
Wu Jin Ming dan Rubby duduk bersandar di body mobilnya sambil menikmati es kelapa muda. Mereka masih betah berada di sana namun hari sudah sore.
Tampaknya Rubby merasa cemburu setiap kali melihat para gadis mencoba menari perhatian Wu Jin Ming.
"Ihh, genit!" Rubby merebut paksa cup es kelapa muda di tangan Wu Jin Ming lalu membuangnya ke tempat sampah.
Wu Jin Ming melongo melihat Rubby yang tiba-tiba berubah ke mode ngambek. "Perasaan tadi udah nggak ngambek." Wu Jin Ming menggaruk kepalanya dan menyusul Rubby yang sudah masuk ke dalam mobil duluan.
Wu Jin Ming menyalakan mesin mobilnya. Dia melirik Rubby sekilas. Rubby membuang pandangannya ke luar jendela mobil.
Tidak tahu harus mulai bicara dari mana, Wu Jin Ming akhirnya menepikan mobilnya di jalanan sepi. Dia tidak mau lama-lama bertengkar bersama Rubby. Apalagi dengan masalah yang tidak jelas.
Rubby menoleh ke arah Wu Jin Ming saat mobil tiba-tiba berhenti.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Rubby heran.
"Habisnya kamu diem aja. Aku nggak tahan kamu diemin, Sayang." Wu Jin Ming melepas sabuk pengamannya dan mendekati Rubby.
"Habisnya kamu senyumin cewek-cewek yang melirik kamu tadi. Sebel!" Rubby melipat tangannya di dada lalu membuang muka ke samping.
Tangan Wu Jin Ming memegang kepala Rubby dan memutarnya perlahan agar menghadap ke arahnya.
"Hei, istriku. Cuma kamu yang ada di hatiku. Aku hanya ingin menghargai sapaan mereka dengan mengangguk atau tersenyum. Apa kamu cemburu, Sayang?" tanya Wu Jin Ming.
"Aku nggak suka aja kamu dekat sama orang lain. Aku nggak rela senyummu kamu bagi-bagi gratis." nada bicara Rubby masih terdengar kesal.
"Emang ada lihat senyum harus bayar. Kamu ada-ada aja sayang." Wu Jin Ming menggelengkan kepalanya. Bukan untuk marah, tapi dia merasa lucu. Mungkin dia juga terlihat seperti itu juga jika sedang marah atau sedang cemburu.
"Iya, harus bayar. Kenapa Kak Tiger nggak jadi model aja?" tiba-tiba muncul ide di kepala Rubby. Dia tersenyum membayangkan Wu Jin Ming bekerja menjadi model.
"Apa? Model?" Wu Jin Ming mengernyit heran.
"Iya, model. Aku akan mengantarmu ke agensi pencarian bakat." Rubby terlihat bersemangat.
"Tunggu-tunggu! Emang aku bisa, By?" Wu Jin Ming tidak yakin akan kemampuannya.
"Aku yakin kamu bisa, Sayang. Lagipula kamu juga harus bekerja sebagai manusia. Aku tahu kekayaan kamu nggak akan habis untuk seratus tahun lagi, tapi orang-orang akan curiga jika kita nggak bekerja sama sekali," jelas Rubby.
"Masuk akal." Wu Jin Ming memikirkan ucapan Rubby.
"Bagaimana? Kamu setuju nggak?" Rubby memastikan kesediaan Wu Jin Ming untuk menjadi model.
__ADS_1
"Terserah kamu Sayang." Wu Jin Ming kembali memakai sabuk pengaman dan menjalankan mobilnya. Hatinya merasa lega. Setidaknya Rubby sudah tidak marah lagi padanya.
Rubby mengatur GPS di mobil baru milik Wu Jin Ming. Petunjuk arah menuju agensi ternama sudah diaktifkan. Wu Jin Ming tinggal mengikuti petunjuk arah yang tertera di layar monitor GPS.
"Ah, aku baru tahu fungsi dari alat ini, Sayang," ucap Wu Jin Ming merasa takjub.
"Iya, tapi harus tetap fokus mengemudi, Kak. Lihat jalanan mulai ramai," ucap Rubby sambil melihat ke jalanan.
"Hmm. Baiklah!" Wu Jin Ming mengalirkan energi spiritualnya ke dalam setir mobilnya. Dia ingin menyingkat waktu perjalanannya. Urusannya harus segera selesai karena dia harus segera berkultivasi untuk memulihkan energinya yang banyak terkuras hari ini.
Rubby mengucek matanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Mobil Wu Jin Ming tiba-tiba sudah berada di depan agensi yang mereka tuju. Rubby masih terlihat bingung.
"Jangan bilang ini sihir!" seru Rubby menatap Wu Jin Ming penuh selidik.
Wu Jin Ming tersenyum tipis menanggapi celoteh Rubby.
