
Tidak terasa beberapa pekan bahkan bulan sudah berlalu. Usia kehamilan Indi pun sudah memasuki minggu ke-18. Lantaran hamil dua anak kembar, perut Indi terlihat jauh lebih besar. Bahkan beberapa orang mengira bahwa kandungan Indi sudah berusia lebih dari lima bulan.
"Perutku ndut banget kayak badut yah, Mas?" tanya Indi.
"Kan ada dua babies, Sayang. Jadi kalau memang ukuran perutnya lebih besar sih wajar," balas Satria.
Sekarang Satria mengusap-usap perut istrinya yang memang terlihat besar dan bulat itu. Usai mengusapi perut Indi, Satria kemudian mengecup perut istrinya itu.
"Babiesnya Papa, baru ngapain kalian di dalam sini? Sekarang, ini adalah rumah ternyaman untuk kalian berdua. Akan tetapi, nanti kalau kalian sudah lahir, ada pelukan Mama dan Papa yang lebih hangat untuk kalian berdua," kata Satria.
Ketika bayi masih berada di dalam kandungan, tempat yang nyaman untuknya adalah rahim Ibunya. Di dalam rahim itu, bayi akan merasakan bagaimana jantung berdetak, bagaimana suara darah yang mengalir melalui pembuluh darah, dan juga suara lambung ketika sang ibu sedang lapar. Lebih ajaib, bayi di dalam kandung untuk bisa mendengar suara Ibu dan Bapaknya yang tengah melakukan sounding dengannya. Oleh karena itu, Indi merasa sangat senang ketika Satria mengajak berbicara janinnya.
"Adik Babies bisa dengerin suaranya Papa enggak?" tanya Indi dengan mengelus perutnya sendiri.
"Dengar dong ... Papa kan sayang banget sama kalian berdua," balas Satria.
"Nanti semakin besar mulai terdengar denyutannya, babiesnya nendang-nendang. Gak sabar yah, Mas," balas Indi.
"Benar, Sayang. Enggak sabar rasanya. Mamanya Babies juga sehat selalu. Aku udah seneng banget loh, kemarin kamu enggak kepikiran yang kasusnya Karina," balas Satria.
"Itu karena aku memilih percaya sama kamu. Aku semakin percaya saat Ibu berkata bahwa kamu memang tidak ada apa-apa dengan Karin. Alih-alih mempercayai orang lain dan masa lalu, aku lebih memilih percaya kepadamu saja."
Satria senang sekali mendengarkan istrinya yang bijak dan dewasa itu. Terkadang masalah pertengkaran suami dan istri terjadi karena masalah-masalah kecil. Ya, dari masalah kecil saja pasangan suami istri bisa cek-cok. Namun, Indi memilih untuk percaya kepada suaminya. Itu adalah sebuah sikap yang baik.
"Besok periksakan Babies ke Dokter yah, Mas," ajak Indi kepada suaminya itu.
__ADS_1
"Siap, Sayangku. Sepulang kerja?" tanya Satria.
"Iya."
"Oke, siap mengantar Bumil dan gak sabar ingin melihat perkembangannya Babies di USG."
***
Keesokan Harinya ...
Sepulang dari bekerja, Indi dan Satria segera menuju ke Rumah Sakit untuk memeriksakan tumbuh kembang janinnya. Pasangan itu tidak pernah absen untuk memeriksakan kondisi janin. Setiap bulan pastilah keduanya akan bertemu Dokter Arsy dan melihat perkembangan Babiesnya. Sekarang pun begitu, keduanya langsung menuju ke klinik Dokter Arsy.
"Capek padahal, Sayang?" tanya Satria.
"Yang capek sih pinggangnya aja, Mas," balas Indi.
"Iya, kena kasur yang empuk dan ruangan ber-AC gitu enak banget."
Satria mengusap puncak kepala istrinya itu. Walau begitu, Satria senang karena bisa menikmati kehidupan rumah tangga yang saling mengisi satu sama lain dengan Indi. Sama halnya dalam kehamilan kali ini, keduanya juga sama-sama mengisi satu sama lain.
