
Dari Bukit Sekipan, sekarang Rama Bima mengantarkan Satria dan Indi ke sebuah hotel berbintang dan selalu direview bagus untuk pelanggan. Hotel dengan pemandangan persawahan, perbukitan, bahkan Gunung Lawu yang agung itu menyuguhkan panorama yang sangat indah. Oleh karena itu, Rama Bima berniat supaya Satria dan Indi memiliki sensasi liburan berdua yang indah dan berkualitas tentunya.
Bahkan Rama Bima sekaligus yang membayari hotel itu untuk Satria dan Indi. Sebenarnya, hotel itu memang sangat bagus. Namun, para orang tua memilih pulang dan tidak mengganggu Satria dan Indi. Para orang tua memahami, nanti kehidupan suami istri juga berubah ketika sudah memiliki anak. Sekarang, waktunya memberikan waktu untuk Indi dan Satria terlebih dahulu.
"Besok Rama dan Ibu jemput waktu kalian cek out yah," kata Rama.
"Jadi, kayak anak sekolah yang diantar ke sekolah dan nanti pulangnya dijemput," balas Satria.
Semua yang ada di sana pun tertawa. Bagaimana tidak, Satria dan Indi tidak hanya diantar, tapi juga dibayarin, dibekali camilan katanya di kaki gunung yang dingin kalau membutuhkan camilan biar siap sedia, dan esok hari akan dijemput kembali. Oleh karena itu, Satria menganggapnya seperti mengantar anak sekolah dan nanti pulangnya dijemput kembali.
"Tidak apa-apa. Tanda kasih sayang orang tua," balas Rama.
Ayah Pandu juga menganggukkan kepalanya. "Iya, orang tua memiliki cara tersendiri untuk menyayangi anak-anaknya. Baiklah, sehat yah kalian berdua. Hati-hati, Sat ... ingat putrinya Yayah baru hamil loh. Hati-hati," pesan Ayah Pandu.
Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Untungnya, Satria membawa ransel kecil berisi pakaian ganti untuknya dan Indi. Sehingga, kala mendadak seperti ini, ranselnya akan sangat berguna. Kemudian Satria mengajak Indi menuju ke lift, menuju ke lantai empat, tempat di mana kamarnya berada.
"Healingnya semakin lama," kata Indi.
"Benar, Sayang. Nah, ini kamarnya," kata Satria.
Sekarang Satria mengajak Indi menuju ke balkoni yang ada di kamarnya. Melihat pegunungan hijau yang sangat indah, ada kabut awan yang turun dari pegunungan kian ke bawah. Walau waktu hendak pukul tiga sore, tapi udara dingin sudah menyapa keduanya. Lebih dari itu, suasana yang sejuk membuat keduanya seolah melakukan healing bersama.
"Indah banget yah, Mas," kata Indi.
"Iya, hotel ini selalu direview bagus oleh pelanggan kok. Mau renang?" ajak Satria.
"Enggak ah, malas. Mending melakukan hal yang lain. Harinya berkabut gini dan dingin, kalau renang bisa-bisa aku langsung masuk angin, Mas," balas Indi.
Satria tersenyum, dia kemudian merangkul istrinya itu. "Menghabiskan waktu berdua aja yah ... boleh?" tanyanya.
"Boleh, penting Mas Satria jangan terlalu semangat yah. Jaga-jaga ada adik bayi," balas Indi.
"Siap, Sayangku."
Akhirnya keduanya memilih bergantian mandi terlebih dahulu. Lantaran berada di pegunungan, kala tidak memakai air hangat, air biasa saja rasanya sangat dingin. Bahkan usai mandi, Indi seperti menggigil kedinginan padahal kala itu dia sudah mandi dengan air dingin.
__ADS_1
"Kedinginan?" tanya Satria.
"Iya, dingin banget," balas Indi dengan memeluki dirinya sendiri.
"Sini, peluk," balas Satria.
Tak butuh waktu lama, Satria segera memeluk istrinya itu. Padahal tadi Satria sendiri yang mengatur temperatur airnya menjadi hangat. Masak mandi air hangat saja, Indi sudah begitu kedinginan. Satria sampai menarik selimut dan membuat Indi merasa lebih hangat.
