
Sekarang Aku dan Vina sedang bersiap siap untuk kita pulang ke kota,kemarin kata Dokter kondisi Vina dan bayinya dalam ke adaan sehat,dan bisa melakukan perjalanan menggunakan pesawat.
Pagi tadi Aku dan Vina juga pamitan pada tetangga terdekat dan juga pada pak Rt, kalau kita akan pindah ke kota.soal rumah, karena rumah dinas dari kantor jadi kunci rumahnya nanti Aku akan titipkan pada teman untuk membawanya ke kantor.
Vina Aku suruh masuk ke dalam mobil dulu, sedang Aku dan temanku menata koper di bagasi mobil, Aku di antar oleh teman sekantor untuk ke bandara.Setelah selesai menata koper,kita langsung berangkat ke bandara.
Sampai bandara kita langsung masuk ke dalam dan menunggu keberangkatan pesawat setengah jam lagi. dan temanku langsung pulang,dia hanya mengantar sampai depan bandara saja.
"Vin,, duduk dulu di sini, Saya mau beli kopi di sana ,,"kataku sambil menujuk tempat penjualan kopi.
"Kamu pengin apa,,,? "Vina hanya menggeleng.
"Vina ngga pengin apa apa Mas,, Vina kalau kebanyakan makan di sininya sesak dan ngap,, "sambil menujuk perut atasnya,lalu Aku pun pergi membeli kopi.
Setelah satu gelas kopi habis, pemberitauan keberangkatan pesawat menuju ke kota pun berbunyi.
Aku menggandeng tangan Vina saat koper sudah tidak ku dorong lagi, sampai dalam pesawat tanganku tak terlepas karena Vina Aku suruh jalanya pelan pelan saja. dengan perut yang sudah besar jalan pun susah kalau untuk cepat cepat.
Aku dan Vina pun sudah duduk dengan nyaman, saat pesawat akan naik Vina merasakan sakit di perutnya, rupanya dede dalam perut bergerak, membuat Vina meringis kesakitan.
"Sebelah mana yang sakit,, ?"tanyaku, tanpa kata Vina memegang tanganku dan mengarahkan ke bagian yang keras.
"Dede sayang,,, dede kaget yah,, sabar yah kita mau pulang ke rumah ,, dede yang anteng diperut mamih,, jangan gerak terus,, kasian mamih sayang,,, "sambil ku usap dan ku ajak bicara, Aku tau cara ini dari dokter,kemaren dokter yang memeriksa Vina memberi taukan kalau anak dalam perut bisa merasakan dan mendengar, Aku pun jadi mengikuti saranya untuk mengajaknya bicara.
Setelah perut Vina tidak keras lagi, Aku pun berhenti mengusapnya.
__ADS_1
"Sinih kepalanya taro di pundak Saya,, "karena Aku melihat Vina yang mengantuk. Vina pun menurut.
Ahirnya Vina pun tertidur, Aku hanya diam sambil melihat ke arah perutnya. Tuhan sangat baik padaku,telah mengabulkan keinginanku untuk mempunyai anak, walau bukan darah dagingku tapi Aku sudah cukup senang dan bersukur.
Ahirnya selama satu jam setengah kita sekarang sampai di bandara di kota. Aku dan Vina langsung naik taxsi untuk menuju rumahku.
"Mas,,, Vina belum pernah ke kota loh,, ini baru pertama kalinya,, "kata Vina sambil melihat arah luar dari jendela mobil.
"Serius,,,? "tanyaku. Vina pun mengangguk sambil tersenyum menghadapku.
"Kalau gitu besok kita jalan jalan,kita ke mall dan belanja belanja, habis itu muter muter biar kamu bisa lihat suasana kota,,, "Vina hanya tersenyum.
Setelah Satu jam ahirnya sampai di rumahku, Aku mengajak Vina langsung masuk, dan Vina hanya diam berdiri melihat ke arah rumah.
"Kamu kenapa,, ayo masuk di sini panas, kasian dede,,"sambil ku gandeng tanganya sampai depan pintu.
Aku mengambil kuci rumah dari tas kecilku, dan langsung membuka pintunya.
"Ayo masuk,, ini rumah Saya,, dan sekarang jadi rumah kita,, "setelah pintu terbuka.
Aku mendorong koper masuk ke dalam, dan Vina dengan pelan pun masuk.untungnya di rumah ini sudah tidak ada foto pernikahanku dengan Nana lagi, dan juga ngga ada foto Nana satupun yang tersisa,, karena semuanya sudah ku bakar saat Aku sudah memutuskan untuk bercerai denganya. dan barang barang milik Nana seperti baju, perhiasan serta yang lainya sudah Aku kirimkan padanya juga waktu itu. jadi sekarang tidak ada barang milik Nana barang sedikit pun.
"Kamar kamu yang itu di bawah dan kamar Saya di atas,, "kataku sambil mendorong koper milik Vina menuju kamarnya.
"Kenapa kita ngga satu kamar saja, bukankah kita suami istri. Apa karena Vina ngga pantas untuk menjadi istri Mas,, bukan kah Mas bilang untuk kita melalui dari awal"Aku yang sedang berjalan langsung berhenti mendengarkan perkataan Vina.
__ADS_1
"Maaf bukan maksud Saya begitu, justru Saya yang merasa ngga enak untuk memintamu untuk satu kamar dengan Saya, karena takutnya kamu lah yang belum mau menerima Saya,, "sambil Aku mendekatinya.
"Apa kamu mau satu kamar denganku,,? "Vina pun mengangguk.
"Terimakasih,,, "sambil ku peluk dengan pelan, walau pun belum ada rasa cinta di antara kita, asalkan saling nyaman pasti tidak akan lama rasa cinta itu pun datang fikirku.
Setelah melepaskan pelukanku, Vina Aku suruh untuk masuk ke kamar, pasti dia sudah ingin istirahat, karana habis perjalanan jauh.
"Kamu duduk dulu aja, Saya mau gantiin sepreinya dulu, takut kotor,, "kataku sambil menujuk sofa. Vina pun menurut.
Aku lalu mengambil seprei di lemari, dan juga selimutnya sekalian, Vina membantu untuk memasang sarung bantalnya. setelah selesai Vina Aku suruh untuk tiduran.
"Kamu tidur dulu aja, Soal baju nanti kalau sudah istirahat baru kita rapikan,, "
"Mas mau ke mana,,? "tanya Vina.
"Saya mau belanja dulu, soalnya ngga ada makanan sama sekali di rumah,, "
"Tapi Vina takut Mas sendirian,, "sambil bangun dari tiduranya.
"Ya udah Saya pesan onlaine aja kalau gitu, kamu tidur lagi aja yah,, "Vina ahirnya tiduran lagi.
Maaf kalau ada typo...
Jangan lupa like komen dan votenya yah kak, trimakasih...
__ADS_1