
Rubby sudah selesai mandi namun Wu Jin Ming masih duduk termenung di tepi jendela. Pandangannya yang tajam seakan ingin menerkam mangsanya, menatap ke tempat yang jauh dari batas logika. Saat ini Rubby bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.
"Kak Wu! Aku sudah selesai!" Rubby berusaha mencairkan suasana.
"Hmm." Sikap dingin Wu Jin Ming masih berlanjut.
Jawaban pendek tanpa diselingi dengan senyuman, membuat Rubby semakin yakin jika hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sekuat tenaga Rubby mencoba berpikir tentang apa yang telah dia lakukan atau dia ucapkan sebelumnya. Menurutnya tidak ada yang aneh. Mencari-cari sesuatu yang tidak bisa dia temukan membuat kepalanya terasa pusing dan berdenyut. Mungkin dia harus bersikap masa bodoh saja dan menunggu sampai amarah Wu Jin Ming mereda.
Mood untuk berdandan Rubby menghilang. Dia hanya menyisir rambutnya saja tanpa menambah riasan apapun di wajahnya. Toh, mau secantik apa Wu Jin Ming yang marah tidak akan pernah meliriknya.
Tidak berapa lama kemudian, Wu Jin Ming sudah keluar dari kamar mandi dalam keadaan yang telah rapi.
"Kita sarapan!" Rubby meraih tasnya. Tas satu-satunya yang dia miliki setelah tragedi kebakaran rumahnya.
Dendamnya pada Lisa belum terbalaskan. Dia mencari waktu yang tepat untuk menantangnya bertarung. Kejahatannya tidak bisa ditolerir lagi. Sangkar perenungan adalah tempat yang pantas untuknya.
Tanpa banyak bicara Wu Jin Ming dan Rubby berjalan menuju ke ruang makan. Karena tidak berhati-hati, kaki Rubby tidak menginjak tangga dengan benar. Tubuhnya kehilangan keseimbangan ketika kakinya terasa sakit karena terkilir.
Merasa tidak ada orang lain di dalam rumahnya, Wu Jin Ming secepat kilat terbang dan melompat lalu menangkap tubuh Rubby yang hampir menyentuh lantai.
"Dasar ceroboh! Bisa nggak kalau jalan itu lihat-lihat?!" seru Wu Jin Ming kesal.
"Maaf! Ssshhhh!" desis Rubby kesakitan kakinya terasa sangat nyeri.
Tanpa banyak bicara, Wu Jin Ming segera menggendong Rubby ke ruang makan. Tatapannya sedikit melembut meskipun sikapnya masih terasa dingin. Hati Rubby merasa senang karena musibah yang menimpanya membawa berkah.
Sesampainya di ruang makan, Wu Jin Ming mendudukan tubuh Rubby di kursi.
"Masih sakit?" tanya Wu Jin Ming melihat kaki Rubby yang terlihat memerah sambil berjongkok di hadapannya.
"He'em!" angguk Rubby manja.
"Tahan sebentar!" seru Wu Jin Ming sebelum menarik kaki Rubby untuk membetulkan ototnya yang terkilir.
"Sakit nggakkk!" rengek Rubby.
"Sedikit! Tahan, ya! Satu... dua... !" Wu Jin Ming memberi aba-aba dan menarik kaki Rubby pada hitungan ke tiga.
__ADS_1
"Aaaaaa... aa...! Aahh... Huuff!" Tangan Rubby mencengkeram ujung gaunnya untuk meredam rasa sakit yang menderanya.
"Sudah! Sekarang coba kamu berdiri!" Berdiri masih sambil mengamati kaki Rubby.
"Takut, Kak! Jangan-jangan masih sakit! Hiks!" saat seperti ini level kemanjaan Rubby meningkat beberapa tingkat seakan lupa jika dia seorang kultivator yang hebat.
Tidak semua hal harus diselesaikan dengan kekuatan magis. Banyak hal yang secara alami harus mereka lewati untuk merasakan kebahagiaan yang hakiki. Terkadang sebuah kelemahan membuka jalan bagi diri mereka untuk menjadi lebih kuat.
"Sudahlah! Cepat lakukan apa yang ku katakan! Ayo! Berdiri! Sini aku bantu!"
Rubby menerima uluran tangan Wu Jin Ming dan berdiri dengan ragu-ragu. Dia menutup matanya untuk menahan segala kemungkinan terburuk yang akan dia rasakan.
"Eh, tidak sakit lagi!" senyum manis mengembang di wajah cantiknya.
"Coba kamu buat jalan!" ucap Wu Jin Ming masih terus memegangi tangannya takut kalau Rubby masih trauma dengan rasa sakitnya.
Perlahan Rubby melangkahkan kakinya sambil berpegangan pada Wu Jin Ming. Setelah di rasa tidak sakit lagi dia melepaskannya dan mencoba berjalan sendiri. Kakinya sudah normal kembali. Hanya ada sedikit rasa ngilu saja tapi itu bukan rasa sakit.
"Bagaimana?" tanya Wu Jin Ming memastikan.
"Perlu aku urut lagi!"
