TIGER WU

TIGER WU
ART DARI NEGERI SEBRANG


__ADS_3

Akhirnya rumah yang mereka impikan terbeli meskipun itu harus menguras seluruh tabungan Wu Jin Ming dan menjual sedikit tabungan emasnya. Rumah besar itu hanya mereka tempati berdua. Mereka membutuhkan asisten rumah tangga namun bukan dari kalangan manusia.


Sebagai seorang Raja Harimau Suci, Wu Jin Ming bisa meminta beberapa orang dayang di istananya untuk datang. Suatu pagi Panglima Ang datang kepadanya membawa beberapa orang dayang yang dia inginkan. Bukannya senang Rubby malah merasa sedikit pusing. Bagaimana tidak, mereka belum terbiasa hidup di dunia modern dan berbaur dengan manusia. Hal itu tidak jauh beda seperti halnya pertama kali Wu Jin Ming tinggal bersamanya dan melakukan aktifitas sebagai manusia.


Melihat pekerjaan para dayang tidak ada yang beres, Rubby berpikir untuk menemukan cara bagaimana agar mereka bisa segera mengerti apa saja rutinitas yang dilakukan di dunia manusia. Dia berjalan mondar-mandir di balkon depan kamarnya membuat Wu Jin Ming yang melihat itu merasa heran. Tidak biasanya Rubby seperti itu.


"By! Ada masalah apa? Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu sih?" tanya Wu Jin Ming yang akhirnya menyusul Rubby karena merasa penasaran dengan sikap istrinya itu.


"Hanya sedikit masalah kecil."


Masih saja Rubby terus berjalan dan lucunya lagi Wu Jin Ming malah mengikutinya di belakang seperti ekor. Itu berlangsung untuk beberapa saat, entah berapa kali putaran mereka seperti itu. Wu Jin Ming hampir menabraknya ketika Rubby tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadapnya. Tubuh mereka kehilangan keseimbangan dan terhuyung jatuh ke lantai dengan posisi Wu Jin Ming menindihnya di atas.


"Auu!" pekik Rubby merasakan tubuhnya terbentur lantai.


"Maaf, Sayang! Habisnya kamu, sih, tadi ngerem mendadak. Aku kan nggak siap."


"Aku kan tadi lagi berpikir. Berhubung aku dapat ide aku langsung berhenti!" seru Rubby antusias.


"Ide? Ide yang seperti apa, Sayang?" Kening Wu Jin Ming berkerut.


"Emm... eeee... yah jadi lupa, deh! Semua ini gara-gara kamu, sih, main tubruk aja tadi!" gerutu Rubby kesal.


"Kok, jadi aku, sih, yang disalahin? Astaga... wanita memang selalu benar." Wu Jin Ming menepuk jidatnya.


"Hihi!" Rubby meringis geli mengingat ulah mereka berdua di pagi itu.


Wu Jin Ming berdiri terlebih dahulu lalu membawa Rubby duduk di kursi yang tersedia di balkon itu. Kebetulan pemilik rumah menjual Rumah beserta isinya, jadi Wu Jin Ming dan Rubby tidak perlu banyak membeli barang lagi. Mereka hanya butuh menata ulang dan membeli barang pelengkap lainnya jika mereka mau.


"Sebenarnya apa sih, yang membuat permaisuriku menjadi cemberut dan berpikir serius seperti ini?" Tangan Wu Jin Ming mengelus rambut Rubby yang sedang duduk di sampingnya.


"Aku sedang mencari solusi bagaimana supaya para dayang itu mengerti cara hidup dan kebiasaan para manusia di jaman ini. Cara njelasinnya supaya mereka cepay paham gimana coba?" Bibir Rubby mengerucut keluar membuatnya terlihat sangat imut dan lucu.

__ADS_1


"Eemm... gimana, ya? Tadi katanya kamu dapet ide itu gimana?" Wu Jin Ming merasa penasaran dengan ide Rubby sebelumnya.


"Kan aku udah bilang kalau aku sudah lupa. Ideku terbang saat kamu menubrukku tadi!" ocehan Rubby terdengar tidak masuk akal.


"Hhmmm. Alasan. Emm, apa kamu mau menerima ide dariku, Sayang?" tanya Wu Jin Ming kemudian.


"Emm, boleh. Nggak wajib dipakaikan kalau misalnya aku tidak setuju?" Rubby mencoba mengingatkan Wu Jin Ming berjaga-jaga agar dia tidak kecewa seandainya mereka tidak sependapat.


"Tentu saja! Kamu kepala urusan rumah tangga, Sayang. Kamu bebas memutuskan apa saja yang menurut kamu baik." Sebuah kecupan mendarat di kening Rubby.


"Baik. Katakanlah!"


