Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pingitan Manten


__ADS_3

Dari proses mendaftarkan administrasi pernikahan menuju ke hari H akad dibutuhkan waktu sebulan lamanya. Tidak terasa sudah tiga pekan berlalu. Tinggal menghitung hari bagi Satria dan Indira untuk melangsungkan akad.


Kali ini, dari pihak Eyangnya Satria yaitu Eyang Dirja dari pihak Ibu Galuh meminta Satria dan Indira tetap melakukan tradisi pingitan. Tradisi pingitan atau dipingit merupakan salah satu tradisi yang masih berlangsung di sebagian wilayah di Indonesia. Tradisi ini paling umum dijumpai dan dikenal dilakukan oleh Suku Jawa yang melakukan tradisi ini sejak zaman kerajaan.


"Dipingit dulu ya, Mbak Indi," kata Bunda Ervita.


"Seminggu yah, Nda?" tanya Indi sekarang.


"Iya, biar nanti kalau ketemu Satria waktu akad pangling, aura pengantinnya keluar," balas Bunda Ervita dengan tertawa.


Memang ada beberapa tujuan kenapa Pingitan masih dilakukan sampai sekarang, yaitu menanam rasa rindu bagi kedua calon pengantin, membangun rasa percaya satu sama lain, dan menjauhkan diri dari berbagai macam bahaya.


"Bunda dulu dipingit juga tidak?" tanya Indi.


"Enggak, dulu Bunda tinggal di rumah kecil di pekarangan Eyang, Mbak. Ketemu terus sama Yayah kamu. Berawal dari orang yang ditolong, akhirnya menjadi menantu keluarga Hadinata," cerita Bunda Ervita.


"Oh, rumah kecil itu, Nda?" tanya Indi.


"Iya, itu rumah bersejarah untuk kita. Bunda dan kamu tinggal di sana sampai dua tahun lamanya. Kamu dari berumur beberapa hari dan sampai berusia dua tahun. Hari demi hari kamu tumbuh, dan mengenal sosok Ayah dari Yayah Pandu," cerita Bunda Ervita.


Kadang jika mengingat masa lalu, suka dan dukanya dulu, air mata bisa mengalir begitu saja. Namun, Bunda Ervita akan selalu ingat bahwa tanpa masa lalu yang berliku, tak mungkin dia bisa dekat dan pada akhirnya berjodoh dengan suaminya.


"Indi sudah sayang Yayah sejak kecil yah, Nda?" tanya Indi.


"Iya, kalau sore dulu sering main sama Yayah di Pendopo. Maaf yah, Mbak Indi," kata Bunda Ervita.


Akan tetapi, Indi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Nda. Biarkanlah semua masa lalu. Awalnya Indi memang kecewa, Indi ingin menjadi putri kandungnya Yayah, Nda. Namun, Indi tahu bahwa kita tidak pernah bisa memilih dari siapa kita lahir, siapa orang tua kita. Sebab semua sudah Allah tentukan."

__ADS_1


Mencoba untuk merespons apa yang sudah terjadi secara positif. Indi sudah bisa menerima masa lalu Bundanya, masa lalu yang tentunya berkaitan erat dengan asal-usul dirinya. Awalnya memang kecewa, bahkan kekecewaan itu Indi rasakan dengan murung beberapa hari, ada kalanya dia menangis kala adiknya lebih manja ke Yayah Pandu.


Akan tetapi, Indi bisa menyingkapinya. Proses kedewasaan yang Indi alami membuatnya kini lebih bisa menerima. Lebih dari itu, Indi juga memaafkan ayah biologisnya.


"Yah, begitu Mbak... kamu sudah dewasa sekarang. Buktinya putrinya Nda udah bisa menyingkapi masa lalu. Hanya tinggal menghitung hari menjelang hari H, kamu sudap siap menjadi istrinya Satria?" tanya Bunda Ervita.


"Insyaallah, siap, Nda. Sembari Indi berharap suatu hari nanti, Rama akan memberikan restu kepada kami berdua. Yang Indi lakukan salah tidak, Nda?"


"Ada sisi sedihnya di mana salah satu orang tua tidak memberikan restu. Semoga nanti ke depan dengan semakin berjalannya waktu, semua akan baik adanya," balas Bunda Ervita.


"Itu yang Indi pikirkan juga, Nda. Indi ingin mendampingi Mas Satria, Indi tahu bahwa sekarang Mas Satria banyak sedihnya. Indi ingin berbagi dan membersamai dia. Susah saat melewati masa tersulit seorang diri. Akan tetapi, jika dijalani bersama, semua akan lebih ringan."


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Hasil didikan dan ajaran selama bertahun-tahun membuat Indi bisa berpikir dan bersikap dengan sangat baik. Seolah Bunda Ervita melihat masa lalunya, bagaimana ada sosok Yayah Pandu yang selalu ada untuknya. Benar yang Indi katakan, dulu waktu belum terikat pernikahan, secara tidak langsung Ayah Pandu yang membersamainya. Ayah Pandu yang melihat dan mendengar tangisannya. Setelah menjadi pasangan suami dan istri, keduanya memang membersamai setiap waktu. Saling menumbuhkan cinta dan memupuknya.


