TIGER WU

TIGER WU
Bab 257. Proses di Mulai


__ADS_3

Rubby menggerakkan ujung jarinya untuk menggerakkan sebuah guci besar yang ada di belakang Wu Jin Ming.


Saat Wu Jin Ming menoleh ke belakang, Rubby bersembunyi di balik dinding pembatas ruangan.


Wu Jin Ming terlihat kebingungan saat kembali menoleh ke depan tetapi Rubby tidak ada di tempatnya.


"By!" panggilnya segera beranjak dari tempat duduknya dan mencari-cari di mana Rubby berada.


Pandangannya mengedar ke sekeliling namun bayangan Rubby pun tidak dilihatnya.


Rubby tertawa geli di balik dinding, berusaha tertawa tanpa menimbulkan suara. Saat Wu Jin Ming mulai berjalan ke arahnya dia mulai bersiap untuk mengejutkannya.


"Duarrr!" teriak Rubby sambil melompat ke depannya.


Wu Jin Ming spontan mundur karena terkejut.


"Astaga, Rubby! Huhhft!" Wu Jin Ming memegangi dadanya yang berdebar-debar.


Rubby tertawa lalu melompat memeluknya.


"Apa kamu takut kehilanganku?" Rubby menanyakan sesuatu yang dia sudah tahu pasti jawabannya.


"Tentu saja." Wu Jin MIng mengangkat tubuh Rubby tinggi-tinggi lalu memutarnya di udara.


Mereka tertawa bersama dan sejenak melupakan kegelisahannya sebelum melakukan penyatuan jiwa yang akan mereka lakukan esok hari.


"Kamu jadi orang iseng banget, sih?" Wu JIn Ming yang merasa gemas, sedikit menggigit telinga Rubby.


"Habisnya kamu melamun, sih. Mana menatapku tanpa berkedip lagi. Kan aku jadi pengen iseng." Rubby meringis sambil mengedipkan matanya.


"Berarti kamu sudah lama menyelesaikan kultivasimu?" Wu Jin Ming merasa malu karena ketahuan memandangi Rubby di saat dia tidak menyadarinya.


"Lumayan lama, selama aku memikirkan ide jahil untuk mengerjai kamu." Rubby mengecup pipi Wu Jin Ming sekilas.


"Hmm." Wu Jin Ming menggeleng.


"Malam sudah semakin larut. Baiknya kita segera beristirahat. Kita harus mempersiapkan fisik kita untuk menghadapi proses penyatuan jiwa besok."


Wu Jin MIng membawa Rubby ke tempat peristirahatan mereka untuk melepas lelah.

__ADS_1


Dua orang dayang sudah menunggu mereka untuk membukakan pintu kamar yang akan mereka tempati. Kamar itu terlihat sangat bersih dan rapi. Rubby juga sangat menyukai aroma wangi segar dari bunga-bunga di dalam vas yang tersebar di setiap sudut kamar.


Malam itu mereka tidur dengan nyenyak di istana langit milik leluhur Wu Jin Ming.


....


Seperti biasa, sebelum melakukan aktifitas dan menjalankan tugasnya masing-masing, Para Dewa Dewi harus melakukan upacara di depan neraca energi terlebih dahulu.


Tidak di sangka, tingkatan Rubby banyak sekali mengalami kenaikkan. Semua Dewa Dewi yang hadir di sana, berdecak kagum melihatnya. Mereka berpikir jika Rubby adalah satu-satunya Dewi terkuat di istana langit.


Jika penyatuan jiwa mereka berhasil, sudah bisa dipastikan jika mereka akan menjadi pasngan yang hebat.


Rubby berkeliling di taman sambil bermain bersama anak-anak yang terus mengikutinya, sembari menunggu Wu Jin Mng dan Dewa Langit mempersiapkan tempat untuk proses penyatuan jiwa.


Keberadaan anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan itu membuat Rubby sejenak melupakan rasa gugupnya di detik-detik menjelang penyatuan jiwanya.


Sesekali dia menoleh ke arah istana untuk memeriksa kedatangan Wu Jin Ming.


Di dalam istana langit.


Dewa Langit menyiapkan sebuah ruangan khusus untuk proses penyatuan jiwa Rubby. Ruangan itu tadinya adalah merupakan tempatnya bermeditasi setiap harinya. Dewa Langit tidak merubah dekorasinya, hanya menambahkan beberapa mantra pelindung guna meminimalisasi gangguan dari luar ruangan.


