
Buggg!
Rubby menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia merasa hari ini benar-benar sangat melelahkan. Perjalanan panjang ke hutan bambu dan pertempuran mereka melawan siluman kura-kura terasa sangat melelahkan baginya.
"Kamu lelah Sayang?" tanya Wu Jin Ming.
"Banget!" Rubby menaikkan kedua kakinya di atas meja.
Wu Jin Ming menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rubby.
"Tuan Putri, tolong bersikaplah sopan sedikit. Ini meja sayangku!" seru Wu Jin Ming lembut.
"Apakah Yang Mulia Raja bersedia memijit kakiku yang pegal ini jika aku menurunkannya dari atas meja?"
"Tentu saja Tuan Putri. Dengan senang hati hamba akan menjalankan perintah." Wu Jin Ming menarik kaki Rubby ke atas pahanya dan memijitnya keras-keras.
"Auh... aooo... Ahh! Kamu mau mijit apa mau nyiksa aku sih Kak!" Rubby menarik kakinya turun dari pangkuan Wu Jin Ming. Tangannya bersedekap di dada dan memasang wajah juteknya.
"Hahaha... tadi kamu nggak bilang kalau terlalu keras. Sini aku pijit lagi pelan-pelan," Wu Jin Ming hendak meraih kaki Rubby namun Rubby malah menjauhkannya dan berdiri.
Kelihatannya Rubby benar-benar marah. Dia berjalan pergi meninggalkan Wu Jin Ming dengan kaki dihentak-hentakkan. Semua barang-barangnya dia tinggalkan begitu saja di sofa ruang tamu.
"Sayang... By.... Yah, beneran ngambek dia!" seru Wu Jin Ming sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berdiri dan beranjak untuk menyusul Rubby.
Rubby masuk ke dalam kamarnya dan melepas bajunya yang terkoyak. Baju itu robek akibat terkena tombak siluman kura-kura. Lukanya memang sudah tidak ada namun noda darahnya masih tertinggal di baju.
Saat Wu Jin Ming tiba di kamarnya, Rubby beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"By, ikut!" kaki Wu Jin Ming dia masukkan ke pintu yang hampir tertutup.
"Ihh, apaan sih! Awas kakinya aku jepit nih!" Rubby mendorong pintu lebih keras dari dalam kamar mandi.
"Arrrggghhh!" teriak Wu Jin Ming pura-pura kesakitan.
Melihat Wu Jin Ming meringis kesakitan Rubby pun tak tega. Dengan wajah yang masih terlihat kesal dia pun membuka kembali pintu itu. Tidak ingin membuang kesempatan, Wu Jin Ming segera masuk dan mengunci pintu dari dalam.
__ADS_1
"Awas! Jangan macam-macam!" Rubby masih memasang wajah galaknya.
"Tidak macam-macam Sayang. Aku janji!" Wu Jin Ming mengangkat dua jarinya.
Rubby segera mengisi bathup dengan air hangat untuk mandi dan memberinya wewangian. Setelah di rasa cukup dia segera masuk ke dalam dengan posisi duduk. Wu Jin Ming menyusul masuk.
"Kamu balik badan. Aku akan memijatmu," ucap Wu Jin Ming lembut.
"Jangan bilang mau memijatku keras-keras seperti tadi!" omel Rubby.
"Enggak! Ini beneran Sayang. Maaf, tadi aku kan cuma iseng bercandain kamu. Eh, kamunya malah marah."
"Hiks... aku capek beneran Sayang." Rubby memasang wajah melasnya.
"Iya... iya... buruan madep sana!" seru Wu Jin Ming.
Rubby membalikkan tubuhnya memunggungi Wu Jin Ming. Wu Jin Ming mengambil sabun dan mengeluarkan beberapa tetes ke telapak tangannya. Dia memberinya air sedikit lalu menggosokkannya ke punggung Rubby.
Untuk kali ini Rubby tidak protes. Ternyata pijitan di dalam air saat mandi juga menyenangkan. Rasa lelahnya berkurang dan tubuhnya menjadi rileks setelah menikmati pijatan lembut berpadu dengan aroma sabun yang menyegarkan.
"Hmm. Lumayan," jawab Rubby santai.
