
Swiinggg!
Suara berdesing terdengar ketika roh Wu Jin Ming masuk ke dalam raganya. Tubuhnya menyala putih terang menyilaukan. Perlahan Wu Jin Ming membuka matanya.
Setelah tersadar sempurna, Wu Jin Ming berdiri dan memgakhiri meditasinya. Jam. Benda pertama yang dia cari. Pukul 5 sore. Sudah hampir petang namun Rubby belum juga pulang.
Wu Jin Ming mencari-cari ponselnya. Banyak sekali pesan yang masuk. Salah satunya adalah pesan dari Rubby. Kekhawatirannya sedikit berkurang. Rubby dan teman-temannya sedang nongkrong di kafe depan kampusnya.
Wu Jin Ming mengendus-endus tubuhnya. Masih wangi. Seharian tadi dia tidak melakukan apa-apa. Tidak perlu mandi untuk menjemput Rubby ke kafe di mana dia sekarang berada.
Sebagai seorang model, Wu Jin Ming kini sangat peduli dengan penampilannya. Dia menyisir rambut panjangnya dan mengucirnya sembarangan. Setelah memakai hodie untuk menunjang penampilannya, Wu Jin Ming segera berangkat.
Jalanan yang padat dan macet memaksanya untuk memakai kekuatan spiritualnya. Dalam sekali injak, mobil itu melaju dengan kencangnya. Kecepatannya di atas batas normal. Hanya beberapa detik saja mobil itu sudah terparkir manis di depan kafe.
Wajah Wu Jin Ming sudah mulai di kenal di kalangan masyarakat luas. Untuk menghindari keributan dia menutup kepalanya dengan hodie dan memakai kacamata hitam.
Di dalam kafe suasana sangat ramai. Wu Jin Ming berkeliling mencari keberadaan Rubby. Pandangannya berhenti pada sebuah meja yang menampakkan ketiga teman Rubby.
Tanpa pikir panjang Wu Jin Ming segera berjalan ke sana untuk menanyakan keberadaan Rubby.
"Hai!" sapa Wu Jin Min yang mendapatkan sambutan kurang menyenangkan dari ketiga teman Rubby. Aneh.
"Kak Tiger kemana aja?" tanya Bella dengan nada dongkol.
"Em, tadi ada urusan. Kalian kenapa sih? Kog mukanya bete gitu." Wu Jin Ming memperhatikan wajah mereka satu persatu.
"Nggak papa. Sebel aja," imbuh Lisa.
"Sebel sama aku. Kog bisa?" Wu Jin Ming semakin tidak mengerti dengan sikap teman-teman Rubby.
"Bukan. Tuh lihat di sana!" Cindy menunjuk sebuah meja dengan dagunya.
Wu Jin Ming mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Cindy. Di sana tampak Rubby sedang asik mengobrol dengan seorang cowok. Wajahnya tidak terlihat karena posisinya membelakangi mereka.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Wu Jin Ming berjalan meninggalkan meja teman-teman Rubby. Hatinya kini tersulut api cemburu. Dia tidak rela melihat Rubby berduaan dengan seorang pria.
"By!" panggil Wu Jin Ming pelan.
Meski sangat pelan namun suara Wu Jin Ming sangat menakutkan bagi Rubby.
"Kak Tiger!" Rubby berdiri menghampiri Wu Jin Ming.
Wu Jin Ming menatap Rocky tajam.
"Kamu sudah tahu kan kalau Rubby itu pacarku?" tanya Wu Jin Ming ketus.
"Tahu. Tapi aku nggak mau ambil pusing. Sebelum Rubby menikah nggak ada yang larang dia dekat sama siapa saja." ucapan Rocky membuat Wu Jin Ming geram.
"Aku yang melarangnya dekat sama laki-laki lain. Kami akan segera menikah. Jangan dekati dia lagi!" ucapan Wu Jin Ming pelan namun penuh penekanan.
"Oke... oke... santai bang. Ini tempat umun. Kalau mau ngajak ribut jangan di sini. Kita publik figur jadi jangan memancing kerumunan masa." Rocky menatap Wu Jin Ming penuh emosi.
"Siapa takut! Kapanpun kamu siap, aku layani. Kamu bawa seribu pasukan pun aku nggak akan gentar!" tatapan dingin Wu Jin Ming membuat Rubby ketakutan. Rocky tidak tahu siapa Wu Jin Ming sebenarnya. Bahaya jika Wu Jin Ming benar-benar serius melawannya.
