Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Bagaimana pun Ikut Prihatin


__ADS_3

"Bim ... Bima."


Di antara kerumunan para pengunjung Pasar Kangen, terdengar suara yang memanggil nama Rama Bima. Kalau memanggil hanya dengan nama saja, pastilah itu adalah sosok yang cukup kenal dan dekat dengan Bima Negara. Rama Bima yang sedang menggendong cucunya pun menoleh dan mengedarkan arah pandangannya dan mencari tahu siapa yang sebenarnya memanggilnya.


"Ada yang memanggil Rama," kata Indi kepada Rama Bima.


"Rama juga dengar, tapi siapa yah, Mbak?" tanya Rama Bima yang masih mencari-cari siapa sebenarnya yang sedan memanggil namanya.


Hingga dari jarak yang semakin dekat, terlihat siapa yang memanggil nama Rama Bima. Rupanya, tidak lain dan tidak bukan adalah kawan lama Rama Bima yaitu Papa Atmaja. Ini adalah pertemuannya keduanya kembali setelah begitu lama waktu berlalu. Sejak, dulu Papa Atmaja datang dan menawarkan aliansi pernikahan, sejak saat itu juga keduanya tidak pernah bertemu lagi.


"Atma ...."


Rama Bima pun menyahut dan memanggil nama kawan lamanya itu. Walau begitu, terlihat Papa Atmaja yang sedikit canggung kala melihat Satria dan Indi berada di sana. Dulu, Papa Atmaja menggadang-gadang, berencana menjadikan Satria sebagai menantunya untuk mendampingi Karina. Namun, semua itu tinggal kenangan. Pada kenyataannya Satria sudah memiliki wanita lain yang dia cintai. Sementara sekarang nasib buruk yang menghampiri Karina.


"Sendirian saja?" tanya Rama Bima.


Inilah baiknya Rama Bima, walau dulu pernah terjadi konflik dengan Atmaja, tapi kala bertemu pun tetap baik. Menyapa layaknya seorang kawan. Selain itu, senyuman di wajah Rama Bima juga terbilang tulus, tidak dibuat-buat.


"Iya, sendiri ... memang mau sama siapa," balas Papa Atmaja.


Setelah itu, Rama Bima tampak mengenalkan Indi kepada kawannya itu. "Kenalin, Atma ... dia adalah menantuku. Namanya Indira ...."

__ADS_1


Indi pun mengangguk dan menjabat tangan pria paruh baya yang adalah kawan lama ayah mertuanya itu. "Indira," katanya.


"Oh, jadi ini yah ... istrinya Satria."


Usai itu, tampak ada yang hendak dibicarakan oleh Papa Atmaja kepada Rama Bima. Oleh karena itu, Papa Atmaja meminta waktu sebentar untuk berbicara. Memberikan waktu, sekarang Satria mengajak istrinya, anak-anaknya, dan Bu Galuh untuk melihat-lihat area pamedan Pura Mangkunegara di malam hari.


Begitu sudah berdua, Rama Bima pun menanyai kawannya itu. Kalau sudah berdua seperti ini, biasanya topik pembicaraan lebih berat. Rama Bima paham dengan kawannya. Semua itu juga karena Rama Bima mengenal baik kawannya itu.


"Ada apa, At?" tanyanya.


"Kamu bahagia yah, Bim ... memiliki keluarga yang sempurna. Istri, anak-anak, menantu, dan juga cucu."


"Kenapa kamu mengatakan begitu? Ada apa sebenarnya?" tanya Rama Bima.


Papa Atmaja tampak menghela napas panjang. Setelahnya mulailah Papa Atmaja menceritakan semuanya dengan pelan-pelan.


"Karina, Bim ... dia tidak baik-baik saja."


Rama Bima menunggu, dia percaya pasti ada kelanjutan yang akan diceritakan kawannya itu. Sebagai kawan, Rama Bima memilih menunggu. Tidak menginterupsi terlebih dahulu.


