
Angela dan Wu jin Ming melesat di keheningan malam menuju ke sebuah tempat yang jauh di pinggiran kota. Tempat yang merupakan perbatasan wilayah teritorial negara itu. Hanya berjarak beberapa meter saja dari negara tetangga di mana merupakan tempat Angela berkarir sebelumnya.
Wu Jin Ming merasakan aura energi yang kuat dari tempat itu. Sepertinya tempat yang aakan dia kunjungi itu memiliki energi pelindung. Tubuhnya merasakan seperti menabrak sesuatu ketika mengikuti Angela masuk melalui sebuah gerbang.
Biasanya seorang praktisi bela diri akan memasang pelindung di area tempat tinggalnya untuk berjaga-jaga adanya serangan musuh. Ada dua jenis mantra pelindung, pertama untuk menghalangi orang lain masuk tanpa seijin mereka dan yang kedua hanya sebagai penanda yang akan mendeteksi masuknya seseorang ke wilayah mereka. Pelindung di tempat ini masuk ke dalam golongan kedua.
Angela membawa Wu Jin Ming berjalan melintasi koridor yang menghubungkan sebuah ruangan dengan ruangan yang lainnya. Saat sampai di sebuah ruang terbuka yang di jaga oleh seorang pria sangar, Angela berhenti. Kelihatannya tempat itu merupakan tempat untuk melaporkan kedatangan mereka.
"Selamat malam, Nona!" orang itu terlihat sangat menghormati Angela.
"Selamat malam. Katakan pada Ketua An, aku datang ingin bertemu!" seru Angela tidak ingin berbasa basi.
"Baik, Nona. Tunggu di sini sebentar!" pria sangar itu beranjak dari sana dan pergi ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari sana.
Wu Jin Ming melihat-lihat ke sekeliling. Bangunan di tempat itu terlihat sangat artistik yang memadukan desain klasik dan modern. Mungkin pemiliknya ingin menghadirkan nuansa yang berbeda untuk membuat tempat tinggalnya terasa nyaman.
Tidak lama kemudian pria sangar itu kembali ke hadapan Angela.
"Silakan masuk, Nona!" ucapnya kemudian sambil melirik Wu Jin Ming dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.
"Ayo!" ajak Angela pada Wu Jin Ming.
Mereka berjalan menuju ke ruangan yang tadi dikunjungi oleh si pria sangar. Ketika mereka sampai di depan pintu, dua orang penjaga sudah siap menyambut mereka dan membukakan pintu.
Angela masuk lalu berlutut memberi hormat. Wu Jin Ming tidak mengikutinya, membuat orang yang ada di sana menatapnya tajam dan menganggapnya tidak sopan. Mereka tidak tahu jika usianya sudah ribuan tahun meskipun wajahnya terlihat muda.
"Siapa dia?" tanya Ketua An.
Angela menatap Wu Jin Ming, memberinya kode untuk duduk di sebelahnya, namun Wu Jin Ming tidak bergeming.
"Dia pemilik api suci yang Ketua inginkan," jawab Angela dengan perasaan was-was. Dalam hati dia berharap Wu Jin Ming bisa diajak untuk bekerja sama. Tatapan meragukan dari Ketua An membuatnya berkeringat. Angela merasakan hawa tidak baik dari tatapan itu.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Ketua An pada Wu Jin Ming.
"Tiger Wu," jawab Wu Jin Ming singkat.
Ketua An diam berpikir. Nama Tiger Wu tidak pernah dia dengar dalam kancah bela diri. Dia berpikir jangan-jangan Angela membawa orang yang salah. Menurut perkiraannya, api suci pasti di miliki oleh para guru atau cendikia dalam ilmu tenaga dalam.
Keraguan Ketua An semakin menjadi ketika melihat fisik Wu Jin Ming yang tidak menampakkan bekas latihan keras.
"Apa benar kamu memiliki api suci itu dan bisa mengontrolnya dengan baik?" Berjalan menghampiri Wu Jin Ming.
'Dia terlihat sombong sekali. Atau mungkin tampangku ini terlihat seperti seorang pembohong?' Wu Jin Ming merasa diragukan.
"Tentu saja," jawab Wu Jin Ming penuh percaya diri.
