
Sudah satu minggu berlalu semenjak meninggalnya Agus, Aku sungguh merasa kehilangan.apa lagi Istri Agus si Vina, sampai sekarang masih selalu menangis, dan jarang keluar kamar. Aku dengan telatenya selalu mengingatkanya untuk makan,karena Aku kasian pada bayi yang ada di perutnya, juga karena pesan terahir dari Anton agar Aku menjaga istri dengan calon anaknya.
Masalah untuk menikahi Vina Aku belum terfikirkan, karena dengan Aku menjaga mereka saja sepertinya sudah cukup.
Oh iya,, Agus dan Vina sudah tidak punya orang tua, mereka berdua di besarkan di panti asuhan sedari kecil, dan mereka katanya satu panti asuhan, dan karena dari kecil bersama ahirnya Agus menikahi Vina. tapi setelah Agus mapan dengan kerjaanya baru mereka menikah.
Makanya Agus menitipkan padaku karena Vina sudah tidak punya siapa siapa lagi, dan sebenarnya bisa Vina kembali ke panti asuhan yang dulu merawatnya, tapi mungkin Agus tidak ingin anaknya terlantar jadi lebih memilih menitipkan padaku.
Dan sudah seminggu ini Aku juga tidak bekerja, Aku belum bisa meninggalkan Vina sendiri di rumah.Dan sekarang Aku sudah punya ide agar Vina tak sendiri di rumah selama Aku kerja.Mba yang suka bantu beberes rumah Aku suruh datang pagi dan pulangnya saat Aku sudah pulang kerja, untungnya Mbanya mau, dan soal bayaran Aku pasti tambahin menjadi 2 x lipat.
"Vin,, makan malam dulu,, ini sudah jam 8,,"sambil ku ketok pintu kamarnya. tapi ngga ada suara. Aku ketok lagi dan lagi tapi tetap ngga ada suara, karena Aku takut ada hal buruk Aku pun mendobraknya.
Saat pintu sudah ku dobrak Aku melihat Vina yang tertidur di kasur sambil memejamkan matanya,lalu Aku mendekatinya, saat sudah di dekatnya Aku melihat keringat di dahinya sangat banyak.
"Vin,, kamu kenapa,, "Ahirnya Aku pun duduk di sebelahnya dan mengusap keringatnya yang sangat banyak dan badanya pun sangat panas. Sambil ku bangunkan. Vina sedikit menggeliat, karena Aku takut terjadi sesuatu pada Vina dan bayinya Aku pun keluar rumah untuk memanggil tetangga untuk membantuku.
Untungnya ada warga yang mau membantuku dan memberi tumpangan mobil juga, lalu Aku menggendong Vina masuk ke lalam mobil setelah itu Aku juga duduk di sebelahnya. karena yang menyetir yang punya mobil.
Kepala Vina Aku letakan di pangkuanku, dan keringat masih saja keluar dari keningnya, Aku sangat kuatir melihat keadaan Vina.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit Aku memanggil suster untuk menolong Vina, dan Suster dengan cepat membawa Vina masuk ruangan UGD.
Sedang Aku sekarang duduk sendiri di depan UGD, karena tetangga yang tadi memberi tumpangan mobilnya sudah pulang, Aku juga memberinya uang untuk ganti bensin.
Setengah jam kemudian Dokter keluar dari ruang UGD, dan Aku langsung menanyakan kondisi Vina.
"Gimana keadaanya Dok,,? "tanyaku.
"Istri Bapa hanya kurang cairan, sepertinya Istri Bapa kurang air juga asupan makanan, sehingga menjadi lemas, sebaiknya ibu hamil itu jangan sampai telat makan dan minum, juga tidak boleh terlalu banyak fikiran, apa lagi ini sepertinya sudah mau masuk 8 bulan, jadi di usahakan jangan sampai setres dan harus makan yang teratur ya Pak Istrinya,, "
"Iya Dok,, trimakasih ,"jawabku, rupanya Dokter mengira Aku suaminya Vina , tapi biar ngga ribed Aku iyakan saja lah.
Sekitar satu jam Vina bangun, dan dia mencoba untuk bangun, Aku langsung mendekatinya dan membantunya untuk duduk.
"Vina ada di mana Mas,? "
"Kamu di rumah sakit sekarang, tadi kamu tuh badanya panas dan berkeringat dingin,, "
"Maaf jadi merepotkan Mas,,, "Aku lalu duduk di banguk dekat ranjang.
__ADS_1
"Kamu harus makan yang teratur dan benar. jangan seperti ini, kamu harus kasihan pada anak kamu, Agus pasti sedih kalau kamu kaya gini, dan Aku merasa seperti orang yang tak berguna, karena di kasih wasiat untuk menjaga kamu dan anakmu saja Aku ngga becus,,, "Vina hanya menundukan kepalanya.
"Aku tau kamu pasti sedih dan merasa kehilangan.dan bukan kamu saja, Aku juga sedih kehilangan sahabat yang sudah Aku anggap sodara sendiri. tapi Tuhan lebih sayang padanya, kita harus iklas, pasti Tuhan punya rencana indah di balik semua ini, "Vina pun menangis.
"Kalau kamu sayang sama Agus dan Anakmu, kamu ngga boleh sedih terus,kamu harus semangat untuk hidup, ngga boleh kaya gini lagi, "
"Maaf kalau perkataanku menyinggungmu, tapi ini demi kebaikanmu juga anak yang sedang kamu kandung, "sambil masih menangis Vina menundukan kepalanya. setelah bicara panjang lebar Aku pun menyuruhnya untuk tidur lagi. dan jangan banyak fikiran agar cepat sembuh.
Aku pun keluar dari ruang rawat Vina untuk mencari udara segar, karena Aku merasa sangat sesak di dadaku.rasanya kepalaku juga ikut pusing.
Sekitar jam 2 malam Aku baru masuk kamar rawat Vina, saat masuk Aku melihat Vina yang sedang berusaha turun dari ranjang.
"Mau kemana,,,? "tanyaku, dan Vina sedikit kaget karena tidak tau Aku masuk.
"Heemmm,,, mau ke kamar mandi,, "sambil duduk di ranjang karena susah untuk turun.
Lalu Aku mendekatinya"Sinih Saya bantu,,, "Aku membantunya untuk turun,mungkin karena dia lemas jadi Aku pun memegang tanganya dan pundaknya, Vin badanya sedikit kaku ,memang ini pertamanya dia dengan sadar berpegangan denganku dan Aku pun sama dengan sadar memegangnya jadi sedikit ngga enak, tapi mau gimana lagi sudah terlanjur, kalau tadi yang di rumah karena Vina sedang sakit dan setengah sadar Aku pun reflek jadi ngga ada kata ngga enak.
**Besok lagi,, maaf kalau ada typo..
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya, trimakasih**...