"Karina terkena penyakit kelamin ... jadi, dia harus berobat untuk satu tahun ini. Fase satu di satu tahun pertama." Papa Atmaja mengatakan semuanya dengan dada yang bergetar. Hanya kepada Rama Bima saja Papa Atmaja bisa menceritakan kondisi Karina. Kalau tidak memiliki hubungan yang karib, pastinya juga sukar bagi Papa Atmaja untuk terbuka dan jujur.

__ADS_1


Sementara Rama Bima juga terkejut. Bagaimana pun Rama Bima turut prihatin. Namun, semuanya adalah jalan Allah. Dulu, Rama Bima mengira Karina adalah sosok yang baik, sosok yang bisa mendampingi Satria. Namun, semua itu salah. Satu kasta, dan satu strata sosial tidak menjamin apa pun.


"Aku turut prihatin, Atma ...."


Rama Bima mengatakan itu dengan tulus. Selain itu ada rasa kasihan yang muncul begitu saja untuk Karina. Di dalam hatinya Papa Atmaja juga mendoakan supaya Karina bisa sembuh.


"Makasih, Bim ... maaf juga untuk salahku dulu yah. Aku yang berpikiran jahat dan menyarankan yang tidak-tidak. Meminta Satria melakukan poligami. Maaf," kata Papa Atmaja sekarang.


Sekarang barulah Papa Atmaja bisa meminta maaf. Dia menyadari bahwa permintaannya dulu sangat keterlaluan. Untung saja kawannya itu menolak sehingga tidak mematah kehidupan rumah tangga yang lain. Sebab, sudah ada rumah tangga yang hancur, dan itu adalah rumah tangga Anthony dan Viona.


"Tidak apa-apa. Aku memaafkanmu. Walau dulu kita berbeda perspektif, tapi aku tidak marah. Jujur, aku sempat kecewa. Untung saja aku tidak menuruti maumu dulu," balas Rama Bima.


"Maaf untuk yang dulu yah. Doakan Karina bisa sembuh," balas Papa Atmaja. Tidak lupa kepada kawannya itu, Papa Atmaja meminta doa supaya Karina bisa lebih cepat sembuh.


"Dia sakit apa sebenarnya?" tanya Rama Bima.


"Sifilis, hanya saja tingkat yang sudah bahaya."


Rama Bima sangat kaget mendengarnya. Walau begitu hatinya juga terenyuh. Dia mengenal Karina sejak Karina masih kecil. Tidak menyangka kalau Karina bisa terkena penyakit itu. Masih menurut Rama Bima biasanya yang terkena sakit itu adalah kaum pria. Kalau sampai wanita Terinfeksi juga rasanya juga bahaya. Walau demikian, Rama Bima tidak berusaha mengulik apa pun. Dia menghormati privasi kawannya itu. Yang bisa Rama Bima lakukan adalah mendengarkan saja. Berbeda ketika lawan bicaranya memutuskan untuk jujur dan juga mengungkapkan semuanya.


Di satu sisi Rama Bima sangat bersyukur dengan rencana Allah. Satria memilih wanita baik-baik sebagai istrinya. Seorang wanita yang walau dulunya tanpa nasab, diragukan garis keturunannya, tapi justru memiliki akhlak yang baik. Tidak hanya itu, menantunya terlihat memiliki martabat yang tinggi dan mulia. Walau bukan dari kalangan Ningrat, tapi Indi adalah wanita yang tahu unggah-ungguh (aturan, nilai, dan norma sosial), selain itu berbicara masalah kesetiaan juga terlihat jelas bahwa Indi dan Satria sama-sama setia satu lain. Tidak pernah menyeleweng di luar sana. Sungguh, Rama Bima bersyukur, walau tetap dia terenyuh dan prihatin untuk Karina.

__ADS_1


__ADS_2