Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Video Call Ante Irene


__ADS_3

Keesokan Harinya, pagi hari ada panggilan video yang masuk ke handphonenya Indi. Untung saja Indi sudah bangun, dan handphonenya memang dalam mode dering. Sehingga dia mendengar kala ada panggilan masuk itu.


"Sayang, handphone kamu berbunyi," kata Satria kepada Indi. Saat itu mereka sedang berada di meja makan.


"Tumben, biasanya enggak pernah ada yang menelpon di pagi hari," balas Indi.


Akhirnya Indi mengambil handphonenya dan melihat ada panggilan video dari adiknya yaitu Irene. Indi pun segera menggeser ikon video ke atas untuk menerima panggilan video itu. Begitu sudah tersambung di layar muncul wajah Irene pagi itu.


"Halo Mbak Indi," sapa Irene.


"Ya, halo Dek ... tumben pagi-pagi telepon video?" tanya Indi.


Irene kemudian mengambilkan kepalanya. "Iya, Mbak. Aku kangen sama Nang-Nang. Semalam aku mimpi kok gendong Nang-Nang. Duh, kangen jadinya," kata Irene.


Rupanya Irene menelpon sepagi itu karena kangen dengan kedua keponakannya. Indi juga tertawa mendengarkan cerita dari adiknya itu. Lalu, Indi mengarahkan kamera kepada Nakula dan Sadewa yang sudah mandi dan sedang disuapin Bunda Ervita sarapan.


"Loh, kok ada Nda? Nda, Assalamualaikum," sapa Irene yang sedikit histeris. Itu artinya Mbaknya sedang menginap di rumah Bunda Ervita.


"Waalaikumsalam, Dek. Ayo, sarapan. Kamu sudah sarapan belum?" tanya Bunda Ervita.


Irene kemudian tersenyum. Kangen dengan suasana sarapan pagi di rumah. Duduk semeja dengan Yayah Pandu dan Nda Ervita. Sembari mengobrol ke sana - ke mari dengan tertawa. Sungguh suasana kekeluargaan seperti itu, Irene rindukan.


"Sarapan, Dek," sapa Ayah Pandu.


"Yah, sarapan apa, Yah? Irene kangen," balasnya.


"Sarapan Nadi Pecel, Dek. Kamu sudah mau berangkat kerja? Mau enggak, Ayah paketkan sepeda motor kamu ke Jakarta?"


Ayah Pandu sebelumnya memang memikirkan untuk mengirimkan sepeda motor milik Irene. Setidaknya kalau Irene berangkat kerja atau ingin kemana-mana tidak perlu berjalan kaki. Kasihan kalau Irene tidak bisa kemana-mana.

__ADS_1


"Tidak usah, Ayah. Kan Irene di sini cuma bekerja. Males kemana-mana juga, Yah. Kalau Irene pengen nanti naik Bus Trans Jakarta atau LRT aja, Yah. Kan sudah diresmikan tuh LRT-nya. Naik sepeda motor di Jakarta juga serem deh, Yah."


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Memikirkan bahwa ucapan Irene ada benarnya juga karena arus lalu lintas di Jakarta lebih ramai. Kalau memang Irene lebih nyaman memakai transportasi publik tidak ada salahnya.


"Yang pasti hati-hati yah, Dek. Jaga diri dan jaga kesehatan. Tingkat polusi di Ibukota sedang tinggi," balas Ayah Pandu.


"Iya, Yah. Irene sekarang memakai masker kalau keluar kost, Yah. Langitnya redup, tapi bukan mendung. Melainkan polusi udara. Parah banget, Yah."


Bunda Ervita tersenyum mendengar anaknya yang bisa berbicara banyak hal kepada Ayah Pandu itu. Walau begitu, Bunda Ervita rasanya ingin Irene di rumah saja. Berkumpul bersama. Kangen sekali dengan putri bungsunya itu.


"Pengen makanan apa dari Jogja, Dek? Nanti Nda kirimin dari Jogja," tanya Bunda Ervita.


"Lain kali mau Bakpia Pathok yah, Nda. Yang rasa Kacang Hijau dan Keju, itu saja, Nda."


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Pasti nanti dia akan mengirimkan makanan khas Jogja yang diminta Irene itu. Indi kemudian juga menanyai.


"Boleh, Mbak. Aku menerima semuanya kok. Maklum sekarang jadi anak kost, Mbak."


