TIGER WU

TIGER WU
HOME SWEET HOME


__ADS_3

Dewa Langit mengayunkan tangannya lurus ke depan dan muncullah cahaya dari telapak tangannya yang di arahkan ke samping ular jelmaan Dewi Lamora. Ujung cahaya kehijauan itu muncul sebuah lubang yang merupakan pintu menuju ke dimensi lain. Ular jelmaan Dewi Lamora berjalan masuk ke dalam dimensi yang disiapkan untuknya.


Setelah tubuh ular sepenuhnya masuk ke dalam ruang dimensi itu, Dewa Langit segera menutupnya kembali.


"Kak Wu! Apakah itu ruang dimensi seperti tempat pertama kali kita bertemu?" tanya Rubby.


"Benar! Tapi itu adalah ruang dimensi negeri ular di mana leluhur Dewi Lamora dulu berasal," jelas Wu Jin Ming.


"Jadi beda, ya? Kenapa kamu dulu nyasar di dimensi menyeramkan yang terhubung dengan dunia manusia?" Rubby mengusap lengannya karena merasa ngeri jika teringat kejadian di malam itu.


"Bukan nyasar, Sayang. Dimensi itu memiliki energi yang besar yang membuatku bisa lebih cepat berkultivasi untuk memulihkan energi spiritualku."


"Memangnya sebelumnya kamu kenapa?" sifat ingin tahu Rubby memaksanya untuk terus bertanya.


"Aku jawab sambil berjalan. Ayo!" seru Wu Jin Ming ketika Dewa Langit sudah memberinya isyarat untuk pergi meninggalkan tempat itu.


Sebelum keluar dari ruangan harum wangi, Wu Jin Ming merubah tubuhnya menjadi sosok yang biasa. Penampilan baru dan rambut putihnya tentu akan mengundang rasa penasaran istana langit. Begitu juga dengan lempengan hologram mantra yang keluar dari tapak kakinya.


"Kamu tadi nanya apa Sayang?" Wu Jin Ming melupakan pertanyaan Rubby.


"Apa yang terjadi padamu hingga harus berkultivasi di dimensi itu?"


"Aku terluka parah dan kehilangan lebih dari separuh kekuatanku karena bertarung antara hidup dan mati dengan Zhu Zheng. Aku berhasil mengalahkannya dan membuatnya mengulang hingga ke titik nol. Aku berharap jika tiba saatnya nanti aku bisa mengulang kemenangan itu lagi."


"Oh, jadi begitu. Em... mengenai para dayang yang terlibat pada penjebakanmu. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rubby lagi.


"Biarlah itu menjadi urusan Dewa Langit. Aku tidak ingin melihat mereka lagi."


"Mereka juga korban. Ancaman Dewi Lamora lah yang membuat mereka terpaksa melakukan kebodohan itu."


"Iya. Itu benar."


"Kak Wu! Apa rencana kita setelah ini?"


"Memulai proses penyatuan jiwamu. Lebih cepat akan lebih baik!" jelas Wu Jin Ming.


"Apa itu berat?"


"Di bilang berat enggak, di bilang ringan juga enggak. Ada satu sarat yang sangat sulit di dapat yaitu mencari batu Rubby Aurora untukmu."


"Batu seperti milik ayah?" tanya Rubby.

__ADS_1


"Iya... benar...."


"Andai ayah masih hidup." Raut wajah Rubby berubah menjadi murung.


"Kita akan mencarinya bersama-sama. Jangan bersedih!" sebuah pelukan membuat Rubby merasa nyaman.


"Kak Wu! Banyak yang melihat kita," bisik Rubby.


"Abaikan saja! Anak kita sudah aman. Ayo kita kembali ke dunia manusia dan berkeliling mencari apa saja yang dibutuhkan untuk proses penyatuan jiwamu."


"Hmm." Rubby mengangguk. "Bisakah kita sering-sering datang ke sini untuk mengunjungi anak kita?"


"Tentu saja, Sayang." sebuah kecupan mendarat di kening Rubby.


Wu Jin Ming dan Rubby sepakat untuk meninggalkan istana langit hari itu juga. Dewa Langit dan Dewa Dewi yang lain tidak dapat menghalangi keinginan mereka. Proses penyatuan jiwa memang harus segera dilakukan sebelum Zhu Zheng selangkah lebih maju dari mereka.


Sebelum pergi, Rubby meminta ijin untuk pergi ke taman seribu jiwa dan berpamitan pada calon anaknya.


•••••


Prang!


Suara benda jatuh membangunkan Rubby yang sedang tertidur di kamarnya.


"Hai, Sayang!" sapa Wu Jin Ming ketika melihat Rubby muncul dari arah kamar.


