TIGER WU

TIGER WU
Bab 255. Bersiap


__ADS_3

"Kita pulang saja. Mungkin ada yang perlu kita persiapkan sebelum pergi ke istana langit," ucap Rubby setelah menimbang-nimbang sejenak.


"Baiklah. Kita pulang sekarang." Wu Jin Ming mulai menyalakan mobilnya dan meninggalkan halaman agensi.


Mobil yang mereka kendarai melaju dengan santai walaupun jalanan terlihat lengang.


"Sepertinya tadi Angela tidak masuk di team kita." Rubby membuka percakapan.


"Aku juga tidak melihatnya. Mungkin kejadian semalam membuatnya terpukul."


Kekuatan Angela telah hilang, mungkin dia tidak percaya diri lagi atau mungkin dia takut bertemu dengan musuh-musuhnya.


Sekte pembunuh pasti memiliki banyak musuh, tidak heran jika untuk sementara mereka tidak berani untuk keluar.


"Bisa jadi. Pasti seluruh sekte itu menjadi orang-orang yang payah sekarang." Rubby tersenyum senang membayangkan Angela yang terlalu banyak gaya itu kehilangan taringnya.


"Itu sudah pasti. Kesombongan dan ketamakan mereka sudah berada di luar batas. Aku sangat ingin melenyapkan mereka dan menghanguskan tempat itu, tetapi aku masih menahan diri untuk tidak membunuh."


"Kenapa kamu tidak membakarnya mereka semua. Itu sudah sebanding dengan kejahatan yang mereka lakukan selama ini, mereka pantas mendapatkannya."


Rubby berbicara penuh kebencian. Sekte pembunuh biasanya sangat sadis dan kejam dalam membantai orang-orang yang tidak bersalah demi uang. Andaikan mereka siluman pasti Rubby sudah menjadikan mereka penghuni sangkar perenungan.


"Kehilangan kekuatan dan kemampuan yang mereka miliki itu akan lebih menyiksa dari kematian, Sayang. Mungkin sebentar lagi mereka akan mengalami penindasan seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya. Anggap saja itu adalah sebuah karma."


Rubby mengangguk-angguk mendengar penjelasan Wu Jin Ming.


"Kamu benar juga. Mereka pasti akan mengalami banyak kesulitan setelah tadi malam." Rubby tersenyum senang.


Tanpa terasa, mobil mereka sudah memasuki halaman rumah yang mereka tinggali.


"Apa rencanamu dengan rumah ini, sayang?" tanya Rubby sambil berjalan memasuki rumah.


"Em, sepertinya kita tidak perlu menjualnya. Biarkan begini saja. Kita pasti kembali ke dunia manusia," jelas Wu Jin Ming.


"Lalu para pelayan-pelayan itu, bagaimana?"

__ADS_1


Wu Jin Ming terlihat berpikir sejenak.


"Biarkan mereka tetap tinggal di sini. Apa jadinya rumah ini kalau tidak ada yang menempati dan merawatnya."


"Kamu benar. Sekarang aku merasa lebih tenang, tinggal ...." Rubby menggantung kalimatnya membuat Wu Jin Ming menghentikan langkahnya.


"Tinggal apa, Sayang?" tanya Wu Jin Ming penasaran.


"Tinggal memikirkan penyatuan jiwa yang akan kita lakukan." Rubby terlihat takut jika memikirkan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi saat melakukan penyatuan jiwa.


Wu Jin Ming mengerti apa yang dirasakan Rubby saat ini meskipun tidak mengatakannya.


"Kita harus yakin, Sayang. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Ingatlah, kita punya seorang anak yang kita nantikan kehadirannya. Kamu harus semangat untuknya." Wu Jin Ming mencoba menghibur Rubby dari kekalutan hatinya.


"Aku ingin berkultivasi untuk mengumpulkan energi sebanyak-banyaknya. Kita tidak tahu keadaan seperti apa yang akan kita hadapi nanti." Rubby mencoba tersenyum.


"Kamu benar."


Tanpa meminta persetujuan Rubby, Wu Jin Ming mengangkat tubuh Rubby dan menggendongnya ke kamar.


"Tentu saja. Aku sudah bermurah hati membiarkanmu tidur nyenyak semalam. Jadi ...."


