Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Trimester Akhir


__ADS_3

Kehamilan kedua ini rasanya begitu cepat untuk Indi. Sebab, tidak terasa sekarang usia kehamilannya sudah memasuki Trimester akhir. Jujur, pada kehamilan kali ini, Indi merasa banyak cemasnya.


"Kenapa, Sayang ... gak bisa tidur?" tanya Satria sekarang.


Satria tahu istrinya itu tak bisa tidur karena beberapa kali Indi mengubah posisi tidurnya. Kadang miring ke kanan, kadang miring ke kiri. Selain itu, Indi juga terlihat gelisah. Hari padahal sudah menunjukkan jam 22.00 malam. Sebab, biasanya Indi pastilah sudah tertidur di jam segini.


"Aku kepikiran adik bayi kok, Mas," balas Indi dengan membuang napas panjang.


Satria kemudian membantu Indi untuk duduk dengan bersandar di head board. Selain itu, Satria juga menaruh beberapa bantal di punggung Indi, tujuannya supaya istrinya itu bisa duduk dengan lebih nyaman ketika kehamilannya sudah begitu besar.


"Kan periksa dua hari lalu, Babies kita masih belum benar posisinya, Mas. Aku sedikit cemas," balas Indi.


Benar yang Indi sampaikan bahwa dia hari lalu ketika mereka mengunjungi dokter Arsy dan memeriksakan kandungannya. Saat itu, posisi bayinya semi melintang. Seharusnya saat trimester ketiga kepala bayi sudah mulai turun ke tulang panggul, tapi sekarang posisi bayinya adalah melintang. Itu membuat Indi cemas.

__ADS_1


"Masih 36 minggu, Sayang. Saran dari dokter dilakukan dulu. Ikut senam hamil dan posisi menung-ging yah, biar posisinya Babies bener," balas Satria.


Saat kontrol kemarin memang dokter Arsy memberikan advice supaya Indi bisa mengikuti senam hamil. Ada beberapa posisi juga yang disarankan untuk memperbaiki posisi bayi yang sungsang dan melintang di dalam kandungan. Sebagai suami, Satria juga memberikan dukungan penuh kepada istrinya itu.


"Iya, Mas. Doakan juga yah. Jujur, kehamilan kali ini rasanya lebih deg-degan," balas Indi.


Satria kemudian mengusapi perut istrinya yang menyembul dan begitu membuncit itu kemudian satria melakukannya sounding kepada kedua buah hatinya yang masih berada di rahim istrinya.


"Babies ... anak widoknya Papa (anak perempuannya Papa - dalam bahasa Indonesia), yuk, posisinya yang benar yuk. Kepalanya babies yang benar yah, turun dan masuk ke tulang panggulnya Mama. Kasihan Mama cemas loh," kata Satria.


"Makasih, Mas. Beda kehamilan, beda ceritanya yah Mas ... dulu waktu hamil Nakula dan Sadewa semuanya berjalan mulus. Seakan tidak ada drama seperti ini. Sekarang, ketika memasuki Trimester akhirnya, kepalanya babies malahan belum masuk. Posisinya melintang juga. Yah, aku jadi cemas sih," balas Indi.


Satria memahami bagaimana istrinya sekarang. Namun, Satria juga percaya kehamilan selalu memiliki ceritanya masing-masing. Dulu, saat kehamilan Nakula dan Sadewa seakan semuanya berjalan lancar. Bahkan Indi bisa bersalin secara normal saat melahirkan kedua putra kembarnya. Sekarang, memasuki trimester akhir justru babies mereka berubah posisinya dan kini menjadi melintang.

__ADS_1


"Senam hamil dulu, sarannya dokter dilakukan dulu. Terus diajak ngobrol babies kita. Dua minggu lagi, saat kita bertemu dengan dokter Arsy, waktu USG semoga posisinya sudah benar," balas Satria.


"Hm, iya Mas. Lega udah bisa cerita sama kamu," balas Indi sekarang.


"Harus cerita sama aku. Lagian aku juga pasti mendengarkan semua ceritamu. Kita menjadi teman berbagi, teman bercerita hingga akhir hayat nanti, Sayang."


Ucapan Satria yang teduh dan pembawaannya yang begitu sabar membuat Indi tersenyum. Seolah rasa cemas di dalam hati sudah berhasil dia tekan.


"Masih mau cerita lagi?" tanya Satria.


Indi sekarang menggelengkan kepalanya. "Enggak, udah lega kok setiap kali bisa bercerita sama kamu. Sekarang, aku mau bobok deh, Mas."


"Ya sudah, buruan bobok. Aku usapin perut kamu dulu, kamu bobok aja."

__ADS_1


Ketika Indi sekarang mengubah posisinya dan mengambil tidur dengan posisi miring ke kanan karena inilah posisi yang dianjurkan oleh dokter, Satria mengusapi perut istrinya itu dengan tangannya. Sementara satu tangannya yang lain, dia gunakan untuk menyangga kepalanya.


Satria tahu ketika minggu bertambah minggu dan kehamilan sudah memasuki trimester tiga, rasanya akan semakin berat. Selain itu, para ibu hamil akan lebih membutuhkan persiapan secara mental untuk menjelang persalinan nanti. Satria berharap istrinya itu tidak akan cemas. Melainkan, bisa menikmati masa-masa kehamilan yang hanya tinggal hitungan minggu.


__ADS_2