
Wu Jin Ming dan Rubby sampai di sebuah kamar mewah yang disiapkan untuk mereka. Kamar Wu Jin Ming di hias sedemikian rupa oleh para dayang-dayangnya dengan berbagai macam bunga dan lilin yang menimbulkan kesan romantis. Aroma harum menyeruak memenuhi ruangan.
Sayang sekali Rubby sudah terlelap saat ini. Wu Jin Ming membayangkan seandainya Rubby belum tidur, dia pasti akan bersorak dan terpukau melihat keindahan kamar ini. Bunga-bunga cantik kesukaannya bertebaran di mana-mana bahkan di tempat tidur juga ada.
Perlahan Wu Jin Ming meletakkan Rubby di atas tempat tidur mereka. Dengan kekuatannya Wu Jin Ming menggantikan baju Rubby dengan baju tidur yang lebih nyaman. Dia juga melakukan hal yang sama untuknya.
Sampai beberapa waktu di sana, Wu Jin Ming belum bisa memejamkan mata. Tubuhnya terasa semakin gerah. Aroma wewangian yang dia hirup seakan membuatnya mabuk. Naluri kelelakiannya timbul dan menguasai tubuhnya.
Melihat Rubby yang tidur sangat nyenyak, Wu Jin Ming tidak tega untuk membangunkannya. Rasa panas dan hasrat yang meninggi membuatnya tidak bisa tertidur. Wu Jin Ming begitu tersiksa dengan apa yang dialaminya saat ini.
Pengharum ruangan yang mengandung zat afrodisiak itu juga terhirup oleh Rubby. Rasa gerah di tubuhnya membuatnya terbangun. Kepalanya juga terasa sangat pusing dan menginginkan kebutuhan biologisnya tersalurkan.
"Kak Wu! Kamu belum tidur?" tanya Rubby dengan suara serak khas bangun tidur.
"Belum. Tubuhku sangat panas dan aku... aku menginginkan itu Rubby. Tapi sudahlah, kembalilah tidur! Aku tahu kamu sangat lelah," ucap Wu Jin Ming mencoba untuk menahan gejolak yang menyiksanya.
Rubby bangun dan tertunduk malu. Tanpa di duga dia menanggalkan pakaian yang dikenakannya satu persatu. Itu dia lakukan karena dia juga menginginkannya namun tidak berani mengungkapkannya.
"By, jika kamu tidak bisa memberi apa yang aku butuhkan sekarang, setidaknya jangan menggodaku seperti itu." Nafas Wu Jin Ming semakin tidak teratur melihat pemandangan indah di depannya.
"Aku... aku juga sedang terbakar. Tubuhku rasanya panas sekali. Bisakah kamu mendinginkannya?" ucap Rubby malu-malu.
"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi, Sayang?" Senyum lebar terpampang jelas di wajah Wu Jin Ming.
Tak ingin menundanya lagi, Wu Jin Ming segera menyerang Rubby dengan cumbuannya. Mereka larut dalam kehangatan yang mereka ciptakan. Menjelang pagi mereka baru berhenti dari kegiatan panas mereka.
"Kepalaku berat sekali. Ini jam berapa?" Rubby menggeliat saat ruangan berangsur-angsur menjadi terang.
"Hmm. Entahlah. Aku masih ngantuk. Tidur lagi, yuk!" Wu Jin Ming kembali memeluk Rubby erat.
"Ish, jangan kenceng-kenceng! Aku nggak bisa napas!" teriak Rubby. Di berusaha melepaskan diri dari pelukan Wu Jin Ming.
Bukannya melepaskan Rubby, Wu Jin Ming malah menambahkan kakinya untuk mengurung tubuh Rubby.
"Arrgghhh! Aduh! Sakit Sayang!" teriak Wu Jin Ming sambil melirik lengannya yang memerah karena digigit oleh istrinya itu.
