa kamu?" tanya pria itu dengan tatapan tidak suka. Matanya memancarkan aura merah. Kelihatannya gadis di sampingnya sedang dalam pengaruhnya.
"Aku hanya kebetulan lewat saja. Aku pergi dulu. Permisi!" Rubby berusaha menghindar.
"Tunggu! Sepertinya kamu bukan orang biasa. Kamu juga sangat cantik." pria berekor itu menatap Rubby penuh minat.
"Maaf. Pacarku pasti sedang menunggu." Rubby berbalik. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat pria berekor itu sudah menghadang di depannya.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Nona Manis." pria berekor itu tersenyum licik.
__ADS_1
"Aku nggak ada urusan denganmu. Biarkan aku pergi!" Rubby sedikit waspada. Dia merasakan hawa dingin ketika jarak mereka begitu dekat. Aura spiritual pria berekor itu begitu kuat.
"Kamu yang datang menghampiriku, itu berarti kamu milik Shano. Panggil aku Shano pria paling tampan di Danau Arx ini." pria berekor itu mengaku bernama Shano. Dia berjalan mendekat ke arah Rubby.
Rubby merasakan tekanan yang sangat kuat menghimpit tubuhnya. Dadanya terasa sesak menahan gelombang energi yang memancar dari tubuh Shano. Rubby merasa terpojok saat punggungnya menabrak sebuah pohon besar.
"Shano, lepaskan aku! Aku harus pergi sekarang. Kekasihku pasti sedang kebingungan mencariku." Rubby menggeser tubuhnya perlahan sambil terus bersikap waspada.
"Manusia biasa tidak akan bisa menembus pagar gaib yang aku buat. Aku tertarik padamu karena kamu bisa menembusnya dan menemukanku. Menurutlah! Aku tidak akan membunuhmu." Shano semakin mendekat ke arah Rubby membuat tanda di kening Rubby timbul.
"Ja... jangan mendekat!" Rubby mengaktifkan mantra pelindung di depannya untuk menghalangi Shano.
"Mantra pelindung tingkat 3 basis kultivasi menengah. Lumayan! Hahaha!" Shano tertawa. Dia bisa menembus mantra Rubby tanpa terluka sedikitpun.
'Apa? Dia bisa menerobos pelindung yang aku buat. Sepertinya dia tidak bisa diremehkan.' guman Rubby dalam hati.
"Beruntung sekali aku bisa menemukan reinkarnasi Dewi Bulan di sini. Aku akan menjadikanmu permaisuri. Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Aku benar-benar beruntung. Hahaha!" Shano tertawa senang seperti seorang pemburu yang berhasil menangkap buruannya.
"Aku hanya ingin menjadi permaisuri Raja Harimau Putih." sepertinya Shano tidak bisa melepaskan baik-baik. Rubby berubah menjadi Dewi Bulan lalu bersiap untuk menyerang. Tubuhnya melayang di udara dengan sayapnya yang begitu mengagumkan.
"Menakjubkan! Aku semakin menginginkanmu Dewi Bulan." Shano menyusulnya ke atas. Sayapnya terlihat lebih besar dari punya Rubby. Sudah dipastikan, Shano memiliki level spiritual jauh di atas Rubby.
"Jangan banyak bicara! Aku nggak sudi menjadi istrimu." Rubby mulai melakukan serangan. Dia melempar bola energi bertubi-tubi ke arah Shano.
Shano terlihat santai menghadapi serangan dari Rubby. Dia hanya menghindar saja tanpa melakukan perlawanan. Shano mulai serius ketika Rubby mulai menggambar simbol suci Dewa Dewi yang berputar di atas kepalanya.
'Darimana dia mendapatkan kekuatan itu? Tidak mungkin dia bisa dengan mudah memilikinya. Butuh bertahun-tahun untuk mempelajari jurus itu.' Shano bermonolog dalam hati.
****
__ADS_1
Bersambung...