Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Jawaban Keluarga Hadinata


__ADS_3

Satria harap-harap cemas menunggu jawaban yang hendak diberikan Ayah Pandu. Ada rasa takut saja. Semua itu karena Satria memahami kekurangannya. Mungkin saja, dia tidak layak untuk Indi sekarang. Semua orang tua menginginkan anak-anak menikah dengan orang yang mereka cintai dan mendapatkan restu penuh dari kedua orang tua. Sementara sekarang, Satria tidak bisa membawa itu. Terhalang restu dari Ramanya.


"Sebelum Yayahnya Indi memberikan jawaban, izinkan Bunda bertanya dulu, Mas Satria ...."


Sejak tadi Bunda Ervita hanya terdiam. Selain sedih karena teringat dengan dirinya dulu, di mana dia pernah berada di posisi Satria, walau cobaan yang mereka hadapi berbeda. Bunda Ervita juga ingin tahu beberapa hal yang terkait dengan masa depan, itu karena Bunda Ervita berpikir realistis.


"Kalau diusir dari rumah, Mas Satria tinggal di mana?" tanya Bunda Ervita.


"Satria sudah ada rumah di Jogjakarta, Bunda. Hasil kerja Satria beberapa tahun dan warisan dari Eyang yang dari pihak Ibu," jawab Satria.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Dari jawaban Satria setidaknya untuk kebutuhan papan, tidak ada masalah karena Satria sudah memiliki rumah. Besar atau kecil, mewah atau tidak, dan bagaimana bentuknya yang penting memiliki tempat untuk berteduh.


"Lalu, untuk pekerjaan?" tanya Bunda Ervita lagi.


"Memang Satria keluar dari PT milik Rama, Bunda. Di Jogjakarta, tadi pagi Satria sudah melamar kerja di tempat Eyang Dirja, dari pihak Ibu. Insyaallah, jika bertanggung jawab dan memberi nafkah untuk Indira, Satria bisa dan sanggup," jawabnya.


Memang Satria tidak ingin datang dengan tangan kosong dan tanpa persiapan. Dia tahu meminang putri orang membutuhkan tanggung jawab yang besar. Setidaknya ada papan atau rumah yang sudah Satria miliki. Selain itu, kebutuhan pokok manusia juga menyangkut dengan pangan, tanggung jawab menafkahi ini pun diatur dalam Undang-undang Perkawinan bahwa seorang suami harus memberikan nafkah.


Sebagaimana tercatat dalam Pasal 34 ayat 1, Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. "Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya." Ini berarti bahwa suami berkewajiban penuh memberikan nafkah bagi keluarganya (anak dan istri).


Berapa nominal yang Satria dapatkan ketika bekerja di perusahaan milik Eyangnya nanti Satria memang belum tahu. Akan tetapi, dia sudah memiliki pegangan terlebih dahulu untuk bisa menafkahi Indi semampunya, dengan hasil kerjanya sendiri.


"Maaf, Bukan maksud Bunda materialistis. Sama sekali bukan, tapi yang Bunda tanyakan menyangkut kewajiban seorang suami, Mas Satria. Cinta memang cinta, tapi untuk bertahan hidup setiap harinya membutuhkan hal lain, lebih dari cinta."

__ADS_1


Bunda Ervita menyampaikan kata hatinya. Sejauh ini Bunda Ervita sebagai istri tak pernah menargetkan Ayah Pandu harus memberinya sekian setiap bulannya. Akan tetapi, berapa pun yang suaminya berikan akan dia terima. Itu adalah wujud kesanggupan dan tanggung jawab seorang suami. Cinta memang perlu, materi juga dibutuhkan untuk bertahan hidup setiap harinya.


"Satria sangat tahu, Bunda. Tidak apa-apa," balas Satria.


Sementara Ayah Pandu masih diam dan tampak berpikir. Namun, sebagai ayah, dia cukup lega dua kebutuhan pokok yaitu Pangan dan Papan sudah terpenuhi. Sementara Sandang itu tidak selalu harus dicukupi. Pakaian bisa dicuci dan dipakai kembali di lain waktu. Namun, tempat berteduh dan mengisi perut itu harus ada setiap hari.


"Gaji Satria setiap bulannya, tidak tahu, Ayah dan Bunda. Sebab, hari ini Satria mulai bekerja, bulan depan baru tahu. Namun, Satria sanggup dan pasti akan bertanggung jawab atas Indi secara penuh."


Sekarang Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Setidaknya sudah bisa menelaah semuanya. Namun, Ayah Pandu juga bukan sosok yang egois, bagaimana pun Indi yang menjalani kehidupan berumahtangga nanti. Jadi, sekarang Ayah Pandu menanyai putri sulungnya itu.