"Baguslah! Setelah ini aku akan meminta kompensasi untuk kakiku yang kamu jepit tadi," ucap Wu Jin Ming.
"Dasar suami nggak mau rugi!" Rubby berbalik menghadap Wu Jin Ming dan naik ke pangkuannya.
"Aku tidak memintanya sekarang. Jika kamu lelah jangan menggodaku Sayang." Wu Jin Ming mulai menahan sesuatu yang mengganjal di tubuhnya.
"Lelahku sudah hilang," bisik Rubby di telinga Wu Jin Ming.
Sepasang suami istri itu pun saling serang untuk meluapkan gejolak hati mereka yang tak terbendung lagi. Mereka saling melengkapi untuk mencapai keindahan surgawi. Sebuah pertengkaran kecil yang berujung manis.
Selesai mandi dengan sepaket aktifitas yang lain, Rubby dan Wu Jin Ming pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Lagi-lagi mereka melupakan ponselnya yang ada di ruang tamu. Rubby juga belum melihat pesan-pesan yang masuk ke ponselnya.
Sikap posesif Wu Jin Ming kadang berlebihan. Saat mereka bersama dia tidak mengijinkan Rubby bermain ponsel. Wu Jin Ming tidak suka diacuhkan meskipun Rubby hanya berbalas pesan dengan sahabat-sahabatnya.
__ADS_1
"Kamu nggak jadi pemotretan sore tadi?" tanya Rubby sambil tidur dengan berbantal lengan kekar Wu Jin Ming.
"Aku meminta ijin pada manager Lin. Aku malas berangkat karena hanya pergi ke satu lokasi saja. Besok pagi sekalian saja," jelas Wu Jin Ming.
"Hmm... yang penting kamu sudah memgabari manager Lin."
"Tentu saja. Kami nggak perlu khawatir. Kamu belum ngantuk?" tanya Wu Jin Ming.
"Sudah. Tubuhku sudah enakan. Pijatanmu memang luar biasa." Rubby mengeratkan pelukannya.
"Pijatanku atau pijatan?" goda Wu Jin Ming.
"Mesum!" Rubby melepaskan pelukannya dan berbalik memunggungi Wu Jin Ming untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Mesum sama istri itu nggak dosa lho." Wu Jin Ming memeluk Rubby dan menempelkan tubuhnya.
Rubby merasakan sesuatu yang mengganjal di belakangnya. Dia tahu saat ini Wu Jin Ming menginginkan itu lagi tapi tidak berani bilang padanya. Rubby malah menggodanya dengan menggerakkan tangan Wu Jin Ming pada area sensitifnya.
"By, hentikan! Jangan salahkan aku kalau nanti membuatmu kelelahan lagi!" seru Wu Jin Ming dengan hasrat yang tak terkontrol lagi.
Merasa ada lampu hijau, Wu Jin Ming kembali melakukan penyatuan bersama Rubby yang membuat mereka sama-sama lelah dan terlelap kemudian.
Di kediaman Lisa, Moza bertamu di sana. Moza menunggu Lisa menyiapkan minuman dan camilan untuk menemani nonton di ruang tamu. Moza berkeliling melihat-lihat seisi ruangan itu.
Pandangan mata Moza berhenti saat melihat sebuah pigura. Di sana terlihat foto Lisa bersama ketiga temannya. Kepala Moza berdenyut ketika melihat foto Rubby. Sepertinya pemilik tubuh yang asli bereaksi ketika melihat wajah itu.
Tidak ingin kehilangan kontrol akan tubuhnya, Moza meletakkan foto itu dan pergi menjauh dari sana. Moza kembali duduk di sofa untuk menunggu Lisa. Dia sudah tidak sabar untuk segera menjalankan rencananya.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Lisa datang menghampiri Moza membawa sebuah nampan berisi minuman dan camilan.
"Tidak masalah. Kita bisa memulainya sekarang?" tanya Moza menatap Lisa dengan tatapan penuh minat.
Lisa yang tergoda oleh pesona ketampanan Moza tidak menyadari jika Moza yang berada di depannya ini berbeda dengan Moza yang di kenalnya dulu. Sekotak DVD di bawa Lisa ke hadapan Moza. Mereka memilih film mana yang akan mereka tonton malam itu.
****
__ADS_1
Bersambung...