
Satria dan Indi benar-benar bahagia karena hasil pemeriksaan USG menunjukkan bahwa keduanya benar-benar akan mendapatkan momongan lagi. Dengan saling tatap, walau terpisah jarak beberapa meter karena Indi masih berbaring di brankar, sementara Satria duduk di kursi yang berada di depan meja Dokter. Akan tetapi, sorot mata keduanya sama-sama mengisyaratkan rasa syukur kepada Allah. Ini adalah hal terindah. Kado terindah untuk Satria yang baru saja bertambah usia.
"Jadi, silakan dilihat lagi di monitor bahwa ini rahimnya dan ini adalah embrionya atau bakal bayi yang setiap harinya akan terus berkembang hingga usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari nanti," jelas Dokter Arsy.
Indi dan Satria sama-sama menganggukkan kepalanya. Keduanya menatap monitor yang menunjukkan aktivitas embrio di dalam rahimnya itu. Rasanya seperti waktu hamil Nakula dan Sadewa dulu. Bisa melihat langsung dari USG bagaimana embrio itu seolah melayang-layang atau berenang di dalam rahimnya.
Keduanya seolah kembali memiliki memori kali pertama memeriksakan kandungan saat hamil Nakula dan Sadewa dulu. Cara mereka memandang itu bukan hanya sekadar titik, tapi adalah kehidupan baru yang Allah percayakan kepada keduanya.
"Mom Indi sebelumnya bayinya kembar kan?" tanya Dokter Arsy.
"Benar, Dokter. Dua jagoan kami, Nakula dan Sadewa. Sama-sama kembar," jawab Indi.
Dokter Arsy menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Dokter Arsy memberikan pertanyaan kepada Indi dan Satria.
"Coba perhatikan embrio ini. Tunggal atau ganda?" tanya Dokter Arsy.
Indi dan Satria kemudian mengamati ke arah monitor. Mungkin lantaran masih terlalu kecil, sehingga tak terlihat. Seolah hanya satu titik saja yang melayang-layang di dalam rahim.
"Satu?" Satria menjawab seraya bertanya kepada Dokter Arsy.
"Iya, kayaknya satu deh, Dokter." Indi juga menjawab hal yang sama. Menurut Indi hanya ada satu titik yang dia lihat di monitor.
Dokter Arsy justru kembali tertawa. Setelah itu bagian dari rahim itu, mulai dia perbesar. Sehingga hasil yang didapatkan lebih jelas.
"Dua kantung janin yah, Mom. Ini saya tunjukkan."
__ADS_1
Ternyata sungguh-sungguh ada dua kantung janin yang berada di dalam rahim Indi. Sebelumnya Indi tersenyum dan santai saja, tapi sekarang ada bulir air mata yang membasahi pipinya. Benar-benar tidak menyangka bahwa sekarang keduanya mendapatkan kejutan yang lain. Indi dan Satria sama-sama terkejutnya.
"Apa benar, Dokter?" tanya Indi dengan suaranya yang terdengar bergetar.
Dokter Arsy kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Mom."
Hingga akhirnya Dokter Arsy membuktikan dengan memberitahu detak jantung si baby yang memang ada dua. Bukti memang ada dua kantung janin di dalam rahim Indi. Sungguh ini adalah sesuatu yang mengejutkan, tapi sekaligus doubel berkah untuk keduanya. Indi dan Satria dipercaya memiliki anak kembar lagi.
"Alhamdulillah," kata Indi pada akhirnya.
"Alhamdulillah," kata Satria.
Menyelesaikan periksaan dengan USG, kemudian Indi merapikan pakaiannya. Lantas, Indi sekarang duduk bersama dengan Satria di depan meja sang Dokter. Sembari menunggu resep.
"Dua kantung janin dengan usia sepuluh minggu yah, Mom. Sekali lagi selamat. Cukup dua kali melahirkan dan sudah memiliki empat anak. Ini hal yang patut disyukuri. Cuma Papanya harus kerja keras karena biaya sekolah anak-anak sekarang mahal," kata Dokter Arsya.