Di seberang sana Irene tertawa-tawa. Baru sekarang dia merasakan menjadi anak kost. Harus memutar uang supaya cukup untuk hidup sebulan. Nanti barulah dia bisa bernapas panjang kalau sudah mendapatkan gaji. Yah, walaupun memang kemarin Ayah Pandu memberikan uang saku yang terbilang cukup banyak. Bahkan bisa untuk tiga bulan ke depan. Irene sebenarnya tidak mau terlalu banyak, tapi Ayah Pandu tidak ingin putrinya hidup di kota orang dengan serba berkekurangan.


"Jadi, nanti kalau Nang-Nang sekolah, gak jadi diajar Ante Irene dong?" tanya Indi.


"Belum tahu juga, Mbak. Aku akan berada di Jakarta atau nanti pulang ke Jogja. Kan ini mencari pengalaman dulu, Mbak. Biar ijazahku laku. Masak Yayah dan Nda nyekolahin tinggi-tinggi, Ijazahnya enggak dipergunakan. Sayang kan?"


"Iya, Dek. Kalau pulang ke Jogjakarta kasih tahu aja. Nanti aku jemput sama Mas Satria di Bandara," balas Indi.


"Aman, Mbak. Kalau sudah di Jakarta gini kangennya sama Jogja. Kangen pengen ngumpul sama keluarga," balas Irene.


"Tidak apa-apa, Dek. Kamu pasti bisa. Lebih mandiri dan belajar semakin dewasa. Sebab, keputusan harus mengambil sendiri. Tidak sepenuhnya bergantung kepada Yayah dan Nda. Mbak bangga sama kamu," balas Indi.

__ADS_1


Irene tersenyum. Pagi-pagi sudah mendapatkan semangat dari Indi membuatnya yakin bisa melewati semuanya di Jakarta. Belajar juga membutuhkan proses, karena itu Irene akan terus belajar.


"Mbak, pengen gendong dan nyayang Nang-Nang, gimana yah?" tanya Irene.


Indi tertawa. "Sabar yah, Dek. Nanti kalau kamu dapat jatah liburan dan pulang ke Jogjakarta, bisa maen sepuasnya sama Nang-Nang," kata Indi.


"Oke, Mbak."


Setelah itu, Irene pamit untuk menyudahi panggilan video. Dia akan sarapan dan juga berangkat kerja. Keluarga di Jogjakarta pun memberikan nasihat dan juga selalu mengingatkan Irene untuk menjaga diri.


"Rindu sebenarnya Yayah sama Adekmu, Mbak," kata Yayah Pandu sekarang.


"Indi sudah tahu, Yah. Sejak kemarin Indi sebenarnya sudah tahu, tapi Indi hanya membatin saja di dalam hati," balas Indi.


"Kamu tahu dari mana?"


"Dari Yayah yang mengendarai sepeda motor milik Irene dan membeli aneka gorengan kesukaan Irene. Indi sangat tahu, Yah."


Ayah Pandu menghela napas panjang. Tidak disangka rupanya ada Indi yang memperhatikannya. Ayah Pandu kemudian tersenyum sendiri. Memang sangat rindu kepada Irene.


"Lain waktu ke Jakarta lagi yah, Nda? Kita tengokin Irene. Naik pesawat kan cuma satu jam," kata Ayah Pandu kepada Bunda Ervita.


"Jangan naik pesawat dong, Yah. Nda takut banget loh. Pas turun aja kakinya Nda gemeteran semua."


"Kan cepet, Nda. Nanti pulangnya naik kereta api lagi tidak apa-apa. Yang penting bisa sampai Jakarta dan ketemu Irene," balas Ayah Pandu.


Semua yang ada di sana pun tertawa. Di satu sisi Ayah Pandu ingin mengunjungi Irene lagi naik pesawat terbang. Sementara Bunda Ervita ketakutan. Indi dan Satria tertawa saja melihat kedua orang tuanya. Begitu juga Nakula dan Sadewa yang heboh dengan suara ocehan mereka.


Setidaknya dengan panggilan video rasa rindu terobati. Namun, kala melihat wajah Irene di layar handphone juga membuat mereka kian rindu dengan Irene. Ada yang kurang di dalam rumah itu, tapi kalau bersedih sepanjang waktu yang ada mereka akan selalu terpuruk dan tidak memiliki semangat untuk menyambut hari baru.

__ADS_1


__ADS_2