
"Hai! Kamu Rubby kan?" sapa seorang mahasiswi yang berjalan dengan 2 temannya.
"Hai juga! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rubby sambil mengingat-ingat mahasiswi di depannya.
"Aku Chika, ini Lila dan dia Messy orang yang pernah kamu selamatkan," ucap Chika memperkenalkan diri.
"Salam kenal semuanya! Maaf aku melupakan kalian." Rubby tersenyum ramah.
"Rubby, terimakasih ya! Berkat kamu aku bisa lolos dari kematian," ucap Messy.
"Sama-sama. Itu hanya kebetulan saja. Aku sebenarnya nggak yakin dengan kemampuanku." Rubby merendah.
"Kamu sendirian aja?" tanya Messy.
"Ah, iya. Aku masuk siang. Teman-temanku belum ada yang berangkat," jelas Rubby.
"Bagaimana kalau kita ke kantin dulu? Aku ingin mengobrol sama kamu jika kamu tak keberatan," ajak Messy.
"Em, baiklah. Ayo!" Rubby menyetujui ajakan Messy dan teman-temannya.
Kehadiran Rubby dan Messy menjadi pusat perhatian di kantin. Rubby tidak tahu jika Messy adalah anak pejabat di negeri ini. Namun bukan Messy yang menjadi bintang di sana. Semua mata terpana melihat kecantikan Rubby. Selama ini Rubby memang jarang pergi ke kantin dan bersosialisasi dengan mahasiswa lain.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Messy.
"Jus Mangga aja. Tadi aku sudah sarapan di rumah," jawab Rubby.
Messy meminta Lila dan Chika untuk memesan minum dan camilan untuk mereka berempat. Kini di meja itu hanya tinggal Rubby dan Messy. Messy melihat Rubby dengan seksama, dia seperti mengingat-ingat apakah mereka sebelumnya pernah bertemu.
"By, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Messy serius.
"Sepertinya belum pernah. Atau mungkin aku tidak mengingatnya." Rubby juga mengingat-ingat tapi tidak mendapatkan jawaban.
"Hahaha... lupakan saja! Mungkin hanya perasaan kita saja." Messy tertawa mengingat kekonyolannya.
"Aku nggak punya banyak teman Messy. Sebelum kuliah aku juga hanya bersekolah di sekolahan yang tidak populer," jelas Rubby.
__ADS_1
"Hmm... tapi aku merasa tidak asing dengan wajahmu." Messy masih penasaran dengan Rubby.
"Mungkin karena kita satu kampus. Tanpa sengaja pasti kita juga pernah bertemu," elak Rubby.
Diam-diam Rubby melafalkan mantra dan berniat untuk membaca ingatan Messy tentangnya. Rubby menunggu Messy menatap matanya hingga dia punya kesempatan untuk mengakses pikirannya. Beberapa detik kemudian Messy menatap mata Rubby.
Setelah Messy terkena kumparan mantra dari mata Rubby dia tidak banyak bicara. Dia terlihat tenang dengan ekspresi datar. Perlahan terbuka ingatan demi ingatan yang ada di pikiran Messy.
Rubby terkejut melihat apa yang ada di ingatan Messy. Rupanya dia adalah korban keserakahan orang tuanya. Ayahnya sudah melakukan perjanjian dengan Raja Kegelapan untuk mempersembahkan jiwanya pada waktu yang ditentukan.
Saat perjanjian dengan pengikut Raja Kegelapan itu terjadi, usia Messy masih 15 tahun. Di sana ada seorang gadis yang sangat mirip dengan Rubby yang juga merupakan tumbal persembahan. Ayah Messy membawa 5 orang gadis yang dia tangkap dari berbagai daerah dengan ciri-ciri yang diinginkan oleh Raja Kegelapan.
Messy terlihat ketakutan ketika melihat gadis yang mirip dengan Rubby di bawa oleh orang yang berpakaian serba hitam masuk ke dalam goa. Terdengar jerit memilukan dari sana. Entah apa yang dilakukan pada gadis itu.
Tak lama kemudian gadis itu kembali keluar namun penampilannya sudah berubah. Tatapannya kosong dengan pakaian serba hitam seperti orang-orang yang membawanya tadi. Saat orang-orang berbaju hitam itu membawa gadis kedua, Messy tiba-tiba pingsan. Dia tidak mengingat kejadian setelahnya.
