
Beberapa pekan kemudian ....
Kali ini kampung-kampung di Jogjakarta mulai bersiap menyambut kemerdekaan Indonesia. Begitu juga dengan area perumahan tempat Indi dan Satria tinggal yang bersolek dengan ornamen kemerdekaan khas nuansa merah dan putih. Akan diadakan kerja bakti juga di kompleks perumahan dengan mengecat jalan dan memasang umbul-umbul atau bendera.
Begitu juga dengan kediaman Indi dan Satria yang sekarang ada bendera merah putih yang dikibarkan di depan rumah.
"Setinggi apa, Yang?" tanya Satria dengan memasang bendera merah putih di sebuah tiang.
"Gak usah tinggi-tinggi, Mas. Hati-hati loh, Mas," kata Indi.
Satria tersenyum, si papa berusaha memasang bendera merah putih. Ada Indi dan kedua anaknya yang menunggui. Padahal cuma memasang di depan rumah, tapi Indi dengan Nang-Nang kompak menunggui Papa Satria memasang bendera. Di sela-sela Satria memasang bendera, ada Pak RT yang datang ke rumah Satria, hanya sekadar mampir.
"Benar Mas Satria. Menyambut kemerdekaan, semua warga harus memasang bendera merah putih," kata Pak RT.
Satria pun menganggukkan kepalanya. "Nggih, Pak. Menyambut kemerdekaan ini, Pak."
"Nanti sore ikutan bola voli, Mas Satria. Meramaikan saja," ajak Pak RT.
Satria kemudian tertawa. "Wah, saya tidak pandai voli itu, Pak. Malahan membuat timnya kalah nanti," balas Satria.
"Tidak apa-apa, kan cuma meramaikan saja Mas Satria. Ada lomba untuk ibu-ibu juga menyunggi tampah di atas kepala dan berjalan dengan kain jarik. Nanti kalau mau, Mbak Indira bisa ikutan. Jam 17.00 sore nanti, ditunggu di lapangan dekat area perumahan."
Usai itu, Pak RT melanjutkan perjalanannya. Sementara Satria juga menyelesaikan untuk memasang tiang bendera. Setelahnya keluarga itu kembali masuk ke dalam rumah.
"Disuruh ikutan voli, Yang," kata Satria.
"Ikut aja gak apa-apa, Mas. Meramaikan saja," balas Indi.
"Ya sudah, nanti aku ikut. Mama dan Nang-Nang ikutan yah, beri semangat ke Papa yah?"
"Iya, Papa. Nanti didukung Mama dan Nang-Nang. Kurang apa lagi coba. Main voli aja didukung satu rumah loh," kata Indi.
__ADS_1
Akhirnya, mereka menghabiskan waktu siang hari dengan mengasuh Nakula dan Sadewa. Sore harinya, Indi dan anak-anak bergantian mandi. Sementara Satria yang akan bermain voli sengaja tidak mandi. Berolahraga dulu, selesainya barulah mandi.
"Ayo, Pa. Jadi main voli enggak? Nih Nakula dan Sadewa udah cakep loh. Udah siap untuk jadi suporternya Papa," kata Indi.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Indi, Satria menganggukkan kepalanya. Dia berganti pakaian dengan mengenakan celana dan kaos olahraga. Tidak lupa mengenakan sepatu.
"Papa mau main voli atau main bola? Itu kok memakai jersey bola sih," tunjuk Indi ke kaos yang dikenakan oleh suaminya.
"Punyanya Jersey bola, Mama. Lagian ini warnanya merah, biasa club sepakbola kesukaan Papa kan ini. Pas warnanya merah, menyambut kemerdekaan," kata Satria.
Indi tertawa lagi, itu semua karena suaminya malahan mengenakan Jersey sepakbola, salah satu club dari kota Manchester, Inggris yang mengenakan warna merah sebagai warnanya. Akhirnya mereka keluar dari rumah dengan mendorong stroller milik Nakula dan Sadewa. Tidak lupa Indi membawakan ransel kecil berisi handuk kecil dan air minum untuk suaminya.
"Nanti Nang-Nang kalau udah besar main badminton dan futsal sama Papa yah," kata Satria sembari mendorong stroller putranya.
"Kalau ngajak Nang-Nang olahraga besok, langsung ajak dua anak loh, Pa," balas Indi.
