TIGER WU

TIGER WU
KEBAKARAN


__ADS_3

Tangan Rubby memegang ponselnya dengan gemetar. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi.


"Kenapa, Ar? Jangan bikin aku penasaran, deh!" Rubby semakin merasa tidak tenang karena Arlan tidak kunjung bicara.


"Begini, By! Emm... kamu yang sabar, ya! Itu... emm... rumah kamu... rumah kamu... terbakar...."


Tubuh Rubby seakan membeku setelah mendengar kabar dari Arlan. Dia seakan kehilangan selalu alat geraknya. Bahkan bibirnya pun tidak mampu dia gerakkan sedikitpun.


"By! Apa kamu masih di sana? By! Rubby!" Beberapa kali Arlan memanggil Rubby namun tidak ada jawaban.


Bibir Rubby masih terasa kelu. Semangatnya menghilang membuat tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Tangannya menggapai-gapai tembok di belakangnya lalu menyandarkan tubuhnya di sana dan mencoba menguasai dirinya.


Arlan mengerti keadaan Rubby saat ini. Pasti sangat shok setelah mengalami hal yang tidak terduga semacam ini. Dengan sabar Arlan menunggu Rubby agar sedikit lebih tenang dan menjawab pertanyaannya.


"By! Apa kamu baik-baik saja? Aku akan selalu ada untukmu, By. Kamu tidak perlu bersedih. Nanti kalau kamu sudah pulang, ayo kita cari tempat tinggal baru untukmu," ucap Arlan panjang lebar.


"Terima... kasih, Ar! Aku bicara pada kak Wu dulu. Bye!" jawab Rubby dengan suara paraunya.


Rubby yang tidak kuasa lagi menahan kesedihannya menutup panggilan telepon secara sepihak. Hatinya merasa sangat sedih mengingat rumahnya yang penuh dengan kenangan itu. Ini sangat mendadak sekali, bahkan dia belum sempat membeli rumah impiannya bersama Wu Jin Ming.


Setelah detak jantungnya stabil dan hatinya mulai tenang, Rubby berjalan gontai ke studio pemotretan untuk mencari Wu Jin Ming. Sepanjang perjalanan airmatanya terus meleleh di pipinya. Saat dia sampai di studio, team Wu Jin Ming sedang beristirahat.


"Tiger Wu! Kenapa pacar kamu?" tanya Deva ketika melihat kedatangan Rubby yang tidak biasa.


Mendengar ucapan Deva, Wu Jin Ming segera bangun dari duduknya dan memastikan ucapan Deva. Biasanya Deva tidak pernah serius dengan ucapannya dan sering bercanda. Benar. Untuk kali ini Deva tidak bercanda. Rubby benar-benar datang dengan raut kesedihan di wajahnya.


"Rubby...." gumam Wu Jin Ming lirih lalu berjalan menghampiri kekasihnya itu.

__ADS_1


Semakin dekat, Rubby semakin mempercepat langkahnya lalu menubruk tubuh Wu Jin Ming dan menumpahkan air mata yang sedari tadi dia tahan.


"Rumah kita... rumah kita... huaaaaa...!" Rubby menangis sejadi-jadinya mengingat kemalangan yang menimpanya.


"Iya... rumah kita kenapa, sayang? Tenanglah! Bicaralah pelan-pelan!" Wu Jin Ming mengelus kepala Rubby dan mencoba menenangkannya. Dia tidak peduli tatapan ingin tahu dari kru yang sedang berada di sana.


Wu Jin Ming membawa Rubby duduk di sofa panjang yang sedikit menepi di pojok ruangan dekat dengan jendela. Napasnya masih tersengal dan terisak pilu membuat hati Wu Jin Ming ikut sesak melihatnya. Berkali-kali tangan Wu Jin Ming menyeka air mata Rubby yang terus mengalir. Dia menunggu Rubby merasa tenang tanpa banyak bicara.


"Kak Wu!" panggil Rubby ketika hatinya sudah mulai tenang.


Rubby menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada Wu Jin Ming.


"Iya, Sayang! Katakan apa yang terjadi!" Tangannya mengusap punggung Rubby lembut.


