Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Di Jakarta 1


__ADS_3

Penerbangan udara menjadi hal yang menakutkan untuk Bunda Ervita. Sepanjang penerbangan, Bunda Ervita seakan tak melepaskan tangan Ayah Pandu yang selalu dia genggam. Jantungnya berdebar-debar, matanya sering kali terpejam karena benar-benar takut.


"Ada Ayah, Nda," bisik Ayah Pandu.


"Tetap saja takut. Berapa menit lagi sih? Katanya penerbangan hanya 50 menit, kenapa rasanya lama sekali?"


Suara bernada keluhan diucapkan oleh Bunda Ervita. Itu membuat Ayah Pandu tertawa kecil. Lebih dari 25 tahun menikah, istrinya itu tidak pernah mengeluh, tapi sekarang Bunda Ervita tiba-tiba banyak mengeluh. Entah itu takut, deg-degan, atau menanyakan durasi terbang yang tertera hanya 50 menit antara Jogjakarta ke Jakarta, tapi nyatanya terasa lama.


"Yah, Nda beneran takut loh," kata Bunda Ervita.


"Iya, Nda. Yayah juga tahu. Cuma kan ada Yayah di sini. Santai saja. Bayangkan masa kita muda dulu, Nda sering menemani Yayah ke luar kota. Walau naik mobil, sekarang ujicoba naik pesawat."


Bunda Ervita akhirnya terdiam. Kalau bukan untuk Irene, dia tidak ingin naik pesawat. Nanti kalau kembali dari Jakarta ke Jogjakarta, Bunda Ervita akan meminta suaminya untuk naik kereta api saja. Transportasi yang dinilai lebih nyaman untuk Bunda Ervita.


"Bayangin Nang-Nang, Nda. Lucu-lucu loh. Ini lihat foto-fotonya Nang-Nang," kata Irene dengan memberikan handphonenya.


Memang ada beberapa foto yang Irene ambil dengan objek keponakannya itu. Bahkan ada foto Nakula dan Sadewa sejak bayi. Melihat foto itu, Bunda Ervita menjadi lebih tenang. Dia menggeser satu demi satu foto cucunya itu. Ayah Pandu kemudian tersenyum kepada Irene. Itu adalah cara jitu mengalihkan ketakutan Bunda Ervita.


"Cucuku cakep-cakep. Gantengnya. Semoga nanti kalau mendapatkan cucu lagi diberikan Allah cucu yang cantik," kata Bunda Ervita.


"Aamiin. Yah, nanti kalau bukan dari Indi, dari Irene, Nda. Kan Irene nanti ya makin dewasa, bakalan ada yang meminangnya," kata Ayah Pandu.


Irene kemudian tersenyum. "Irene mau kerja dulu, Yah. Menikmati masa-masa bekerja dulu. Nikah usia 25 tahun kan tidak apa-apa," balas Irene.

__ADS_1


"Sama seperti Mbak Indi yah, Dek?" balas Bunda Ervita.


"Iya, Nda. Mau menikmati masa lajang dan bekerja dulu."


Teralihkan perhatian atas rasa takut, hingga akhirnya terdengar pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma. Bunda Ervita kembali merasakan ketakutan, dia menggenggam erat tangan Ayah Pandu dengan kuat. Sementara Ayah Pandu juga mengusapi punggung tangan istrinya itu. Hingga roda-roda pesawat menjejak ke tanah dan juga melaju begitu kencang. Sungguh itu membuat jantung Bunda Ervita serasa mau copot rasanya.


"Akhirnya tiba di Jakarta," kata Ayah Pandu.


"Ya Tuhan, jantungnya Nda kayak mau berhenti," balas Bunda Ervita dengan memegangi dadanya. Kedua kakinya saja sekarang gemetaran.


Ayah Pandu sebenarnya kasihan melihat istrinya seperti itu. Akan tetapi, Ayah Pandu merasa istrinya sudah berani mengalahkan ketakutannya sendiri. Berani terbang dari Jogjakarta ke Jakarta.


Mereka bertiga juga tidak segera turun dari pesawat, memilih menunggu dulu sembari Bunda Ervita bisa lebih menenangkan dirinya. Setelah itu, mulailah mereka menuruni pesawat dan mengambil koper-koper mereka. Menuju ke pintu keluar. Hingga akhirnya mereka memesan taksi ke tempat kost yang sudah dicari Irene sebelumnya.