"Gak apa-apa. Cowok itu keren kalau olahraga, Nang. Sekarang saja, semenjak memiliki kalian berdua Papa jadi jarang olahraga. Olahraganya dialihkan sama Mama kamu," kata Satria.
Satria kembali tertawa. Dia melanjutkan berjalan mendorong stroller model duduk milik Nakula dan Sadewa, hingga mereka tiba di tanah lapang yang ada di area perumahan. Sudah ada Bapak-Bapak muda yang bersiap di sana, para Ibu dan anak-anak juga hadir mendukung suami atau Bapak mereka.
"Rame banget. Kalau begini, baru tahu warga RT di perumahan ini sebanyak ini," kata Indi.
"Memang banyak, Yang. Kebanyakan gak keluar aja. Kerja, pulang untuk istirahat. Gitu aja."
Akhirnya Satria bergabung dengan para bapak dan dibagi dalam tim untuk pertandingan voli. Sedangkan Ibu melihat dengan ibu-ibu yang lain. Sembari kenalan karena ada beberapa tetangga yang belum Indi kenal. Ada anak-anak juga yang bermain-main dengan anak-anak sebayanya. Sore itu mendadak area perumahan Satria menjadi ramai.
"Kita tetanggaan, baru tahu sekarang yah malahan," kata seorang tetangga yang rumahnya tidak begitu jauh dari Indi.
"Iya, Mbak. Soalnya jarang keluar juga," balas Indi.
"Sama Mbak, apalagi saya setiap harinya bekerja. Pulang sudah capek, tinggal tidur aja," balas ibu muda itu.
__ADS_1
Indi tersenyum, sebenarnya tidak heran dengan lingkungan perumahan. Berbeda di area perkampungan seperti di kediaman Ayah Pandu, di mana para warga masih begitu guyub rukun. Masih Indi ingat acara menjelang kemerdekaan di rumah Ayahnya jauh lebih banyak. Ada perkumpulan Bapak-Bapak dan Ibu PKK juga, ada Posyandu aktif setiap bulannya. Intinya banyak aktivitas yang membuat warga satu RT itu sering berkumpul dan guyub rukun satu sama lain.
Hingga akhirnya, ada seorang tetangga yang wajahnya tidak asing. Ya, tidak asing karena dia adalah salah satu vokalis band terkenal yang kebetulan tinggal di Jogja. Banyak warga yang membicarakan orang tersebut.
"Itu vokalis band kondang, kenal enggak Mbak Indi?" tanya seorang ibu muda lainnya.
"Kenal, Bu. Saya tumbuh dengan lagu-lagunya band itu," balas Indi.
"Itu tetangga kita, karena bolak-balik Jakarta aja. Orang baik dan ramah banget," balas tetangga yang lain.
Rupanya tetangga yang berprofesi sebagai vokalis band itu satu tim dengan Satria. Sekarang pertandingan voli juga dimulai, Indi fokus mendukung suaminya. Walau beberapa mulai mendukung sang vokalis terkenal itu.
"Mbak Indi setia dukung suami sendiri," kata beberapa tetangga di sana.
"Memang harus mendukung suami sendiri dong, Bu," balas Indi.
"Suaminya aja juga cakep itu, masih muda, beruntung Mbak Indi."
"Makasih, Bu."
Biasa ketika ibu-ibu sudah berkumpul akan seperti itu. Indi juga tidak memasukkan dalam hati ketika para ibu memuji suaminya. Yang pasti Indi datang ke sana untuk mendukung dan melihat suaminya. Selesai babak pertama, Satria mendekati Indi. Dengan sigap, Indi menikmati mengeluarkan handuk kecil untuk suaminya.
Beberapa Bapak-Bapak pun mengatakan sesuatu kepada Satria dengan nada bercanda. "Wah, enaknya Mas Satria. Istrinya bawain handuk dan minum."
"Nggih, Pak," balas Satria dengan menganggukkan kepalanya.
"Minum dulu yah, Papa ampe keringatan," kata Indi.
"Boleh dikit aja. Kalian nunggu sampai selesai?" tanya Satria.
"Iya, nanti pulang barengan yah, Mas."
__ADS_1
Akhirnya sore hingga petang itu, Indi setia menjadi suporter untuk suaminya. Untung Nakula dan Sadewa juga tenang dan tidak menangis. Malahan bocah itu terlihat bagaimana ketika tetangganya bersorak ketika ada tim yang berhasil mendapatkan point.