"Kamu sakit?" tanya Satria kemudian.
"Enggak, rasanya cuma dingin saja," balas Indi.
Satria mengurai pelukannya sesaat. Rupanya di luar sana kabut semakin turun. Hujan juga membasahi area di kaki gunung itu. Pantas saja kalau Indi merasa dingin. Oleh karena itu, Satria menaikkan temperatur pendingin ruangan di kamar mereka.
"Sini, biar enggak dingin," kata Satria.
Agaknya sekarang Satria memiliki cara untuk membuat Indi tidak lagi merasakan kedinginan. Dia memeluk Indi dengan begitu erat. Tak hanya itu, tangan Satria bergerak dan memberikan usapan di lengan, tengkuk, dan sisi wajah Indi dengan begitu hati-hati. Usapan itu rasanya pelan dan justru meninggalkan rasa menggelitik untuk Indi.
Merasakan tubuh istrinya masih dingin, Satria lantas merebahkan Indi dengan pelan-pelan. Lantas, Satria berusaha mengungkung Indi, walau demikian dia berusaha tidak menindih Indi, terlebih di area perut. Dalam posisi sedekat ini, Indi membelai perlahan sisi wajah suaminya. Hingga Satria membawa satu tangan Indi yang sekarang membelai sisi wajahnya itu dan mengecupnya perlahan.
"Lumayan, tidak sedingin tadi," balas Indi.
Entah karena atmosfernya, atau karena staycation di hotel, dan udara dingin di kaki gunung rasanya Indi sendiri merasa berdebar-debar. Terlebih sudah lama tidak melakukan hubungan suami istri. Rasanya, Indi seperti menunggu dalam resah dan menantikan apa yang hendak suaminya lakukan selanjutnya. Sementara Satria justru menatap wajah Indi yang ada di bawahnya. Dari kedua bola mata yang saling bersitatap, hingga akhirnya Satria mulai kian memangkas jarak bibirnya dan melabuhan kecupan di bibir Indi.
Rasanya hangat dan manis. Satria mulai memenjamkan mata. Sekarang, Satria merasa inilah waktu yang tepat. Dia kecup dengan hati-hati dua belah lipatan bibir istrinya. Menyapa dalam kesan hangat dan basah. Menciptakan harmoni yang kian dari dua bibir yang saling bertemu. Saling memagut, saling mencecap, dan juga saling menyapa. Dua nafas saling membelai dalam kesan hangat, dua bibir saling mengusap. Sangat indah rasanya.
Satria pun memiringkan sedikit wajahnya. Dia tak segan untuk merasai hangatnya rongga mulut istrinya, membelai dengan lidahnya. Usapan yang sangat menggelitik. Kian dalam ciuman yang Satria labuhkan, kian Indi menghela napas dan memanggil nama suaminya.
"Mas ... Sa ... tria."
Indi merasa kian limbung rasanya. Indi benar-benar mendebarkan untuk Indi. Memang bukan yang pertama, tapi dalam suasana sedekat ini serasa membuat Indi merasakan pengalaman mereka yang pertama. Degupan jantungnya kian menjadi-jadi kala merasa bibir suaminya yang sekarang memberikan jejak-jejak basah di lehernya. Indi sampai menghela napas beberapa kali.
"Sayang," panggil Satria.
Satria benar-benar tersulut api. Dia merasa tidak bisa bertahan jika hanya sampai di sini. Usai itu, Satria mengurai tindakannya sejenak, dia wajah Indi yang memerah itu.
__ADS_1
"Boleh aku lanjutkan?" tanya Satria.
Indi mengangguk perlahan, "Boleh, Mas ...."
Sinyal yang diberikan Indi membuat Satria melemah. Pria itu sekarang melepaskan kancing demi kancing di kemeja yang Indi kenakan. Dia bak kesusahan menelan salivanya sendiri melihat sembulan dada yang kian membesar di sana. Semua itu wajar karena untuk Bumil mulai ada produksi laktosa ketika mereka mulai hamil.