"Kamu menguasai sihir, tidak akan merepotkan kalau kamu menggunakannya untuk membuat mereka merekam dengan cepat perintah darimu dalam ingatan mereka."


Tangan Rubby terangkat ke depan meminta agar Wu Jin Ming diam sebentar dengan wajah yang berbinar senang.


"Wow! Aku sampai lupa! Sepertinya ini ide yang bagus. Aku turun dulu, Sayang!" Rubby beranjak dari duduknya.


"Ehemm! Ini nggak gratis, Sayang! Ada harga yang harus kamu bayar sebagai imbalan." Wu Jin Ming menyusul Rubby berdiri.


"Oke, tidak masalah tapi akan ada denda dan tambahan lainnya jika kamu menundanya nanti malam," ucap Wu Jin Ming sambil terkekeh.


"Anda belajar jadi retenir, Pak?" Berjalan turun ke lantai bawah untuk melakukan ide yang mereka sepakati.


"Rentenir cinta, Istriku. Bukankah kamu suka dapat bonus? Anggap saja itu bonus yang tidak pernah kamu minta!" seru Wu Jin Ming melangkah beriringan dengan Rubby.


"Dasar Tuan Raja bucin!" Tangan Rubby memberi cubitan kecil di lengan Wu Jin Ming.


"Ahhh, cubitanmu menyakitiku, Sayang!"


"Jangan bilang ada tambahan hukuman lagi!"

__ADS_1


"Hihihi, kamu tahu aja. Habis ini kita...." ucapan Wu Jin Ming terhenti karena Rubby sudah memelototinya. "Sarapan."


"Aku tahu sebelumnya bukan itu lanjutannya," gumam Rubby lirih.


Wu Jin Ming menghentikan candaan mereka dan bersikap berwibawa dihadapan para dayangnya. Apa jadinya jika mereka tahu jika raja mereka yang hebat, sangat bucin kepada istrinya. Bisa-bisa turun harga dirinya.


Sepuluh siluman dari negeri Harimau Suci berbaris rapi dan siap menerima perintah Wu Jin Ming. Mereka berlutut dihadapan Raja dan permaisuri mereka. Tidak ada yang berani memulai berbicara.


Sampai saat ini, mereka masih memakai hanfu seragam khusus di kerajaan Harimau Suci padahal Rubby sudah memberi mereka baju manusia modern sejak beberapa hari yang lalu.


Wu Jin Ming meminta mereka untuk berdiri. Setelah semuanya berdiri dan berbaris rapi, Rubby dia minta untuk segera melakukan sihirnya. Sewaktu-waktu ada tamu yang berkunjung ke rumah itu, mereka tidak akan merasa heran dengan penampilan dan gaya bicara mereka.


Mata Rubby mulai terpejam. Aura Dewi dalam tubuhnya memancar keluar. Perlahan dia mengangkat tangannya ke depan lalu membacakan mantra sihir sesuai apa yang dia inginkan.


Tanpa di duga, roh naga ikut bangkit saat Rubby memainkan sihirnya. Roh naga itu memperkuat sihir yang Rubby keluarkan. Ketika sihir itu memasuki tubuh para dayang, mereka terlihat seperti orang yang sedang terkejut setelah melihat sesuatu yang mengagetkan.


Sebagai siluman, setiap dayang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Mereka melakukan tugasnya sesuai keahlian dasar yang mereka miliki. Setelah mengetahui apa yang Rubby inginkan, para dayang itu bisa menjalani tugas tanpa harus menunggu perintah dari majikannya.


"Kalian sudah mengerti, kan, sekarang? Lakukan tugas kalian dengan baik!" ucap Rubby sambil tersenyum.


"Kami mengerti, Nyonya!" Panggilan baru yang terdengar asing bagi mereka namun dengan mudah mereka ucapkan setelah menerima sihir Rubby.


Rubby mengajak Wu Jin Ming mandi dan bersiap untuk kerja sambil menunggu sarapan yang disiapkan oleh para dayang. Sikap Wu Jin Ming sedikit aneh. Tiba-tiba dia menjadi dingin. Tidak seperti ketika Rubby belum melakukan sihirnya.


'Sepertinya ada yang salah, nih? Kenapa kutub utara tiba-tiba pindah ke tubuh kak Wu, ya? Apa aku melakukan kesalahan?' berbagai pertanyaan berseliweran di benak Rubby. Dia terus memandangi wajah Wu Jin Ming yang terlihat acuh tak acuh padanya.


"Mau mandi bareng?" Rubby mencoba merayunya.


"Kamu duluan saja!" Wu Jin Ming malah menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Aneh," gumam Rubby lirih sambil berjalan meninggalkan Wu Jin Ming untuk pergi mandi.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2