"Mbak Indi, tentu kamu sudah mendengarkan semua. Kalau mau dengan Satria, untuk saat ini satu yang tidak kamu dapatkan yaitu restu dari Ramanya. Kemungkinan juga, melihat permasalahan Satria, kalian juga tidak akan diterima di keluarga besar Negara. Ayah bertanya, apakah kamu masih menerima Satria? Dengan segala konsekuensinya," tanya Ayah Pandu.


Ya, setidaknya bukan hanya restu. Akan tetapi, besar kemungkinan mereka berdua akan terasing dari keluarga Negara. Ayah Pandu hanya memberikan gambaran terlebih dahulu kepada putrinya.


Di sana Indi mulai menangis. Kalau cinta pastilah cinta. Selain itu, yang Satria lakukan untuk dirinya juga terlampau besar. Sampai pergi dari rumah dan mengejar apa yang dimaui hatinya. Sementara, di satu sisi tidak memungkiri bahwa Indi juga menginginkan restu dari kedua orang tua Satria. Sebab, pernikahan tidak hanya menyatukan kedua individu, tapi menyatukan kedua keluarga.


Kembali melihat air mata Indi membuat Satria benar-benar sedih. Setiap kali gadis yang paling dia cintai itu, Satria tidak bisa menenangkan Indi. Yang membuat dada Satria kian sesak karena Indi memang karena dirinya.


"Insyaallah, Indi mau ... Indi mau mendampingi Mas Satria," jawabnya dengan suara bergetar.


Di saat bersamaan, Satria memejamkan matanya. Kedua tangannya mengusap perlahan wajahnya. Nyaris saja air matanya menitik. Indi mau mendampinginya walau sekarang bisa dikatakan adalah titik terendah Satria.


Di satu sisi, Ayah Pandu dan Bunda Ervita saling pandang. Mereka tahu Satria dan Indi memang saling mencintai. Sukar memisahkan keduanya. Ada keteguhan hati juga yang membuat keduanya memiliki ikatan yang semakin kuat.

__ADS_1


"Ayah memuji keberanianmu datang dan kejujuran kamu apa adanya, Nak Satria. Namun, konsekuensinya kalian harus siap. Pertama bisa saja dilain waktu Rama kamu memaksa kalian berpisah, kedua pernikahan kalian yang tak disetujui Rama dan kalian dikucilkan keluarga Negara. Apakah kalian siap dengan semua?" tanya Ayah Pandu.


"Insyaallah, kami siap ...."


Indi dan Satria sama-sama menjawab. Walau jalan cintanya terjal dan berliku, mereka ingin melewati semuanya bersama-sama. Semakin kencang angin, akan semakin erat mereka bergandengan tangan bukan?


"Baiklah, jika itu keinginan hati kalian ..., tapi Nak Satria, Ayah ingin kalau kamu menikahi Indi, nikahilah secara resmi sah di mata Allah, agama, dan iman kalian. Selain itu sah di mata negara. Dengan begitu, hubungan ini akan kuat. Kalau, hanya sekadar pernikahan di bawah tangan, Ayah tidak mengizinkannya," kata Ayah Pandu.


"Niat hati Satria memang akan meminang Indi secara sah, Yah. Walau hanya sekadar akad. Maaf," balas Satria.


Jujur saja dengan keadaannya sekarang sukar baginya untuk mewujudkan resepsi impian. Dia hanya bisa meminang Indi secara sah di mata agama dan negara. Selain itu, mahar pernikahan juga Satria siap untuk memberikan.


"Baiklah, Ayah setuju, Bunda setuju?" tanya Ayah Pandu.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. "Bunda setuju, asal jangan mengusik ketidaknasaban Indi, Mas Satria. Jelas yang bersalah dulu adalah Bunda, bukan Indi. Jangan sampai memecahkan gelas kaca," kata Bunda Ervita.


"Baik, Bunda," jawab Pandu.


"Baiklah Mas Satria bisa mulai mempersiapkan pencatatan pernikahan. Hari dan tanggal tidak masalah, Ayah dan Bundamu percaya bahwa semua hari itu baik adanya. Walau sekadar akad, asal sah itu jauh lebih dari cukup," kata Ayah Pandu.


Satria benar-benar lega sekarang, keluarga Hadinata benar-benar baik. Mau menerimanya. Dia datang meminta Indi dengan berbagai kekurangan yang dia miliki sekarang. Namun, Keluarga Hadinata mau menerimanya. Satria menitikkan air mata, pemuda itu keduanya bersimpuh di kaki Ayah Pandu dan Bunda Ervita.


"Matur sembah nuwun, Ayah dan Bunda ... matur sembah nuwun," kata Satria dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Sudah ... sudah."


Ayah Satria dan Bunda Ervita meminta Satria berdiri dan memeluknya bersamaan. Asalkan cinta disertai dengan tanggung jawab, pasti akan ada jalan. Itu tandanya bukan sekadar cinta buta. Oleh karena itu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita, rela dan tulus memberikan putri sulungnya untuk dipinang Satria.


__ADS_2