Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Temu Kangen


__ADS_3

Dari bandara, Ayah Pandu mengajak keluarganya untuk mampir ke restoran. Sekaligus supaya Irene bisa makan bersama mereka. Masih terbilang pagi, tapi pastinya Irene belum makan atau bahkan sarapan.


"Sudah sarapan belum, Dek?" tanya Bunda Ervita.


"Tadi sih cuma makan roti, Yah. Di pesawat dapat roti tadi, Yah," balas Irene.


"Kita makan dulu yah?"


Akhirnya sekarang mereka akan menuju ke tempat makan terlebih dahulu. Sebuah Soto Gerabah dan berada di tengah-tengah sawah menjadi tempat yang dikunjungi Ayah Pandu dan keluarga sekarang. Mengajak Irene untuk sarapan terlebih dahulu.


"Kita makan dulu yah," ajak Ayah Pandu.


Namun, saat itu Indi memilih hanya memesan minuman saja. Rasanya perutnya masih begitu penuh. Daripada dipaksakan makan, dan bisa membuat Indi merasa mual. Satria juga tak memaksa Indi untuk makan lagi, mengingat belum beberapa lama sejak mereka sarapan pagi di rumah.


"Mbak Indi enggak makan to, Mbak?" tanya Irene.


Sebab setahu Irene, kakaknya itu selalu suka dengan Soto Gerabah. Akan tetapi, sekarang yang ada Indi hanya memesan Teh hangat saja. Walau Irene juga melihat bahwa kakaknya lebih berisi dari biasanya, sementara Satria justru sedikit kurus, efek mual setiap pagi membuat Satria kehilangan beberapa kilogram berat badannya.


"Enggak, Rene ... tadi Mbak udah sarapan di rumah kok," balasnya.


"Kan Soto Gerabah ini kesukaannya Mbak Indi. Biasanya Mbak selalu habis dua mangkuk loh," balas Irene. Masih begitu lekat di ingatannya bahwa mbaknya itu begitu menyukai Soto Gerabah dan bisa menghabiskan hingga dua mangkuk.


"Irene dikasih tahu Mbak Didi," kata Bunda Ervita sekarang.


Irene tampak bingung, sebenarnya apa sebenarnya yang belum dia ketahui. Sehingga, Bundanya berkata demikian. Setelahnya, Irene menatap kakaknya dan juga berharap ada kabar baik yang akan dibagikan oleh kakaknya itu.


Sebelum memberitahu Irene, Indi tersenyum terlebih dahulu. Kemudian, dengan pelan-pelan, Indi berbicara kepada adiknya itu.


"Aku baru hamil, Rene. Kamu akan memiliki keponakan lagi," kata Indi.

__ADS_1


Terlihat dengan jelas Irene yang sangat bahagia. Gadis itu tersenyum lebar dan senang sekali mendengarkan kabar baik dari kakaknya itu. Ketika pulang dan mendapatkan kabar baik itu rasanya sangat bahagia.


"Wah, senengnya aku Mbak. Sudah berapa bulan, Mbak?" tanya Irene.


"Hampir 16 minggu, Rene. Doakan yah, lancar sampai persalinan nanti," balas Indi.


"Aamiin ... pasti, Mbak. Pasti aku doakan."


"Kabar bahagianya belum lengkap loh, Mbak Indi dan Mas Satria," kata Ayah Pandu sekarang.


Akhirnya Satria yang sekarang membuka suaranya. Melengkapi kabar bahagia untuk adik iparnya itu. "Ante Irene nanti dapat keponakan kembar lagi," kata Satria.


"Ya ampun ... kok bisa sih Mbak dan Mas Satria ini. Kembar lagi? Nang, adikmu nanti kembar lagi," balas Irene dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bagi Irene tentu saja dia terkejut ketika akan memiliki keponakan kembar lagi. Kenapa bisa dua kali kehamilan dan kakaknya bisa hamil kembar lagi. Itu artinya nantinya keponakan Irene akan ada empat pasang.


"HPL delapan bulanan lagi yah, Mbak? Semoga aku bisa cuti dan pulang ke Jogja. Kalau aku tidak bisa pulang karena sekolah belum libur, aku minta maaf dulu yah, Mbak," kata Irene.


"Iya, Dek ... tidak apa-apa. Jangan memberatkan hidup sendiri. Nanti aku videocall saja. Untuk Mbak sih penting doakan semuanya lancar, Mbak dan bayinya sehat dan selamat," balas Indi.