"Salah sendiri susah dibilangin." Rubby bangun dan memakai kembali pakaiannya. Matanya berkeliling melihat sekitar. Dia baru menyadari jika kamar yang dia tempati semalam sangatlah indah. Dekorasi yang cantik dengan aneka bunga di tata begitu apik.
"Kejam!" seru Wu Jin Ming singkat.
"Mau lagi?" lirik Rubby jengah.
__ADS_1
"Mau tapi yang kayak semalam," goda Wu Jin Ming yang masih enggan bergerak dari tempat tidur.
"Haish, pagi-pagi mesum!" seru Rubby.
Rubby berjalan mengelilingi kamar yang mereka tempati. Kekagumannya masih belum hilang dari matanya. Kamar seorang raja memang sangat indah dan berkelas. Tangannya membuka pintu yang ada di bagian samping.
"Selamat pagi Yang Mulia Ratu! Apakah Yang Mulia ingin mandi sekarang?" tanya dua orang dayang yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu.
Rubby membelalakan matanya hingga membulat sempurna. Dia sangat terkejut.
"Aku... nanti saja!" Rubby kembali menutup pintu kamarnya dan berlari menghampiri Wu Jin Ming.
"Kenapa, Sayang?" tanya Wu Jin Ming sambil bangkit untuk duduk.
"Em... sejak kapan pelayan-pelayan itu berdiri di depan pintu?" tanya Rubby sambil merapikan rambut singanya.
"Sepanjang waktu mereka ada di sana. Mereka bergantian untuk berjaga untuk bersiap melayaniku saat aku membutuhkannya," jelas Wu Jin Ming.
"Astaga, Sayang! Kenapa kamu nggak bilang?" Rubby menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Semalam pasti para pelayan itu mendengar rancauannya. Sesekali Rubby juga berteriak saat Wu Jin Ming menyentuhnya. Rubby tidak menyangka jika di luar kamar selalu ada yang berjaga sepanjang waktu.
"Kenapa harus malu? Sudahlah! Mereka nggak akan berani menggodamu." Wu Jin Ming berdiri dan membuka tangan yang menutupi wajah Rubby.
"Hahaha... kamu lucu sekali! Sudah lama kita menikah masih saja kamu malu-malu." Wu Jin Ming hanya memakai baju luarnya saja karena setelah ini dia ingin mandi.
Rubby masih berdiri memunggungi Wu Jin Ming.
"Kamu ingin mandi tidak?" tanya Wu Jin Ming.
"Iya. Di mana kamar mandinya? Sepertinya di dunia manusia sekarang juga sudah pagi."
"Ayo ikut aku!" Wu Jin Ming menggenggam tangan Rubby meninggalkan kamar.
Di depan pintu mereka di sambut oleh beberapa dayang. Melihat dayang yang tadi, Rubby masih merasa kikuk. Di dalam pikirannya masih terbayang bagaimana reaksi mereka saat mendengar keributan yang dia ciptakan bersama Wu Jin Ming semalam.
Wu Jin Ming membawa Rubby memasuki sebuah ruangan luas yang terdapat sebuah kolam besar di tengahnya. Kolam itu berisi air hangat dan bertabur kelopak bunga warna-warni. Wangi segar menyeruak dari dalam kolam mandi itu.
"Kita mandi di sini?" tanya Rubby mengernyitkan dahinya.
"Iya," jawab Wu Jin Ming.
__ADS_1
Wu Jin Ming masuk ke dalam kolam terlebih dahulu. Dua orang pelayan membantu melepaskan bajunya. Air di dalam kolam itu merendam tubuh Wu Jin Ming hingga ke dadanya saat dia terduduk. Semua yang dilakukan oleh para dayang pada Wu Jin Ming tidak luput dari pengamatan Rubby.
"Mari saya bantu Yang Mulia Ratu." Seorang dayang ingin melepaskan baju Rubby.
"Ah, tidak perlu. Aku bisa sendiri." Rubby menolak.