Rubby menghela napas dalam-dalam. 'Apakah siluman ular itu adalah anak buah Raja Kegelapan yang bertugas untuk menjemput tumbalnya?' gumam Rubby dalam hati. Dia tidak menyangka ada seorang ayah yang begitu tega mengorbankan anaknya untuk memenuhi ambisinya.
Melihat Chika dan Lila datang mendekat, Rubby segera melepaskan Messy dari pengaruh mantranya. Messy kembali bersikap seperti biasa. Dia tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Nggak juga!" ucap Rubby.
"Eh, ayo kita minum!" ajak Lila.
"Messy, kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Chika melihat Messy yang memijit-mijit pangkal hidungnya.
"Enggak papa kok. Tadi aku merasa agak pusing aja. Mana minumanku?" Messy mencoba bersikap biasa kembali.
Chika dan Lila melirik ke arah Rubby minta penjelasan. Itu karena Messy tadi hanya bersamanya.
"Eh, itu... Em, tadi Messy mencoba mengingat-ingat apakah aku dan dia pernah bertemu sebelumnya. Mungkin itu yang membuat kepalanya terasa pusing." Rubby mencoba menjelaskan apa yang terjadi padahal Messy pusing karena ulahnya. Rasa pusing Messy timbul karena efek dari mantra pembaca pikiran yang di tanamnya tadi. Efek pusing itu tidak akan bertahan lama.
"Kamu ada-ada saja Mes. Ya jelas lah kita pernah bertemu Rubby, orang kita satu kampus!" seru Chika.
"Aku merasa ada pertemuan yang berbeda. Tapi sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku saja." Messy memutuskan untuk melupakan masalah pertemuan itu.
__ADS_1
"By, tiga hari lagi aku ulang tahun. Aku harap kamu bersedia untuk hadir di pesta kecil yang aku adakan," ucap Messy.
"Emmm, aku tanya kekasihku dulu, ya? Aku sering nggak diijinkan pergi tanpa dia," jelas Rubby.
"Kamu masih pacaran sama Moza?" tanya Lila yang sedikit ketinggalan informasi.
"Bukan. Pacarku saat ini Tiger Wu. Seorang model pendatang baru," ucap Rubby.
"Waaoow keren! Ajak aja dia sekalian untuk datang. Banyak kok yang datang ke acara bawa pasangan," ujar Messy.
"Jadi Tiger Wu itu pacar kamu? Aku ngefans banget lho sama dia," ucap Chika.
"Semoga saja dia nggak ada jadwal di hari itu," jawab Rubby sambil tersenyum.
"Tiger Wu yang mana sih?" tanya Lila ingin tahu. Dia segera mengambil ponselnya dan mengetik pencarian untuk menuntaskan rasa penasarannya. "Wah, ganteng banget! Dia terlihat lebih ganteng dari Moza. Pantas kalau Rubby memilih dia."
"Bukan masalah ganteng. Aku lelah menerima ancaman dari keluarga Moza. Aku mendingan putus daripada nggak ada kejelasan," ucap Rubby.
"Kamu benar, By! Kekayaan dan kekuasaan terkadang membutakan hati manusia," ucap Messy.
"Iya, kalau aku di posisi kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama, By," imbuh Chika.
"Iya, mana kamu juga dapet yang lebih ganteng lagi. Walaupun mungkin nggak sekaya Moza sih!" seru Lila.
"Dasar matre!" Chika memukul tangan Lila dengan sendok.
"Aaauuuhh! Tapi bener kan By? Rubby aja nggak protes kenapa kamu yang sewot coba!" gerutu Lila.
"Sudah nggak usah bertengkar. Aku memang nggak memandang ketampanan dan kekayaan tapi kak Tiger juga bukan orang miskin juga. Dia orang yang mau bekerja keras untukku," jelas Rubby.
"Kamu so sweet banget sih, By. Kapan aku bisa memiliki hak untuk memilih pasangan yang aku inginkan? Kelihatannya itu nggak mungkin deh," ucap Messy pesimis.
****
Bersambung...
__ADS_1