"Iya ... sudah jangan banyak bicara lagi. Atau kugigit kamu nanti!" seru Rubby.


"Di sini yang harimau siapa?" tanya Wu Jin Ming sambil tersenyum geli.


***


Setelah membayar hutangnya semalam, Rubby dan Wu Jin Ming melakukan kultivasi untuk menyerap energi alam sebanyak-banyaknya sebagai bekal untuk melakukan penyatuan jiwa di istana langit.


Meditasi yang mereka lakukan berlangsung hingga sore menjelang malam. Mereka menyelesaikannya hampir bersamaan.


"Aku lapar. Aku ingin membawa beberapa stok makanan untuk aku bawa ke istana langit," ujar Wu Jin MIng sambil membereskan matrasnya.


"Memangnya tidak akan basi apa?" tanya Rubby sambil menatap heran.

__ADS_1


"Makanan kering dan mi instan saja. Untuk laiinya kita bawa seperlunya."


Rubby tahu jika mi instan adalah makanan kesukaan Wu Jin Ming sejak pertama kali dia memakannya. Tidak heran jika di rumah mereka selalu ada stok mi instan dengan berbagai rasa. Jika dituruti, mungkin Wu Jin Ming hanya ingin memakan mi instan saja.


"Kak Wu, apa aku boleh memakai bajuku sehari-hari? Aku tidak nyaman tidur dengan pakaian tertutup." Rubby mulai membuka-buka lemari pakaiannya.


"Boleh saja. Tapi pakailah saat kita sedang berada di istana kita. Rasanya kita akan terlihat aneh jika memakai baju modern di antara para Dewa Dewi."


Wu Jin Ming juga ingin membawa beberapa baju untukknya juga.


"Tentu saja. Aku juga akan membawa beberapa untukmu." Rubby mulai berkemas.


"Tidak usah banyak-banyak, sayang. Kita bisa kembali ke sini kapanpun kita mau. Kamu seperti mau pindah ke sana selmanya saja." Wu Jin Ming terus mengamati Rubby yang memasukkan baju-bajunya ke dalam cincin penyimpanannya.


"Iya, ini juga cuma sedikit, kok."


Sedikit versi Rubby itu tidak bisa diperkirakan jumlahnya. Wu Jin Ming tidak berani berkomentar. Toh cincin penyimpanan mereka memiliki kapasitas yang tidak terbatas.


Saat hari sudah benar-benar gelap, Wu Jin Ming dan Rubby berangkat ke istana langit. Ini kali kedua Rubby berangkat ke sana dalam keadaan sadar. Dia begitu menikmati perjalanannya dan sejenak melupakan rasa gugupnya untuk menghadapi proses penyatuan jiwanya.


Perjalanan singkat mereka terasa berkesan bagi Rubby, dia tidak sabar untuk melihat anaknya terlahir beberapa waktu lagi.


Tidak ada yang tahu kapan telur emas itu akan menetas karena kondisinya sudah tidak sama dengan ketika dia berada di dalam kandungan Rubby. Wu Jin Ming juga tidak memiliki pengalaman tentang ini. Dalam sejarah para dewa, kejadian seperti ini sangat jarang terjadi.


Telur emas berbalut dengan kekuatan di dalam cangkangnya. Kemungkinan dia juga memiliki energi yang tersimpan dalam teratai putih raksaasa. Bisa diperkirakan akan banyak sekali elemen yang menyokong tubuh janin Rubby.


Wu Jin Ming membawa Rubby berjalan dengan keyakinan penuh. Tangan Rubby tidak pernah lepas dari dalam genggamannya ke manapun mereka melangkah. Rubby mencoba bersikap tenang, dia percaya jika ini adalah yang terbaik.


Mereka berdua berjalan memasuki aula istana langit. Di sana mereka sudah di sambut oleh para dewa yang sedang berkumpul menjelang makan malam. Para dewa begitu gembira menyambut kedatangan mereka berdua dan tentu saja mereka juga tahu tentang maksud kedatangan mereka berdua.


Wu Jin Ming dan Rubby mengikuti para dewa ke ruang perjamuan. Mereka baru akan membahas tentang penyatuan jiwa setelah itu.


Rubby sudah tidak menikmati makan malamnya. Pikirannya sudah tidak bisa beralih dari penyatuan jiwanya. Dia terlihat sering melamun saat makan.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2