Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Boyongan ke Rumah Suami


__ADS_3

Tidak terasa sudah satu minggu berlalu, itu artinya di akhir pekan ini keluarga Hadinata akan mengantarkan Indi untuk tinggal bersama dengan Satria di rumah milik suaminya. Masih berada di area kota Gudeg, tapi Bunda Ervita dan Ayah Pandu sudah merasa bersedih karenanya. Ya, ketika seorang anak akan keluar dari rumah dan bersatu dengan suaminya, akan menjadi momen emosional untuk orang tua.


Bayangan bagaimana dulu membesarkan anak, melahirkan anak, membesarkannya, hingga akhirnya sang anak harus keluar dari rumah Ayah dan Ibunya, dan bersatu dengan suaminya. Masih teringat bagaimana dulu Indi kecil, ceriwisnya Indi yang memenuhi seluruh rumah. Hingga bagaimana rumah itu menjadi tempat Indi bertumbuh setiap harinya.


Sekarang, Ayah Pandu dan Bunda Ervita yang akan mengantarkan Indi ke rumah suaminya. Pasangan suami istri mengenakan batik sarimbit dengan corak yang sama. Dalam tradisi boyongan Jawa, orang tua dan saudara yang mengantar tidak datang dengan tangan kosong. Akan tetapi, orang tua memberikan bahan makanan mentah, peralatan dapur dan peralatan makan yang jumlahnya masing-masing sepasang. Sebagai simbol bahwa orang tua menyetujuinya dan mendoakan sang anak untuk belajar berumahtangga berdua.


Siang itu, yang mengantarkan Indi dan Satria tidak hanya Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Namun, ada Eyang Hadinata yang turut serta. Sementara di kediaman Satria sudah ada Eyang Dirja dan Bu Galuh yang akan menerima.


"Monggo, silakan masuk," sapa hangat Bu Galuh mempersilakan pengantin dan keluarga Hadinata masuk ke dalam rumah.


"Matur nuwun, Bu Galuh," balas Bunda Ervita.


"Kami datang ke sini untuk mengantar Indi ke rumah suaminya Bu Galuh ... tugas kami sebagai orang tua selesai sampai di sini. Selanjutnya, Satrialah yang akan membimbing dan menuntun Indi. Mohon, putri kami ini dibimbing dengan kelemahlembutan. Jika ada perdebatan, selesaikan dengan kepala dingin. Sejatinya tidak ada rumah tangga yang sempurna. Yang ada adalah pasangan yang mau sama-sama belajar."


Pada dasarnya memang ketika anak gadis sudah menikah, tanggung jawab dari orang tua kepada anak akan berakhir. Mengalihkan tanggung jawab kepada sang suami. Untuk itu, Ayah Pandu memasrahkan Indi kepada Satria untuk dibimbing dan dituntun.


"Sama-sama Bapak Pandu. Kami dengan senang hati menerima Mbak Indi. Sama seperti Bapak yang sudah menerima putra kami, begitu pula kasih sayang kami untuk Mbak Indi akan terus mengalir," kata Bu Galuh.


"Saling menyayangi satu sama lain ya cucu-cucuku. Jangan takut ketika gelombang datang. Namanya membangun bebrayan, membangun rumah tangga itu banyak tantangannya. Namun, kalian berdua harus kuat dan juga saling menupuk rasa cinta," nasihat Eyang Dirja.


Satria dan Indi yang mendengarkan setiap nasihat baik dari orang tua dan Eyangnya sama-sama menganggukkan kepalanya. Memang keduanya masih muda, masih membutuhkan bimbingan. Namun, keduanya merasa sangat senang ketika ada perwakilan dua keluarga yang menyambut mereka.


Usai itu, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Sekaligus momen untuk lebih akrab dengan keluarga besan. Walaupun memang tidak sempurna karena tidak ada Rama Bima Negara.


"Maafkan kami juga ya keluarga Hadinata, kami hanya bisa menyambut apa adanya, dan pastinya ada yang kurang," kata Bu Galuh.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Ibu. Hari ini memang tidak sempurna. Bukan berarti nanti akan demikian terus adanya. Insyaallah, di hari yang baik ... dua belah pihak keluarga bisa berkumpul bersama," balas Ayah Pandu.


Hanya satu keyakinan mereka, bahwa semoga suatu hari nanti akan datang di mana keluarga Negara dan keluarga Hadinata bisa berkumpul bersama. Menyambung tali asih yang sejauh ini belum bisa menyatu kedua belah pihak. Dengan bersabar dan menunggu ridho dari Allah, semoga semuanya baik adanya.


