
Sekarang ....
Yudha masih tidak percaya bahwa Indira pada akhirnya menikah dengan Satria. Persahabatan dan hubungan baik keduanya sudah Yudha kenal sejak dulu, tapi untuk sampai di jenjang pernikahan itu rasanya tidak menyangka. Namun, kala ada orang berkata persahabatan berubah menjadi cinta itu benar adanya. Semua itu karena memang Indira dan Satria yang dulu saling bersahabat, kini justru menjadi pasangan suami istri.
"Aku tidak mengira kalian bisa menikah? Sorry, Sat ... loe nikahin bekas gue, mantan gue," kata Yudha dengan begitu jumawa.
Sementara Satria tersenyum. Dia ingin terbahak dalam tawa kala mendengar pengakuan Yudha yang terkesan terlalu percaya diri itu. Satria sudah mendapatkan bukti sendiri bahwa Indi hanya miliknya. Satria juga tidak meragukan Indi. Satria ingat sendiri dengan malam pertama mereka yang menggelora. Malam pertama yang membuat Satria sangat yakin bahwa mereka adalah sama-sama yang pertama untuk satu sama lain. Itu akan selalu Satria ingat. Sehingga, tidak ada alasan bagi Satria untuk meragukan istrinya sendiri.
"Kalau loe pria baik-baik, jaga bicaramu, Yud!"
Satria memperingatkan. Di telinga Satria, apa yang baru saja diucapkan Yudha adalah perkataan yang merendahkan seorang wanita. Ya, baik itu mantan atau bukan, seharusnya bukan dianggap sebagai barang bekas. Sementara Yudha dengan begitu jumawanya mengatakan bahwa Indi adalah bekasnya. Satria sangat tidak senang mendengarnya.
"Jangan sok loe, Sat ... kan faktanya begitu. Bini loe itu mantan gue, loe juga gak tahu kan sejauh apa kita pacaran dulu," balas Yudha.
Karakter Yudha yang tidak berubah sejak dulu. Bahkan dia menganggap bahwa dia merasa sudah memiliki Indi. Padahal, Satria sebagai sahabat Indi dulu juga tahu bagaimana Indi. Tidak perlu banyak berbicara, Satria sudah cukup tahu.
"Iya, tahu kok, Yudha. Loe kan cowok rendahan yang mau ngamar anak gadis orang!"
__ADS_1
Satria membalas dengan tegas. Dia sangat tidak suka dengan sikap Yudha yang arogan dan begitu percaya diri. Bagi Satria, Yudha hanya cemburu sekarang. Yudha berusaha tidak terima ketika Indi mendapatkan Satria.
"Wah, memancing prahara loe, Sat!"
Indi yang tadi diam sekarang pun menengahi. Indi hanya tidak ingin ada pertengkaran, adu mulut, bahkan adu jotos antara Yudha dan Satria. Toh, semuanya hanya masa lalu.
"Yud, kalau loe ke sini hanya untuk mengungkit masa lalu dan sok percaya diri silakan cari kantor konsultan yang lain. Gue gak habis pikir, Yud ... sudah lebih dari empat tahun berlalu, dan pikiran loe masih dangkal. Gue jadi cewek yang bersyukur tidak jatuh ke pesonamu. Sorry, Yudha. Gue justru bersyukur putus dari loe dulu," balas Indi.
Ketika mendengarkan ucapan Indi itu seolah-olah Yudha mendapatkan tamparan di wajahnya. Indi dengan terus-terang mengatakan bersyukur putus dari pria seperti Yudha. Tuhan memang memiliki rencana yang baik, membuat Indi seolah jatuh dalam jerat, tragedi di kost dulu menyadarkannya bahwa Yudha tak sebaik yang dia lihat dan pikirkan.
"Sialan loe, Dira!"
Yudha menghela napas kasar. Dia sangat tidak suka dengan ucapan Indi itu. Yudha bahkan sudah mengepalkan tangannya. Ingin dia mengangkat tangannya kepada mulut pedas mantannya dulu.
"Jangan pukul cewek, Yud. Kalau loe berani mukul cewek, tandanya loe banci!"
Satria memperingatkan karena Satria tahu sejak tadi tangan Yudha selalu terkepal. Wajah Yudha pun menunjukkan amarah. Oleh karena itu, Satria memilih untuk memperingatkan Yudha terlebih dahulu.
__ADS_1
"Eh, ini kantor konsultasi milik loe? Sampai loe ngurus gue?" tanya Yudha.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, ini milik Bokap. Kenapa? Banyak kantor konsultasi lainnya di kota ini kok. Sorry, Yud ... untuk klien seperti loe, Bokap pun akan menolaknya," balas Indi.
"Eh, Dira ... pedes sekali sih mulutmu itu!"
Yudha lagi-lagi tersulut emosi. Dia merasa ucapan si mantan itu terasa pedas dan selalu menyulut emosinya. Yudha sangat tidak suka dengan Indi sekarang.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya.
Ya, dia adalah Ayah Pandu yang melihat seperti terjadi adu mulut antara Indi, Satria, dan seorang pria. Untuk itu, Ayah Pandu yang baru saja datang pun segera bergabung dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah," sapa Indi dan Satria.
Sementara Yudha terlihat tidak mereda. "Oh, jadi ini pemilik kantor konsultan yang memiliki anak bermulut pedas ini," balas Yudha.
Ayah Pandu tentu geram. Dia baru datang dan tidak tahu apa-apa, tapi Yudha justru berbicara seperti itu. Menunjukkan tidak ada kesopanan pada diri Yudha.
__ADS_1
"Kamu tidak bisa belajar tata krama yah, Nak Muda? Kalau memang tidak bisa menghargai orang lain lebih baik diam. Saya minta silakan pergi dari sini. Sayang sekali, kamu terlihat seperti berpendidikan tinggi, tapi tidak bisa menghargai orang lain yang lebih tua," balas Ayah Pandu.
Usai itu, Ayah Pandu mengajak Indi dan Satria masuk ke dalam kantor konsultasi. Ayah Pandu meminta secutiy untuk mengurus Yudha dan tidak memberikan akses bagi Yudha untuk masuk. Yang penting sekarang Indi aman, dan tidak diintimidasi dengan pria yang dimata Ayah Pandu tidak memiliki tata krama seperti Yudha.