
Alana yang mendengar Vian akan pindah kuliah keluar negri langsung menangis.
"Kenapa Kaka malah pindah kuliah ke luar negri,apa Kaka udah ngga sayang lagi sama Ana,,apa Kaka mau ninggalin Ana,,huu,,,huuu,,,"sambil menangis.Vian lalu bangun dan memeluk Ana.
"Sutt,,udah jangan nangis,ini sudah malam,tidak enak kalau ada suster yang dengar,kita bicarakan lagi besok yah,sekarang lebih baik Ana tidur,,"Vian membantu Ana untuk tiduran.
Ana masih saja menangis walau tak ada suaranya,Vian justru sekarang yang merasa kebingungan,mau menjelaskan alasannya akan pindah kuliah, tapi Ana justru terus menangis.
"Tidur lah,,Kaka temani di sini,"sambil Vian duduk di bangku dan menggenggam tangan Alana,sesekali mencium tangan Ana.
Ana pura pura tidur,tapi padahal Ana tidak tidur,fikiranya melayang entah kemana,yang pastinya fikiranya jelek ,tentang Vian yang akan pindah kuliah ke luar negri.
Vian pun tertidur sambil kepalanya di letakan di atas kasur,Ana membuka matanya dan melihat Vian yang sudah tertidur dengan pulas.
"Kak,, kenapa kaka mau ninggalin Ana, kaka di kota aja sudah sangat jauh, apa lagi nanti kalau kaka di luar negri, apa Kaka sudah ngga sayang lagi sama Ana kak,, "Ana berbicara dalam hati sambil tanganya mengusap rambutnya Vian.
Ahirnya pagi pun datang, Vian bangun duluan karena Ana tidur cukup malam jadi belum bangun.
Ana terbangun dan melihat di ruangan rawatnya tidak ada orang, lalu Ana berfikir kalau Vian meninggalkanya.
Ana tidak menangis tapi langsung diam tana kata, setelah 20 menit Vian datang sambil membawa kantong plastik.
"Sudah bangun,, "sambil mengusap rambutnya, Alana menatap Vian sambil air mata keluar dari matanya.
"Loh,, kok nangis sih,, kenapa,,?"sambil mengusap air matanya. Ana menggeleng.
"Kaka tadi habis beli makanan buat sarapan,, sudah jangan nangis,, kaka ngga akan pergi,,"sambil Vian memeluk Ana.
Vian melepaskan pelukannya karena Dokter dan suster datang memeriksa.
Dokter memeriksa Ana sampai dua kali, karena kesehatan Ana menurun.
Setelah itu Dokter bilang pada Ana untuk istirahat dan jangan banyak fikiran.
Si Dokter sampai di ruanganya menelfon Ayah Ali, dan Dokter mengatakan pada Ayah kalau kesehatan Ana menurun, Ayah pun langsung kaget, dan setelah Dokter memberi tau tentang kesehatan Ana telfon pun di matikan.
__ADS_1
Ayah lalu menelfon Bunda, menyuruhnya cepat datang ke rumah sakit, dan Ayah juga bilang pada Bunda kalau kesehatan Ana menurun.
Ayah dan Bunda langsung berangkat ke rumah sakit sendiri sendiri.
Samapi di rumah sakit Ayah bertemu Bunda di parkiran, mereka berdua langsung menuju kamar rawat Alana.
Bunda dan Ayah masuk ke dalam,dan Alana sedang di suapi buah oleh Vian.
"Pagi sayang,,, "Kata Bunda.
"Bundaa,,, Ayahh,, pagi,, "jawab Ana, sedang Vian tersenyum ke arah Ayah dan Bunda.
"Adek Sudah makan,,, ?"
"Sudah Bun,, "
"Vian,, Om mau bicara,, ayo duduk di sofa,, "kata Ayah.
Lalu Vian berjalan menuju sofa,sedang Bunda duduk di bangku bekas Vian tadi duduk.
