TIGER WU

TIGER WU
BOS SELLALU BENAR


__ADS_3

Bryan Lee dan Alfon adalah saudara sepupu. Mereka terus berdebat sepanjang waktu hanya untuk meributkan sesuatu yang tidak penting. Terpaksa Alfon harus bekerja di tempat Bryan Lee karena usaha orang tuanya sedang di ujung tanduk.


Di perusahaan Bryan Lee, Alfon menjabat sebagai direktur pemasaran. Diam-diam dia mencari tahu tentang siapa Rubby pada sekretaris barunya. Mendengar jika Rubby sudah memiliki kekasih, hatinya merasa sedikit kecewa. Ternyata bukan hanya kakak sepupunya saja yang menjadi saingannya tapi ada yang lebih berat.


Berbeda dengan Bryan Lee yang sedikit kalem dan tidak bisa merayu wanita, Alfon memiliki sifat kebalikannya. Di tempat tinggal sebelumnya dia adalah seorang plaboy. Tidak heran jika dia langsung tertarik melihat pesona kecantikan Rubby.


Di ruang kerjanya, Bryan Lee terus melihat ke layar laptopnya. Sebagai pemilik agensi dia bisa melihat seluruh aktifitas yang ada di gedung itu dari rekaman CCTV dan beberapa kamera pengintai yang dia pasang secara rahasia. Setelah mengenal Rubby dia sangat jarang pergi ke perusahaannya yang lain.


Waktunya, pikirannya, konsentrasinya terasa kosong dan hampa setiap harinya. Bryan Lee merasa jika dia bukan pria beruntung meskipun dia punya segalanya. Hal itu karena perasaannya pada Rubby yang bertepuk sebelah tangan.


Melihat keintiman Rubby dan Wu Jin Ming, Bryan merasa sangat tidak mungkin untuk mencari celah dalam hubungan mereka.


"Selamat siang Tuan!" suara ketukan pintu dan panggilan dari luar ruangannya membuyarkan lamunannya.


"Masuk!" jawab Bryan singkat.


"Saya hanya ingin memberikan laporan ini dan meminta tanda tangan Anda!" ucap asisten Jim.


"Asisten Jim! Sepertinya ini berkas seharusnya ada pada Rubby?" Tangan Bryan Lee menekan ujung bolpennya pada pelipisnya.


"I... iya, Tuan! Nona Rubby ada di luar." Wajah asisten Jim terlihat pucat.


Jawaban asisten Jim membuat Bryan Lee menatap tajam ke arahnya. Merasa gusar dengan apa yang dilakukan Rubby, Bryan Lee segera berdiri dari duduknya dan berjalan ke depan jendela.


"Suruh dia yang ke mari! Aku tidak ingin menandatanganinya jika bukan dia sendiri yang mengantar berkas ini. Cepat bawa kembali berkas itu dan berikan padanya!" hardik Bryan Lee.


'Mati aku! Presdir Lee terlihat sangat marah. Semoga dia tidak memecatku. Aku masih butuh biaya yang banyak untuk mengadakan pesta pernikahanku.' ungkap asisten Jim dalam hati.


Dengan santainya Rubby bersandar di tembok dan memainkan ponselnya ketika asisten Jim datang.


"Trims!" ucap Rubby saat menerima map yang menghapus presdir Lee tanda tangan di sana.


"Ehh, itu belum di tandatangani! Presdir Lee ingin kamu sendri yang pergi ke sana untuk meminta tanda tangan. Ada beberapa poin penting yang harus kamu jelaskan padanya." asisten Jim beralasan. Dia sedikit membela atasannya yang sedang bucin pada Rubby.

__ADS_1


"Oke! Baiklah aku ke sana sendiri!"


Rubby berjalan meninggalkan asisten Jim dengan perasaan kesal. Dia tahu pasti Bryan Lee sengaja melakukan ini untuk menindasnya. 'Atasan memang maha benar!' ungkap Rubby dalam hati.


Tokk... tokk... tokk...


Pintu ruangan Bryan Lee di ketuk oleh Rubby.


"Masuk!" seru Bryan Lee dari dalam.


Ketika Rubby masuk ke dalam ruangan itu, dia tidak mendapati Bryan ada di meja kerjanya. Setelah mengedarkan pandangannya, dia menemukan Bryan sedang berdiri mematung di depan jendela sambil melihat pemandangan di luar gedung.