"Benar Dokter. Namun, bagaimana lagi anak-anak juga adalah anugerah, karunia dari Allah. Kami juga terkejut ketika terdapat dua kantung janin," balas Indi.
"Tidak apa-apa, Mom. Dipersiapkan tabungan pendidikan mulai sekarang. Insyaallah, semuanya akan lancar nanti. Mom apakah mengalami keluhan?" tanya Dokter Arys.
"Sejauh ini sih belum ada, Dokter. Saya sih sangat sehat, cuma suami yang mengalami Couvade Syndrom, Dokter. Apakah ada obat pereda mual yang bisa diminum suami saya saja?"
Dokter Arsy malahan tertawa mendengarkannya. "Mom ini perhatian sekali loh sama suaminya. Saya dengar kalau istri hamil, dan yang teler suaminya tandanya suaminya cinta banget sama istrinya. Ikatan hatinya sangat kuat. Jadi, mungkin saja Mom dan Papa ini begitu adanya."
"Tidak apa-apa, Dokter ... asalkan istri sehat selama hamil. Saya tahu bahwa kehamilan itu juga berat. Istri sudah nyaman dengan berat badan idealnya, tapi nanti bisa bertambah. Gejolak hormonal dan emosi. Tidak apa-apa, saya yang morning sickness," balas Satria.
__ADS_1
"Demi istri dan buah hati yang masih berada di dalam rahim yah, Pa? Luar biasa sekali."
Setelah itu, Dokter Arsy meresepkan vitamin yang juga mengandung asam folat untuk Indi. Ada penambah darah, dan pereda mual yang nanti bisa diminum oleh Satria.
"Baik, ada yang ditanyakan lagi tidak, Mom? Pemeriksaan selanjutnya bulan depan. Sehat-sehat selalu."
Indi dan Satria kemudian berpamitan dengan Dokter Arsy. Sekarang, Satria yang mengantri obat di apotek, dia meminta Indi untuk kembali duduk. Beberapa menit kemudian, Satria sudah kembali dengan obat dan sudah membereskan biaya pemeriksaan.
"Sudah, Sayang. Yuk, kita pulang. Jemput Nakula dan Sadewa dulu di rumah Eyangnya," ajak Satria.
"Ayo, Mas ...."
Lantaran istrinya tengah hamil muda, Satria lebih berhati-hati mengemudikan mobilnya. Kalau ada jalanan berlubang atau polisi tidur, Satria lebih berhati-hati supaya tidak mengakibatkan guncangan di perut Indi.
"Kembar lagi, Mas," kata Indi lirih dengan mengusap perutnya yang masih rata.
"Karunia dari Allah, Sayang. Kita juga tidak pernah tahu kalau pembuahannya akan ganda," balas Satria.
"Ku harap, Papa Satria semakin sabar yah nanti. Sabar sama aku dan anak-anak yang jumlahnya ada empat," kata Indi.
Satria pun tersenyum dan mengangguk perlahan. "Pasti sabar, Sayang. Walau kadang harus tegas dan disiplin juga. Tenang saja. Stok sabarku melimpah kok," balas Satria.
"Makasih, Mas. Mulai siapkan tabungan rencana pendidikan untuk anak-anak kita juga ya, Mas. Bukan hanya satu atau dua anak, tapi nanti kita akan membiayai empat orang anak. Semangat yah, Mas."
"Pasti semangat, Sayang. Kamu dan anak-anak adalah semangatku. Tenang saja. Aku akan bekerja keras untuk kalian. Doakan aku selalu sehat aja."
__ADS_1
"Pasti, Mas. Dalam setiap sujudku selalu ada nama Mas yang kusebut dalam doaku. Bukan hanya sehat semoga Allah berikan yang terbaik untuk Mas Satria."
Keduanya tersenyum bersama. Mendapatkan kabar baik, tapi juga bersiap untuk tanggung jawab yang lebih besar. Sebab, ketika anak masih kecil hingga akan menikah nanti, tanggung jawab penuh ada di tangan orang tuanya.