Setelah di rasa siap, Dewa Langit meminta Wu Jin Ming untuk memanggil Rubby.


Rubby segera berpamitan pada anak-anak saat melihat Wu Jin Ming berjalan di kejauhan.


Dia menyongsong Wu Jin Ming terlebih dahulu sebelum dia sampai di taman.


Wu Jin Ming menghentikan langkahnya dan menunggu Rubby yang hampir sampai padanya.


"Kak Wu! Aku grogi," ucap Rubby sambil memegang lengan Wu Jin Ming dan berjalan menuju ke dalam istana.


"Tenanglah. Kita pasti akan bisa melewatinya dengan baik." Wu Jin Ming berusaha menenangkan hati Rubby.


Rubby mengangguk.


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan yang telah di siapkan oleh Dewa Langit.


Ruangan berukuran sedang itu terlihat sedikit geap. Dindingnya terbuat dari batu pualam berwarna hitam dengan lantai senada. Tidak banyak perabot di sana, membuat ruangan ini seperti sebuaah ruangan kosong.

__ADS_1


Selesai melihat-lihat, Rubby segera mengikuti Wu Jin Ming yang sudah duduk dengan sikap sempurna di atas sebuah matras yang berupa awan tipis yang melayang-layang di ketinggian rendah.


Dewa Langit pergi meninggalkan ruangan itu dan membuat mantra perlindungan, demi menjaga keamanan mereka. Dia tidak lantas pergi dari sana. Bersama beberapa Dewa inti, Dewa Langit menunggu proses penyatuan jiwa Rubby dari luar ruangan.


Di dalam ruangan.


Wu Jin Ming dan Rubby duduk saling berhadpan.


"Bersiaplah, Rubby!" seru Wu Jin Ming.


Rubby mengangguk tanpa ragu. Saat ini dia sudah lebih tenang, tidak seperti saat memikirkannya sebelum benar-benar melakukannya.


Wu Jin Ming melemparkan kertas mantra penyatuan jiwa satu persatu. Bibirnya bergerak-gerak saat mengucapkan mantra untuk membangkitkan segel pembuka jiwa. Wajahnya terlihat sangat tenang dengan sikap duduk tanpa pergerakan.


Rubby mengamati kertas mantra yang perlahan-lahan bersinar dengan cahaya yang semakin terrang.


Cahaya itu membentuk sebuah sebuah segel cahaya dengan banyak sekali simbol yang tertera di dalamnya.


Rubby sama sekali tidak mengerti arti simbol-simbol itu, namun dia tahu jika setiap simbol pasti memiliki arti yang berbeda-beda untuk melambangkan sesuatu.


Ketika segel cahaya itu sudah terbentuk dengan sempurna, Wu Jin Ming segera mengambil sikap untuk melakukan tahapan selanjutnya.


Tangan kanannya dia ulurkan ke depan dan menggerakkan telapak tangannya memutar. Sebuah simbol cahaya keluar dari dalam deretannya pada segel mantra yang berbentuk lingkaran itu. Simbol itu bergerak mendekat dan melayang di atas kepala Rubby.


Rubby melihatnya sejenak lalu kembali berusaha untuk tetap tenang.


"Bersiaplah, sayang. Ini adalah proses pembedahan pertama. Mungkin akan sedikit menyakitkan. Tahanlah dengan energi yang kamu miliki," ucap Wu Jin Ming sebelum dia benar-benar melepaskan jurusnya.


Rubby mengangguk.


Dia mengalirkan energi ke beberapa titik yang berhubungan dengan rasa sakit. Dengan begitu seberapapun luka yang dialaminya, tidak akan terlalu menyiksanya. Teknik ini dinamakan teknik penyumbat rasa yang dipelajarinya dari ilmu peninggalan sang ayah yang tersimpan dimemori otaknya.


Wu Jin Ming tersenyum senang melihat Rubby menguasai teknik ini. Dia bisa lebih fokus untuk menggerakkan simbol itu segera. Masih ada banyak sekali tahapan yang harus mereka lewati setelah ini.


Simbol cahaya itu perlahan turun setelah Wu Jin Ming menggerakkannya dengan kekuatannya. Rubby sedikit tersentak ketika simbol itu menyentuh kepalanya, namun dia bisa segera mengatasi keadaan dan membiarkan simbol itu terus bergerak turun.


****


Bersambung ...

__ADS_1


Kak numpang promo novel karya temanku ya... terimakasih ...



__ADS_2