TIGER WU

TIGER WU
BERTARUNG LAGI


__ADS_3

Pertarungan pun tak terelakkan lagi. Rubby melawan preman-preman itu dengan balok kayu yang dia rampas tadi. Mereka santai melawan Rubby dan memandangnya sebelah mata.


Balok kayu di tangan Rubby dia ibaratkan sebagai pedang. Tidak mau sembarangan menyerang, Rubby memainkan jurus pedangnya dalam setiap gerakannya. Serangan anak buah preman yang membabi buta sangat mudah dia lumpuhkan.


Preman-preman itu tidak menyerah. Meskipun beberapa kali terkena pukulan mereka segera bangkit lagi dan lanjut menyerang Rubby. Rubby tetap santai melayani serangan-serangan itu.


Ketua preman masih belum maju. Dia hanya mengamati anak buahnya yang babak belur oleh serangan Rubby. Melihat anak buahnya tidak mungkin menang melawan Rubby, ketua preman itu akhirnya meminta mereka untuk mundur saja dan memilih untuk maju sendiri.


"Hebat juga kamu Nona! Pantas mulut kamu besar sekali," ujar ketua preman.


"Nggak juga! Mungkin anak buah kamu saja yang sedikit bodoh!" ucap Rubby santai sambil mengempit balok kayu di ketiaknya dan membersihkan kuku-kukunya yang tergores balok kayu.


"Mereka memang bodoh! Aku jadi penasaran sepandai apa kamu!" Ketua preman itu maju ke depan. Tubuhnya mengeluarkan nyala api yang membuat sekitar tempat itu menjadi panas. Dari pijakan kakinya membekas lelehan aspal.


Orang-orang yang berkerumun mudur beberapa langkah untuk menghindari hawa panas yang sangat terasa di kulit. Rubby bersikap waspada. Tangannya sedikit gemetar saat memegang balok kayu.


Tidak mungkin dia merubah dirinya menjadi wujud istimewanya di hadapan banyak orang. Identitasnya harus tetap di rahasiakan dari semua orang demi keamanannya. Satu-satunya jalan adalah mengalirkan energi kulitivasi di tubuh manusianya seperti yang dilakukan oleh ketua preman itu.


Jika preman itu memiliki energi panas yang membara maka Rubby berpikir untuk mengeluarkan energi api dingin dari tubuhnya. Ketua preman itu semakin dekat. Mau tidak mau Rubby harus bersiap melawannya.


Menurut insting Rubby, preman itu memiliki teknik serangan jarak dekat. Tapi juga tidak menutup kemungkinan jika dia bisa melakukan serangan jarak jauh. Api di tubuh preman itu benar-benar terasa panas saat Rubby belum melapisi tubuhnya dengan energi spiritualnya.


"Rubby! Jangan bodoh! Mundur dan menyerahlah!" teriak Arlan ketakutan.


"Terlambat! Hiyyaaaa!" ketua preman itu melakukan serangan pada Rubby.


Sswwinggg!


Rubby berhasil menghindari pukulan sang preman. Di saat yang bersamaan tubuh Rubby berhasil mengeluarkan energi kulitivasinya.


Preman itu tersentak ke belakang menghindari serangannya. Rubby pun tidak mau tinggal diam saat preman itu ingin menyerangnya lagi. Kedua tangan mereka berbenturan satu sama lain dan menimbulkan suara ledakan karena dua energi mereka yang bertabrakan.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana ternganga termasuk Arlan. Keterkejutannya melihat Rubby yang pandai bermain pedang belum hilang kini sudah di tambah lagi dengan kemampuan Rubby sebagai seorang kultivator. Bagi Arlan semua ini sangat mencengangkan.


Arlan tidak menyangka jika teman kecilnya yang dulu sangat suka menangis dan manja itu bisa sehebat sekarang. Dengan antusias Arlan melihat pertandingan mereka. Arlan berharap Rubby akan menang melawan preman itu.


Ledakan demi ledakan terus terdengar seiiring dengan seringnya pukulan yang mereka layangkan. Setelah Rubby mengeluarkan kulitivasinya, udara di sekitar tempat itu menjadi normal kembali.


"Hampir satu jam mereka bertempur namun belum ada yang menang ataupun kalah. Mereka sama-sama hebat," ucap salah satu penduduk yang berkerumun di sana.


"Kamu benar!" sahut yang lainnya.