"Bisakah aku melihatnya sekarang?" Ketua An kembali bertanya.
Wu Jin Ming mengangguk lalu membuka telapak tangannya dan mengeluarkan api sucinya. Sebenarnya dia merasa sangat kesal, kekuatan bukanlah sutau ajang pamer. Baginya ini terlalu membuang-buang waktunya.
Wu Jin Ming yang tidak suka di perintah, melakukannya dengan sangat marah. Api suci di tangannya berkobar sangat besar. Dengan sekali lemparan meja itu langsung hangus menjadi abu. Api itu masih menyala dan merembet ke perabot lainnya karena Wu Jin Ming belum menariknya kembali.
"Silakan, coba untuk memadamkannya jika Anda bisa." Wu Jin Ming mulai menunjukkan taringnya.
Ketua An mengeluarkan Jurus Kristal Pembeku dan melemparkannya ke dalam kobaran api berwarna putih itu. Belum sampai menyentuh api itu, kristal-kristal es yang dihasilkan oleh Ketua An sudah menguap tak bersisa. Merasa belum yakin dengan apa yang dilihatnya, Ketua An kembali mengulanginya dan menambahkan level kekuatannya.
Hasilnya tetap sama saja. Jurus itu tidak bekerja pada api itu. Setelah kejadian ini dia baru benar-benar percaya jika api putih itu adalah api suci yang dicarinya.
"Padamkan api itu sekarang!" Lagi-lagi Ketua An mengeluarkan kata-kata dengan nada memerintah.
Meskipun tidak suka, Wu Jin Ming segera menarik api sucinya kembali.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar bermain-main. Cepat katakan apa yang kamu inginkan sebelum kesabaranku benar-benar habis!" Wu Jin Ming mulai tidak bisa bersikap santai.
__ADS_1
Ketua An menatap Wu Jin Ming keheranan, dia merasa pemuda di depannya itu tidak punya etika saat bicara dengan orang yang lebih tua. Muncul siasat jahat dipikiran Ketua An, dia ingin merebut api suci itu dan memilikinya. Namun sebelum itu, Ketua An ingin Wu Jin Ming menyembuhkan anaknya terlebih dahulu.
"Ikut denganku!" seru Ketua An, berjalan meninggalkan ruangan itu menuju ke ruangan yang lebih dalam.
Wu Jin Ming berjalan di belakang Ketua An diikuti Angela di belakangnya. Mereka berjalan melalui sebuah lorong yang remang-remang cenderung gelap menuju ke sebuah vila yang terpisah. Ketua An membawa mereka memasuki ke sebuah kamar yang cukup besar.
Di dalam kamar itu terbaring seorang pemuda dengan perawakan kurus. Kira-kira umurnya kurang dari 25 tahun. Wajahnya terlihat pucat dengan kulit senada, membuatnya terkesan seperti seorang mayat hidup.
Di samping pemuda itu duduk seorang wanita cantik namun sudah sedikit berumur. Mungkin dia adalah ibu dari pemuda itu. Wanita itu berdiri menyambut Ketua An ketika melihatnya datang.
"Apa Willy sudah makan?" tanya Ketua An pada wanita itu.
"Sudah. Siapa pemuda itu?" tanya wanita itu sambil melirik ke arah Wu Jin Ming.
Ketua An tidak langsung menjawab melainkan malah duduk di samping putranya itu dan membantunya untuk duduk.
Setelah pemuda yang dipanggil Willy itu sudah duduk dengan benar, Ketua An melihat ke arah Wu Jin Ming.
"Kemarilah!" panggil Ketua An pada Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming datang mendekat.
"Ini putraku. Pewaris Sekte Tiga Harimau. Dia terkena racun Pembeku Jiwa ketika dia mempelajari jurus itu. Dantiannya membeku bersama inti energi yang terikat di sana. Setiap kali dia mencoba untuk menggunakan energi di dalam tubuhnya dia akan kesakitan. Terkadang Inti energi es itu juga aktif dengan sendirinya dan membuatnya kesakitan." Ketua An memberi penjelasan.
****
Bersambung ...
Numpang promo novel karya temanku ya kak ... terimakasih ...
__ADS_1