"Nggak deh enggak! Nanti pasti juga sembuh dengan sendirinya." Rubby meringis membayangkan kakinya akan di tarik dengan kuat lagi dan merasakan rasa nyeri yang menusuk hingga ke ulu hati.
"Baiklah! Ayo kita sarapan!" Wu Jin Ming hendak mengambilkan piring untuk Rubby tapi dia tolak.
"Tidak usah! Biar aku yang mengambilkan untukmu!" Tangan Rubby di tahan oleh Wu Jin Ming ketika akan berdiri.
"Aku tidak memaksamu untuk terus melayaniku. Duduklah! Kakimu belum pulih benar."
"Kamu tidak marah lagi, kan?" tanya Rubby ragu-ragu takut jika Wu Jin Ming tersinggung.
"Siapa yang marah? Aku hanya kesal saja. Roh naga milik An Ning selalu menempel padamu bahkan dia tidak segan muncul untuk membantumu tanpa kamu minta!"
Akhirnya Rubby tahu alasan kekesalan Wu Jin Ming pagi itu. Alasan tidak masuk akal yang Rubby sendiri tidak tahu kenapa Wu Jin Ming harus kesal pada roh naga An Ning. Sepertinya ada hal yang dia lewatkan saat dia tertidur di malam itu.
"Tunggu... tunggu! Kenapa kamu merasa kesal pada roh naga An Ning? Apa hubungannya denganku coba? Aku sama sekali tidak mengenalnya!" bantah Rubby tidak terima saat Wu Jin Ming tiba-tiba mendiamkannya.
__ADS_1
"Entahlah aku tidak kesal padamu. Aku hanya kesal melihat kemunculannya saja." Wu Jin Ming masih berusaha menutupi kecemburuannya.
"Mending kamu jujur deh, Kak! Aku bukan orang yang peka. Jadi kalau kamu diem pasti aku juga bakalan ikut diem karena nggak tahu harus apa," ucap Rubby di sela-sela makannya.
Wu Jin Ming mengentikan makannya dan menatap Rubby tajam. Nyali Rubby menciut takut tadi dia salah bicara. Jantungnya berdebar-debar menanti Wu Jin Ming mengeluarkan kata-katanya.
"Iya, By! Saat kamu tertidur aku bertarung antara hidup dan mati bersama An Ning untuk memperebutkanmu. Dia hampir saja membunuhku!" jujur Wu Jin Ming setelah hatinya merasa sedikit tenang.
"Maaf. Aku tidak tahu kalau sampai seperti itu masalahnya. Aku tidak bermaksud untuk menggodanya. Kalau kak Wu tidak suka, aku akan melepaskan roh naga ini dari tubuhku!"
"Kamu tidak salah. Roh naga itu sudah menyatu dengan energi yang mengalir dalam tubuhmu, By. Tidak akan mudah untuk memisahkannya."
"Jadi selamanya aku akan membuatmu kesal." Rubby menunduk lesu.
"Aku akan berusaha menguasai hatiku untuk tidak terbakar emosi. Aku terlalu mencintaimu Rubby!"
"Aku lebih mencintaimu Kak Wu! Sebesar apapun godaan yang datang mengganggu ingatlah bahwa hanya kamu yang aku sayangi." Tangan Rubby bergeser dan menyentuh tangan Wu Jin Ming.
Mereka saling berpandangan dengan penuh cinta. Kesalahpahaman yang melanda kini telah menghilang tak berbekas. Besarnya cinta yang mereka miliki mampu meruntuhkan semua perbedaan dan penghalang yang menguji cinta beda alam mereka.
••••
Seminggu sudah Rubby dan Wu Jin Ming tinggal di rumah baru mereka. Dayang yang mengurus rumah mereka sudah bisa beradaptasi dengan baik di dunia manusia. Sesekali mereka sudah berani membaur dan berinteraksi dengan manusia.
Wu Jin Ming dan Rubby sepakat untuk pergi ke bukit San di malam bulan purnama yang akan datang malam nanti. Bukit San merupakan bukit yang terbentuk di tengah dua aliran sungai yang saling bertemu. Malam nanti adalah malam yang di nanti oleh pemburu kekuatan dari kalangan manusia dan siluman.
Di puncak bukit San ada sebuah teratai emas kuno yang akan mekar di tengah malam. Itulah yang mereka nantikan di mana akan ada beberapa orang yang terpilih untuk mendapatkan kekuatan luar biasa dari semburan energi yang keluar dari teratai emas itu. Akan ada persaingan dalam memperebutkan kedudukan itu meskipun neraca penguji yang memilih mereka. Orang yang tidak lolos dalam neraca penguji akan berusaha menyerang orang yang lolos agar mendapatkan kesempatan lagi untuk bisa lolos.
Setelah pulang kerja, Rubby dan Wu Jin Ming berkultivasi di kamarnya untuk persiapan malam di bukit San. Energi mereka harus benar-benar penuh karena mereka tidak tahu musuh seperti apa yang akan mereka hadapi nanti malam.
****
Bersambung...
Rubby
__ADS_1