"Apa kamu pernah melihatnya?" tanya orang itu pada temannya. Keduanya menggeleng karena tidak pernah melihatnya.


"Sepertinya dia bukan orang sekitar sini."


Mereka berhenti bicara ketika ledakan besar terdengar. Pukulan Rubby dan preman itu terus berlanjut. Meskipun orang di sekitar itu tidak bisa melihat denga jelas namun sudah dipastikan jika Rubby punya kesempatan untuk menang melawan preman itu.


Api di tubuh preman itu mulai memudar namun api dingin di tubuh Rubby masih belum berubah sedikitpun. Melihat ketuanya mulai terdesak, salah seorang anak buah preman menyerang Rubby dari belakang. Pendengaran seorang kultivator kelas tinggi seperti Rubby sangatlah peka. Apalagi setelah berlatih di dekat air terjun dan di hutan bambu.


Ketika anak buah preman itu melayangkan pukulan Rubby sengaja tidak menghindar dan membiarkannya.


Tubuh preman itu terpental jatuh terjerembab.


Dia tidak menyangka jika Rubby juga seorang kultivator. Tangan kanan yang dia pakai untuk memukul terasa sangat dingin dan kebas. Rasa dinginnya semakin menjalar hingga ke lengan.


Tangan kanan anak buah preman itu menjadi aneh, semakin lama semakin mengeras seperti batu. Rubby tersenyum sinis padanya. Tangan kanan anak buah preman itu meledak seperti es batu yang pecah berhamburan.


"Kamu mau menyerah atau melanjutkan pertarungan ini?" tanya Rubby sambil menekankan balok kayu di leher musuh.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya ketua preman itu.


"Sama seperti kamu. Manusia kultivator yang suka berpetualang," jawab Rubby setengah berbisik.

__ADS_1


"Kenapa energi yang kamu miliki tidak berkurang walaupun bertarung sangat lama?"


"Energiku tak terbatas karena aku terus berlatih dan menaikkannya setiap hari. Nggak seperti kamu! Bukannya berlatih malah membuat onar di tengah jalan," sindir Rubby.


"Aku nggak akan berbuat onar lagi Nona! Bisakah kamu membagi pengalaman denganku tentang energimu yang tak terbatas itu?" tanya Ketua preman.


"Pergilah ke hutan bambu dan berlatihlah di sana!" seru Rubby pergi meninggalkan ketua preman itu.


Rupanya preman itu berbohong. Dia menciptakan kesempatan untuk menyerang Rubby. Sisa-sisa energi yang ada ditubuhnya dia kumpulkan di telapak tangannya lalu menyerang Rubby dari arah belakang.


Secara reflek Rubby menangkap tangan ketua preman itu dengan energi api dingin yang besar di tangannya.


"Aku sudah mengampunimu tapi kamu memilih jalan hidupmu sendiri!" seru Rubby kembali berjalan menjauh dari preman itu.


"Aaaargghhh!" pekik preman itu sambil berguling-guling di lantai menahan rasa dingin sang menyelimuti tubuhnya.


Kondisi Ketua preman itu sangat menyedihkan. Tubuhnya sudah tersulut oleh api dingin milik Rubby yang tidak bisa dia padamkan. Mulutnya menganga dan tidak bisa menutup lagi karena tubuhnya sudah kaku.


Nasib ketua geng yang paling ditakuti di wilayah itu begitu tragis. Sekarang dia berubah menjadi bongkahan es besar. Tinggal menunggu seluruh bagian tubuhnya membeku maka dia akan meledak.


"Kalian semua! Minggirkah!" pekik Rubby yang tidak ingin orang-orang yang ada di sana terkena serpihan tubuh ketua preman.


"Nona ampuni kami! Kami semua hanya menjalankan perintahnya. Kami taku kami salah tapi tidak ada pilihan lain. Ketua mengancam akan menyakiti dan membunuh keluarga kami," jelas salah satu mereka.


"Apa kalian tahu siapa yang berada di belakang kalian?" tanya Rubby penasaran.


"Nggak ada! Setahuku kelompok kami tidak pernah tunduk pada kelompok lain," jelas preman itu.


"Terserahlah! Kalian semua bubar! Aku sudah terlalu lama berada di sini!" seru Rubby kesal.


Duuaaarrr!!!!

__ADS_1


Tubuh ketua preman meledak keras.


****


__ADS_2