"Tuan Presdir, aku datang untuk meminta tanda tangan Anda." Bahasa Rubby di buat sebaku mungkin.


"Hmm. Duduklah!" perintah Bryan Lee.


Rubby menarik kursi di depan meja kerja Bryan Lee lalu duduk. Beberapa saat dia telah duduk namun Bryan Lee masih tak bergeming. Dia masih tetap di posisi yang sama seperti ketika Rubby datang.


"Letakkan saja di situ! Kamu boleh pergi!" Sengaja memancing emosi Rubby. Dia benci ketika Rubby berbicara sok resmi padanya.


"Heh! Dari tadi aku diam karena menghargai kamu sebagai atasanku, ya! Bisa nggak kalau kamu sedikit profesional dalam bekerja?!" Emosi Rubby meledak-ledak.


'Berhasil!' batin Bryan Lee tersenyum senang.


"Santailah sedikit! Mau kopi?" Bryan Lee berjalan menghampiri Rubby sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celananya.


"Bryan! Aku serius ini! Jangan dibercandain begitu, ihhh!" ucap Rubby sewot.


"Salah siapa kamu bicara sok resmi seperti mau pidato! Aku sudah menganggapmu sebagai teman saat pertama kali kita bertemu, jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi!" Bryan juga mengungkapkan kekesalannya.


"Dasar presdir gila! Harusnya kamu senang aku memberimu penghormatan. Aku begini karena ingin menjaga wibawamu di depan karyawan kamu."


"Aku bukan orang yang gila penghormatan. Aku menempatkan semua orang yang aku kenal pada porsinya masing-masing. Dan aku menempatkan kamu sebagai teman jadi bersikaplah seperti seorang teman. Kamu mengerti sekarang?"

__ADS_1


"Enggak!" jawaban konyol Rubby membuat Bryan Lee merasa gemas.


"Rubby! Oh, Tuhan! Wajah imutmu itu membuatku ingin mengacak-acak rambutmu saja!"


"Bryan Lee! Jangan ngajak ribut di jam kerja, ya! Sudah, cepat tanda tangani!" perintah Rubby.


"Di sini siapa yang atasan, siapa yang bawahan, sih?" melihat sikap Rubby sudah mencair, Bryan Lee tersenyum senang saat berjalan menuju mejanya.


"Tau, ahh! Buruan! Aku sudah di tunggu editor! Banyak drama, ihh!" seru Rubby kesal.


"By! Tahu nggak kenapa aku sering membuatmu marah?" tanya Bryan Lee di sela-sela menandatangani berkasnya.


"Biar aku darah tinggi, terkena struk dan cepat mati! Iya, kan?!" jawab Rubby asal.


"Hahaha! Sepertinya aku akan memasukan kamu ke dunia seni peran saja lah. Kamu totalitas banget kalau lagi marah. Tapi bukan itu tujuanku membuatmu marah. Itu karena kamu terlihat semakin cantik kalau sedang marah."


"Aku nggak gila pujian! Ini sudah, kan?" Rubby menunduk dan mengambil map di meja Bryan Lee.


Saat Rubby menunduk kerah baju yang menutupi leher bagian bawah Rubby sedikit tersingkap dan menampakkan sebuah bekas kecupan. Tanpa sengaja Bryan Lee melihatnya. Hatinya terasa sesak seperti terhimpit bebatuan yang besar di kedua sisinya.


Drttty... drrrtt... drrrtt....


Ponsel Rubby bergetar karena ada sebuah panggilan masuk. Di layar ponselnya tertulis nama Arlan. Rubby keluar dari ruangan Bryan Lee tanpa permisi karena ingin segera mengangkat telepon dari Arlan. Dia hanya melambai dan tersenyum pada Bryan Lee ketika sampai di depan pintu. Bryan Lee membalas senyuman itu dan terus memandangi pintu yang telah menelan tubuh Rubby.


"Hallo, Ar!"


"Hallo, By! Ada kabar yang tidak menyenangkan untukmu! Di mana Tiger?" Suara Arlan terdengar panik.


Di belakang Arlan terdengar suara gaduh dan orang yang berteriak. Perasaan Rubby menjadi tidak enak mengingat Arlan tidak pernah berbicara seserius itu sebelumnya. Biasanya dia hanya membicarakan hal yang konyol dan tidak masuk akal bersama Rubby.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2