Wu Jin Ming segera mengejar Rubby sedangkan Rocky berjalan gontai menuju meja Cindy dan kawan-kawan. Rocky langsung duduk begitu saja. Wajahnya tertunduk.
"Napa bang? Patah hati, ya? Terima nasib aja bang. Kan masih ada kita-kita," celoteh Bella.
"Hmm. Tau nih. Pusing kepala." Rocky mengacak-acak rambutnya. Meskipun berantakan tapi tidak mengurangi ketampanannya di mata teman-teman Rubby.
"Tadi pas asik-asik lupa ma kita. Sekarang Rubby pergi ma pacarnya ngeluh pusing. Heleh!" seru Lisa asal.
"Bukannya gitu. Namanya juga usaha," elak Rocky.
"Ya, sudah. Lanjutin aja. Siapa tahu muncul keajaiban untukmu. Kita kenal Rubby itu sudah lama. Dia serius banget kalau menjalin hubungan sama cowok. Kalau bukan karena nggak dapet restu, mungkin sekarang dia sudah nikah sama Moza. Tau Moza, kan?" tanya Bella sambil melirik Rocky.
"Iya, tau. Anak orang terkaya di kota ini. Kalau sama Moza mungkin aku nggak berani deketin Rubby. Aku beda kelas sama dia. Kalau Tiger, kelihatannya dia cuma cowok biasa aja." Rocky berbicara sambil memainkan kunci mobilnya.
__ADS_1
"Kita nggak tau latar belakang kak Tiger. Bisa aja dia orang kaya yang low profil. Mana gantengnya di atas rata-rata lagi," Cindy tersenyum centil sambil membayangkan wajah Wu Jin Ming.
"Bener tuh kata Cindy. Sosok kak Tiger itu misterius banget. Entah bagaimana ceritanya dia tiba-tiba muncul di kehidupan Rubby. Padahal sebelumnya kita nggak tau Rubby kenal sama dia," imbuh Lisa.
"Aneh!" Rocky mengerutkan keningnya.
"Nggak juga. Semua orang punya privasi. Mungkin dulu-dulu Rubby sengaja nggak ngasih tau kita tentang kak Tiger," sela Bella.
"Udah, ahh. Aku jadi laper. Kalian pesen lagi gih, aku traktir!" Rocky mengambil buku menu. Dia tidak ingin lagi mendengar nama Tiger terus di sebut.
"Oke! Dengan senang hati." tanpa sungkan Lisa segera memilih menu.
Bella memanggil pelayan yang kebetulan lewat di sana. Mereka memesan makanan dan minuman kesukaan masing-masing.
Di luar kafe, Rubby dan Wu Jin Ming masih terlibat perang dingin. Rubby marah karena Wu Jin Ming membuat keributan sedangkan Wu Jin Ming marah karena Rubby berduaan dengan Rocky. Mereka sama-sama tidak mau mengalah.
"Kita pulang." Wu Jin Ming mulai berbicara.
Rubby tidak menjawab. Dia berjalan mendahului Wu Jin Ming menuju mobilnya. Setelah pintu tak terkunci, Rubby segera masuk.
"By, harusnya aku yang marah. Bukan kamu!" ucap Wu Jin Ming sembari menyetir mobilnya.
"Hmm. Kamu selalu saja begitu. Aku hanya mengobrol aja sama Rocky." Rubby tak mau disalahkan.
"Bener kamu cuma ngobrol. Tapi aku nggak suka. Apalagi di depan banyak orang. Kalau di biarin pasti sebentar lagi akan muncul berita gosip tentang kamu dan Rocky."
Rubby menatap Wu Jin Ming serius. 'Benar juga apa yang di katakannya. Kok aku nggak mikir sampai ke situ, ya. Ah, tapi tetep aja kak Tiger nggak seharusnya marah-marah di tempat umum.' Rubby bermonolog dalam hati.
"Tapi Kak Tiger nggak harus meladeni dia tadi. Nggak liat tadi orang-orang pada ngliatin kita." Rubby masih tak mau kalah.
"Susah ya ngomong sama wanita. Benar salah nggak mau kalah," ucap Wu Jin Ming lirih. Wajahnya yang terlihat konyol saat mengatakannya membuat Rubby ingin tertawa.
Mereka kembali diam. Karena pertengkarannya, Wu Jin Ming lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk Rubby. Sepanjang perjalanan mereka tidak mengobrol. Sesekali mereka saling mencuri pandang. Mereka sama-sama membuang muka jika tatapan mereka tak sengaja saling bertemu.
__ADS_1
****
Bersambung...