"Pasti, Mbak. Aku kan pengen motoin twins lagi. Dulu aku yang memotret Nakula dan Sadewa. Sekarang keponakannya Ante udah mau menjadi Mas. Gak lama lagi Nang-Nangnya Ante juga mau sekolah. Makin cakep, makin pinter yah Nang," kata Irene.


"Tidak apa-apa, Dek. Jauh di mata, tapi dekat di hati. Walau kita jauh, Jogjakarta dan Jakarta, tapi hubungan jangan sampai putus. Selalu akrab," balas Indi.


Irene kemudian menganggukkan kepalanya. "Pasti, Mbak. Minimal berkirim pesan yah," balasnya.


Ayah Pandu dan Bunda Ervita jujur sangat senang melihat kedua putrinya ada di depan mata. Sudah begitu lama tidak melihat Indi dan Irene bersama-sama. Selain itu, hubungan Indi dan Irene sejak kecil juga selalu akrab.


"Sudah lama Yayah tidak melihat putri-putri Yayah bersamaan. Sekarang melihat kalian bersama, rasanya senang sekali hatinya Yayah," aku Yayah Pandu.

__ADS_1


"Benar yah, Yah. Momen seperti ini sekarang rasanya begitu mahal," sahut Bunda Ervita.


Irene kemudian tersenyum. Dia menyadari pastilah ada bagian kosong di dalam hati dan hidup orang tuanya. Bukan hanya rumah yang terasa kosong, kehidupan orang tuanya juga terasa kosong. Namun, sekali lagi bahwa hidup adalah pilihan. Irene akan bertanggung jawab dengan pilihannya. Selain itu, Irene akan menjaga nama baik kedua orang tuanya.


"Rene, kabar miring yang dulu itu benar-benar tidak terjadi kan?" tanya Bunda Ervita sekarang.


Sebenarnya Bunda Ervita menahan bibir dan mulutnya untuk tak menanyakan hal itu. Namun, sebagai seorang ibu, dia juga menginginkan ada klarifikasi secara langsung dari Irene.


"Sungguh, tidak kok, Nda. Nanti kalau ada cowok yang mendekati Irene, pasti Irene akan berbicara kepada Nda dan Yayah. Irene juga kalau bisa gak mau pacaran. Langsung menikah saja, supaya tidak berdosa. Pacaran malahan nambah dosa nanti," balas Irene.


"Yayah dan Nda akan menunggu yah. Kami bukan hanya orang tuamu, tapi juga teman dan sahabatmu. Kamu sangat boleh bercerita apa saja kepada Yayah dan Nda," balas Bunda Ervita.


"Pasti, Nda. Nanti kalau ada yang dekat dan berniat serius, pasti Irene akan berbicara pertama kali kepada Yayah dan Nda. Sejauh ini belum kok, Nda," jawab Irene.


Saat berbicara dengan Irene, Bunda Ervita benar-benar menatap mata putrinya itu. Bunda Ervita sangat percaya bahwa mata itu tidak bisa berbohong. Lidah bisa bersilat dan mengatakan yang tidak benar, tapi mata tidak bisa berbohong.


"Baiklah. Makan lagi, Nda ambilin tempe goreng yah ... kamu kan suka tempe goreng," kata Bunda Ervita.


"Makasih, Nda. Seharusnya biar Irene yang mengambilkan saja, melayani Yayah dan Nda," balasnya.


Ayah Pandu dan Bunda Ervita justru menggelengkan kepalanya. "Kami senang melihat anak-anak berkumpul. Bisa temu kangen dengan anak sendiri. Mumpung Irene di Jogja, kita Staycation bersama yuk?" ajak Ayah Pandu.


"Boleh," jawab Indi dengan cepat.


"Yuk, boleh."


"Biar Mbak Indi sekalian baby moon. Eyangnya mengasuh cucu dan quality time dengan Irene," balas Ayah Pandu.


"Ke mana yah?" tanya Irene.

__ADS_1


"Kamu pengen ke mana, Dek? Kamu saja yang memilih, sekalian kamu biar bisa healing."


Ayah Pandu memilih supaya Irene uang yang memutuskan dia ingin healing ke mana. Tidak setiap hari juga Irene berada di Jogja, sehingga biarkan Irene memilih ingin menginap di sana. Yang pasti bisa memiliki waktu bersama keluarga secara lengkap.


__ADS_2