"Ini rumahnya Satria sendiri, hasil bekerjanya ... insyaallah bisa menjadi tempat berteduh dengan Mbak Indi," kata Eyang Dirja.


"Iya, Eyang. Tidak masalah. Biar aaja anak-anak belajar untuk membina rumah tangga, belajar mengenal dan memahami satu sama lain, menerima kekurangan dan kelebihannya," kata Ayah Pandu.


"Ya, setuju Pak Pandu. Ada kalanya memang kita yang sudah tua tidak perlu ikut campur. Yang penting mendoakan anak-anak supaya bahagia, yang diinginkan terkabul, dan juga semoga saja Allah segera berikan momongan."


"Amin ...."


Satu yang diharapkan keluarga besar kedua belah pihak adalah akan segera hadir bayi yang semakin melengkapi kebahagiaan keduanya. Menyambungkan kekeluargaan. Siapa tahu, nanti buah hati keduanya bisa melembutkan hati Rama Bima.


Hampir dua jam lamanya, keluarga Hadinata berada di kediaman Satria. Hingga akhirnya keluarga Hadinata berpamitan dengan Bu Galuh, Eyang Dirja, Satria, dan Indi.


Usai itu, Indi melakukan salam takzim dengan mencium punggung tangan Ayahnya. "Yayah, terima kasih banyak," kata Indi dengan berkaca-kaca.


"Yayah dan Nda akan pulang, kalau senggang dan liburan, main ke rumah. Di sana, rumah itu selalu menjadi rumahmu, pintu di sana akan selalu terbuka lebar untukmu. Pesan Yayah, tunduk dan berbakti kepada Satria sebagai suamimu," nasihat dari Ayah Pandu.


"Iya, Yayah ...."


"Satria, Yayah titip Indi yah. Sekarang putrinya Yayah ini resmi jadi tanggung jawabmu, didik dengan penuh kelemahlembutan. Selalu gunakan kata saling dalam membina rumah tangga," kata Ayah Pandu.


"Siap, Ayah. Satria akan selalu mengingat setiap pesan dari Ayah dan Bunda," jawab Satria.

__ADS_1


Hingga akhirnya, mereka mengantarkan sampai ke depan rumah. Indi menangis, bagaimana pun sedih kala berpisah dengan Ayah, Bunda, dan Adiknya. Walau masih di Jogjakarta, dan jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, tapi ada sedih yang menyelimuti hatinya.


Di dalam mobil Ayah Pandu berusaha kuat, sementara Bunda Ervita sudah menangis. Putrinya benar-benar sudah dewasa sekarang, sudah dan akan belajar membina rumah tangga dengan suaminya.


"Jangan nangis, Yang," kata Satria lirih di samping Indi.


Bu Galuh ikut terharu. Terbayang sudah bagaimana dulu keluarganya juga mengantarkannya ke Solo untuk tinggal bersama suaminya. Penuh dengan air mata juga saat itu.


"Masuk ke dalam yuk. Jangan sedih, Mbak Indi ... nanti dihibur Satria. Kalau Satria bikin kamu sedih, lapor aja ke Ibu," kata Bu Galuh.


Indi yang menangis itu tersenyum tipis. Bersyukur karena ibu mertuanya baik. Eyang Dirja juga sosok yang baik.


"Nanti Eyang juga kembali pulang, Ibumu juga. Jadikan kehidupan berumahtangga ini untuk belajar bersama yah," kata Eyang Dirja.


"Nggih, Eyang," balas Satria.


"Kalau libur dan senggang, main ke rumahnya Eyang yah, Cah Ayu," kata Eyang Putri Dirja.


"Nggih, Eyang. Nanti biar Mas Satria yang mengajak Indi sowan ke rumah Eyang," jawab Indi.


"Nah, begitu. Eyang terus mendoakan, kalian berdua bahagia dunia akhirat yah. Eyang bahagia kalau cucu-cucunya juga bahagia," balas Eyang Dirja.


Indi dan Satria tersenyum. Walau tanpa kehadiran Rama Bima, mereka masih sepatutnya bersyukur karena masih dikelilingi keluarga yang baik. Banyak orang yang mendoakan agar keduanya berbahagia. Pun, begitu juga dengan Satria yang akan selalu berusaha membahagiakan Indi, menghujani istrinya itu dengan cinta.


Sampai bertemu malam nanti. 😚

__ADS_1


Komen, Vote, dan Like yahhh💕


__ADS_2