
Perjalanan malam dengan kereta api sebenarnya membuat penumpang tidak bisa melihat panorama indah di samping kanan dan kiri yang dilewati. Semuanya menjadi gelap, mungkin hanya beberapa area tertentu yang menunjukkan panorama jalanan, lampu, atau rumah-rumah warga. Namun, Ayah Pandu memilih perjalanan malam supaya bisa istirahat di dalam kereta, dan esok Indi dan Satria yang menjemput mereka juga bisa menjemput di pagi hari.
Kereta api kelas eksekutif yang mengambil rute jalur selatan pulau Jawa itu nantinya juga akan berkesempatan menikmati panorama indah menjelang matahari terbit. Benar saja, jelang matahari terbit kereta yang melaju melewati area persawahan itu bisa melihat hijaunya sawah, pegunungan, dan matahari yang terbit dari ufuk Timur.
Bagi Bunda Ervita dan Ayah Pandu ini adalah panorama yang indah. Bagaimana kilauan surya seolah menyinari ladang dan sawah. Semuanya terlihat begitu indah.
"Apa masih lama tiba di Stasiun Tugu, Yah?" tanya Bunda Ervita.
"Satu jam lagi kurang lebihnya, Nda. Indah yah pemandangannya membuat hati lebih tentram," kata Ayah Pandu.
"Ya, walaupun masih sedih dan sangat rindu dengan Irene," balas Bunda Ervita.
Kembali membicarakan Irene kedua mata Bunda Ervita berkaca-kaca. Ada telapak tangan yang ukurannya jauh lebih besar yang kini menggenggam tangannya. "Rindu itu wajar. Apalagi ke putri sendiri. Namun, kita harus percaya di Jakarta sana Irene juga merindukan kita kok. Irene sedang berjuang meraih mimpinya, tidak apa-apa," kata Ayah Pandu.
Bunda Ervita yang nyaris menangis dengan sudut bibirnya yang turun kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia kemudian berkata kepada hatinya sendiri pastilah bisa melewati semuanya. Dengan keberadaan Ayah Pandu tentunya. Sebab Ayah Pandu selalu menjadi support sistem terbaik.
Indahnya pagi hari bermandikan cahaya mentari itu sungguh indah. Dari area persawahan hingga kereta melaju hingga memasuki kota Jogjakarta. Tepat satu jam setelahnya, sudah ada pemberitahuan bahwa kereta api akan tiba di Stasiun Tugu, Jogjakarta.
"Yang akan menjemput kita siapa, Yah?" tanya Bunda Ervita.
"Indi dan Satria, Nda. Mereka sudah menunggu kita kok di Stasiun Tugu."
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di Stasiun Tugu Jogjakarta. Kembali ke kampung halaman setelah seminggu berada di Ibukota. Tidak perlu terburu-buru turun dari kereta, karena banyak juga penumpang yang turun di Stasiun Tugu. Menunggu agak longgar, barulah keduanya turun dari gerbong kereta. Berjalan beberapa meter, akhirnya mereka sudah melihat Indi dan Satria bersama kedua cucu mereka yang tampak melambaikan tangannya.
"Itu Eyang ... Eyang," sapa Indi dan Satria bersamaan.
__ADS_1
Si kembar Nakula dan Sadewa tampak menoleh ke kanan dan kiri, keduanya mencari-cari di mana sosok Eyang yang dipanggil Mama dan Papanya itu. Sepagi ini saja Nakula dan Sadewa sudah mandi saat menjemput Eyang Nda dan Eyang Kakung Pandu.
"Sudah dijemput cucu-cucu," sapa Ayah Pandu dan Bunda Ervita bersamaan.
"Iya, sehat Yah dan Nda?" tanya Satria.
"Insyaallah, kami sehat. Merepotkan kalian yah? Jam 07.00 pagi sudah harus ke stasiun," balas Ayah Pandu.
"Tidak repot sama sekali, Yah. Senang bisa bertemu Eyang lagi," balas Satria.
Indi juga demikian. Senang bisa kembali bertemu dengan Ayah dan Bundanya. Walau ada yang kurang karena tidak bertemu lagi dengan adiknya, Irene.
"Iya, kangen dengan Yayah dan Nda," balas Indi.