"Katakan ada masalah apa kalian, karena dari reaksi wajah kalian sudah terlihat jelas kalau kalian sedang ada masalah,, "
"Tadi Dokter menelfon Ayah dan bilang kalau kesehatan Adek menurun,, jadi katakan ada apa siapa tau kalian hanya salah faham saja,,? "Vian hanya menunduk.
"Maaf Om di sini Vian yang salah, dan membuat kesehatan Ana jadi menurun,"
"Kita ada masalah sejak kita berdua pergi ke pantai untuk merayakan ulang tahun Ana waktu itu, Vian hampir saja hilaf dan menyakiti Ana, dan itu membuat Ana marah sama Vian, Vian sadar memang Vian salah, "Ana mendengarkan sambil meremas tanganya sendiri sambil menahan tangis.
"Dan Vian yang bukanya minta maaf malah pulang ke kota, lupa tidak memberi kabar pada Ana.karena Vian saat itu benar benar sibuk sampai lupa untuk meminta maaf dan mengirim pesan atau telfon ke Ana, maafkan Vian om,, "
"Trus sampai sekarang kamu belum minta maaf sama Adek,,? "
"Vian sudah minta maaf kok Om,, "
"Trus kenapa kesehatan Adek malah menurun, bukanya kalau kamu sudah minta maaf Adek jadi sembuh,, ini kenapa malah begini,, "Vian menggelengkan kepalanya tanda tidak tau.
__ADS_1
"Adek,, Adek kenapa? apa yang Adek fikirkan, Vian sudah minta maaf kan sama Adek,, ?"Ana hanya diam sambil menunduk.
"Katakan sayang,, biar Ayah dan Bunda tau Adek kenapa,, jangan takut,, "kata Bunda sambil mengusap rambut Ana.
"Kak Vian mau ninggalin Ana Yah Bun,, "
dengan pelan Ana berkata.
"Apa,, ninggalin Adek, maksudnya Vian mau putus sama Adek,,? "Bunda yang bertanya sekarang, Bunda takut salah dengar. Tapi Ana menggeleng.
"Vian jelaskan ada apa ini,, kenapa Ayah jadi pusing gini dengarnya,, "
"Vian bukan mau putus sama Ana, tapi Vian mau pindah kuliah ke luar negri Om, "
"Oh begitu, jadi kamu mau pindah kuliah ke luar negri,, itu bagus sih,, "jawab Ayah. Tapi Ana justru menangis
"Kenapa sayang,, kok nangis,? "tanya Bunda.
"Adek,,, Vian kan mau kuliah di luar negri, biar mendapat gelar dan itu juga buat masadepanya juga, kok Adek malah nangis,, "
"Adek ngga mau Kak Ian kuliah di luar negri Yah,, Kak Ian di kota aja Adek jarang ketemu apa lagi nanti kalau Kak Ian di luar negri,, pasti kita akan jarang ketemu,, Adek ngga mau Yah,, dan Adek takut Kaka nanti di sana jadi lupain Adek dan tertarik sama cewe di sana,, "sambil terus menangis.
"Adek,, jangan begitu,, Adek harusnya doain biar Vian kuliah di sana dengan lancar dan selalu sehat, bukanya punya fikiran jelek begitu,, "kata Bunda.
"Vian,, kamu kok tiba tiba ingin pindah kuliah ke luar negri,, ada apa dan kenapa emangnya,"
"Emmm,,, Maaf Om, memang niatan Vian pindah kuliah untuk lebih jauh dari Ana, "Alana langsung menatap ke arah Vian.
"Kenapa,,? "
"Maaf Om,, Karena Vian setiap ketemu Ana selalu hilang kontrol Om, Vian takut kebablasan dan menyakiti Ana, juga takutnya bikin malu keluarga dan semua keluarga kecewa dengan Vian,, "Ayah mendengarkan semua perkataan Vian, sedang Ana yang tadinya kaget dengan perkataan Vian sekarang yang sudah tau alasanya sudah sesikit lega.
"Ayah sudah tau gimana solusi dari masalah kalian,, "
**Lanjut besok,, kira kira Ayah punya solusi apa yah buat Ana dan Vian.
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan votenya yah**,,