Aku Bukan Pebinor

Aku Bukan Pebinor
Keputusan Alana


__ADS_3

Bunda, Alana dan Vian langsung melihat ke arah Ayah.


"Solusinya apa Yah,,? "tanya Bunda. karena Ayah cukup lama diam.


"Ini hanya usul dan bisa juga ini buat solusi dari masalah kalian, tapi nanti keputusanya ada pada kalian juga,, "kata Ayah.


"Sebaiknya kalian menikah saja, biar kalian bisa bebas mau melakukan apa pun, karena kalian sudah halal, tapi kalau kalian mau dan siap, Ayah hanya memberi ide,, "


"Tapi mereka masih sangat muda Yah,, apa nanti mereka bisa mengurus rumah tangganya, dan ego mereka pasti juga masih sama sama besar,, "


"Bun ini hanya usul, Kalau memang mereka sudah siap dan mengambil keputusan untuk menikah, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakanya saja kan, dan juga mendukungnya. Dari pada anak kita jadi tersiksa dan sakit sakitan,,"kata Ayah pada Bunda.


"Sekarang gimana menurut kamu Ian ide dan pendapat Ayah tentang kalian yang lebih baik menikah saja,, "


"Kalau Vian sih memang sudah dari kemarin juga mengajak Ana untuk menikah saja Om, karena alasan Vian ya itu takut hilaf, karena Vian kalau bersama Ana selalu ngga bisa kontrol, tapi Ana selalu menolak karena Ana belum siap dan masih ingin kuliah, juga masih terlalu muda untuk menikah kata Ana, dan itu lah yang membuat Vian ingin pindah kuliah ke luar negri aja, biar kita jadi jarang ketemu ,karena kalau masih antara kota ke jogja kan masih dekat, Vian masih bisa bolak balik kapan saja, kalau sudah di luar negrikan susah untuk pulang, dan perjalananya juga jauh, ngga mungkin Vian bisa bolak balik,"Vian berkata dengan sangat yakin dan jelas.


"Sekarang keputusan ada di Adek,, Adek maunya gimana.dan apa benar yang di katakan Vian kalau sudah pernah mengajak Adek nikah dan alasan Adek yang tadi Vian katakan ,,?"Ana pun mengangguk.

__ADS_1


"Trus sekarang jawaban Adek apa untuk Vian,,? "Ana hanya diam.


"Ayah,, sebaiknya kita pulang saja, biarkan mereka bicara berdua gimana maunya mereka,, "kata Bunda.


"Iya Bun,, kita pulang aja, biarkan mereka yang memutuskan keinginan mereka mau gimana,, "sambil bangun dari duduknya.


"Adek,, Ayah sayang sama Adek, dan Adek mau mengambil keputusan apa pun Ayah akan mendukung keputusan yang Adek ambil, asalkan Adek sembuh dan ngga sakit lagi, dan juga Adek bahagia, "sambil mengusap kepala Adek.


"Makasih ya Yah,, dan maafin Adek yang selalu bikin Ayah dan Bunda kuatir,, "setelah Ana melepas pelukan ke Ayah.


"Bunda dan Ayah pulang yah sayang, bicara dengan kepala yang dingin, ngga boleh pakai emosi,, "Bunda lalu mencium kening Ana sebelum pergi.


"Maaf,,, karena keinginan Kaka membuat Ana jadi tertekan,,Kaka mengambil keputusan seperti ini juga tidak mudah,, Kaka juga sebenarnya ngga mau ninggalin Ana, tapi kalau kita masih dekat dan sering ketemu, Kaka takut akan menyakiti Ana lebih, Kaka juga ngga tau kenapa setiap dekat dengan Ana Kaka suka ngga bisa kontrol,, Maaf,, "


"Kaka tidak ingin memaksa Ana untuk menikah dengan Kaka, Kaka tau Ana masih ingin belajar dan ingin mencapai cita cita Ana, jadi biarkan Kaka pindah kuliah ke luar negri, dan kalau Ana terbebani demgan hubungan jarak jauh, Kaka terima kalau Ana ingin kita putus, karena Kaka percaya pada tuhan, kalau jodoh itu tidak akan tertukar,, "


"Kenapa Kaka bicara begitu, kenapa Kaka sepertinya menyerah, kenapa kaka ngga memberjuangkan cinta kaka ,"

__ADS_1


"Karena Kaka ngga mau egois, Kaka akan terima setiap keputusan Ana,, "Ana menangis lagi.


"Jangan menangis,, jangan bikin Kaka merasa bersalah,,,percayalah Kaka benar benar cinta dan sayang sama Ana,, Kaka juga tersiksaa,,, "langsung memeluk Ana dan Vian juga ikut menangis.


"Maafin Ana Kak,, Ana juga ngga bisa menghetikan tangisan Ana, Ana sangat sakit setiap mengingat kalau Kaka akan ninggalin Ana,,,"


"Kaka ngga ninggalin sayang, kaka hanya kuliah di sana, buat belajar dan ini juga nantinya buat masadepan kita,, kalau Ana masih mau sama kaka nantinya,, "


"Ana ngga mau pisah Kak,, Ana pengin kaka selalu sama Ana,, Ana ngga mau Kaka kuliah di luar negri,, "sambil melepaskan pelukan Vian sambil aNa menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Ana mau menikah sama Kaka,, "


"Settt,,, jangan bicara seperti itu, Ana lagi emosi dan sedih,, kita bicarakan nanti lagi aja yah soal ini,,"


"Ngga,, Ana sudah putuskan,, Ana mau menikah dengan kaka, dan akan ikut kemana pun Kaka pergi, Ana ngga mau jauh jauh dari kaka,, "Vian pun tersenyum tipis lalu memeluk Ana.


"Iya sayang,,, trimakasih telah mengambil keputusan itu, karena kaka juga sangat berharap kalau Ana mau menikah dengan kaka,, dan kita selamanya akan bersama ,"dengan mereka yang masih saling peluk.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya trimakasih..


__ADS_2