Bunda Ervita pun segera memeluk Indi. Kali ini Bunda Ervita berusaha untuk tidak menangis, harus kuat. Sebagaimana semalam banyak mengobrol di dalam kereta bersama suaminya untuk lebih ikhlas dan tentunya menjalani semuanya berdua. Dengan segala bentuk perubahan yang akan terjadi.
Setelah itu, Satria mengambil alih koper yang semula didorong oleh Ayah Pandu, kemudian mulai berjalan bersama menuju parkiran mobil mereka. Di sana, keluarga itu akan menuju kembali ke rumah.
Menaiki mobil, Satria yang mulai mengemudikan mobilnya dan mengantar kedua orang tuanya hingga ke rumahnya. Setibanya di rumah, Bunda Ervita sudah bisa tersenyum karena rumah sudah bersih, ada aroma masakan dari dalam rumah. Semua itu karena Indi sudah memesan kepada ART yang ada di rumah untuk memasak dan bersih-bersih terlebih dahulu.
"Wah, senangnya kami pulang ke rumah dalam keadaan bersih dan sudah tersedia sarapan," kata Bunda Ervita.
"Indi sudah berpesan ke Mbak-Mbaknya sebelumnya, Nda. Yayah dan Nda mandi-mandi dulu, biar Indi yang menyiapkan sarapan," kata Indi.
"Nang-Nang gimana?" tanya Ayah Pandu.
__ADS_1
"Nang-Nang bisa maen sama Papanya kok, Yah. Tidak apa-apa. Tenang saja, biar segar, Yah. Mandi pake air hangat," balas Indi.
Ayah Pandu kemudian tersenyum. Indi, walau bukan anak kandungnya, tapi selalu memberikan perhatian yang lebih. Bunda Ervita juga tersenyum, ketika hati masih bersedih karena berpisah dengan Irene, ada Indi yang mengisi kekosongan itu.
"Ya sudah, kami mandi dulu yah," balas Bunda Ervita.
Akhirnya Satria mengajak Nakula dan Sadewa untuk melihat ikan-ikan yang berada di akuarium, sedangkan Indi mulai menyiapkan sarapan. Kali ini menu sarapannya adalah Nasi Gudeg komplit yang sudah dimasak oleh ART di rumah itu. Selain itu, Indi juga menyeduh Teh tubruk dengan aroma melati kesukaan Ayah dan Bundanya.
Setengah jam kemudian barulah Ayah Pandu dan Bunda Ervita keluar dari kamarnya. Sudah segar karena sudah mandi. Pasangan itu tersenyum melihat meja makan penuh dengan menu sarapan dan Teh yang sudah bersedia di sana.
"Mari sarapan dulu, Yayah dan Nda," kata Indi.
"Bikin kamu repot yah, Mbak Didi?" tanya Bunda Ervita.
"Enggak, enggak repot sama sekali kok, Nda. Inilah keluarga, Nda. Bisa mengisi satu sama lain. Indi ambilkan sarapan untuk Yayah dan Nda yah," kata Indi.
Ayah Pandu kemudian membalas. "Ambilkan suami kamu dulu, Mbak."
"Mas Satria nanti tidak apa-apa, Yah. Mas Satria juga baik sebaik Yayah kok."
Satria tersenyum saja mendengar pujian dari istrinya di depan mertuanya sendiri. Akhirnya Indi mengisi piring Ayah dan Bundanya terlebih dahulu. Setelah itu barulah Indi mengisi piring kosong milik suaminya.
"Makasih yah, Mbak. Setiap kali Nda sedih karena berpisah dari adikmu, kamu selalu menghibur kami dengan caramu yang penuh perhatian dan ketulusan. Makasih, Mbak Didi."
Bunda Ervita mengatakan semuanya itu dengan mata berkaca-kaca. Terharu karena Indi baik dan tulus.
__ADS_1
"Sama-sama, Nda. Semua ini hasil didikan Yayah dan Nda juga. Bertolong-tolonglah dan saling mengisi satu sama lain. Inilah keluarga, Nda. Jangan sedih lagi ya Yayah dan Nda. Irene di sana juga belajar mandiri kok. Hanya jarak kan yang jauh, bukan hati," kata Indi.
Ayah Pandu tersenyum. Hasil didikannya untuk Indi benar-benar bernas. Sebab, putri yang selalu dia anggap sebagai putri sulungnya sendiri itu selalu mengaplikasikan setiap didikan dan ajaran yang selama ini ditabur oleh Yayah dan Bundanya.