Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Mengunjungi Bapak Firhan


__ADS_3

Ketika berada di Solo, Indi sekaligus mengunjungi Bapak Firhan. Sore itu, dia bersama Nakula dan Sadewa, tentunya juga Satria menuju ke Solo Utara, tempat di mana Bapak Firhan tinggal. Tetap menjalin silaturahmi itulah yang dilakukan oleh Indi dan Satria.


"Nanti salam dari keluarga Negara untuk keluarganya Bapak yah Mbak Indi," kata Bu Galuh.


"Nggih, Ibu ... nanti Indi sampaikan kepada Bapak."


Usai itu, Satria dan Indi berpamitan, mereka menuju ke rumah orang tua Bapak Firhan. Menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, sekarang mereka sudah sampai di rumah Bapak Firhan.


"Assalamualaikum," sapa Indi dan Satria sembari mengetuk pintu kediaman Bapak Firhan.


"Waalaikumsalam," sapa Tante Wati yang membukakan pintu. Wanita itu tersenyum menyambut Indi dan keluarganya yang datang.


"Bagaimana kabarnya Tante Wati?"


"Baik, Mbak Indi. Mari masuk. Cucu-cucunya sekarang udah besar. Cakep-cakep," balas Tante Wati.


Indi dan keluarga sekarang duduk di ruang tamu. Sementara Nakula dan Sadewa berdiri dengan memegangi meja yang ada di sana. Menunggu sebentar, akhirnya Pak Firhan baru saja datang, wajah sumringah ditunjukkan Pak Firhan kala melihat keluarga putrinya yang datang.


"Wah, anak widok datang," katanya.


"Pripun kabaripun, Bapak?" tanya Indi dalam bahasa Jawa yang artinya, bagaimana kabarnya, Bapak?


Bapak Firhan menganggukkan kepalanya. "Baik, Mbak. Duh, Bapak senang banget. Bisa ketemu lagi sama Mbak Indi. Bisa ketemu sama Nakula dan Sadewa yang sudah besar sekarang. Usianya berapa ya Mbak? Bapak sampai lupa," tanyanya.


"Hampir dua tahun, Bapak," balas Satria mewakili Indi.


"Cepat yah ... rasanya baru kemarin Bapak ke Jogjakarta menghadiri Aqiqahan. Sekarang, Nakula dan Sadewa sudah mau dua tahun. Bisa-bisa sehabis ini, punya adik nih," balas Pak Firhan.

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bapak Firhan, Indi dan Satria seolah sama-sama menarik kesimpulan bahwa keluarga besarnya, terutama para orang tua mereka menginginkan untuk menambah momongan. Seolah ingin supaya Nakula dan Sadewa segera memiliki adik.


"Aamiin, doakan saja, Bapak," balas Indi dan Satria bersamaan.


Sebenarnya memang Indi dan Satria sendiri tidak menunda. Bahkan sejak memberikan ASI, Indi tidak memasang kontrasepsi. Sebab, kala memberikan ASI secara eksklusif itu bisa menjadi KB alami. Hanya saja, Indi menggunakan kalender untuk menghitung masa subur. Menghindari masa subur saja untuk menjaga jarak kehamilan.


"Mumpung masih muda Mbak Indi dan Mas Satria, Bapak juga biar tambah cucu," balas Pak Firhan.


Tante Wati juga mengangguk. "Benar, kami juga tambah cucu. Kalau masih muda, masih kuat untuk mengasuh anak-anak. Ketika anak-anak sudah besar pun, orang tuanya masih muda."


Sama seperti Bunda Ervita dan Ayah Pandu yang terlihat masih begitu muda walau sudah memiliki dua cucu. Indi tersenyum mendengarnya. Namun, memang Indi dan Satria memilih santai. Kalaupun dipercaya oleh Allah lagi memiliki keturunan, lebih baik ketika Nakula dan Sadewa sudah lepas ASI eksklusif.


"Doakan saja, Uthi."


Dalam bahasa Jawa, Uthi sering kali adalah sebutan untuk Eyang Putri. Hanya saja disingkat menjadi Uthi saja.


Usai itu, Bapak Firhan mengajak cucu-cucunya bermain di lapangan yang ada di dekat rumahnya. Ada sedikit lahan kosong, yang biasanya dimanfaatkan anak-anak untuk bermain sepak bola saat sore hari. Terlihat Bapak Firhan yang sangat senang mengasuh Nakula dan Sadewa. Ketika ada beberapa tetangga yang bertanya siapa anak-anak yang diasuh Pak Firhan, Tante Wati dan Bapak Firhan mengakui bahwa Nakula dan Sadewa adalah cucunya yang tinggal di Jogjakarta.


