Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Beratapkan Langit Amsterdam


__ADS_3

Malam harinya, Satria mengingat lagi ucapan Indi sebelumnya bahwa sebaiknya tidak begitu berharap. Sebab, bisa saja Nakula dan Sadewa tidak bersikap kooperatif dan justru tidak segera tidur malam harinya. Oleh karena itu, Satria juga sedikit santai saja, walau dalam hati juga berharap.


Hingga akhirnya, jam 20.00 waktu Belanda, Nakula dan Sadewa mulai tidur. Satria sudah tersenyum dalam hati. Tak lupa, Satria membisikkan sesuatu kepada kedua putranya.


"Bobok yang nyenyak, Nang-Nang. Papa baru ada perlu dulu sama Mama. Yang pinter yah, Nang," bisik Satria kepada kedua putranya.


Satria kemudian meredupkan lampu di kamar tidur utama, setelah itu mulai menunggu Indi yang beberapa saat yang lalu sedang mandi di kamar mandi. Satria sengaja menunggu di sofa, karena kedua putranya tidur di ranjang, ya tidur bersama mereka di satu ranjang. Jika berencana melakukan kegiatan di ranjang, Satria takut bisa mengganggu tidur kedua putranya nanti.


Hampir lima belas menit berlalu, barulah Indi keluar dari kamar mandi. Sudah ada sambutan senyuman Satria kepadanya. Indi mengeringkan rambutnya terlebih dahulu dan kemudian mulai menyemprotkan parfum di tubuhnya.


"Aku kira Mas udah bobok sama Nang-Nang," kata Indi kepada suaminya.


"Aku sengaja nungguin kamu, Sayang. Kan siang tadi aku udah bilang," balas Satria.


Begitu Indi mendekat ke arah sofa, Satria mulai memangku Indi. Pria itu sangat suka dengan Indi kalau usai mandi seperti ini. Parfum yang dikenakan istrinya juga sangat harum, seolah menaikan hasratnya dengan sedemikian rupa.


"Kan aku tadi udah bilang gak usah menargetkan apa pun. Daripada kecewa lagi kayak dulu," balas Indi.


"Benar, cuma aku sudah ngasih tahu Nang-Nang supaya malam ini pinter dulu," balas Satria.


Dipangkuan suaminya, Indi kemudian tersenyum. Lagian mana bisa Nakula dan Sadewa mengerti apa yang diberitakan oleh Papanya. Walau begitu Indi tersenyum saja mendengar cerita dari suaminya itu.


"Kamu ini, pinter deh," balas Indi.

__ADS_1


"Harus pintar memanfaatkan waktu, Sayang. Namanya orang tua yang punya anak kecil, jadi pasti seperti kita ini."


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Sepenuhnya Indi memahami bahwa orang tua yang memiliki anak kecil pastilah tidak jauh berbeda seperti mereka. Berusaha mencari waktu, memanfaatkan waktu walau hanya sedikit untuk membangun intimitas pasangan suami dan istri.


Sekarang, Satria harus bergerak lebih cepat. Memanfaatkan waktu dimulai dari sekarang. Dia telisipkan rambut istrinya itu ke belakang telinga. Setelah itu, Satria memangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa lalu Satria mulai mengecup bibir istrinya. Kedua mata masih saling beradu, ada senyuman yang tersungging di sudut bibir Indi. Begitu juga dengan Satria. Hingga akhirnya sekarang kedua mata mulai terpejam, dua bibir beradu saling mengecup, saling mengusap dalam kesan yang basah. Satria merasa dadanya meletup-letup sekarang. Akhirnya, di Amsterdam mereka memiliki waktu untuk menikmati keindahan penuh makna, walau tak cukup diksi untuk mengungkapkannya.


Satria menenglengkan wajahnya, setiap kecupannya semakin penuh tekanan. Tak butuh waktu lama napas Satria benar-benar memburu, setiap usapan berpadu dengan lu-matan yang seakan tak jemu-jemu mengeksplorasi dan mencecap dua buah lipatan bibir istrinya.


"Love U," kata Satria dengan mengucapkannya tepat di depan bibir istrinya.


"Love u too."


Lagi, dua bibir kembali beradu. Kali ini tangan Satria mulai membelai sisi wajah istrinya, beralih ke tengkuk, beralih ke bahu, hingga punggung istrinya. Hingga akhirnya, tangan Satria dengan begitu berani meremas bulatan indah milik istrinya. Seketika tubuh Indi merasa meremang. Akhirnya, dengan sisa-sisa kesadaran yang Indi miliki, Indi memilih untuk menikmati setiap apa yang hendak dilakukan oleh suaminya.


"Ssshhhss, Sayang ...."