Tangan Satria pun meloloskan wadah berenda yang ada di sana. Dia ingat dengan pesan Dokter tak boleh mengeksplorasi area dada. Namun, bagaimana kalau Satria sendiri begitu mendamba. Maka, pria itu menurunkan wajahnya dengan perlahan-lahan. Lantas, dia pegang dan sapa bulatan indah yang sekarang kian berisi itu. Oh, Satria merasa benar-benar terhipnotis rasanya. Terlebih Indi tidak memberikan penolakan. Yang ada Indi justru membenamkan wajah suaminya di dadanya. Keduanya menggelora bersama. Bahkan Indi yang semula merasa kedinginan, perlahan-lahan merasakan tubuhnya panas. Ya, suhu tubuhnya naik dengan sendirinya.
Satria pun setelahnya, meloloskan busana keduanya. Membiarkan kepolosan yang menemani keduanya untuk mereguk manisnya nektar cinta. Jengkal demi jengkal lapisan epidermis Indi tak ada yang terlewatkan oleh Satria. Ya, dia sangat memuja istrinya dengan caranya. Membiarkan Indi benar-benar terombang-ambing dalam samudra.
Bergerak kain turun ke bawah hingga akhirnya Satria menyapa lembah di sana. Memadukan dengan usapan dan tusukan dengan ujung lidahnya. Baru sebentar saja Indi sudah memekik. Napasnya kian berat. Sensainya sungguh luar biasa. Satria benar-benar membuat Indi kehilangan kesadarannya. Kini dalam usapan yang Satria berikan rasakan kian Indi kehilangan dirinya sendiri. Kewarasannya kian hilang, terkikis dengan sensasi memabukkan yang membuatnya gila.
"Mas ... Mas Satria ...."
Indi menarik wajah suaminya dari bawah sana. Dia benar-benar merasakan pelepasan yang dahsayat. Sementara, Satria tersenyum puas bisa memberikan kepuasan untuk istrinya sendiri. Tak ingin merasakan sensasi indah seorang diri, Indi juga melakukan yang terbaik untuk suaminya. Dari dada hingga turun kian ke bawah. Satria juga menghela napasnya. Sensasi ini memporak-porandakannya. Satria merasa sama gilanya dengan istrinya tadi. Sapaan hangat membungkus pusakanya. Satria sampai menggelengkan kepalanya.
"Sudah, Sayangku."
Suara Satria kian parau. Kini dia merebahkan Indi kembali. Lantas, Satria mulai menempatkan dirinya, menyatukan diri dengan menggenggam tangan Indi di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Seketika Indi merasa dirinya penuh. Sempurna. Indi memejamkan mata. Refleks, wanita itu sampai mengecup perlahan puncak bahu suaminya.
"Mas Satria ...."
"Ya, Sayang ... Astaga. Indah banget."
Satria mengakui bahwa ini adalah samudra yang indah. Terombang-ambing di lautan lepas, ada desiran dan gelenyar yang membuat keduanya merasakan sensasi yang tak ada diksi untuk mendeskripsikannya. Keduanya berpadu menciptakan sensasi liat dan erat. Walau begitu, Satria mengurangi kekuatannya untuk memacu. Dia teringat bahwa di dalam rahim istrinya ada dua buah hatinya di dalam sana. Oleh karena itu, Satria mengurangi ritmenya. Walau begitu, hujaman demi hujaman yang Satria berikan benar-benar luar biasa.
Mata Indi kian terpejam erat. Tak ada lagi rasa dingin, yang ada justru panas. Semua itu karena tubuh keduanya yang berpeluh. Berpadu. Layaknya memberi dan menerima. Penuh, tapi tak merasa kehilangan. Memberi dan membagi, tapi lumbung keduanya tak pernah berkurang.
Hingga di batas, hujaman Satria menjadi-jadi. Sekarang, Satria berdiri di tepi jurang. Dia tak bisa lagi menahan, melainkan dia meledak dan pecah. Dia memenuhi Indi dengan setiap bagian dirinya yang tumpah ruah. Luar biasa rasanya.
"I Love U, Sayangku ... oh, luar biasa!"
Indi memeluk suaminya itu dengan kian erat. "Love u too, Mas Satriaku."
Healing terindah dengan berbagi peraduan bersama. Menciptakan harmoni, hingga benar-benar terombang-ambing dalam kenikmatan yang tak bertepi.
__ADS_1