Hingga lebih dari setengah jam berkendara karena jalanan di kota Gudeg sore itu begitu macet. Barulah mereka tiba di Rumah Sakit, dan segera menuju ke poli kandungan. Indi tampak berjalan lebih pelan dari biasanya.
Satria meminta Indi untuk duduk terlebih dahulu, sementara dia yang mendaftarkan istrinya dengan mengumpulkan buku catatan pemeriksaan istrinya kepada perawat. Satria juga yang bertanya istrinya memperoleh nomor antrian berapa. Sungguh, pria itu termasuk sebagai suami yang siaga.
"Lima lagi, Sayang," kata Satria.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa. Ditunggu dulu," balas Indi.
Menunggu pun lebih dari 45 menit, barulah nama Indi dipanggil. Kemudian Indi ditimbang berat badannya dan tekanan darahnya terlebih dahulu. Barulah kemudian, Indi dan Satria memasuki ruangan Dokter Arsy.
"Selamat malam, Mom ... silakan," sapa Dokter Arsy dengan begitu ramah.
"Malam, Dokter," balas Indi dan Satria bersamaan.
"Langsung saya periksa terlebih dahulu yah. Kalau sesuai dengan catatan sih, sudah 18 minggu Mom. Sudah mau setengah jalan loh," kata Dokter Arsy.
Akhirnya Indi menaiki brankar. Ada Satria yang mengantar Indi menaiki tiga anak tangga untuk naik ke brankar, kemudian seorang perawat membuka sedikit kemeja yang dikenakan Indi, dan memberikan USG Gell di perutnya. Kemudian, Dokter Arsy bersiap dengan transducer di tangannya.
"Hello, Twins ... nih, kelihatan dua bayinya saling berhadap-hadapan, Mom," kata Dokter Arsy menunjukkan hasil USG janin dalam rahim Indi. Sekarang memang terlihat keduanya tengah berhadap-hadapan.
Baik Indi dan Satria sama-sama tersenyum. Keduanya tidak mengira karena kedua janin bisa berhadap-hadapan seperti ini. Pastilah keduanya menggemaskan, berbagi ruangan di dalam rahim Mamanya. Satria pun memvideokan hasil dari USG itu. Itu adalah rekaman yang berharga untuk Satria karena bisa melihat tumbuh kembang buah hatinya.
"Nah, sekarang kita lihat usia janinnya terlebih dahulu yah. Bayinya sudah di usia 18-19 minggu, Mom Indi. Lalu, saya akan ukur panjangnya dan beratnya yah. Dari kepala sampai ke kakinya sudah sepanjang 14 centimeter, dan berat masing-masing janinnya sudah 200 gram. Telinganya bayi sudah terbentuk lengkap dan pendengarannya mulai sempurna. Tulang-tulang telinga tengah dan ujung saraf otaknya juga mulai berkembang. Di usia ini janin bisa mendengarkan suara-suara di luar perut, jadi sering mengajak bicara bayinya yah. Memberikan stimulasi untuk Kembar," jelas Dokter Arsy.
Selain itu, Dokter Arsy juga menyarankan untuk sering mengajak bicara, membacakan buku, memutarkan lagu pengantar tidur karena semua suara itu bisa menstimulasi otak bayi. Namun, Indi diminta untuk menghindari suara yang terlalu keras secara tiba-tiba karena bisa menyebabkan janin kaget.
"Ada keluhan enggak, Mom?" tanya Dokter Arsy kemudian.
"Tidak ada, Dokter. Alhamdulillah sih sehat ... pinggang saja yang mulai berat, Dokter ... tapi dijalani saja, dinikmati, saya sih begitu, Dok," balas Indi.
Dokter Arsy kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Mom ... dijalani dan disyukuri, kehamilan itu selalu memiliki cerita. Nanti enggak kerasa, tiba-tiba sudah tujuh bulan aja, terus lahiran deh. Sungguh, Mom ... kalau Ibunya itu menikmati kehamilan tiba-tiba sudah mau melahirkan saja, waktu seolah berjalan cepat," balas Dokter Arsy.
__ADS_1
Indi dan Satria juga menganggukkan kepalanya. Selama ini keduanya juga tidak mengeluh. Menikmati dan menyukuri kehamilannya, dengan cara itu Indi merasa sehat, dan tidak banyak keluhan setiap minggunya.