"Ngapain kamu, Sayang. Ini?! Astaga!" Rubby geleng-geleng kepala ketika melihat Wu Jin Ming sudah menghabiskan dua cup mie instan dan beberapa kaleng ikan olahan siap saji.


"Aku lapar, Sayang! Aku sudah terbiasa makan makanan manusia. Tersiksa sekali aku 2 hari nggak makan makanan seperti ini." Wu Jin Ming melanjutkan makannya.


"Iya, tapi pelan-pelan lah! Jangan kayak gitu!Cara makannya udah kayak orang sebulan nggak makan aja!" protes Rubby sambil membereskan sisa kekacauan yang di buat oleh Wu Jin Ming.


"Iya... iya... ini aku pelan-pelan!"


"Kok aku jadi ikutan lapar, ya!" Rubby memegangi perutnya dan beberapa kali menahan air liurnya yang mengucur deras melihat Wu Jin Ming sedang menikmati makanannya.


"Ini masih banyak, Sayang! Atau ini saja." Wu Jin Ming menyodorkan satu cup mie instan yang ketiga. Sepertinya menghabiskan 2 cup saja perutnya sudah terasa kenyang.


Mata Rubby berbinar senang ketika melihat mie instan siap makan di tangan Wu Jin Ming.


"Yakin ini mau dikasihkan ke aku, Sayang!" Rubby menarik kursi dan duduk di sebelah Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Yakin, Sayang! Nih! Kita makan sama-sama, yuk!"


Merasa perutnya sudah protes minta diisi, Rubby tidak sungkan lagi memakan mi instan yang di buat oleh Wu Jin Ming untuknya. Dia juga tidak menikmati makanan di istana langit karena hatinya sedang gundah tempo hari. Mereka berdua menikmati makan malam itu dengan menu seadanya.


"Jalan-jalan ke taman, yuk! Sudah lama kita nggak ke sana," ajak Rubby.


"Apa kamu menginginkan sesuatu untuk di beli, Sayang?" tanya Wu Jin Ming.


"Iya.... Aku pengen makan jagung bakar."


'Apa mungkin Rubby masih mengidam? Bukankah anak kami sudah tidak berada di rahimnya lagi. Ah! Lebih baik aku turuti saja daripada urusannya jadi panjang,' gumam Wu Jin Ming dalam hati.


"Apa Kakak berbicara sesuatu?" tanya Rubby.


"Emm... ah... enggak kok! Iya, habis ini kita siap-siap pergi ke taman."


Degup jantung Wu Jin Ming memompa lebih keras karena takut jika suara hatinya benar-benar terdengar oleh Rubby. Seingat Wu Jin Ming dia tidak membuka jalur komunikasi pikiran dengan Rubby.


"Habis makan kita langsung berangkat saja, ya? Kalau mandi dan lain-lain nanti kemaleman. Aku udah nggak sabar pengen makan jagung bakar."


"By! Kamu nggak ngidam anak kedua kita, kan?!" goda Wu Jin Ming berhasil membuat Rubby terhenyak.


"Uhuk...! Uhukk!" Rubby tersendat makanannya.


"Maaf... maaf!" Wu Jin Ming segera berlari untuk mengambilkan air minum untuk Rubby.


Dengan telaten Wu Jin Ming membantu Rubby untuk minum dan memijat-mijat tengkuknya. Setelah batuknya mereda, dia kembali duduk dan melanjutkan makannya.


"Apa benar apa yang kamu katakan tadi?" tanya Rubby serius.


"Aku hanya bercanda, Sayang! Aku nggak tahu kalau tanggapanmu akan seserius itu." Wu Jin Ming mengulum senyumnya.


"Ahh! Bercandanya nggak lucu! Masak iya aku sudah hamil lagi sementara anak kita masih belum lahir ke dunia."


"Siapa suruh percaya. Aku kan hanya menggodamu," ucap Wu Jin Ming santai sambil terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Hemm... selesai!" Rubby menyelesaikan makannya lebih dulu karena terlalu bersemangat untuk segera pergi ke taman.


Melihat antusiasme di mata Rubby, Wu Jin Ming pun segera menyelesaikan makannya. Setidaknya dengan begini Rubby bisa sejenak melupakan kesedihannya ketika jauh dari calon buah hatinya. Wu Jin Ming berharap jika Rubby tidak terus bersedih karena hal yang tidak perlu mereka khawatirkan.


Mereka berdua pergi ke taman dengan berjalan kaki karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dari rumah. Dari kejauhan sudah terlihat taman yang sangat ramai oleh pengunjung yang bergerombol di sepanjang jalan.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2