Ketika Satria sudah bereaksi seperti ini, Indi kemudian turun dari pangkuan suaminya, dia tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia tak segan menarik ke bawah celana yang dikenakan suaminya. Sebagai istri, Indi tak segan memberikan yang terbaik, yang ternikmat untuk suaminya. Ya, Indi menyapa sang pusaka dengan memberikan hadiah berupa kecupan, hisapan, bahkan semua yang Indi bisa akan Indi lakukan.


Seketika Satria meracau dengan suara lirih. Istrinya itu selalu luar biasa. Tak segan memberikan terlebih dahulu dan juga begitu piawai untuk membuatnya terbang melayang. Nuansa hangat dari rongga mulut Indi membaluri pusakanya, disertai gerakan naik dan turun yang benar-benar syahdu rasanya.


"Kamu pinter banget, Sayang ...."


Satria memuji istrinya itu. Sungguh luar biasa, bahkan seingat Satria sering kali Indi yang menghandle permainan terlebih dahulu. Satria benar-benar melambung jauh ke awang-awang. Luar biasa. Nyaris saja Satria meledak, tapi Satria menahannya terlebih dahulu. Ledakan dahsyat itu barulah akan terjadi di akhir sessi.

__ADS_1


Sekarang Satria yang mengambil alih kendali, dia mulai melepaskan busana demi busana yang dikenakan istrinya. Membiarkan istrinya itu benar-benar polos mutlak di hadapannya. Cukup di sofa, Satria akan melakukan semuanya. Sehingga tak ada pergerakan dan derit ranjang yang terjadi.


Tak segan, Satria segera menyapa bulatan indah di sana. Jika biasanya ada area tertentu yang Satria hindari, tapi sekarang tidak lagi. Hisapan dan usapan lidah Satria kian menjadi-jadi, itu membuat Indi melenguh seketika. Dia remas perlahan helai demi helai rambut suaminya, dia kian membenamkan wajah suaminya di dadanya. Oh, setelah sekian lama ada area yang Satria hindari sekarang tidak lagi. Tubuh Indi meremang, wanita itu terengah-engah merasakan nikmat. Luar biasa rasanya.


Sementara, Satria akan memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Tidak akan membiarkan ada bagian yang luput. Jengkal demi jengkal epidermis kulit itu dia kecupi, dia belai, hingga invansi Satria kini tertuju di lembah yang berada di antara pangkal paha istrinya.


Tak segan Satria menyapanya dalam kesan basah, dalam usapan dan tusukan dengan ujung lidahnya. Seketika Indi melenguh nikmat. Bukan Satria namanya kalau tidak bisa membuatnya menggapai Swargaloka. Ya, kilauan tempat dengan penuh cahaya itu menghujani Indi walau sekarang dia terpejam. Nikmat tak terkira.


Satria juga tak tergesa-gesa. Dia memberikan pelayanan terbaik untuk istrinya. Satria ingin hormon oksitosin atau hormon cinta itu benar-benar membuat istrinya bisa melepaskan stress yang dialami. Dia tahu cara membuat Indi terbang ke awan-awan.


"Mas ... Satria ..., hh!"


"Ya, Sayang."


Satria merasa sekarang istrinya benar-benar merasakan nikmat tak terkira. Hingga akhirnya, Satria menempatkan dirinya. Dia hujamkan perlahan ujung pusakanya hingga memasuki cawan surgawi milik istrinya. Sang pusaka tenggelam, bersarang di dalam sana, dilingkupi dengan rasa hangat dan erat. Hingga akhirnya, Satria menghujam kian dalam. Kian erat tusukan demi tusukan yang terjadi. Maju dan mundur, keluar dan masuk berirama. Satria tak ragu untuk melakukan gerakan seduktif yang membuat Indi merasakan penuh di saat bersamaan.


Beberapa saat itu terjadi, kemudian Satria membimbing istrinya untuk duduk di pangkuannya. Kembali dengan sang pusaka yang terhunus dalam cawan surgawi. Erat, penuh, dan dahsyat. Tiga kata yang memenuhi otak Satria sekarang.


Di pangkuan suaminya, ada instruksi yang Satria ucapkan.


"Gerakkan pinggulmu, Sayang ... kamu cantik banget," kata Satria.


Dengan Indi di pangkuannya, bulatan indah itu Satria raup dan menghisapnya. Tak jarang meremasnya perlahan. Indi menjadi tak kuasa menahan gelombang yang menderu. Begitu dahsyat. Hingga akhirnya, keduanya tak mampu bertahan. Ya, keduanya pecah di saat bersamaan. Sensasi tembakan dalam yang hangat, penuh, dan basah tak terelakkan. Sungguh luar biasa, hingga dengan saling memeluk, tubuh keduanya bergetar hebat rasanya.

__ADS_1


__ADS_2