"Ya sudah, sekarang luluran dulu yah. Biar makin cantik nanti," kata Bunda Ervita.


"Biar apa, Nda?"


"Biar makin kinclong, Cah Ayu ... aura pengantinya terpancar. Nanti memakai Ratus juga," kata Bunda Ervita dengan tertawa.


Ratus merupakan sejenis setanggi untuk mewangikan rambut. Biasanya dijual dalam bentuk bubuk kasar. Cara pemakaiannya adalah dengan membakar ratus di atas kompor kecil atau anglo, kemudian asapnya yang wangi diarahkan pada rambut. Cara perawatan ini umum dilakukan oleh putri-putri kraton di wilayah Nusantara.


"Padahal cuma akad di rumah, tapi perawatannya banyak yah, Nda," kata Indi.


"Berikan yang terbaik untuk suamimu," kata Bunda Ervita.


Anak gadisnya yang akan segera dipersunting Satria itu menunduk malu-malu. Membayangkan saja dengan Satria rasanya benar-benar malu.

__ADS_1


"Sana, dirawat dulu biar cantik."


Akhirnya ada dua mbak-mbak dari rumah spa tradisional Jawa yang merawat Indi. Gadis itu dipakaikan lulur mangir yang dipercaya membuat kulit lebih halus dan rambutnya diasapi dengan ratus. Benar-benar seperti melakukan perawatan spa di rumah sendiri.


Sementara Bunda Ervita berjalan ke pendopo dia sudah memanggil tukang kebun ke rumah dan nanti pendopo itu akan dihias dengan janur dan bunga. Dulu, Bunda Ervita melahirkan Indi di usia 21 tahun, dan sekarang 24 tahun kemudian ketika usianya masih kepala empat, Bunda Ervita sudah akan memiliki mantu. Tergolong dalam usia yang muda untuk memiliki menantu dan mungkin nanti disusul dengan memiliki cucu.


...🍀🍀🍀...


Sementara itu, Satria di rumah Eyang Dirja juga diberikan petuah tentang menjalani rumah tangga nanti. Beruntungnya Satria, karena Eyang Dirja (orang tua Ibunya) setuju dan memberikan restu untuknya dan Indi.


"Tinggal beberapa hari lagi, Sat ... nanti Eyang akan turut ke rumah pengantin wanita saat akad," kata Eyang Kakung dan Eyang Putri.


"Nggih, Eyang. Matur nuwun, sudah mau menemani Satria," jawabnya.


"Kalau pria sudah berani menikah, artinya siap bertanggung jawab. Di dalam budaya kita menikah itu sekali, Sat. Garwa, sesigaring nyawa. Kamu sudah mendapatkan separuh dari nyawamu, dan begitu pula separuh nyawamu itu milik istrimu. Jadi, di hati-hati. Bangun bebrayan (membangun rumah tangga) bukan satu hari, satu bulan, atau satu tahun. Akan tetapi, sampai kamu menua, kalian akan terus membangunnya."


Satria menganggukkan kepalanya mendengarkan petuah dari Eyangnya. Justru bersyukur masih memiliki Eyang yang bijaksana dan memberikan petuah yang baik.


"Nggih, Eyang. Terima kasih, Satria akan mengingatnya dan melakukannya," balas Satria.


"Semua seserahan atau paningset sudah siap semua. Yang kamu belikan untuk Mbak Indi sudah dihias dengan bagus," kata Eyang Putri.


Satria memang meminta tolong untuk dihiaskan. Semua itu akan dia bawa saat meminang Indi nanti, saat mengikrarkan akad. Paningset adalah salah satu kelengkapan dalam rangkaian upacara pernikahan adat Jawa. Peningset ini adalah berbagai barang yang diberikan oleh pihak calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita sebagai simbol kesanggupan seorang lelaki untuk mencukupi kebutuhan calon istrinya. Paningset biasanya terdiri dari seperangkat alat sholat, perhiasan, setelan pakaian, alat make up, tas. Juga Eyang Dirja akan melengkapi dengan membawa Jadah dan Wajik, jajanan tradisional yang dibuat dari ketan secara simbol untuk meraketkan, mendekatkan kedua keluarga. Kelapa gading, dan daun sirih ayu.


"Tenang aja, dihafalkan dulu kalimat ijab kabulnya," kata Eyang Dirja.


"Nggih, Eyang."

__ADS_1


Kalimat ijab kabul yang nanti akan Satria ucapkan tentu berbeda. Namun, dia sudah menghafalkannya. Rasanya Satria ingin segera hari H datang. Bersatu dengan Indi adalah hal terbaik yang Satria inginkan.


__ADS_2