"Aku hanya memakai sedikit kekuatan magisku untuk menyingkat waktu saja, Sayang."
"Ah, kau ini. Bukankah kekuatanmu banyak terbuang hari ini. Sudahlah ayo kita turun!" ada rasa khawatir menghantui hati Rubby. Semoga tidak ada pertarungan lagi hari ini.
"Hmm." Wu Jin Ming membetulkan parkir mobilnya lalu keluar bersama Rubby.
Mereka berjalan memasuki gedung agensi. Setelah mendaftar di bagian informasi, Rubby dan Wu Jin Ming di minta menunggu di ruangan khusus.
Wu Jin Ming melirik Rocky dengan tatapan tidak suka. Sepertinya mereka terlihat dekat.
"Oh, iya. Eh, maksudku aku mengantar teman priaku untuk mendaftar sebagai model di sini. Kenalkan ini Kak Tiger. Kak Tiger ini Rocky dia seorang artis dan juga teman kuliahku." ada hawa mencekam dari tatapan Wu Jin Ming. Rubby mengusap lengannya yang tiba-tiba terasa merinding.
"Rocky!" Rocky mengulurkan tangannya.
"Tiger Wu!" Wu Jin Ming memperkenalkan diri sesuai Rubby menamainya.
"Adakah di sini yang bernama Tiger Wu?" seorang pria dengan logat kemayu muncul di ruangan itu.
"Aku!" Wu Jin Ming menunjuk dadanya.
"Wih, cucok. Mari ikut saya. Kita akan menemui pak Sony." pria itu mengedipkan matanya seperti lampu neon yang hampir putus.
Wu Jin Ming melirik ke arah Rubby. Rubby hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Ish!" Rubby bergidik geli melihat tingkah pria melambai yang membawa Wu Jin Ming pergi.
__ADS_1
"Cowok centil itu namanya Jonny. Tapi dia lebih senang di panggil Jenny. Entahlah kenapa bisa begitu." Rocky menjelaskan tentang Jonny tanpa di minta.
"Kau mengenalnya?" Rubby bertanya lalu kembali menoleh ke arah Wu Jin Ming yang terus menjauh dan hampir tak terlihat.
"Tentu saja. Dia sebenarnya baik. Hanya saja dia bergaya seperti seorang wanita. Aku sering merasa nggak nyaman dengan itu."
"Lalu? Kau selalu menghindar jika bertemu dengannya?" Rubby menutup mulutnya menahan tawa.
"Manajerku tahu tentang masalah ini. Jadi dia meminta Jonny untuk menghubunginya saja bila ada job untukku." Rocky melirik mencari tempat kosong untuk bersantai.
"Owh, lalu pak Sony?" tanya Rubby yang mendengar nama itu dari Jonny barusan.
"Dia bos besar di agensi ini. Dia yang mempromosikan para artis pendatang baru. Sepertinya dia tertarik pada temanmu tadi. Ayo kita duduk di sana!" Rocky menunjuk sofa kosong yang berada di pojok ruangan.
Rubby berjalan mengikuti Rocky. Mereka mengobrol untuk mengisi waktu mereka. Rocky juga belum memulai pekerjaannya.
"Boleh aku minta nomer Hp kamu, By?" Rocky menyodorkan ponselnya ke arah Rubby.
Ragu-ragu Rubby menerima ponsel Rocky. Dia takut ini akan menjadi masalah. Sebelumnya Rubby sudah berjanji untuk tidak ikut bersaing merebut perhatian Rocky pada teman-temannya. Belum lagi Wu Jin Ming yang akan cemburu padanya.
"Hei, kenapa melamun?" Rocky melambaikan tangannya di depan wajah Rubby.
"Ah, itu. Aku sedang mengingat-ingat nomor ponselku." terpaksa Rubby memberikan nomer ponselnya pada Rocky. Dia tidak mau berpikir terlalu jauh mengenai apa yang akan terjadi nanti.
"Terimakasih." Rocky menerima ponselnya kembali. Dia tersenyum senang karena berhasil mendapatkan nomor Rubby. Gadis yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya.
"Hmm." Rubby mengangguk.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Rocky.
"Pulang. Aku sangat lelah hari ini."
"Oh, iya kamu naik apa tadi ke sini?" Rocky berharap punya kesempatan untuk mengantar Rubby pulang.
"Aku bareng mobil kak Tiger. Sebelum ke sini kami muter-muter dulu tadi." Rubby sengaja menyebutkan nama Wu Jin Ming agar Rocky berhenti mengejarnya.
"Kelihatannya kalian sangat dekat. Apa hubungan kalian berdua?" Rocky penasaran dengan sosok Wu Jin Ming bagi Rubby.
"Dia kekasihku." dengan yakin Rubby menjawab. Lebih baik dia jujur sejak awal agar Rocky tak berharap lagi padanya.
****
__ADS_1
Bersambung....