"Sudah tugas kami untuk melayani mulai Yang Mulia." dayang itu nekat membantu Rubby melepaskan bajunya meskipun Rubby melarangnya.
Rubby masuk ke dalam kolam dengan baju dalam yang masih melekat di tubuhnya. Dia merasa risih jika ada orang lain yang melihat tubuhnya selain Wu Jin Ming. Setelah terendam air dia baru melepaskan pakaian yang tersisa.
"Kak Wu. Apa mereka bisa pergi dari sini?" tanya Rubby.
"Mereka akan pergi jika di minta," ucap Wu Jin Ming sambil memejamkan mata karena menikmati pijatan lembut di kepalanya saat seorang dayang mengeramasinya.
"Aku... aku tidak nyaman mandi di lihat banyak orang. Tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara mandi di sini."
"Anggap saja mereka tidak melihatmu. Sekarang biarkan mereka melayanimu atau kamu ingin terlambat pergi ke kampus," ucap Wu Jin Ming mengingatkan.
"Kamu benar." Rubby akhirnya menurut saja saat dayang-dayang itu meluluri tubuhnya.
Entah ramuan apa yang ada pada lulur mandi yang dibalurkan ke tubuh Rubby. Rasanya sangat segar dan nyaman. Dia seperti sedang melakukan perawatan spa di salon kecantikan. Tapi di sini lebih lengkap dan lebih istimewa.
Rambut panjang Rubby juga dikeramasi dan kepalanya di pijat dengan lembut. Ini pertama kalinya dia menikmati fasilitas sebagai seorang Ratu di kerajaan suaminya. Mungkin ini juga akan dia rasakan jika dia tinggal di istana ibunya.
Setelah ritual mandi mereka selesai, mereka memakai baju yang juga sudah disiapkan oleh para dayang istana. Sebelumnya mereka mengeringkan tubuh dan rambut dengan handuk yang sangat lembut. Handuk itu sangat berbeda dengan handuk yang ada di dunia manusia. Seperti berkekuatan magic, seluruh tubuh Rubby dan Wu Jin Ming seketika langsung kering setelah memakai handuk itu.
"Kak Wu! Kita harus segera kembali ke dunia manusia," ucap Rubby merasa hari sudah sangat terang.
"Kamu nggak lapar?" tanya Wu Jin Ming.
"Lapar sih, tapi aku nggak mau aku terlambat kuliah gara-gara menunggu kokimu selesai memasak sarapan. Pasti alat masak di sini masih sangat kuno dan lama matangnya," ucap Rubby.
"Siapa bilang?! Ayo kita ke ruang perjamuan. Setelah kita duduk makanan akan langsung datang. Percayalah!" seru Wu Jin Ming.
Merasa perutnya sangat lapar, Rubby pasrah ketika Wu Jin Ming menggandeng tangannya menuju ruang perjamuan raja. Benar apa yang dikatakan oleh Wu Jin Ming, para pelayan berbondong-bondong membawa makanan dan menyajikannya di meja perjamuan. Banyak sekali menu yang mereka sajikan. Semuanya terlihat enak, membuat Rubby kebingungan untuk memakan yang mana.
"Kenapa hanya di lihat saja? Jika tidak ada yang kamu sukai aku akan meminta pelayan untuk menggantinya," ucap Wu Jin Ming sambil memasukkan beberapa jenis makanan ke dalam mangkuknya.
"Aku menyukainya... aku hanya bingung mau pilih yang mana." Rubby segera mengambil makanan yang dia kenal.
Rubby mengambil nasi dengan lauk beberapa potong ikan, ayam dan sayuran. Sebenarnya banyak sekali olahan lainnya yang terlihat enak tapi Rubby takut jika itu makanan yang terbilang ekstrim. Sebut saja olahan daging buaya misalnya. Rubby bergidik ngeri membayangkan jika dia memakannya tanpa sengaja.
__ADS_1
****
Bersambung....