Ya, di Jakarta nanti Irene memutuskan untuk kost di tempat yang tidak begitu jauh dari sekolah tempatnya mengajar. Jarak tempuh tempat kost itu dengan sekolah tempat Irene mengajar hanya sepuluh menit kalau ditempuh dengan berjalan kaki.


"Ini Jakarta, Nda," kata Irene kepada Bundanya.


"Panas banget yah di sini. Seumur hidup baru kali ini Nda menginjakkan kaki ke Jakarta," balas Bunda Ervita.


"Masak sih, Nda?"


Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepalanya lagi. "Iya, baru kali ini Nda ke Jakarta. Seumur hidup. Kamu tahu kan alasan Bunda tidak mau ke Jakarta karena tidak mau naik pesawat. Sekarang demi mengantar putrinya Bunda, Nda mau mengalahkan rasa takut itu."

__ADS_1


Irene terharu mendengarnya. Untuk anak, orang tua akan berusaha melakukan apa saja. Sama seperti Nda-nya yang pada akhirnya berani mengalahkan rasa takutnya dan menaiki pesawat terbang untuk mengantar putri bungsunya ke Jakarta.


"Ya sudah, akhir minggu nanti pulang ke Jogjakarta, kita naik pesawat lagi yah, Nda?" ajak Ayah Pandu.


Dengan cepat Bunda Ervita menggelengkan kepalanya. "Enggak, enggak mau, Yah. Udah toh, Yah. Bunda ketakutan banget. Kita bersantai naik kereta aja. Biar Indi dan Satria menjemput kita juga lebih dekat hanya di Stasiun Tugu."


Ayah Pandu kemudian tersenyum. Dia hanya sekadar menggoda. Toh, pulangnya dengan menaiki kereta juga tidak masalah. Dari bandara, mereka menaiki taksi menuju tempat kostnya Irene. Memang sebelumnya Ayah Pandu berpesan supaya Irene mencari tempat kost yang bagus, dan jaraknya tak begitu jauh dari tempat kerja. Walau memang harga sewanya lebih mahal.


Setibanya di kost itu, Irene diterima baik oleh Ibu kost yang ternyata adalah orang asli Surabaya. Irene juga mengenalkan kedua orang tuanya yang akan berada di Jakarta untuk satu minggu lamanya. Tak lupa, ada oleh-oleh yang Bunda Ervita berikan untuk ibu kost itu.


"Sedikit oleh-oleh dari Jogja, Bu."


"Wah, bikin saya kangen ke Jogjakarta. Walau Jakarta ke Jogjakarta dekat, cuma lewat saja karena harus menempuh perjalanan ke Timur. Ke Surabaya," balas Ibu kost itu.


"Titip putri kami yah, Bu. Selama putri kami tinggal di Jakarta," kata Bunda Ervita.


"Iya, Bu. Mbak Irene kelihatan baik dan pintar. Pasti semuanya baik-baik saja," balas Bu Kost.


Setelah itu, mereka beristirahat bersama di kost. Bunda Ervita merasa pusing setelah naik pesawat. Sehingga dia tidur sebentar walau saat memejamkan mata rasanya berputar-putar. Sementara Ayah Pandu juga tidur di sofa. Seadanya terlebih dahulu. Yang penting Bunda Ervita dan Ayah Pandu sudah tahu bahwa lingkungan kost Irene berada di lingkungan yang baik, tidak jauh dari jalan raya.


Selain itu, di ujung jalan juga ada minimarket dan juga berbagai warung yang menjual makanan. Setidaknya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bisa dijangkau dengan lebih mudah dan Irene bisa berjalan kaki saja.


"Ini area perumahan yah, Dek?" tanya Ayah Pandu.

__ADS_1


"Iya, Yah. Masuk ke dalam lagi, katanya sih lingkungan perumahan elite. Makanya harga sewanya lebih mahal. Ini di dalam kamar juga ada mini kitchen, kamar mandi dalam, dan AC, Yah. Jadi lebih privasi," balas Irene.


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Memang terkesan lebih privasi dan lebih nyaman. Semoga saja nanti Irene bisa mandiri dan menjaga diri selama tinggal di Jakarta.


__ADS_2