"Memberi kebahagiaan orang tua untuk mengasuh cucu yah Yang?" tanya Satria kepada Indi. Sekarang keduanya duduk di depan rumah sembari melihat bagaimana Bapak Firhan dan Tante Wati sama-sama mengasuh Nakula dan Sadewa.


"Iya, Mas ..., Bapak sendiri kan jarang dapat kesempatan bertemu Nakula dan Sadewa. Kalau Eyang Rama dan Eyang Ibu kan sering datang ke Jogjakarta. Apalagi Ayah Pandu dan Bunda Ervita yang lebih sering mengajak Nang-Nang. Kalau Bapak kan jarang. Pasti Bapak senang banget sekarang," balas Indi.


"Tidak menyangka kamu memikirkan sejauh itu, Sayangku."


Indi kemudian tersenyum. "Menjalin silaturahmi, Mas. Jangan sampai putus. Bagaimana pun, Bapak juga simbahnya, eyangnya Nang-Nang. Apa yang buruk di masa lalu, tidak perlu diungkit-ungkit. Sekarang fokus bersilaturahmi saja," balas Indi.


Sekali lagi Satria tersenyum. Baginya, Indi adalah seseorang yang lapang. Biasanya seorang anak tanpa nasab seperti Indi akan mendendam kepada Bapak kandungnya. Akan tetapi, Indi mau memaafkan. Selain itu, ketika datang ke Solo, sebisa mungkin Indi akan mengunjungi keluarga Bapak Firhan.

__ADS_1


"Benar, Sayang. Aku selalu mendukung kamu. Bersilaturahmi adalah hal yang indah. Tidak perlu menunggu Ramadhan tiba. Ketika kita ke Solo, kita bisa bersilaturahmi ke rumah Bapak," kata Satria.


"Sekaligus menanamkan pengetahuan ke Nakula dan Sadewa bahwa dia memiliki eyang yang lain, yaitu Mbah Kung Firhan dan Uthi," balas Indi.


Sebab, pendidikan itu diberikan kepada anak-anak sejak mereka masih kecil. Ketika orang tua tidak mengenalkan anak-anak ke keluarga mereka, pastilah nanti ketika sudah besar, mereka juga tidak mengenal keluarga besar atau kerabat mereka yang lainnya.


"Aktif banget yah, Mbak. Jalannya cepat," kata Tante Wati yang sekarang menggendong Sadewa.


"Iya, Uthi. Baru aktif banget," balas Indi.


"Kalau di rumah memakai pengasuh, atau diasuh sendiri, Mbak?" tanya Tante Wati lagi.


"Diasuh sendiri saja," balas Indi.


Tante Wati kemudian menggelengkan kepalanya. "Luar biasa yah. Uthi doakan Mbak Indi dan Mas Satria sehat selalu biar bisa mengasuh Nakula dan Sadewa yang sangat aktif ini. Kalau sudah sehat, apa-apa enak, Mbak. Berbeda kalau sakit, duduk gak enak, tidur gak enak, bahkan makanan lezat pun menjadi tidak enak. Sehat selalu yah."


"Aamiin ...."


Indi dan Satria menjawab serempak. Walau begitu, keduanya setuju dengan yang disampaikan oleh Tante Wati bahwa ketika tubuh sehat itu rasanya enak. Selain itu, kalau sehat bisa membuat keduanya bisa bekerja dan mengasuh Nakula dan Sadewa.


"Seneng banget, Mbah Kung bisa berolahraga mengasuh Nakula dan Sadewa," kata Pak Firhan.


"Capek nggih, Pak?" tanya Indi.


"Capek, berkeringat, tapi sehat Mbak Indi. Kalau ke Solo harus mampir ke sini yah. Di sini juga rumahnya Eyang. Hanya dipanggilnya Simbah Kakung, Mbah Kung," kata Pak Firhan.


Bapak Firhan mengatakan semua itu juga supaya kedua cucunya mengenal dia sebagai salah satu Eyangnya Nakula dan Sadewa. Sekadar dikenal oleh cucunya saja sudah membuat Bapak Firhan begitu bahagia. Selain itu, supaya silaturahmi tidak akan pernah putus, itu yang Pak Firhan harapkan.

__ADS_1


__ADS_2