"Rumah kita terbakar! Kita tidak punya tempat tinggal lagi!" ucap Rubby di sela-sela isaknya.


Mendengar kata-kata Wu Jin Ming hati Rubby merasa sedikit tenang. Meskipun rumahnya sudah tidak ada, Rubby masih bisa untuk membangun rumah yang sama dengan sihirnya hanya saja itu hanya akan membuatnya terjebak dalam kenangan.


"Adik kecil! Ada apa?" tanya manager Lin yang datang terhopoh-gopoh menghampiri Rubby dan Wu Jin Ming.


"Rumah Rubby terbakar," ucap Wu Jin Ming singkat.


"Apa?! Lalu, apa rencana kalian?" manager Lin terlihat sangat peduli pada adik angkatnya itu.


"Kami belum ada rencana. Mungkin kami harus ijin untuk pulang dulu dan melihat apa yang terjadi." Wu Jin Ming menjawab sambil melirik Rubby.


"Pulanglah! Aku yang akan menggantikan tugas-tugas Rubby. Jika kalian mau, untuk sementara tinggallah di rumahku sampai kalian menemukan tempat tinggal baru." Manager Lin menatap Wu Jin Ming dan Rubby serius.

__ADS_1


"Terimakasih, Kak Lin! Kami akan menghubungimu nanti!" ucap Wu Jin Ming mantap.


"Jangan merasa sungkan! Jangan pernah lupa jika aku adalah keluarga kalian!" sekali lagi manager Lin mengungkapkan rasa kepeduliannya.


Wu Jin Ming berpamitan pada manager Lin dan semua kru yang berada di sana. Mereka meninggalkan pekerjaannya karena sangat ingin pulang dan melihat keadaan rumahnya. Sebelum mereka pergi, Rubby mengirim pesan kepada Bryan Lee dan meminta ijin untuk pulang lebih awal hari ini.


•••


Wu Jin Ming membuat mobil yang mereka kendarai mampu menembus benda apa saja yang menghalanginya agar sampai dengan cepat di rumahnya. Mobil itu melesat dengan kecepatan yang sangat tinggi melintasi jalanan yang masih sangat ramai. Kali ini Rubby tidak protes, dia yakin Wu Jin Ming melakukan ini semua demi dirinya. m


Perjalanan yang seharusnya di tempuh dalam waktu satu jam, kini hanya butuh waktu kurang dari 15 menit. Mobil Wu Jin Ming berhenti di jalan yang tidak jauh dari rumah Rubby. Dari kejauhan sudah terlihat hiruk pikuk orang yang membantu team pemadam kebakaran untuk memadamkan api.


Arlan masih berada di sana. Penampilannya sangat berantakan karena ikut serta turun tangan dalam memadamkan api. Saking fokusnya dia tidak menyadari kehadiran Rubby.


Saat dia sedang berdiri menghadap kobaran api yang sudah hampir padam tiba-tiba Rubby memeluknya dari belakang. Arlan tersentak karena terkejut mendapatkan pelukan mendadak dari arah belakang. Hampir saja dia berteriak, namun ketika mencium aroma wangi tubuh orang yang memeluknya dia bisa menebak jika orang itu adalah Rubby.


"Rubby! Kamu kah itu?" tanya Arlan sambil memegang tangan lembut yang melingkar di perutnya.


"Rumahku, Ar... rumahku!" seru Rubby sambil terisak.


"Aku tahu kamu sangat kehilangan, By! Tapi jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Kamu punya aku dan juga Tiger Wu. Kamu pikir kami tidak bersedih dengan apa yang menimpamu?" Arlan mencoba menghibur Rubby.


Perlahan Rubby melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati rumahnya sambil terisak. Di belakangnya ada Wu Jin Ming yang berjalan mengikutinya. Tanpa berkata apa-apa Wu Jin Ming mengulurkan tangannya dan memberikan pelukan persaudaraan untuk Arlan.


Mereka berdua saling menatap haru dan sama-sama berjalan mengikuti Rubby. Sebagai sahabat masa kecilnya, Arlan bisa merasakan betapa sedihnya hati Rubby saat ini. Banyak sekali kenangan yang dia lewati bersama di rumah itu sejak mereka masih anak-anak.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2